This Is Our Love

This Is Our Love
Tak Tergoyahkan



Tangan Cia terkepal erat saat Bella mencium punggung tangan Ken dan Ken mencium kening Bella. "Adakah alasannya, Nona Utomo? Kau mengatakan kau punya alasan yang kuat untuk pergi dan alasan untuk kembali, apa itu? Katakan dengan jelas!"


Bella menatap Cia penuh selidik. Bella mulai muak dengan drama yang tercipta saat ini. Ia harus mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah dan kembali mendapatkan ketenangan hatinya. Cia, Cia, dan Cia, dua hari ini sangat mengusik Bella. Jika bukan mengingat hubungan Ken dan Cia sebelumnya, juga kedekatan Rahayu dan Clara, mudah baginya untuk membuat Cia tidak akan pernah mengusiknya lagi. Hanya saja cara itu adalah cara yang salah dan lebih kepada kejam. Saat ini, Bella lebih kepada bersikap ke sesama wanita, mau mendengarkan alasannya agar jelas bicara dari ke hatinya.


Cia menatap Bella dengan sedikit mengukir senyum. 


"Ya itu benar. Katakan apa alasan keluarga ini harus menerimamu. Ah salah, apa alasan kami untuk bisa memaklumi ucapan cintamu yang menjadi obsesi itu!"ucap Dylan yang sebenarnya sungguh ingin menyeret Cia keluar. Namun, melihat ketenangan Bella membuat Dylan tetap diam mengamati. Brian sedikit mengangkat alisnya. Sedangkan Silvia tetap pada wajah datarnya. 


"Mari bicara empat mata!"ajak Cia dengan nada memerintah, setelahnya menatap dalam Ken yang tatapannya lekat pada sang istri. Tiada protesan yang keluar dari bibir Ken. Matanya memancarkan sejuta kepercayan pada Bella. Ken yakin, Bella tidak akan mengambil suatu langkah tanpa pertimbangan yang jelas. 


"Katakan dengan jelas di sini! Jika tidak, silahkan segera angkat kaki dari rumah ini!"ucap Brian mewakili yang lain. Bicara empat mata, bukanlah itu aneh dan mencurigakan? Sedangkan seluruhnya yang ada di sini mendengar Cia punya alasan untuk pergi lalu kembali lagi. 


Cia tidak bisa mengelak dari di bawah tatapan intimidasi Keluarga Mahendra. Ia menatap bergantian anggota keluarganya. Clara dan Anggara menggelengkan kepala pelan sedangkan Bayu menutup matanya. Cia mengigit bibirnya, "karena aku sangat mencintai Ken!"jawab Cia kemudian yang langsung disambut tawa lepas Bella.


"Tidak. Bukan itu alasannya!"sergah Bella kemudian. 


"Anda menuduh anak saya berbohong?!"geram Clara melihat anaknya ditertawakan oleh Bella. 


"Yes! Aku mau alasan yang sesungguhnya. Alasan masih mencintai itu, pasaran sekali," balas Bella dengan santainya. Air mata Cia sudah menetes. Ia gemetar dan kakinya terasa lemas. Anggara dan Clara sigap menahan Cia agar tidak limbung lalu membawanya duduk. Cia mulai sedikit tenang saat sudah minum. Dalam hatinya sungguh terluka karena Ken tetap tidak berpaling melihatnya. Ekspresinya sungguh terluka, tatapannya begitu nanar. Sudut hatinya mulai mempercayai jika Ken sudah tidak mencintainya lagi, atau bahwa Cia sudah terhapus dari hati Ken. 


"Kalian ingin tahu alasannya?!" Bayu angkat bicara. Sorot matanya tajam pada Bella. 


"Seorang kepala keluarga mungkin tidak akan memperlihatkan kelemahannya pada orang lain. Seorang kepala keluarga mungkin bisa bertindak kejam dan egois. Namun, seorang ayah tidak akan bisa. Selama ini aku bertindak sebagai kepala keluarga. Tapi, sekarang. Aku akan membantu putriku mendapatkan kebahagiaan dan haknya!" Nada bicara Bayu penuh penekanan. Aura keseriusan langsung menyebar. Bella dan Ken langsung beralih duduk. Bayu mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kertas yang ia sodorkan pada Bella. Bella menerimanya dan membacanya. Ken melirik sekilas, itu seperti surat keterangan dari rumah sakit. Tatapan Ken beralih pada Ken yang tampak menutup mata dalam pelukan Clara. 


Bella membaca dengan teliti apa yang tertera di dalam kertas itu. Sesekali ia melirik keluarga Utomo. Tak lama kemudian, Bella meletakkan kertas itu yang segera diambil oleh Brian. 


"Lantas apa yang Anda sekalian harapkan dari surat itu?"tanya Bella. 


"Bukankah pertanyaan Anda ini sangat dingin? Tidak adakah sedikit ras iba Anda?"kecam Bayu. 


"Jadi apa yang harus saya lakukan? Langsung menerimanya, begitu? Tuan Bayu, umur itu rahasia Illahi!! Jika putri Anda sangat mencintai suami saya, maka merelakannya adalah pembuktian yang terbaik. Bukan seperti ini!"tegas Bella. Ia lantas berdiri, seperti hendak meninggalkan tempat. Baru beberapa langkah, Bayu menghadangnya dan seperti hendak berlutut pada Bella. 


"Mas/Papa!"seru Clara dan Anggara. Hancur. Hancur sudah harga diri keluarga Utomo di depan keluarga Mahendra. Cia membuka matanya. 


"Jangan!"seru Cia melarang papanya. Bella refleks menahan Bayu. Memegang kedua tangannya, "Paman, jangan rendahkan diri Anda. Kembalilah, keputusanku tidak berubah!"ucap Bella lembut, menepuk bahu Bayu sekali kemudian melangkah pergi menuju kamarnya. 


"Ken?" Pandangan Bayu berharap pada Ken. Sayangnya, Ken seperti Bella. "Cia, maaf. Paman, Bibi, Anggara, maaf. Aku tidak bisa menerima Cia sebagai yang kedua. Jujur saja, aku tidak sanggup untuk itu. Aku bukan Tuan Muda dengan segala kebebasan. Dan sebentar lagi aku akan jadi seorang Ayah. Jika kau mencintaiku, tolong jangan ganggu rumah tanggaku, Cia!"ucap Ken yang membuat semua mata membulat.


Tak terkecuali Brian. Ia bahkan lebih tampak shock. Silvia setelah tersadar tak bisa untuk tidak tersenyum lebar. Ia akan jadi seorang Aunty. Dan Brian akan jadi Uncle. Surya dan Rahayu akan memiliki cucu. 


"Abel hamil?!"tanya Rahayu dengan wajah yang begitu bahagia. 


"Iya, Ma. Sebentar lagi kami akan menjadi orang tua," jawab Ken dengan senyum lebarnya.


"Kalau begitu cepat susul Abel. Suasana hati ibu hamil tidak boleh buruk!"suruh Rahayu dengan melambaikan tangannya pada Ken. Ken mengangguk. 


"A-apa?"gumam Cia setelah Cia bahkan tidak bisa percaya jika Ken dan Bella sudah …. Kepalanya lantas tertunduk. Cia sudah kalah telak. Ken berlalu menyusul Bella. 


Di tengah kebahagian itu, Cia kembali berdiri di hadapan keluarga Mahendra. Cia menundukkan kepalanya. Tampaknya ia sudah menyadari kekeliruannya. "Maaf," ucap Cia singkat sebelum akhirnya berlari keluar. 


"Kakak/Cia!" Clara dan Anggara segera menyusul Cia. Bayu tersenyum simpul, wajahnya seperti memancarkan sebuah kelegaan. 


Ia lantas membungkukkan tubuhnya sebagai bentuk permintaan maaf. Surya menggelengkan kepala mengartikan yang berlalu biarlah berlalu. Sudah selesai masalahnya. Namun, apakah masalah ini benar-benar selesai? Jika selesai pun, jarak di antara kedua keluarga akan semakin menjauh. 


Setelah kepergian keluarga Utomo, Rahayu menunjukkan kebahagiaannya dengan memeluk erat Surya. Dylan juga ikut memeluk keduanya. Sedangkan Silvia langsung menempel, memeluk erat lengan Brian. 


Sepertinya aku tidak bisa terus menghindar lagi. Lagipula aku sudah kembali mendapatkannya!batin Brian, mendaratkan kecupan hangat pada dahi Silvia. 


*


*


*


"Aku berpikir jika itu adalah cara yang paling ampuh," jawab Bella. Ia merasa gelisah melihat Bella yang memijat pelipis kemudian mengesah pelan. 


"Okay. But, bagaimana dengan yang lain? Jika itu benar, tidak masalah. Sayangnya, Ken kau tahu sendiri aku belum …." Sebelum Bella menyelesaikan ucapannya, Ken sudah membungkam Bella dengan ciuman. Kedua tangannya memeluk erat pinggang Bella dan tak memberinya kesempatan untuk menolak. 


Baru setelah merasa keduanya kehabisan nafas, Ken melepas ciumannya, "belum bukan berarti tidak," ucap Ken.


Bella membenarkan ucapan Ken itu. Hanya saja situasinya tidak cocok untuk memberitahu orang luar tentang kehamilan menantu keluarga Mahendra. Terlebih Bella saat ini tengah berurusan dengan salah satu direksi perusahaan, dan mungkin ada lawan atau musuh lain yang belum menampakkan diri. Jangan lupakan juga Tuan Tua Nero. Ken tidak salah, hanya gegabah saja. 


Namun, jika ditilik lagi. Ini ada baiknya juga karena bisa menyebabkan para lawan atau musuh bertindak. Akan tetapi, Bella dan Ken juga tidak ingin mengecewakan keluarga, terlebih Rahayu yang sudah sangat bahagia. Jalan keluarnya sekarang adalah dengan ia benar-benar hamil. 


"Ahh," pekik Bella saat Ken mendorongnya ke ranjang dan Ken berada di atas tubuhnya. "Apa yang kau pikirkan, Aru?"tanya Ken dengan menatap dalam Bella. Ia memperhatikan ekspresi Bella yang semula gelisah, lalu berubah menjadi seperti menantikan sesuatu, lalu bingung, dan gurat rasa bersalah. 


"Jika sudah begitu, apa boleh buat? Kita harus bekerja keras," ucap Bella dengan mengalungkan kedua tangannya pada leher Ken. 


"Aku sudah siap," jawab Ken, langsung mendaratkan ciuman kembali pada Bella. 


*


*


*


Sementara di ruang tamu, suasana yang tadinya penuh dengan kebahagiaan karena Ken mengumumkan jika Bella sudah hamil berubah menjadi serius. Surya dan Brian bukan seperti Rahayu dan Silvia, juga Dylan yang percaya akan kehamilan Bella tanpa ada keterangan yang jelas. Keduanya seperti satu hati, berkata dalam hati jika Ken mengatakan hal itu untuk mengakhiri urusan dengan keluarga Utomo. Namun, keduanya juga tak ingin mematahkan kebahagian orang yang cintai. Alhasil mereka hanya bisa mengikuti alur untuk saat ini. 


"Kondisi di perusahaan tidak sedamai dan setenang yang terlihat," ucap Surya. Rahayu mengerti. Awalnya ia ingin menggelar perayaan. Mendengar dan mengingat lagi bahwa sesungguhnya keluarga mereka selalu jadi incaran publik ataupun musuh, Rahayu tidak protes dengan hal itu. 


"Kabar bahagia ini untuk sementara waktu tidak dipublikasikan demi keamanan Abel," lanjut Surya.


"Tapi, Pa. Jika tidak dipublikasikan pun, akan tersebar dengan sendirinya karena Abel tidaklah tetap berada di rumah. Dengan posisinya, perubahan sekecil apapun pasti akan menjadi sorotan," ujar Silvia. 


"Maka sebelum itu, masalah yang muncul saat ini harus segera diselesaikan dan membuat antisipasi untuk masalah yang diperkirakan akan muncul di masa depan. Kita juga tidak kekurangan uang, kita bisa menyewa sejumlah bodyguard untuk Abel. Dan Abel juga punya kemampuan bela diri yang mumpuni," ucap Surya. Ia meminimalisir kekhawatirannya akan keselamatan anak dan menantunya. 


"Dan masalahnya sekarang terletak pada Ken," imbuh Brian.


"Maksudnya?" Rahayu tidak mengerti. 


"Bela diri Ken harus ditingkatkan untuk bisa melindungi dirinya sendiri dan keluarga kecilnya!" Surya mengangguk membenarkan jawaban Brian. 


"Jadi, intinya kita harus mempersiapkan segalanya dengan maksimal untuk menghadapi apa yang akan terjadi besok dan selanjutnya. Jika begitu, Dylan boleh ikut belajar bela diri, kan?"ucap Dylan menarik kesimpulan. 


"Tentu saja."


Jika ada yang bertanya kemana Calia dan mengapa kemarin Bella tidak menjalani terapi maka jawabannya adalah Calia sedang mengikuti seminar di Singapura selama lima hari terhitung dari hari Sabtu. Untuk terapi kemarin memang sengaja tidak dilakukan karena masalah kemarin cukup melelahkan hati dan fisik. 


*


*


*


"Dasar tidak berguna!"desis seorang pria yang berumur lanjut. Barang di atas meja berserakan di lantai dengan dua orang pelayan membeku di sudut ruangan. 


"Bodoh-bodoh! Lemah, menyebalkan!"runtuk kesalnya kemudian. Wajahnya terlihat menyebalkan. 


Di detik berikutnya, sebuah ponsel yang teronggok di lantai berdering. Pria itu bangkit dari duduknya dan memungut ponselnya. Membaca sebuah pesan yang masuk yang membuatnya tersenyum smirk. 


"Tidak masalah. Malah ini akan semakin menarik." 


Pria itu lantas tertawa yang membuat kedua pelayan itu menundukkan kepala tak berani melihat tuannya yang tertawa mengerikan bagi mereka