This Is Our Love

This Is Our Love
Calia



Selesai memilih dan membayar plus apa yang mereka beli dibungkus dengan kertas kado, Ken dan Bella keluar dari toko. Keduanya langsung pulang ke mansion keluarga Mahendra.


Sementara itu, di mansion keluarga Mahendra,Calia sudah bangun. Selesai membersihkan diri, Calia merasa lapar. Dengan segera ia keluar dari kamar dengan mengenakan dress berwarna kuning yang kontras dengan cuaca minggu yang cerah. Kamar tamu berada di lantai dasar, dengan instingnya Calia mencari dapur ataupun ruang makan. 


Dapur ada di sana, batin Calia saat indera penciumannya mencium aroma masakan yang semakin membuat perut Calia meronta lapar. Sejak kemarin sore sampai saat ini, Calia hanya makan sedikit, itupun sewaktu penerbangan. 


Calia menghentikan langkahnya saat tiba di ruang makan. Pandangannya terpaku pada seorang pria yang duduk di ruang makan yang menatap dirinya datar. Pria itu memegang gelas yang dari aromanya adalah kopi. 


Dalam benak Calia bertanya siapa pria itu. Tidak ada ekspresi di wajahnya. Calia mengubah tatapannya menjadi menyelidik. 


Pria itu yang lain adalah Brian mengernyit tipis menerima tatapan selidik wanita asing yang ia ketahui adalah teman Bella dari Jerman. Itupun karena Silvia memberitahunya. 


Umur sepertinya sebaya dengan Abel. Datar, terkesan angkuh, mirip dengan karakter Abel. "Are you Abel husband?"tanya Calia spontan. 


"What?"sahut Brian terkesiap sesaat. Ia bahkan hampir menyemburkan kopi yang baru ia minum. 


Dari mana wanita ini mengira aku suami Abel?heran dan kesal Brian seraya menyeka bibirnya. 


"Yes? You're Abel husband?" Calia mendekati Brian dan duduk di depan Brian. Calia tetap pada pemikiran, ia tidak terlalu memusingkan ekspresi Brian atas pertanyaannya. 


"You've been married for three months. It was not long after Abel returned to Jakarta. Does that mean you guys had a long relationship before getting married?"


Kalian sudah menikah selama tiga bulan. Itu tidak lama setelah Abel kembali ke Jakarta. Artinya kalian sudah berhubungan lama sebelum menikah? 


"Wait!"ucap Brian. Ia sama sekali tidak mengerti dengan apa yang dipikirkan oleh wanita di depannya ini. Dan Brian adalah tipe yang sulit untuk menjelaskan sesuatu yang tidak ada dalam rencana ataupun sesuatu yang tiba-tiba begini kecuali urutan pekerjaan. 


"However, as far as I know, Abel has a close relationship with the vice president director of the Kalendra Group. However, they are only close and are not romantically linked. Wow!" Tiba-tiba tatapan Calia berubah menjadi kagum. 


Namun, sejauh yang ku tahu, Abel memiliki hubungan dekat dengan wakil presiden direktur Grup Kalendra. Namun, mereka hanya dekat dan tidak terhubung secara romantis. Wow!


"If so, your love is very close! Your trust is very high and ... and Abel is very good at hiding his relationship with you!" Calia berdecak kagum. Wanita itu kemudian menggut-manggut. 


Jika demikian, cinta kalian sangat dekat! Kepercayaan kalian sangat tinggi dan ... dan Abel sangat pandai menyembunyikan hubungannya dengan Anda!


Bella memijat dahinya pusing, "it's not like that!"


"Not like that?" Tatapan selidik dan mengintimidasi Calia kembali. 


"Did you guys get married like that? Just met a few days straight married?"tanya Calia. 


Apa kalian nikah kilat begitu? Baru bertemu beberapa hari langsung menikah?"


"You misunderstood!"jawab Brian datar.


"I'm misunderstood?" Calia menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. 


"Mas," panggil Silvia. Calia menaikkan alisnya melihat Silvia yang tersenyum ke arah keduanya. Silvia lalu mengambil tempat duduk di samping Brian.


"She is?"


"Ah Hi, Miss Calia. We didn't get to know each other this morning. Abel was in such a hurry to follow her husband to the hospital. I'm Silvia, and this is Mas Brian, my husband. We are Abel's brother-in-law," ucap Silvia memperkenalkan dirinya dan juga Brian. 


"So you're not Abel Husband?" Silvia terhenyak. Pantas Brian mengatakan what, wait, and you misunderstood. 


"Not. He's my husband," jawab Silvia. Dari tatapan Brian sudah tahu bahwa sebelumnya Calia salah paham. Calia terdiam. Dengan canggung ia tersenyum pada Brian dan Silvia. Lalu Calia mengingat ulang penjelasan Silvia.


"Hospital? Are Abel's husband sick?"tanya Calia berubah cemas.


"Not Abel's husband. But, his sister, Nesya," jawab Silvia.


"Nesya sick? Oh My God!" Dari reaksi Calia, Silvia dan Brian simpulkan bahwa Calia tahu tentang Nesya. Calia mendengus, ia misrah-misruh kesal. Calia lantas mengambil gelas dan air minum di atas meja.


Glek


Glek 


Suara air memasuki kerongkongan Calia."Abel you owe me a lot of explanations!"seru Calia kemudian.


"Akan aku jelaskan, Calia!"sahut seseorang dengan bahasa Jerman. Bella ternyata sudah pulang dan saat hendak menaiki tangga menuju kamarnya ia mendengar seruan Calia. Bella datang ke dapur diikuti oleh Ken.


"Now!"sahut Calia. Namun, saat melihat Ken ia mengeryit. 


"He's your husband?"tunjuk Calia pada Ken. Bella mengangguk.


"Hai, Miss Calia," sapa Ken. 


Mata Calia terbelalak. "Kau … kau!"tunjuknya pada Bella yang tersenyum lebar padanya. Reaksi Calia hampir sama seperti Teresa, Louis, dan Helena. Tidak percaya bahwa Ken adalah suami Bella, ditilik dari perbedaan usia. 


"Sebelum mendengar penjelasanku, makanlah dulu. Perutmu sudah berbunyi sejak tadi!"ucap Bella, dalam bahasa Jerman.


"Hehehe." Calia berubah menjadi terkekeh pelan. Kebetulan sudah waktunya makan siang.


"Kalian tidak makan siang?"tanya Silvia dalam bahasa Indonesia.


"Masih kenyang, Kak. Kami ke kamar dulu, ya," jawab Ken. 


"Calia after eating I'll wait in the gazebo beside ya," pesan Bella pada Calia. Calia mengangguk. Bella dan Ken meninggalkan dapur. Beberapa saat kemudian, pelayan mulai menghidangkan makan siang. 


"Silahkan, Nona Calia," ucap Silvia ramah. Calia mengangguk kecil. Dilihatnya ada beberapa menu yang tersaji. Aromanya sesaat mengalahkan rasa hati Calia untuk segera mendengar penjelasan Bella. 


Brian menatap datar Calia yang makan dengan lahap seakan tak asing dengan masakan lokal antara lain rendang, acar, serta selada, tahu goreng, dan tauge yang dipadukan dengan campuran kuah kecap dan kacang tanah yang ditumbuk kasar. 


"Anda sudah pernah makan ini sebelumnya?" Silvia yang tak mampu menyembunyikan rasa penasarannya langsung bertanya, mewakili rasa penasaran Brian. 


"Setiap tahunnya, kalau tidak salah saat Hari Raya Qurban, Abel selalu memasak rendang dan membaginya denganku. Dengan teman-teman yang lain juga. Rendang dan acar, bukan? Ini salah satu favoritku," terang Calia.


"Kata Abel, Anda akan tinggal di paviliun. Kalau boleh tahu dalam rangka apa, ya? Apa Anda pelatihan atau dinas di Jakarta?" Lagi, Silvia kembali menanyakan hal yang menggelitik hatinya sejak pagi. Calia menggeleng.


"Aku di sini untuk merawat Abel," jawab Calia.


"Merawat? Abel memangnya sakit?" 


"Trauma. Ah saya lupa memperkenalkan diri secara resmi. Nama saya Calia. Nama keluarga saya adalah Arshen. Saya adalah dokter terapi spesialis hipnoterapi," ucap Calia memperkenankan dirinya. 


"Begitu rupanya," sahut Silvia yang sudah mengerti.


"Arshen? Apa Anda ada hubungannya dengan Arshen Hospital?"


"Anda tahu?"


"Arshen Hospital masuk ke jajaran 500 rumah sakit terbaik di dunia, tentu saja aku tahu," jawab Brian. "Senang berkenalan dengan Anda, Nona," lanjut Brian dengan senyum tipisnya.


"Wait a minute." Silvia kembali menilik Brian. Bola matanya bergerak seakan tengah mengingat-ingat wajah Brian. "Anda … Anda masuk ke 30 forbes under 30 Asia kategori Keuangan dan Modal Ventura?"


"Yes," jawab singkat Brian. 


"It's Amazing! Abel juga masuk di dalamnya. Wow!"


"I know." Oleh karenanya Brian tidak memusuhi Abel selain bersaing di dalam bidang pekerjaan. Sebagai direktur keuangan, ia harus memiliki pemikiran yang panjang. Tidak bisa gelap mata hanya salah suatu hal, padahal hal itu sangat berpengaruh pada perusahaan. Abel, seseorang yang berkualitas dan berkemampuan mustahil untuk ia tolak. 


Sejujurnya saat ini aku merasa, siapapun yang akan menjadi Presdir tidaklah masalah bagiku. Ambisiku memang tidak padam, sebelum keputusan Papa keluar aku akan berusaha. 


Brian menyadari, Ken belum menunjukkan kemampuannya. Lagi, untuk menjadi Presdir ….


Brian melirik Silvia. Aku bahkan belum menyentuhnya, bagaimana bisa seorang anak lahir?


Via, bersabarlah sebentar lagi. Aku pasti akan membahagiakanmu!


*


*


*


Calia menemukan Bella tengah duduk di tepi gazebo dengan duduk pada bangku kecil. Tangannya memegang kail yang pancingnya berada di dalam kolam. Gazebo ini terletak tak jauh dari gazebo kolam ikan hias. Gazebo ini untuk melepas penat dengan cara memanggil. Kolam yang cukup lebar itu dihuni aneka ikan air tawar. Di permukaan terdapat beberapa tumpuk bunga teratai sebagai penambah nilai keindahan kolam.


"Dapat!" Bella mendesis pelan saat kail pancingnya berhasil mendapatkan ikan. Kesabarannya menunggu terbalaskan dengan senyum pias Bella saat seekor ikan nila berukuran cukup besar berhasil naik. Ikan nila itu menggepar di atas lantai papan.


"Aku tak tahu kau bisa memancing, Aru?" Bella menoleh pada Calia yang berdiri di sampingnya dengan bersedekap tangan.


"Aku jarang melakukannya. Mungkin setahun sekali," jawab Bella dengan tertawa renyah. 


"Pantas saja." Calia duduk di bangku yang berada tak jauh dari bangku Bella, sudah disiapkan. Bella kembali duduk dan memancing setelah ikan pancingannya tadi masuk ke dalam ember.


"Aku bahkan tak tahu ternyata seleramu itu yang lebih muda darimu. Pantas orang-orang itu kau tolak," cetus Calia, memulai pembicaraan. 


"Ya begitulah. Ternyata jodohku dia," sahut Bella santai. 


"Kalian menikah atas dasar kesepakatan atau perjodohan?"


"Awalnya."


"Hm. Aku mengerti." Calia memperhatikan cukup lama pelampung kail pancing dari yang awalnya tidak bergerak hingga Bella kembali menyentak. 


"Itu kena!"seru senang Calia saat seorang ikan nila lagi muncul di permukaan, meronta mencoba melepaskan diri dari mata pancing yang menjeratkan. Dan usahanya berhasil sia-sia karena pada akhirnya berakhir di dalam ember menunggu waktu kembali pada Sang Pencipta.


"Adikmu sakit apa?" 


"Leukemia, stadium tiga." Bella tidak terkejut Calia tahu. 


"Sudah berapa lama? Itu kan alasanmu kembali ke Jakarta? Lalu nenekmu?"


"Nenekmu sudah berpulang saat aku tiba di Jakarta," jawab Bella sedikit sesak, ia kemudian menghela nafas kasar. Calia terdiam sesaat. Ia kembali menoleh pada kolam. "Sepertinya banyak hal yang terjadi setelah kau kembali ke Jakarta. Namun, mengapa kau tak pernah cerita padaku? Pada Resa?"


"Aku tak ingin membuat kalian khawatir, Lia. Terlebih aku sangat sibuk hingga tak bisa mengobrol lama dengan kalian. Kau tahu, nanti malam aku harus menghadiri meeting," jawab Bella.


"Memang apa posisimu sekarang, Abel?"


"Wakil Presdir Mahendra Group, yang merangkap sebagai Presdir karena mertuaku ada urusan selama tiga bulan di Paris." Calia terpana. Ia kagum sekaligus cemas dengan kesehatan Bella.


"Abel …."


"Hm?"


"Apa kalian saling mencintai?"


"Tentu."


"Sudah terjadi. Aku berharap kau bahagia selalu." Harapan tulus Calia itu Bella aminkan.


"Ah ya Calia, berapa lama aku bisa sembuh? Ah tidak apa aku bisa lepas dari traumaku ini?"


"Masalah waktu … itu tidak bisa aku pastikan, Bel. Tapi, aku pastikan aku akan merawatmu sampai sembuh. Aku akan jadi dokter pribadiku selama waktu yang tidak ditentukan. Selain itu, masalah kau bisa sembuh atau tidak, yang utama tergantung pada tekad dan kesabaran hatimu. Aku harap kali ini kau lebih bertekad lagi dan tidak menyerah sampai sembuh!"terang Calia.


"Begitu ya?"


"Ya!"