This Is Our Love

This Is Our Love
Kabar Bahagia



Keesokan malamnya.


Malam ini, Ken dan Bella makan malam di luar. Bella ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Azzura. Oleh karena, saat siang harinya, Bella mengontak Azzura, menyampaikan niatnya. Dan itu disambut baik oleh Azzura dan suami tentunya. 


Kepada tim kecuali Azzura, Bella telah menyampaikan ucapan terima kasih secara langsung pada beberapa orang, secara mereka ikut dalam menjemput Bella. Dan sebagian lagi, Bella mengucapkannya secara virtual.


Dan pada Azzura, Bella mengajaknya makan malam, sebagai ungkapan terima kasih juga sebagai bersilaturahmi. 


Setelah kembali, Bella sering menggunakan pakaian yang ia bawa dari Rusia. Itu karena ukurannya yang pas dengan besar tubuhnya sekarang. Yang masih tinggal di rumah sih ada. Namun, kurang nyaman untuk ia gunakan. 


Ken hanya bisa menghela nafasnya saat Bella menolak dibelikan pakaian baru. Alasan Ken ingin membelikan Bella pakaian baru? Ya, tentu saja cemburu. Pakaian itu kan diberikan oleh Desya, bawaan dari Green Palace. Dan menurut Bella, akan boros jika membeli pakaian baru. Lagipula, pakaiannya yang tidak bisa dipakai sekarang bisa ia gunakan setelah melahirkan. 


"Hei, kenangan itu ada di setiap langkah. Meskipun kau membakar pakaian ini, tidak akan menghapus ingatanku ataupun ingatanmu tentang insiden itu, tidak akan menghapus tentang Desya. Atau kau tidak percaya padaku? Lagipula, ada bukti nyata di sini. Tuh, bocah itu replika Desya. Kau tidak bisa menyangkalnya, Ken. Dan pakaian ini bukan Desya yang membuatnya, ini buatan Evalia!"tegas Bella saat melihat wajah cemberut Ken. Pria itu mengerucutkan bibirnya sambil menyetir. 


"Ya, tetap saja," sahut Ken. Bibirnya masih maju. Namun, logikanya menerima apa yang Bella katakan. Ya, itulah dia. Kadang hati tidak sejalan dengan logika, begitu juga sebaliknya. 


Bella tersenyum. Ditepuknya lembut bahu Ken. "Atau aku balik lagi ke sana? Toh di sana hidupku juga enak. Aku juga bisa tetap berkerja. Bagaimana?"tanya Bella, dengan sedikit seringai. Itu ancaman yang membuat Ken langsung gelalapan. 


"Hahaha … aku bercanda, Aru. Aku tidak masalah. Toh, sebanyak, semahal, semewah apapun yang dulu ia berikan padamu, tidak akan mampu menaklukkan hatimu karena your heart are mine," ucap Ken. Ia bergidik dan meringis. Matanya melirik takut dan was-was Bella. 


Bella menyunggingkan senyum lebar. "Itu dia!"seru Bella, puas dengan jawaban Ken. 


"Hehehe." Ken ikut tertawa, antara kaku dan tawa takut. 


Sekitar lima belas menit kemudian, Ken dan Bella tiba di tempat yang dijanjikan. Ini adalah restoran bakmi. Lokasinya strategis dan pengunjungnya sangat ramai. Bersyukur sudah memesan meja lebih dulu. Jadi, mereka langsung menuju meja yang dipesan tadi sore. 


Ternyata Azzura dan Anggara belum tiba. Saat melihat jam, baik Ken atau Bella terkekeh. Mereka datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan. Ya kebiasaan baik yang terus diterapkan. Datang lebih cepat daripada waktu yang dijanjikan. Walaupun resikonya adalah menunggu. 


Setelah menunggu kurang lebih sepuluh menit, Anggara dan Azzura akhirnya tiba. Tidak melewati jam yang dijanjikan. Mereka datang tepat waktu. "Assalamualaikum," sapa keduanya ramah dengan tersenyum lebar. 


"Waalaikumsalam," jawab Bella dan Ken dengan membalas senyum mereka pula.


"Maaf ya, Kak. Kami telat," ucap Azzura tidak enak karena Ken dan Bella datang lebih dulu. 


"Kami juga baru tiba. Lagipula kalian tepat waktu," balas Bella, berdiri dan memeluk Azzura. Begitu juga dengan Ken yang memeluk Anggara. "Selamat malam, Presdir Anggara," sapa Ken dengan formal. 


"Ah, jangan begitu, Kak! Jangan singgung itu di pertemuan ini." Anggara mengerut. Ken malah tertawa. 


"Baiklah-baiklah. Ayo duduk," ajak Ken. 


Setelah duduk, mereka memesan menu komplit. Mulai dari makanan pembuka, menu utama, dan menu penutup. 


"Senang melihatmu kembali dengan selamat, Kak. Aku sangat bersyukur," ucap Azzura, tangannya memegang tangan Bella. 


"Itu semua juga karena usaha kerasmu, Zura. Terima kasih. Kau pasti sangat bekerja keras dengan petunjuk yang sangat sedikit," ucap Bella. 


"Kau hebat!"puji Bella kemudian. 


"Tapi, tidak sehebat kakak," balas Azzura, melayangkan pujian untuk Bella.


"Begini lah kalau perempuan sudah berbincang, kita akan dilupakan," ucap Ken, melayangkan protes secara tidak langsung.


"Ya, sepertinya begitu." Anggara membalas. Kedua wanita itu menoleh pada suami mereka masing-masing. Matanya keduanya membesar. "Oh ya?" Bella bersiap untuk memberi hadiah untuk Ken. 


"Aku kan tadi memberi pilihan padamu, mau ikut atau tidak. Kok malah protes?" Anggara dan Ken sama-sama menelan ludah. 


"Bumil memang sensitif." Meskipun begitu, Anggara masih sempat berbisik demikian. 


"Hah?" Dibalas dengan Ken dan Bella yang terkejut. Tidak, itu reaksi normal. Ekspresi keduanya menatap Anggara dan Azzura dengan penasaran. "Sudah jadi?"tanya keduanya. 


Ekspresi galak Azzura pun berubah menjadi malu-malu kucing. Ia menunduk dengan tersenyum. "Ya, usia sudah tiga minggu," jawab Azzura. 


"Dia juga baru memberitahunya saat lokasi pasti Kak Bella ditemukan," imbuh Anggara. Azzura memang sengaja merahasiakan. Kalau tidak, Anggara akan membatasi atau melarangnya untuk melanjutkan pencarian Bella. Meskipun kesal, Anggara tidak bisa marah terlalu lama. Yang terpenting, istri dan bayinya baik-baik saja. Namun, kedepannya Anggara pasti akan lebih ketat pada Azzura. 


"Wow! Kau akan benar-benar jadi Papa Muda, Angga. 19 tahun akan segera jadi Papa," ucap Ken, memberi selamat untuk Anggara. 


"Ya, aku juga tidak pernah menyangka. Aku sangat bahagia." 


"Aigo. Aku seketika merasa bersalah. Zura, katakan apa yang kau inginkan. Aku akan memberikannya jika aku bisa," ucap Bella. Ia menjadi sensitif dan menyeka sudut matanya. 


Azzura langsung menggeleng. "Aku tidak minta apa-apa, Kak. Kecuali …. " Azzura menjeda ucapannya. Dan itu semakin membuat Bella penasaran. 


"Katakanlah," ujar Bella. 


"Angkat aku menjadi adikmu, Kak!"jawab Azzura. Setelahnya ia menunduk. Azzura seperti telah melakukan hal yang tak lazim hingga ia merasa malu. Ragu dan takut ditolak. 


Ken dan Anggara saling pandang. Azzura itu kaya. Dia Tuan Putri tunggal keluarga Adhitama. Dia tidak kekurangan apapun. Orang tua, ataupun dirinya sendiri, juga suaminya bisa memenuhi apapun keinginannya dirinya. 


"Kakak tidak menerimanya?" Mimik Azzura menjadi sayu. 


"No! Tentu saja aku menerimanya." Mana mungkin Bella tidak menerima permintaan itu. Azzura telah bekerja keras bahkan saat dirinya hamil muda. 


"Terima kasih, Kak. Aku bahagia sekali!" Azzura dan Bella kemudian berpelukan. Mereka baru kembali duduk saat menu yang dipesan datang. 


Ken dan Anggara sama-sama melempar senyum. Dengan hubungan itu, maka persahabatan bahkan tali persaudaraan di antara keluarga Utomo dan Mahendra yang sempat merenggang karena hubungan Ken dan CIA hanya kandas akhirnya kembali mengerat lagi.


*


*


*


Sejak malam itu, Bella menambah satu lagi adik angkatnya. Begitu juga Ken secara tidak langsung. Dan hal itu juga disambut baik oleh keluarga Mahendra. Hubungan Ken dengan Anggara, juga Angkasa juga kembali rapat seperti dulu. Masa lalu, sudah menjadi hal yang lalu. 


Dan setelah itu, Anggara dan Azzura, kadang juga bersama dengan Angkasa sering berkunjung ke kediaman Mahendra. 


Rahayu, wanita itu sangat bahagia karena mansion semakin ramai dan penuh dengan warna. Apalagi, ia akan segera menjadi nenek dari keturunan anak-anaknya. Dan juga Liev. Rahayu sangat dekat dengan Liev. Tak jarang pula, Liev tidur bersama dengan nenek angkayanya itu. 


Menuruni kecerdasan sang ayah, Liev dengan cepat mempelajari dan menyerap pembelajaran. Bahasa Indonesia juga mulai lancar meskipun masih dipadukan dengan bahasa Rusia.


Dan itu tentunya sudah memudahkannya untuk berkomunikasi dengan para pelayan atau anggota keluarga lain selain Bella. Sebelum bisa berbahasa Indonesia, Liev menggunakan gerak tubuh untuk berkomunikasi. 


Pelayan yang ikut bersama dengan Liev dari Green Palace, tidak sepenuhnya melayani Liev. Pelayan itu berbaur dengan pelayan lain, dan secara tak langsung menjadi salah satu Pelayan di keluarga Mahendra. 


Tugas utamanya? Tidak terlalu banyak yang ia kerjakan. Terlebih Bella ada, tidak keluar rumah. Bekerja dari rumah dan itu pun tidak terlalu sibuk karena pola kerja  yang diterapkan adalah santai, asal pasti. Terlebih ada Rahayu, Nesya, juga Dylan, dan Fajar. Mereka tidak acuh. Selain itu, Bella juga membiasakan Liev untuk mandiri. Contohnya saja mandi. Tentu saja masih tetap diawasi. 


Untuk mainan juga dipilih mainan yang mengasah otak, baik ketelitian, kecemasan, ketajaman mata, ingatan, dan kemampuan memecahkan masalah, contohnya saja puzzle dan mainan bongkar pasang lainnya. Terkadang, Liev melihat dan memperhatikan permainan Bella saat main game online, sebut saja mobile legend. 


Ah … satu hal lagi, keyakinan Liev saat ini adalah Islam. Oleh karenanya, Bella juga mengajarinya agama. Hal itu, terjadi setelah mendapat persetujuan Desya dan setelah Liev melewati proses pengislaman, mengingat dulu ia mengikut keyakinan sang ibu. 


Kehamilan Bella dan Silvia juga semakin besar, sesuai dengan usianya. Anak kembar, itu adalah kabar baik dan membahagiakan. Ah, rasanya sangat tidak sabar menanti kelahiran bayi-bayi itu. 


Usia tujuh bulan, diadakan acara syukuran untuk kedua bayi Bella dan Ken. Acaranya terbilang cukup sederhana namun begitu berarti. Acara syukuran itu diadakan di salah satu panti asuhan, bersama dengan anak yatim piatu. Membangun sekolah untuk anak-anak berkebutuhan khusus, itu adalah bentuk ucapan syukur lainnya. Selain itu, Bella dan Ken juga menyumbang ke badan amal. Surya dan Rahayu juga turut andil dalam acara itu. Mereka menjadi donatur tetap di beberapa panti asuhan. 


Brian dan Silvia, mereka juga ikut serta dalam hal tersebut. Sebenarnya itu sekaligus juga sebagai bentuk syukur untuk bayi mereka yang sudah menginjak usia 4 bulan. 


Tak tak terasa pula, bulan yang suci, bulan Ramadhan telah tiba. Dan sehari sebelum puasa pertama, El sudah pulang dari Jerman. Urusan syuting sudah selesai. Tinggal mengedit beberapa bagian dan mengurus beberapa hal lagi, yakni persiapan untuk tayang yang dijadwalkan akan mulai tayang di seluruh bioskop di Indonesia pada hari raya idul Fitri hari kedua. Dan tidak menutup kemungkinan pada film itu akan tayang pula di Jerman, mengingat hampir seluruhnya latar di negara itu. Belum lagi penulisnya juga Helena. 


El sangat percaya diri dengan film ini. Kisah tentang perjuangan seorang anak yang mencari ibunya di luar negeri, bersama dengan sang nenek. Dibumbui dengan perjuangan, religi, juga percintaan, dan pendidikan, dan persahabatan. Akan banyak pelajaran dan nilai kehidupan yang disampaikan dalam film itu. El yakin, film ini tidak akan mengecewakan. 


Lebih-lebih film ini didukung oleh segenap anggota keluarganya. Ini akan menjadi comeback-nya dalam dunia perfilman. Berharap, setelah ini, El tidak hanya akan dipandang kerena keluarganya, namun karena kemampuannya. 


Ya, meskipun ada kemungkinan harapannya tidak terwujud. El tidak akan kecewa dengan itu. Dan El percaya, usaha tidak akan mengkhianati hasil. Keringat yang dikeluarkan, otak yang diperas untuk menghasilkan adegan terbaik, tidak akan mengecewakannya. Hasilnya juga tentu yang terbaik. 


Pukul 02.00, para pelayan sudah sibuk di dapur untuk membuat makan sahur. Dalam satu satu jam, makan sahur tersaji di meja makan. 


Para pelayan kemudian berbagi tugas untuk membangunkan keluarga Mahendra. Tidak sulit, karena semua kamar yang ditempati sudah dipasang dengan alarm. Ah hanya satu kamar yang susah untuk dibangunkan. Siapa lagi kalau bukan El. 


Bahkan bukan pelayan lagi yang turun tangan, melainkan Brian dan Ken. Tak ada jawaban, keduanya masuk ke dalam kamar, kebetulan kamar itu tidak dikunci. 


Dan El, masih nyenyak tidur di balik selimutnya. "Pantas saja telinganya seperti telinga badak," ketus Brian, setelah menyibak selimut El. Pria itu menggunakan penutup telinga. 


 "Disiram atau bagaimana, Kak?"tanya Ken, seraya melihat ke arah jam. Sekitar satu jam lebih lagi menuju imsak. 


"Ambil air." Ken menurut. Ia mengambil air dengan ember. 


Ken memulainya dengan mencipratkan air pada wajah El. Namun, tidak mempan. Ditambahkan frekuensinya, tidak juga kunjung bangun. Brian yang sudah geram, langsung merebut dan menyiramkan air satu ember pada Brian. "Woaahh … banjir!!" 


Sesuai dugaan. Pria itu langsung bangun dan berdiri di ranjang. Wajahnya menunjukkan kepanikan namun tubuhnya terpaku. Pria itu kemudian mengerjap sadar ketika mendengar Ken yang tertawa. 


"Apa-apa kalian?" El berseru kesal. Ia melihat jam, " bahkan subuh pun belum kalian mengganggu tidurku! Ah mimpi indahku!"


"Kalau menunggu subuh sih, puasa pertama kakak sudah pasti bolong," sahut Ken. 


"Puasa?"


"Iya."


"Eh! Astaga! Bagaimana bisa aku melupakannya!" Pria itu turun dari ranjang dan berlari keluar. Meninggalkan Ken dan Brian. "Apakah mimpi indahnya tentang Kak Jani?"bisik Ken pada Brian. 


"Mungkin saja," sahut Brian, menyusul El. Disusul oleh Ken.