
Resepsi akan dimulai pukul 14.00 nanti. Selesai akad dan acara keluarga lainnya, barulah Anggara bisa menghela nafas lega sesaat sebelum waktu resepsi. Kini ia berada di dalam kamar hotel yang diperuntukan sebagai kamarnya dan Azzura.
Anggara merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya terpejam dengan senyum puas yang merekah. Akhirnya ia bisa memejamkan matanya cukup lama. Bangun pagi mengalahkan bangunnya ayam sungguh membuatnya kini merasa mengantuk.
Anggara tak terlalu memusingkan dekorasi kamar yang serba merah muda, bahkan seprei dan selimut juga. Ia hanya ingin tidur barang setengah jam.
"Zura kamu masuk ya. Pangeran Zura ada di dalam. Temani dia, nanti kalau sudah waktunya ada orang yang bakal bantu Zura dan Pangeran Zura bersiap untuk pesta," tutur Nyonya Adhitama, yang mengantarkan Azzura sampai depan pintu kamar pengantin baru ini.
Azzuri mengangguk tanpa banyak pertanyaan. Nyonya Adhitama membukakan pintu dan Azzura masuk dengan sedikit mengangkat gaun bagian depannya.
Azzura tersenyum lebar melihat dekorasi kamar. Matanya berbinar, bibirnya yang kemerahan sedikit terbuka.
Wajah Azzura berubah sendu saat melihat sosok pemuda yang telah sah menjadi suaminya berbaring, terlelap di atas ranjang. Namun, itu hanya sekilas. Ekspresinya kembali berubah layaknya seorang anak kecil yang kegirangan mendapatkan apa yang ia sukai. Azzura menggerakkan tangannya membentuk pose hendak menari berputar.
Di detik berikutnya ia mulai bergerak. Kedua tangannya terangkat ke udara dan tubuhnya mulai memutar seperti para putri yang menari saat pentas kerajaan.
Namun, karena gaun yang kepanjangan dan tempat yang sempit, Azzura terjatuh akibat menginjak gaunnya sendiri.
Bugh!
Benturan antara Azzura dan lantai begitu keras hingga membangunkan Anggara. Anggara yang ditarik paksa dari tidurnya, menggelengkan kepala agar bisa melihat dengan jelas.
Siapa yang menangis? Sayup ia mendengar suara tangis. Betapa terkejutnya ia saat menemukan Azzura terduduk di lantai dengan memegang pergelangan kaki yang masih terbalut dengan alas kaki berhak sedang komplet dengan kaos kaki dan menangis.
"Ya Allah, Azzura! Apa yang terjadi padamu?!" Langsung saja Anggara turun dari ranjang dan menghampiri istrinya. Wajahnya begitu cemas. Cemas akan Azzura dan cemas kalau nanti ia yang dituduh menyakiti Azzura.
"Hiks … hiks … hiks sakit sekali. Huhuhu sakit sekali. Kaki Zura sakit," tangis Azzura. Ia mengaduh dengan air mata sudah membanjiri pipi cantiknya.
Mata Azzura memerah, ia tampak begitu kesakitan.
"Boleh aku lihat?" Walau sudah jadi suami dan istri serta sudah menerima Azzura dengan ikhlas, tetap saja Anggara meminta izin untuk menyentuh istrinya itu. Anggara mengangguk pelan. Tangisnya sudah mulai mereda. Namun, masih senggugukan.
Dengan perlahan karena masih terlalu gugup, Anggara menjulurkan kedua kaki Azzura agar mudah baginya melihat kondisi kaki Azzura.
"Pangeran kau sangat tampan," puji Azzura tiba-tiba saat melihat wajah Anggara yang begitu serius dan sangat hati-hati melepas alas kakinya.
Anggara mengangkat wajahnya, gerakan tangannya berhenti, "Aku tidak perlu iri lagi pada putri-putri itu yang masing-masing memiliki pangeran. Bahkan aku sangat senang, pangeranku lebih tampan dari pangeran mereka semua," imbuh Azzura lagi.
Anggara tersenyum, mengangguk pelan. Kembali pada pekerjaanya. Azzura menarik senyum tipis saat melihat melihat telinga Anggara yang memerah.
"Pangeranku kau baik-baik saja kan?"
"Aku baik-baik saja. Justru kau lah yang sepertinya terluka," jawab Anggara lembut.
"Tapi, telingamu merah, Pangeran. Kau demam?" Anggara terhenyak mendengar pertanyaan polos Azzura.
"Aku sedikit merasa panas," jawab Anggara, ia berkilah.
"Panas?" Azzura melihat ke arah pendingin udara, "AC nya nyala kok."
"Panasnya dari dalam, AC tidak akan bisa mendinginkannya," jawab Anggara asal. Ia kini membuka stocking yang dikenakan Azzura.
Oh My God! Kakinya begitu indah. Anggara terdiam lalu menelan ludah melihat kedua kaki Azzura.
Tidak! Sadarlah Angga! Kau akan melakukannya atas dasar cinta dengan cinta, bukan ***** semata. Tapi, hanya kaki sudah bisa membuatku semakin merasa panas, runtuk Anggara dalam hati saat gairah mendatangi dirinya.
"Panas dari dalam? Pangeran buka baju saja, jadi panasnya bisa menguap. Papa Zura selalu begitu kalau kepanasan. Malah lebih aneh lagi," saran Azzura.
"Lebih aneh?" Anggara mengeryit.
Azzura mengangguk kecil, "iya. Malam kan biasanya dingin, nah saat Zura ke kamar Papa dan Mama. Papa selalu nggak pakai baju. Alasannya panas," terang Azzura.
Anggara bingung mau menanggapinya.
Dasar polos, itu hanya bisa ia katakan dalam hati.
"Ayo, Pangeran. Buka saja bajumu kalau kepanasan," ucap Azzura.
"Sudah tidak panas lagi," jawab Anggara.
"Sungguh?"
"Iya."
"Auh … sakit!"ringis Azzura saat Anggara menyentuh pergelangan tangannya.
"Sepertinya terkilir. Aku bantu duduk di ranjang, setelah itu aku pijat supaya sakitnya berkurang," ucap Anggara.
Azzura mengangguk. Dengan susah dan payah karena gaun yang Azzura kenakan begitu mekar belum lagi Azzura yang lebih berat darinya.
"Huft!"
Setelahnya Anggara merogoh saku jasnya. Sebotol minyak angin berada di tangannya.
"Kalau sakit katakan saja, ya."
"Ehem."
"Aaauhh … Mama sakit!"aduh Azzura, ia setengah berteriak.
Azzura kembali menangis. "Sebentar lagi nggak akan sakit kok," ucap Anggara menenangkan.
"Ada apa, Zura?!" Nyonya Adhitama menerobos masuk dengan wajah cemas.
"Mama sakit!"tangis Azzura semakin kencang. Buru-buru Nyonya Adhitama menghampiri sang putri dan memeluknya. Memberi kecupan pada pucuk kepala Azzura.
"Sayang kamu kenapa? Kok nangis?"tanya lembut Nyonya Adhitama. Matanya menatap selidik Anggara yang sedikit beringsut. Ia menundukkan kepalanya.
"Hiks … hiks … hiks … kaki Zura sakit, Ma. Tadi Zura jatuh," aduh Azzura dalam pelukan sang ibu.
"Kok bisa jatuh? Kamu ngapain tadi?" Walau pertanyaannya pada Azzura tapi tatapan Nyonya Adhitama seakan menghunus jantung Anggara.
"Tadi …." Azzura melonggarkan pelukannya. Ia menoleh pada Anggara yang menunduk, mencuri pandang padanya. Wajahnya terlihat ketakutan.
"Zura mau nari tapi kesandung baju. Pangeran Zura nggak salah, Ma. Tadi Pangeran yang gendong Zura ke atas lalu pijitin kaki Zura pakai minyak angin," jelas Zura. Sorot mata tajam Nyonya Adhitama pada Anggara langsung hilang.
"Begitu rupanya. Apa masih sakit?"
"Nggak lagi, Ma. Rasanya sekarang hangat. Pangeran Zura sudah menolong Zura. Mama jangan marah atau cemas lagi, ya? Zura nggak papa kok," terang Zura.
Nyonya Adhitama mengangguk, ia menunduk singkat pada Anggara menyatakan ia meminta maaf dan berterima kasih.
"Kalau begitu, Zura apa rencana foto weddingnya naik kuda jadi?"tanya Nyonya Adhitama.
"Naik kuda?" Anggara terhenyak. Ia menatap bingung pasangan ibu dan anak itu.
"Hm. Sebelum resepsi, selesai zuhur nanti kita keluar hotel untuk foto wedding. Kau bisa naik kuda kan?"
Anggara mengangguk.
"Bagus! Yeah! Mama Zura naik kuda sama Pangeran!" Azzura mengangkat kedua tangannya riang.
"Ehmm …." Anggara batuk isyarat. Jujur ia agak risih dengan panggilan Zura padanya. Pangeran, Pangeran, namanya adalah Anggara. Namanya tidak berubah, jika mau berubah harus memotong dua ekor kambing jantan. Namun, Anggara tak berniat untuk ganti nama.
"Ada apa, Angga?"
"Ma, Zura, nama aku kan Anggara. Jadi, bisa nggak panggil aku Angga saja?" Wajah Azzura berubah mendung. Anggara langsung panik dan segera menjelaskannya.
"Eh! Bukan-bukan! Bukan aku nggak suka sama panggilan Zura hanya saja nantinya aku takut orang yang kenal sama aku mengira namaku pangeran."
"Kalau Aga bagaimana?"tanya Azzura.
"Aga?"
Itu lebih baik. Anggara mengangguk. Nyonya Adhitama tersenyum senang.
*
*
*
Kuda yang sudah dihias sedemikian rupa menjadi tunggangan Azzura dan Anggara untuk melakukan foto wedding outdoor. Posisi keduanya sangat dekat dan mesra. Azzura yang duduk menyamping, berada dalam kurungan tangan Anggara yang memegang tali kekang.
Namun, biarpun keduanya bisa naik kuda, tetap saja didampingi oleh seseorang. Posisi wajah Anggara dan Azzura begitu dekat, dada Anggara menempel pada punggung Azzura. Mereka bisa merasakan deru nafas masing-masing.
"Angga begitu mendalami perannya. Mengapa dia tidak jadi aktor saja?"cetus Angkasa pada Cia yang melihat pemotretan itu dari balkon kamar keduanya yang kebetulan mendapat posisi di pinggir.
"Apa kau merasa dia sedang berpura-pura?"tanya Cia yang tetap melihat sesi foto adiknya dengan perasaan yang gusar.
Bukan hanya memikirkan tentang Anggara tetapi juga tamu yang sejujurnya ia nantikan.
"Awalnya aku merasa tekanan yang begitu besar. Namun, sekarang tidak lagi. Aku merasa biasa saja."
Saudara kembar terhubung secara batin. Indera perasa dan kepekaan mereka sangat kental.
"Artinya Angga baik-baik saja. Dan ia tidak sedang berakting. Kakakmu itu sudah dewasa, Akas. Tinggal giliranmu yang belum."
"Aku tidak mau dewasa terlalu cepat. Aku ingin menemani Kakak sampai sembuh baru aku bisa membina cinta. Tunggu sampai aku jadi dokter yang menemukan obat untuk Kakak, baru aku akan menikah. Ah tidak, tunggu sampai Kakak sembuh dan bahagia, maka aku akan tenang menjalani takdirku selanjutnya."
"Hahahaha…."
"Ihhh Kakak kok malah tertawa sih?!"
"Kakak percaya padamu, Akas. Tapi, Kakak juga tidak ingin berharap terlalu tinggi. Kakak tahu, kau juga tahu bagaimana vonis dokter pada Kakak."
"Ck dokter itu manusia! Usai itu sebuah rahasia! Kalau Kakak saja tidak punya harapan bagaimana kesembuhan bisa datang?!"
"Semangat?"
Cia melempar pandang ke langit.
Apa semangatku masih ada?
*
*
*
Selepas Isya dan Bella serta Ken juga Brian dan Silvia baru meninggalkan perusahaan. Mereka lembur malam ini. Hari Senin yang begitu padat akan jadwal. Mereka langsung menuju hotel, di mana mereka pakaian mereka untuk undangan serta kado untuk pernikahan Anggara dan Azzura sudah berada di kamar hotel. Pelayan sudah mengantarkannya tadi sore atas perintah Ken dan Brian.
Halaman hotel ramai dengan mobil dan papan bunga tanda ucapan selamat atas pernikahan Anggara dan Azzura.
Setibanya di hotel, keempatnya langsung menuju kamar masing-malang.
Setengah jam kemudian, keempatnya sama-sama keluar dari kamar. Ken dan Brian tampil begitu tampan plus gagah dalam balutan jas. Ken dengan setelan jas berwarna biru yang senada dengan gaun yang Bella kenakan.
Sedang Brian mengenakan jas berwarna grey yang kontras dengan karakternya.
Senada dengan long dress yang Silvia kenakan. Aksen payet pada bagian atas dan polos pada bagian bawah dengan rambut disanggul ditambah dengan hiasan berbentuk bunga kecil, menjadikan Silvia tampil sempurna.
"Aru …."
"Ya?"
"Kita batal saja undangannya."
"Kenapa?"
"Aruku begitu cantik. Aku takut tamu nanti mengira kalau Aruku yang jadi pengantinnya."
"Aku tidak masalah naik pelaminan lagi denganmu," sahut Bella.
"Makanya Ken, jangan lepaskan tangan Abel nanti. Ku dengar ada acara pentas dansa dan itu sebentar lagi," tutur Silvia. Brian melirik Silvia.
"Tentu saja tidak!" Ken langsung menggandeng jemari Bella.
Keempatnya lantas turun menggunakan lift ke lantai ballroom di mana acara resepsi berlangsung. Memasuki ballroom, Silvia terperanjat beberapa saat kala Brian merangkul pinggangnya. Tak lama kemudian, Silvia tersenyum lebar.
Dari ambang ballroom, mereka melihat Anggara dan Azzura yang duduk bersanding di pelaminan dengan pakaian khas kerajaan dysney. Azzura benar-benar bak putri kerajaan fantasi dalam balutan gaun yang mengusung konsep baju Elsa.
"Konsep pernikahan yang unik," komentar Bella.
"Ya," sahut Ken. Ia mengedarkan pandangnya dan bertemu pandang dengan Cia yang baru naik ke atas pelaminan.
Bella menoleh pada Ken saat merasa genggaman tangan pada Ken mengerat. "Kenapa? Masih ada rasa?"
"Aku … tidak." Ken menoleh pada Bella dan mengajaknya untuk mengambil makan malam. Jujur saja, Bella merasa tidak nyaman dengan Ken dan Cia yang bertemu pandang tadi. Walau Ken sudah berpaling. Namun, Cia tetap menatap lekat Ken dari tempatnya.