This Is Our Love

This Is Our Love
Balada Pagi



Bella bangun seperti biasanya, sebelum subuh dan ayam jantan berkokok, ah tidak sebelum ayam jantan digital berbunyi. Sedikit merenggangkan tubuh dan terkejut saat menyentuh sesuatu di sampingnya. Bella menoleh ke samping, terlihat suaminya masih tidur nyenyak dengan selimut sebatas leher. 


Hampir saja ia menendang Ken karena terbiasa tidur sendiri selama bertahun-tahun. Bella menghela nafas kasar, menyibak selimut dan kemudian turun dari ranjang. 


Hm kemarin karena terlalu lelah, Bella tidak sempat memeriksa ponselnya lebih jauh. Setelah menghubungi Anjani, ponselnya kehabisan daya. 


Apa apa dengan Kak Louis? Mengapa menelpon sebanyak ini?tanya Bella dalam hati, segera mengirim pesan balasan untuk Louis. 


Setelah itu, Bella langsung melangkah ke kamar mandi, tentu saja untuk membersihkan diri karena hari ini ia banyak agenda penting. 


Tak berapa lama kemudian, Bella keluar dengan pakaian kasual. Di dalam tasnya memang terdapat beberapa set pakaian. 


"Huh! Masih tidur!"gerutu Bella, padahal sudah terdengar merdunya bacaan ayat suci al-Qur'an dari masjid. Dan tak berapa lama kemudian azan subuh berkumandang. 


Bella menghela nafas, tugas dan kewajibannya sudah bertambah. Dengan tersenyum, Bella duduk di samping Ken, menggoyangkan pelan tubuh Ken. "Ken ayo bangun! Sudah subuh," ujar Bella. Ken tidak bergeming, ia tetap terlelap. 


"Ken hei ayo bangun! Kau ini tidur apa koma? Mahesa Ken Chandra, ayo bangun!" Bella sedikit menaikkan nadanya, yang hanya digubris gumaman tak jelas. Ken malah membalikkan tubuhnya menghadap Bella. Bella terperanjat kaget saat Ken memeluknya. "Sebentar lagi, Cia. Aku masih ngantuk," ucapnya lirik, malah semakin mengeratkan pelukan terhadap Bella.


Bella tertegun, tak lama senyum simpul menghiasi wajahnya. 


"Rupanya kau mengira tidur bersama dengan kekasihmu itu ya, Ken? Ya bukan masalah. Aku juga begitu. Ku pikir tadi aku seranjang tentang Kak Louis." Bella bergumam seraya mengusap lembut kepala Ken. Untuk awal hubungan ini, Bella lebih menganggap Ken sebagai adiknya yang berstatus suami. 


"Ken ayu bangun. Jangan uji kesabaranku. Jika dalam hitungan tiga kau tidak bangun, aku akan menghukummu!" 


"Ahh … Sayang lima menit lagi. Aku lelah sekali ya-ya." Mata Ken tetap terpejam, nadanya memelas yang terdengar begitu menggemaskan di telinga Bella. Bella menghela nafas pelan, melihat jam tangannya. Azan subuh sudah berlalu. 


Ya lima menit lagi. 


Menunggu lima menit itu, Bella memilih menelpon layanan hotel untuk membawakan Ken satu set pakaian. Ya tidak mungkin Ken menggunakan pakaian yang sudah kotor dan basah, juga tidak mungkin hanya menggunakan handuk. 


Lima menit berlalu, Ken masih nyenyak. Bella kembali membangunkannya. "Hei sudah lima menit, ayo bangun!"


"Sebentar lagi. Dua menit lagi," jawab Ken. 


Bella hanya sudah kesal dan tak ingin kehabisan waktu subuh, langsung saja menjewer telinga Ken. "Tidak ada nunggu menit-menit lagi! Ayo bangun!"


"Ahhh sakit Sayang!" Ken langsung membuka matanya lebar.


"Akhirnya bangun juga!" Bella bangkit dan berkacak pinggang. Ken menunjukkan raut wajah bingung dengan memegang telinganya yang merah, jeweran Bella tidak main-main.


"Kak? Bagaimana kau bisa ada di kamarku? Dan apa tadi …?"


"Kamarmu? Hei bocah ingusan aku amnesia ya? Ini kamar kita, kamar pengantin hanya disiapkan oleh keluargamu! Dan apa tadi? Ya kau memelukku erat dan mengira aku adalah Cia! Sudah! Cepatlah mandi!"ucap Bella garang. Mata Ken membulat, astaga!


Ting tong!


Bel kamar berbunyi, Bella bergegas membuka pintu. Satu set pakaian casual datang dan segera ia berikan pada Ken.


"Terserahmu mau mandi atau tidak. Ini pakaianmu, aku akan menunggumu untuk subuh berjamaah," ucap Bella. Ken terkesiap, dan dengan segera menuju kamar mandi. Bella kembali tersenyum simpul. 


Uhh mengapa bisa sampai selupa dan seceroboh tadi? Untung saja Kak Billa bukan perempuan yang mudah baper tapi tetap saja aku malu! Ahhh tidak! Hanya Cia pemilik hatiku. Tapi … mengapa memeluk Kak Billa sama rasanya dengan memeluk Cia? 


*


*


*


Selesai subuh, Bella membereskan semua barangnya dan menyusunnya di dalam tas.


"Nggak pakai koper?"tanya Ken yang heran dengan Bella.


"Nggak biasa," jawab Bella seraya menutup kancing ranselnya.


"Ayo." Bella membuka pintu duluan. Ken yang masih duduk di atas ranjang dengan memeriksa ponselnya mengangguk. Di luar ternyata El sudah bangun dan menghampiri keduanya.


"Morning, Ken, adik ipar," sapa El ramah dengan merangkul Ken. 


"Morning too, Kak El," jawab Bella ramah. Ken tampak risih dengan rangkulan itu, dengan segera melepaskan diri dari El.


"Mau apa?" Nada bicara yang dingin, dibalas dengan tawa renyah El.


"Hei-hei. Mengapa kau begitu dingin? Apa malam pertamamu kurang panas?" Bella mengeryit, apa El tipe orang yang blak-blakan? 


"Apa urusanmu dengan pernikahanku?!" Aura ketidaksukaan melekat dalam diri Ken. Nada bicara dan raut wajahnya sangat menunjukkan hal itu.


Bella tetap mengamati, sebelumya sudah tersimpulkan bahwa hubungan Ken dengan dua saudara memang kurang baik, ditambah dengan fakta bahwa Bella akan menggantikan posisi wakil Presdir, pasti sangat dibenci oleh Brian. Yayaya Bella sudah tahu bahwa ia adalah umpan sekaligus perisai untuk Ken. Dengan masuknya ia ke Mahendra Group, berarti juga menguatkan posisi Ken di sana. Biarpun Ken belum resmi masuk ke perusahaan tapi jika sudah orang yang mendukungnya dengan posisi tinggi, bukanlah itu point plus untuknya? Memikirkan hal itu, membuat Bella bersemangat sekaligus sakit kepala.


"Ah adik ipar, suamimu ini begitu sensi. Sebelumnya aku ingin memberi selamat sekali lagi atas pernikahan kalian. Semoga kalian cepat memberikanku seorang keponakan yang lucu dan menggemaskan." Dengan raut wajah polos, El mengatakan harapannya. Bella terkekeh pelan, apa katanya? Keponakan? Aigo! Jangankan berhubungan intim, sentuhan terdalam saja hanya saat cium kening dan punggung tangga saat selesai akad kemarin. Ah yang tadi malam? Itukan hanya melihat bukan menyentuh!


Ken mendengus sebal. "Menggelikan!"ketusnya langsung melangkah pergi.


"Hei kau mau ke mana?"tanya Bella setengah berteriak.


"Makan." Ken menjawab dengan berteriak juga tanpa menghentikan langkah ataupun menoleh pada Bella.


"Sepertinya harus lebih banyak berinteraksi lagi," saran Bella. 


"Ya aku selalu ditolak. Sikapnya selalu seperti itu denganku. Entahlah aku juga tidak tahu. Padahal aku menganggapnya adik tersayangku. Adik ipar, aku berharap kau bisa memperbaiki hubungan kami antar saudara."


Bella tersenyum, dalam hatinya berdecak sebal. Permintaan macam apa itu? Bahkan saat baru pertama kali bertemu dengan Brian, pria itu sudah menatap marah dan benci Bella. 


"Aku harap juga begitu."


"Bagus! Aku suka dengan jawaban itu!" El berseru senang dan menghadiahi Bella sebuah pelukan. Err terhitung sudah dua kali El memeluk Bella. Sementara Ken, ah sudahlah. Tidak perlu diharap. 


"El, Nabilla, kalian sedang apa?" Suara lembut Rahayu membuat El melepas pelukan. Di samping Rahayu, Surya menatap tajam El yang membuat El seketika bersembunyi di belakang Bella.


"Memalukan!"ucap Surya dengan dingin.


"El mengapa kamu bersembunyi di balik adik iparmu? Mana Ken?"tanya Rahayu lagi.


"Ma …." Baru saja sepatah kata, El sudah menyela. 


"Ah ini loh Bun, El hanya memberikan ucapan selamat lagi sama adik ipar dan Ken. Tapi Ken sangat kelaparan jadi Ken pergi makan duluan. Dan aku memeluk adik ipar karena bahagia karena adik ipar berjanji akan segera memberikanku keponakan yang lucu dan menggemaskan," jelas Ken yang membuat Bella menghela nafas pelan melihat binar di mata Rahayu dan senyum lebar Surya. Suami istri itu menatap Bella penuh harap.


"Mama harap segera berisi ya Billa," harap Rahayu seraya menggenggam jemari Bella. 


"Ya aku harap juga begitu."


"Aunty Abel!!" Bella menoleh ketika mendengar suara Arka. Terlihat Arka yang berlari menghampiri dirinya. Disusul oleh Anjani.


Hap.


Bella yang sudah berjongkok langsung saja menjadi tempat pemberhentian Arka. 


"Ada apa, Aka? Kok lari-lari?"tanya Bella penasaran.


"Aka kangen sama Aunty! Aunty Aka sudah lapar. Kita sarapan yuk," ajak Arka.


"Ya baiklah." Bella dengan gampangnya menggendong Arka. 


"Abel biar aku saja yang gendong Aka. Kamu pasti lelah," ujar Anjani.


"Tidak, Jani. Aku tidak lelah kok," sahut Bella, sekilas memberi tatapan tajam pada Anjani.


"Jani? Abel?" El berdiri di antara Bella dan Anjani. Anjani sudah kenal dengan El.


"Oh ini sahabat aku, namanya Anjani dan ini anaknya namanya Arka. Dan Abel, itu nama panggilanku. Bisa juga Bella, mau Billa pun tidak masalah," jelas Bella.


"Oh lalu suaminya mana?" Pertanyaan itu sontak membuat raut wajah Anjani dan Arka berubah. "Mati!" Arka menjawab dengan penuh kebencian. 


"Aka jangan begitu, Sayang!"tegur Anjani.


"Mati? Oh dianggap mati ya?" Lagi-lagi dengan wajah polos.


"Kak El aku rasa nggak sopan menanyakan privasi yang seseorang," ujar Bella.


"Ah benar juga. Baiklah aku mohon maaf, Nona. Dan anak ini, hei Boy, mau Paman gendong?" El menatap Arka yang memeluk erat leher Bella. Ia tidak menjawab, lebih mengabaikan El.


"Tidak perlu, Tuan Muda El. Saya bisa sendiri, kok. Aka sini sama Mama ya." Arka tetap tidak mau. Ia tetap memeluk erat Bella. El juga tidak pantang menyerah.


"Boy, sini kamu Paman saja yang gendong. Kasihan Aunty Abel yang masih lelah, begitu juga dengan mamamu," bujuk El lagi. Kali ini Arka menggubrisnya. 


"Aunty lelah?"tanya Arka cemas. 


"Nggak kok, Aka." Bella tersenyum meyakinkan. Tapi rayuan El masih terus berlangsung. Surya dan Rahayu saling tatap. Masih menerka apa yang sebenarnya El inginkan. Tak berselang lama kemudian, Arka luluh dan kini berada dalam gendongan El. El tersenyum senang.


"Ayo kita sarapan!" El melangkah lebih dulu meninggalkan yang lain.


"Eh Aka!" Anjani sontak mengejar anaknya yang dibawa kabur oleh El.


"Apa yang anak tengik itu lakukan? Apa seleranya sudah berubah?"gumam Surya yang terdengar oleh Rahayu.


"Anjani juga bukan pilihan yang buruk, Mas. Terlebih ada Aka yang menggemaskan. Aku nggak keberatan kalau seandainya El nikah sama Anjani," ujar Rahayu. 


Bella menaikkan alisnya, El … Anjani? 


"Asalkan bisa merubah anak itu menjadi lebih baik, Mas nggak peduli rupa dan asalnya, Sayang," ucap Surya serius.


"Morning, Pa, Bun, adik ipar," Sapaan serentak dari pasangan Brian dn Silvia itu seketika membuat penerawangan Bella buyar.


Brian dan Silvia mendekat, tapi tidak melangkah berdampingan juga tidak berpegangan tangan. Apa mereka memang selalu seperti ini atau memang hubungan yang tidak harmonis? Baru sehari, Bella mencatat banyak pertanyaan di benaknya.


"Ayo." Surya yang menggenggam jemari Rahayu pergi. Brian dan Silvia mengikut. Bella tersenyum tipis saat Brian menatapnya dengan sinis seolah mengibarkan bendera perang. 


Ya beginilah masuk ke dalam keluarga besar yang tak satu visi dan misi.