
Pesawat mendarat di bandara terdekat dengan jarak sekitar 50 mil dari bandara di mana pesawat Desya mendarat. Itu adalah bandara pangkalan militer perbatasan di Mongolia.
Setelah mendarat dan diterima baik oleh pangkalan militer perbatasan Mongolia, Tim yang dibawa oleh Tuan Adam dan Surya langsung melakukan pelacakan untuk menemukan jejak Bella.
Sementara Tuan Adam dan Surya memantau tim melakukan pelacakan, Rahayu membujuk Ken untuk makan. Ya hari sudah pagi, namun sedari kemarin Ken belum makan apapun. Suami Bella itu hanya duduk melamun seakan kehilangan jiwanya. Ya … memang ia sedang kehilangan jiwanya. Dua jiwa malah, istri dan calon anaknya.
"Ken … jika kau menolak makan, bagaimana bisa kau mencari Abel?" Ya itu adalah kalimat putus asa untuk membujuk seseorang.
"Aku sama sekali tidak lapar, Ma," jawab Ken dengan lesunya.
"Bagaimana aku bisa makan sementara aku tidak tahu bagaimana keadaan istri dan calon anakku sekarang," lanjut Ken. Tatapannya redup. Rahayu mengusap kasar wajahnya.
"Ken, jangan bertindak bodoh. Kau harus kuat. Ini baru kami loh yang tahu. Bagaimana jika yang lain tahu? Keluarga Kalendra? Anjani? Calia? Kau seperti ini pun tidak akan membukakan jalan untuk masalah ini! Jadi, Mama harap kau kuat dan tetap optimis. Kau tidak sendiri, ada kami." Ken yang menunduk, mendongak menatap mata Rahayu.
"Harus berapa kali Mama katakan, percayalah, Abel akan baik-baik saja. Dia wanita yang cerdas dan hebat. Jadi, sekarang kau makan, okay?!" Itu tidak lagi seperti bujuk tapi sebuah perintah.
"Begini, sekarang apa yang kau rasakan?"tanya Rahayu.
"Aku … aku tidak merasakan bahaya terhadap Aru. Aku merasa kehilangan, Ma. Entahlah aku juga sukar untuk mengatakannya," jawab Ken.
Rahayu tersenyum, "it's okay. Everything is okay. So, don't afraid. Abel pasti akan kembali dalam keadaan yang baik," ucap Rahayu sembari memeluk Ken. Meskipun dia sendiri merasa cemas dengan keadaan Bella namun ia harus tetap terlihat tenang agar Ken juga tidak terlalu tertekan.
"Ya, aku terlalu lemah menjadi seorang pria, Ma. Aku merasa gagal," ucap lirih Ken dengan air mata yang menetes.
"Tidak. Jangan seperti ini. Setiap manusia punya fasenya masing-masing. Mama yakin kau bisa, Ken," sergah Rahayu.
*
*
*
Hari menjelang siang, Bella masih tetap berada di kamar. Ia tidak melangkah keluar dari kamar ini. Alasannya? Sebagian besar karena enggan. Bella enggan berurusan dengan orang-orang Desya kecuali Irene. Terlebih jika dia keluar dari kamar ini, peluang bertemu dengan ketiga istri Desya sangat besar. Dan Bella bukanlah orang yang tinggal diam jika dia disinggung.
Dari segi bela diri, Bella juga mumpuni di dalamnya. Daripada mencari masalah, Bella memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya dan menyusun rencana.
Dari Irene, Bella mendapat banyak informasi tentang Desya. Selain sudah punya tiga istri, Desya juga sudah punya dua orang anak dari istri pertama dan kedua.
Mengingat fakta itu, Bella memijat pelipisnya. Istri bisa diputuskan, anak? Tidak ada yang bisa memutuskan hubungan darah.
Waktu terus berputar, yang pada akhirnya menunjukkan waktu makan siang. Bella duduk dari berbaringnya. Ia melihat ke arah jam dinding lalu mengalihkan pandangan ke arah jendela. Matahari berada berada di puncak.
Bella menghela nafas pelan kemudian mengusap perutnya yang sudah menonjol. Usia kandungan sudah memasuki usia dua bulan.
"Mengapa di saat seperti ini?"gumam Bella. Wajahnya menunjukkan sebuah kegusaran juga ragu. Seperti ada sesuatu yang ia inginkan namun bingung bagaimana cara mendapatkan. "Sayang … tidak bisakah menunggu sampai Mama keluar dari sini?" Namun, wajahnya semakin menunjukkan ketidaksabaran.
"Tapi … CK! Memikirkannya membuatku kesal."
"****! Aku tidak bisa menahannya! Desya kau yang harus bertanggung jawab!" Bella berdiri. Kemudian melangkah menuju pintu.
Bella berdiam diri sejenak saat kedua tangan memegang gagang pintu. Bella mengangkat pandangnya. "Biar saja. Everything is okay." Bella membuka pintu itu.
Pemandangan yang sama saat ia membuka jendela namun ini lebih luas lagi. "Hm … apakah aku bisa memanggil tempat ini dengan sebutan Green Palace?"gumam Bella lagi.
Sekali ini, ia merasa kagum dengan tata letak, arsitektur, dan warna bangunan. Di dominasi oleh warna hijau. Warna yang cerah sekilas tidak membawa rasa yang membuat bulu kuduk berdiri. Akan tetapi, jangan lupakan bahwa ini adalah kediaman seorang mafia yang terkenal dengan pengaruhnya di Negeri Beruang Putih itu.
"Desya, where are you?" Bella memilih arah, mau ke kanan atau ke kiri. Di lantai ini juga tidak ada orang yang terlihat. Bella melihat ke arah lain pun tidak ada. Entah ke mana penghuni istana ini. Desya juga setelah Bella suruh keluar dari kamarnya, tidak menunjukkan batang hidungnya. Begitu juga dengan Irene. Di mana mereka berdua?
"Kemana penghuninya? Dan di mana ruangan Desya? Ah Irene aku membutuhkanmu!"gerutu Bella saat tiba di lantai dasar.
Sebenarnya ini juga sebuah kesempatan untuk kabur. Namun, bagi Bella itu bukan pilihan yang tepat. Di gerbang, mustahil tidak ada penjaganya bukan?
Sepanjang menyusuri bagian istana ini, Bella tidak bisa untuk tidak berdecak kagum. Lantai yang dihias dengan mozaik. Dinding yang juga dilukis.
"Hei." Setelah cukup lama akhirnya Bella menemui batang hidung seseorang. Itu seorang penjaga yang tampaknya terkejut dengan kehadiran Bella.
"Apa kau tahu di mana ruangan Desya?"tanya Bella. Mata penjaga itu tampak membulat.
"A-Anda mencari Tuan?"
"Hm?" Bella memiringkan kepalanya. " Kau tidak curiga denganku?"
"S-saya melihat Anda bersama dengan Tuan kemarin," jawabnya tampak gugup.
Bella terkekeh pelan, "katakan padaku, di mana ruangannya. Atau kau antar saja aku ke sana," ujar Bella.
"B-baik." Penjaga itu sedikit membungkukkan tubuhnya. Ia kemudian memimpin jalan.
"Kau tidak takut aku berbuat sesuatu padamu?"tanya Bella lagi. Penjaga itu menggeleng. "Anda adalah orang yang dibawa oleh Tuan. Saya percaya dengan Anda."
Semudah itu? Segampang itu? Apa istimewanya? Hanya karena ia dibawa oleh Desya, ia langsung mendapatkan rasa hormat dan percaya?
"Saya harap Anda nyaman tinggal di istana ini," ujar penjaga setelah berhenti di depan sebuah pintu. Bella tersenyum. Penjaga itu kemudian izin undur diri.
Setelahnya Bella mengetuk pintu. "Masuk!" Suara bariton Desya terdengar jelas. Bella membuka pintu, "hai," sapanya dengan melambaikan tangan pada Desya.
Desya yang berada di mejanya tampak terkejut. "Kau? Untuk apa yang keluar? Siapa yang membawamu ke sini?"tanya Desya beruntun dengan kemudian menghampiri Bella. Desya tampak gelisah. Bella tidak menemukan Irene di ruangan ini. Artinya hanya ada mereka berdua di ruangan ini.
"Aku lapar," jawab Bella. Desya kemudian melihat jam tangannya. "Astaga!" Desya berseru pelan pada dirinya sendiri.
"Kau tunggu di sini. Jangan kemana-mana," ujar Desya.
"Kau mau ke mana?"tanya Bella.
"Mengambil makan siang untukmu," jawab Desya.
"Tapi, aku tidak ingin makan roti, aku ingin buah." Desya menaikkan alisnya.
"Mangga."
"Akan aku ambilkan," jawab Desya.
"Tapi, bukan yang sudah masak. Mangga muda."
"Mangga muda?" Desya langsung bingung. Apa yang mau dinikmati darinya? Bukankah itu masam? Bella mengangguk.
Ya ia ingin mangga muda.
"Begini, jika di Indonesia itu namanya ngidam. Seharusnya suamiku yang mencarinya. Namun, suami tidak ada di sini. Kau yang membawaku ke sini, otomatis kau yang harus bertanggung jawab." Bella berkata dengan santai, sembari menaik-turunkan alisnya.
"Mencarinya? Kau menyuruhku mencarinya?"
"Kau juga harus memanjat untuk mendapatkannya. Tidak boleh menyuruh mereka orang!!"tegas Bella. Mata Desya langsung terbelalak. Keinginan macam apa itu?!