This Is Our Love

This Is Our Love
Bali, We Coming 2



Setelah kurang lebih mengudara selama 2 jam, pesawat yang ditumpangi Ken dan Bella landing di Bali. Satu persatu penumpang turun dari pesawat. Begitu juga dengan Ken dan Bella. 


Walau menggandeng erat jemari Bella, ekspresi wajah Ken sungguh datar. Setelah tahu ada alasan terselubung mereka ke Bali, Ken tidak banyak bicara, sikapnya berubah menjadi dingin dan Bella memakluminya. 


Bella juga tidak membujuk atau merayu Ken untuk memaafkannya. Ia hanya berjanji akan secepatnya memberitahu Louis tentang pernikahannya. 


Bella menghentikan langkahnya sejenak, "aku hubungi Daddy dulu," ujar Bella.memberitahu. Ken hanya bergumam.


"Hello Dad, have you guys arrived yet?" Ken menaikkan alisnya. Ia kira Bella akan menghubungi Louis dan menggunakan bahasa yang tidak ia mengerti. Bella tersenyum manis padanya. Ken langsung memalingkan wajahnya. 


"Already. I just got off. Where are you guys now?" 


Bella menahan tawa melihat tingkah Ken. 


"No need, Dad. I'll be there soon."


"Okay." Bella langsung menyimpan ponselnya.


"Aku urus koper dan kau urus motor. Kita bertemu di luar," ucap Bella menginstruksi. Ken mengangguk. Bella mengenakan kacamatanya, keduanya lantas berpisah menjalankan tugas masing-masing.


Bella menghela nafas pelan, perlahan senyumnya mengembang lebar. Ia melangkah keluar menyeret dua koper.


Setibanya di luar, Bella mengedarkan pandang sejenak mencari posisi keluarga Kalendra dan rombongan. Dapat! Sebuah bus pariwisata berada tak jauh dari pintu keluar dengan beberapa orang yang dipastikan adalah turis dari Eropa menunggu di sisinya. Itu dia, keluarga Kalendra dan Teresa.


"Mom, Dad!"panggil Bella, melambaikan tangan pada mereka.


"ABEL!" Mereka menjawab serentak dengan wajah yang sumringah. Bella langsung berlari kecil, diikuti oleh Louis dan Teresa.


"Akhirnya kau tiba juga." Louis tanpa aba-aba langsung memeluk Bella. Jika sebelumnya Bella langsung membalas pelukan itu, kali ini kedua tangan Bella masing memegang kedua koper yang ia bawa. 


Louis yang tidak merasakan balasan, langsung melepas dan menatap bingung Bella, "kenapa tak membalasnya?"


"Memegang koper," jawab Bella. Mata Louis juga Teresa melihat kedua tangan Bella yang memegang koper. Keduanya langsung saja mengeryit. "Bawa barang sebanyak ini, kau mau pindah rumah ya?"tanya Teresa. 


Bella tersenyum menanggapinya. 


"Lepas dulu. Peluk aku," titah Louis, merentangkan tangannya meminta pelukan. Bella jelas ragu. 


"Abel … hei? Ada apa denganmu?" Louis bingung dengan sikap Bella yang sepertinya antara enggan dan ragu.


"Abel apa kau tak rindu pada kami? Sekian lama tak bertemu bahkan pelukan saja tidak ada?" Leo angkat bicara, ia melangkah menghampiri tiga orang itu. 


"Kak Leo," sapa Bella, ia menunduk memberi hormat pada mantan pimpinannya itu.


"Beri kami pelukan." Leo ikut merentangkan tangannya. Kali ini giliran kecuali Max, Rose, dan Key yang bingung. Dulu, tak pernah sekalipun Leo meminta pelukan dari Bella. 


"Ah apa maksudmu, Kak?"tanya Bella, kik-kuk.


"Give me a hug. Your brother  misses you so much," jawab Leo. 


"Ada apa denganmu, Kak?"tanya Louis. 


"Why? Ada yang salah? Abel adikku, wajar bukan jika seorang Kakak meminta pelukan." Ekor mata Leo mengikuti lirikan mata Louis, tertuju pada Helena yang menatap lekat mereka. Max dan Rose tampak begitu tenang.


"Kenapa? Aku sudah memiliki ratu dan pangeran, tak ada niat mencari selir. Aku juga tak mau menjadi kasim," ucap Leo, serius. 


"Bukankah kau …."


"Dulu sering bertemu, sekarang. Mau berkumpul pun harus buat janji dan persiapan yang matang. Sudah jangan banyak tanya lagi. Abel berikan aku pelukan," sela Leo, ia kembali menginterupsi Bella. Kedua anak keluarga Kalendra itu kini kembali fokus pada Bella.


"Teresa! Kau mencuri pelukan untuk kami!"seru Louis dan Leo bersamaan saat mendapati Bella dan Teresa asyik berpelukan dan melepas rindu. Bella dan Teresa saling rangkul, "bukankah Anda duluan yang memeluk Abel tadi, Tuan Muda Louis?"sergah Teresa.


"Kau … kau sangat berani ya! Aku akan memberimu hukuman!"ucap Louis, menunjuk kesal Teresa, dibalas dengan juluran lidah Teresa.


"Pria dan wanita yang bukan muhrim dilarang untuk bersentuhan, haram!"ucap Teresa. Bella terkikik pelan mendengar ucapan Teresa. Lihatlah wajah Louis yang berubah menjadi tertegun.


"But kita keluarga, saudara. Pelukan bukan suatu larangan! Abel come on, give me a hug!"sahut Leo. 


"Saudara?" Bella mengulang kata itu dengan aneh. Louis langsung menatap Leo, tatapannya campur aduk. Saudara? Leo mengucapkan kata itu dengan nada mendalam, bukan seperti biasa yang sangat sangat.


"Sudah-sudah. Abel jika kau tak mau memberi dua orang itu pelukan, kemarilah, beri dua orang tua ini pelukan!"titah Max, menyelamatkan situasi, belum saatnya.


"Ah ya." Bella melepas kedua kopernya. Dengan langkah pelan, benak yang penuh tanya dengan ucapan Leo tadi, Bella menghampiri Max dan Rose. 


"Oh my Abel. Mom dan Dad sangat merindukanmu. Rasanya sudah sangat lama kita tidak bertemu," ucap Rose saat memeluk Bella, bergantian dengan Max.


"Aku juga sangat merindukan kalian, Mom, Dad. Kalian sehat selalu kan?"tanya Bella, di berada di antara Max dan Rose.


"Fisik memang baik tapi batin, sakit karena merindukan anak perempuan kami yang jauh dari rumah," jawab Rose, ia bersandar pada Bella. 


"Mom?!"


"Rumahmu itu di Jerman, anakku." 


"Maksud Mom?" Bella semakin bingung. Max berdehem. Ia juga heran mengapa anak sulung dan istrinya tak bisa menahan diri. Belum saatnya! Belum!batin Max berteriak.


"Mana sekretarismu, Abel?"tanya Max, yang memang sudah diberitahu oleh Bella bahwa ia liburan dengan tetap bekerja. Dan Ken, sebagai suami dan sekretarisnya tentu saja ikut.


"Ambil motor, Dad," jawab singkat Bella. Max mengangguk, mereka kini tinggal menunggu Ken. Sembari menunggu mereka kembali mengobrol. Bella mulai tak ambil pusing dengan ucapan Rose tadi. Ia sudah cukup lama tinggal di Jerman, membuat negara itu adalah rumah kedua Bella.


"Nanti aku jelaskan," jawab Leo, berbisik pula. 


Tinggallah Louis dan Teresa yang kini saling tatap. Mata Louis melebar saat Teresa mengangkat tangannya membentuk angka 2:1 menyatakan bahwa Louis kalah darinya. Louis mendengus kasar. 


"Abel koper sebanyak ini, apa barang kamu semua?"tanya Helena yang baru melihat dua koper Bella.


Bella menggeleng, "satu punya sekretaris aku, Kak."


"Sekretaris?"ulang Louis dan Teresa kompak, memastikan.


"Cih!" Keduanya langsung saling berdecak dan membelakangi. Melihat itu termasuk Bella tersenyum penuh arti.


"Abel kau ini mau liburan atau dinas sih?" Helena tak habis pikir dengan Bella.


"Kak Helen, aku ini baru menjabat sebagai wakil Presdir, mana mungkin langsung ambil cuti. Jadi aku harus mengakalinya dengan kerja plus liburan," jawab Bella. 


"Ya itu benar," ucap Leo. Helen hanya menggelengkan kepalanya kecil. Ia kagum dengan Bella.


"Lalu mana dia? Pria apa wanita? Sebagai sekretaris membawa barang atasan adalah tugasnya! Tidak bertanggung jawab!"cerca Louis, ia mengedarkan pandang. 


"Ambil motor," jawab Bella, melihat jam tangannya. Mengapa lama sekali, batinnya.


Louis menghembuskan nafas kasar. 


 


Bella langsung mengalihkan pandangannya saat mendengar suara motor miliknya. Benar saja, Ken datang dengan motornya, berhenti mulus di belakang bus. Ken turun dan melepas helmnya. Wajahnya yang datar, dengan tatapan mata tajam pada Louis. Louis terdiam dengan tatapan Ken itu. Ia hanya bingung bukan takut.


"Aru ayo," panggil Ken.


"Mendekatlah. Sapa dulu orang tua angkatku," ujar Bella. Dengan langkah malas, Ken mendekat. Ia berhadapan dengan Max dan Rose. 


"Hallo." 


"Hai anak muda. Apa kau sekretaris Abel?" Ken mengangguk.


"Anak keluarga Mahendra, sangat muda dan memiliki masa depan cerah. Sukses selalu untukmu," ucap Max, menepuk pundak Ken. 


"Thank you. Saya merasa tersanjung."


"Baiklah, sudah kumpul semua. Ayo berangkat. Louis masukkan koper Abel!"ucap Max memerintah. Louis melakukannya. Ia masih kepikiran dengan tatapan tajam Ken tadi. 


Baru pertama bertemu mengapa tatapannya seperti menabuh genderang perang?


"Teresa, ayo jangan melamun!"panggil Helena.


"Ah ya!" 


Suara ini, suara yang ku pernah ku dengar waktu itu kan? Dia siapanya Abel?batin Teresa. 


"Hei kau, naik bus. Aku naik motor dengan Abel!"ucap Louis pada Ken. Ken berbalik menatap tajam Louis.


"Cih siapa dia? Berani sekali menyuruhku, suamimu naik bus dan kau dengannya! Mustahil!"umpat Ken kesal dengan bahasa Indonesia. Bella sudah menduga hal ini akan terjadi.


"Do not want to! You just take the bus! Secretaries and superiors should not be far apart during service!"tolak Ken.


(Tidak mau! Anda saja yang naik bus! Sekretaris dan atasannya tidak boleh berjauhan selama dinas!)


"Kau! Hanya sekretaris berani sekali! Abel suruh dia naik bus!"ucap Louis. Bella mendengus. 


"Kau naik bus saja!"ucap Bella.


"Hah apa katamu, Aru? Kau mau naik motor dengannya? Lupa janjimu tadi? Jaga jarak! Mau membuatku mati cemburu? Mau mengulang kenangan? Jawab!"cerca Ken emosi. 


"Hei mengapa kau emosian sekali?"tanya Louis, merasa janggal dengan sikap Ken. Hanya sekretaris, mengapa begitu protektif? 


"Kau ini aku belum menyelesaikan ucapanku!" Bella memijat pelipisnya. 


"Apa?"


"Kau, Ken dan Kau Kak Louis, kalian naik bus sedangkan aku sendiri! Tidak ada penolakan! Aku ada meeting setelah jam makan siang!"tegas Bella dalam bahasa inggris. Sebelum keduanya melayangkan protes, Bella langsung naik ke motornya dan pergi lebih dulu.


"ABEL/ARU!"


"Aru?"


"Ck bukan urusanmu!" Walau kesal setidaknya Ken senang. Ia masuk dan memilih kursi di dalam bus. Bus mulai melaju meninggalkan bandara. 


Di dalam, Ken mendapat banyak tatapan penasaran dan tajam-dari Louis dan Leo. Suasana bus hening, jika berbicara maka berbisik. Hal itu dilakukan guna menjaga agar pangeran kecil keluarga Kalendra, Key tetap tertidur. 


Jadi ini alasan Dad dan Mom berniat menjodohkan Louis. Leo yang sedikit paham bahasa Indonesia mendengar jelas ucapan Ken tadi, suamimu ini naik bus.


Ken acuh dengan segala tatapan yang tertuju padanya. Ia memilih melihat Bella dari jendela. "Eh Aru?" Ken tertegun saat Bella menaikkan kecepatan dan mendahului bus mereka. 


"Dia sudah tahu tempatnya. Tenanglah, Tuan Muda," tutur Rose tersenyum.