This Is Our Love

This Is Our Love
Bukan Berarti Berubah Menjadi Kelinci



"Tuan." Irene masuk ke ruangan Anjani dan membungkuk kecil. 


"Ada yang ingin bertemu dengan Tuan," ucap Irene pada Desya. Posisi Desya berada di hadapannya, membelakangi dirinya, melihat keluar jendela ruang kerja. 


Musim dingin telah berakhir. Kini adalah musim panas. Meskipun begitu, udara dan musim panas itu tidak terlalu terasa di Green Palace. 


"Siapa?" Desya berbalik. 


"Tuan Alexander," jawab Irene dan raut wajah Desya langsung berubah dingin.


"Mau apa lagi dia?"tanya Desya dan Irene menggeleng tidak tahu. 


"CK!" Desya berdecak. "Suruh masuk dan minta Ayahku untuk kemari!"ucap Desya, memberi perintah. Ia kemudian duduk di kursinya. 


Irene membungkuk kecil sebelum keluar menjalankan perintah Desya. 


"Tuan Desya." Seorang pria paruh baya masuk dan menyapa Desya. Senyumnya tampak menyebalkan. Desya tampak muak dengan itu. 


"Apa kabarmu, Tuan? Apa kau baik-baik saja? Bagaimana dengan kejayaanmu?" Pertanyaannya sekilas memang seperti menghawatirkan Desya. Namun, itu adalah pertanyaan mengejek. Desya tidak menunjkkan ekspresi apapun selain malas.


"Untuk apa kau kemari lagi? Bukankah aku sudah memberimu kebebasan untuk mengelola bagian itu? Bahkan aku tidak akan mengambil seperserpun!"tanya Desya dingin. 


Pria itu duduk. "Tidak ada anggur?"tanyanya melihat meja Desya yang hanya terdapat bubuk teh aneka rasa. "Wah, kau sungguh berubah, Tuan. Aku kira hanya akan sehari dua hari saja. Ke mana semua anggurmu, Tuan? Apa kau membuatnya mereka?" Mimiknya sedih. Dan itu semakin menyebalkan bagi Desya. 


Desya tidak menggubris hal itu. Jika dikatakan ia tidak lagi minum anggur, itu kurang tepat. Ia minum, namun dengan jumlah kecil. Ya, biar bagaimanapun minum sudah jadi bagian dari dirinya. Dan kesukaannya pada teh, banyak membantu jumlah pengurangan konsumsi alkoholnya. 


Menjadi mualaf bukan hal yang mudah. Ada cukup banyak hal yang harus ia tinggalkan. "Tidak perlu kau urus aku dan kejayaanku, Alexander! Lebih baik kau segera pergi sebelum aku bertindak kasar!"


"Kau bertindak kasar? Tuan, kau berubah menjadi sangat lembut sekarang. Aku rasa kau bahkan tidak berani mengangkat senjata dan membunuh seseorang," balas Alexander dengan tertawa mengejek. Ia duduk dengan satu kaki bertumpu pada kaki satu lagi. Ia begitu angkuh. Desya tetap pada ekspresinya. Meskipun dalam hatinya sangat ingin meremas wajah Alexander. 


"Lantas, apa yang inginkan?" Alexander tersenyum. Ia seakan telah menunggu Desya menanyakan hal tersebut. 


"Kembalikan seperti dulu, Tuan. Tinggalkan keyakinan dengan aturan tidak jelas itu. Apa Tuan tidak sedih melihat kita yang terpecah-pecah karena keputusan Anda memeluk keyakinan? Perubahan-perubahan tak masuk akal kau lakukan. Apa-apaan melegalkan semua usaha. Kau cari mati namanya!" Pria berkata dengan memelas kemudian mengeram kesal. 


Pria itu, Alexander adalah salah satu orang yang menentang keputusan Desya meskipun itu sudah terlaksana. 


Karena keputusan Desya itu, beberapa pihak yang tidak setuju melakukan pemberontakan. Mereka tidak ingin bidang seperti obat-obat terlarang dihentikan. Desya, pria itu menghentikan itu karena itu sangat dilarang, baik di dalam agama maupun negara. 


Dan pada akhirnya Desya membuat keputusan bahwa, ia tidak akan menghapus bidang itu. Namun, bidang itu akan diserahkan kepada pihak yang menentangnya untuk dihapus dengan konsekuensi mereka bukan lagi bagian dari Black Rose dan harus angkat kaki dari wilayah organisasi itu. 


Sayangnya, lagi-lagi itu tidak disambut baik oleh pihak itu. Mereka malah semakin kesal. Karena Desya memeluk keyakinan, dan mereka menentang, mereka dikeluarkan dari Black Rose. Mereka malah mempertanyakan keadilan Desya sebagai pemimpin. 


Membangkit kontribusi mereka dalam kejayaan Black Rose. Mereka yang dipimpin oleh Alexander, mengklaim bahwa kejayaan Black Rose adalah karena kerja keras mereka dan obat-obatan terlarang adalah pasar yang paling besar, pasar yang membawa keuntungan besar untuk Black Rose. 


Dan keputusan final belum diambil. Desya didesak oleh keadilan itu. Alexander datang untuk kembali membujuk Desya. Caranya adalah dengan menyerang Desya melalui perubahan yang ia lakukan. 


Desya tertawa. "Berhenti membujukku, Alexander. Tidak perlu kau ajari dan pertanyaan keputusanku. Aku sudah memberimu bidang itu dan kau menolak. Aku tidak hanya menanganimu. Dan usahaku tidak hanya itu. Melegalkan usahaku, tidak akan membuatku mati. Kau saja yang memiliki pemikiran sempit. Ah aku lupa bertanya, apa sebelum ke ruanganku kau sudah berkaca? Dan memangnya siapa kau yang bisa memerintahku?" 


Desya membalas dengan telak. Ia sama sekali tidak terpengaruh dengan apa saja yang telah Alexander lakukan. Itu malah semakin membuatnya bersemangat untuk menyelesaikan perombakan. 


Wajah Alexander merah padam karenanya. "Aku memang seperti dulu. Namun, untuk kembali seperti dulu, saat ini pun aku bisa, Alexander!"


Desya mengeluarkan aura intimidasi. Ia adalah pimpinan Black Rose. Organisasi besar di negara yang terletak di dua benua itu. Di negara yang terkenal dengan nuklirnya. 


"Membunuhmu itu adalah hal yang sangat mudah." Pembawaan Desya kini santai. Akan tetapi, aura yang dibawakannya sangat menekan. 


"Masa' kau punya keberanian untuk menentangku tapi tidak dengan polisi di luar sana? Kau lebih-lebih pengecut dariku, Alexander," celetuk Desya lagi. Gantian ia yang memancing emosi Alexander. 


Wajah Alexander berkerut-kerut. Agaknya ia tengah mencari hal apa lagi yang bisa ia gunakan untuk menyerang Desya. 


"Ah, tidak Tuan." Pria itu tersenyum. "Anda yang lebih pengecut. Bahkan Anda menitipkan darah daging Anda pada wanita asing. Entah apa yang akan diajarkan pada Tuan Muda. Aku takut, Tuan Muda tidak akan mampu menjadi pewaris Anda." Pria itu terkekeh. Ia menggunakan Liev sebagai pancingan.


Bukan tersinggung, Desya malah tersenyum lebar. "Terima kasih atas perhatianmu, Alexander. Sekarang silahkan pergi dan angkat kaki dari wilayahku! Kau bukan lagi bagian dari Black Rose. Begitu juga dengan pengikutmu. Ah, kali ini aku serius. Tidak ada dispensasi apapun. So, selamat berjuang dengan usahanya sendiri!"ucap Desya. Ia mengusir Alexander dan menetapkan keputusannya. 


Persetan dengan nilai moral dan keadilan lagi. Diberi keadilan dan kesempatan tidak diterima dan menuntut lebih pada hidupnya. Hei! Siapa yang pemimpin dan siapa yang dipimpin?! Desya benar-benar muak. 


Wajah pria itu terbelalak. "K-kau! Kau tidak takut …." 


"Namun, ingatlah, mulai saat ini kau adalah musuhku dan Black Rose. Jika kau mengusikku, anggota atau wilayahku, maka nyawaku akan melayang!" Memangnya ia singa yang berubah menjadi kelinci? Singa tetaplah singa, tidak peduli dengan apapun perubahannya. Begitu juga dengan Desya. He's Desya!


"Kau menyatakan bendera perang, Desya!" Alexander menunjuk Desya dengan mata yang melotot. Wajahnya merah padam. Desya benar-benar tidak goyah. 


Dor!


Tiba-tiba sebuah tembakan terdengar di lepaskan. Desya hanya mengangkat alisnya saat Alexander membeku. Mulutnya terbuka, dan matanya semakin mendelik. Dengan gemetar ia melihat ke belakang. "Cukup omong kosongmu, Alexander! Sampah sepertimu memang harus dibersihkan." Itu adalah Dimitri. Dia yang melepaskan tembakan dan tepat mengenai dada Alexander dari belakang. 


"T-Tuan Besar?" Alexander tidak menyangkanya. 


Bruk! 


Tak lama setelahnya, Alexander tumbang. Ia mengejang beberapa saat sebelum menghembuskan nafas terakhir. Ya, singkat sekali memang. Bahkan itu belum melangkah keluar, namun nyawanya sudah melayang.


"Lebih baik menghindari dia berbuat masalah. Dengan begitu kita tidak hanya menghemat energi tapi juga banyak hal," ucap Dimitri, melemparkan pistol pada Irene. 


"Entahlah, Ayah. Ku rasa memang mati tujuannya." Desya menghela nafas pelan. Ia bangkit dan mendekati mayat Alexander. "Tapi, ini akan jadi pelajaran untuk yang lain. Irene, kumpulan anggota di lapangan utama. Aku ingin menyampaikan sesuatu!"titah Irene yang langsung dikerjakan oleh Irene.


"Banyak sekali tantangannya kan, Nak?" Dimitri menepuk pundak Desya. 


"Ya namanya juga melakukan perombakan, Ayah. Inikan sebuah revolusi." Desya bukannya tidak menyadari resiko dari keputusan memeluk agama. Ada pihak yang pro, kontra, dan netral. Dan yang kontra ini sangatlah keras kepala. Itu karena ada kepalanya. Dan kepalanya sudah Dimitri tebas. Tinggal mengurus bagian tubuh.


"Astaga! Mengapa ia sok tahu dengan pemikiran yang dangkal dan pengecut seperti itu? Jujur saja, aku malu mengakui bahwa dia pernah jadi bagian dari kita." Dimitri menatap sinis mayat Alexander. 


"Aku akan menyelesaikan satu masalah ini," ucap Desya. 


"Ayah ikut." Desya mengangguk. Desya kemudian menyuruh pengawal untuk membawa mayat Alexander ke lapangan utama. 


"By de way, apa Bella ada mengirim pesan padamu?"tanya Dimitri. 


"Ada."


"Apa isinya?"


"Liev baik-baik saja. Dia juga menanyakan kabarmu dan kalian. Kemudian dia juga mengundang kita untuk datang ke pernikahan adiknya," jawab Desya dengan rinci. 


"Wow. Lalu apa jawabmu?"


"Aku tidak bisa berpergian sebelum semua selesai, Ayah."


"Kapan acaranya?"


"Dua Minggu lagi," jawab Desya. 


"Besok hari raya dalam keyakinanmu, kan?" 


"Hm. Ini puasa terakhir," balas Desya. Ya, mualaf itu juga berpuasa ramadhan, bersama dengan Evalia dan muslim lainnya. Sengaja, untuk hal itu, Desya memboyong guru agama untuk tinggal di Green Palace. Jadwalnya belajar adalah selesai subuh dan magrib. 


"Ayo cepat selesaikan masalah ini. Besok adalah hari kemenangan, bukan?" 


"Ya."


Kini, tibalah mereka di lapangan utama. Lapangan itu sudah penuh dengan anggota Black Rose. Mereka langsung senyap kala Desya dan Dimitri tiba. 


Desya berdiri di tengah mereka. Melihat dari penjuru ke satu penjuru lain. "Aku tahu, kalian merasakan perubahan karena keputusanku. Namun, apakah kalian merasakan penurunan dari kejayaan kita?" Desya bertanya pada anggotanya. Biar anggotanya yang menjawab. 


"Tidak, Tuan!" Ada yang spontan menjawab. Ini sudah dua bulan sejak Desya membuat perubahan. Namun, mereka sama sekali tidak merasa ada penurunan. Fasilitas yang diberikan pada mereka sama. Hanya bagiannya dihapuskan, dibina lebih dulu sebelum diputuskan masuk ke bidang yang terus bergerak. Desya membuat pengaturannya. 


Itu akan mudah dan cepat jika semua anggota bisa diajak kerja sama. Namun, itulah dia. Ada beberapa pihak yang menentang dan membuat masalah. 


Lagipula hanya bidang obat-obatan terlarang. Desya menggantinya dengan memperbanyak perkebunan. Aset untuk perkebunannya saja per satu komoditas ratusan hektar. Hanya satu, sementara ia punya banyak perkebunan, anggur, tembakau, zaitun, mangga, dan lain sebagainya. Belum lagi berdirinya pabrik-pabrik produksi. 


Ah senjata, itu sebentar lagi akan mencapai status legal. Belum lagi, Desya juga membangun rumah sakit karena ia mempunyai anggota-anggota ahli di bidangnya. 


Dan banyak hal lagi. Termasuk membangun tempat ibadah yang lebih besar. "Namun, jika di antara kalian masih ada yang tidak setuju, silahkan angkat kaki sebelum nasib kalian sepertinya!" Desya menepuk tangannya.


Tercengang. Yang pro dengan Alexander sungguh terkejut. Tapi, ada yang tetap pada pendirian. Ada yang berbalik dan pergi. Akan tetapi, belum sepuluh langkah tembakan dilepaskan dan yang keluar barisan itu langsung terjerembab. 


Para anggota yang melihat itu menelan ludah. "Aku mungkin sudah memeluk keyakinan. Aku hanya sedikit lembut, mengapa kalian menganggapku seekor kelinci? Kalian kenal sifatku. Aku sudah berusaha keras menahan diriku untuk tidak melakukan ini. Namun, mereka adalah ancaman. So, pilihan ada di tangan kalian." 


Pilihan ada di tangan kalian? Ya, tinggal maka akan selamat. Keluar maka akan langsung pindah alam. 


"Namun, meskipun kalian dulu yang menentang keputusanku tinggal, bukan berarti kalian aman. Aku akan tetap mengawasi kalian. Jika kalian melakukan hal yang aku benci, maka kalian akan menyusul mereka!" 


Seusai mengatakan hal itu, Desya berbalik dan meninggalkan lapangan. Diikuti oleh Dimitri dan Irene. Sedangkan mayat Alexander dibiarkan dulu terbaring di sana. 


"Ayah senang melihatmu berpegang teguh pada keputusanmu," ucap Dimitri dalam mereka berjalan menyusuri koridor. 


"Aku selalu begitu, ayah," balas Desya. 


"Ya. Ayah tahu. Namun, dari semua keputusan yang kau ambil, ini yang paling ayah banggakan."


"Hm." Desya menyadari hal itu. Karena perombakan yang ia lakukan, sudah ada korban jiwa yang jatuh. Dan ya itu resiko dan tentu harus kuat pendirian dan mental untuk bisa melanjutkannya. 


"Setidaknya itu akan berefek cukup lama. Kau harus siapkan rencana baru untuk menghadapi jika mereka berulah," saran Dimitri.


"Iya, Ayah."


"Hm. Kau dibatasi oleh peraturan. Namun, ayahmu ini bebas. Ayah tidak terikat dengan kewajiban dan larangan apapun." Dimitri mengajukan dirinya untuk menjadi garda Desya. 


"Dan ayahmu ini adalah pimpinan terdahulu. So, aku juga punya hak melakukan sesuatu, seperti tadi."


Desya tersenyum. "Itu hak ayah," jawab Desya. Selama sebulan terakhir, Dimitri dan Aleandra tinggal di Green Palace, mereka membantu Desya dalam menghadapi pihak-pihak yang kontra dengan keputusan Desya.