This Is Our Love

This Is Our Love
Setengah Berbohong



Dylan menatap dalam Bella dan Ken yang sudah mulai menghilang di balik gerbang tinggi dan lebar kediaman Mahendra. Sesungguhnya Dylan belum ingin berpisah dengan Bella. Namun Dylan sadar, Bella kini punya tanggung jawab besar pada perusahaan. 


"Jangan sedih. Selesai meeting, Kak Abel akan jemput Dylan," ucap Rahayu, merangkul Dylan. 


"Dylan tahu, Bun. Hanya saja aku merasakan perasaaan tidak nyaman," jawab Dylan, lirih. Matanya tetap tertuju pada gerbang.


"Lebih baik kita masuk," ajak Rahayu setelah beberapa saat menatap prihatin Dylan.


Rahayu dan Dylan masuk ke dalam rumah. 


*


*


*


 


Setelah meeting dengan bawahannya, Bella lekas kembali ke ruangannya diikuti oleh Ken guna mengikuti meeting online dengan Nero Group. Proyek kerja sama Mahendra Group dan Nero Group bergerak di bidang pembangunan bandara, yang juga bekerja sama dengan perusahaan milik negara. Nero Group, perusahaan asal Negeri Paman Sam itu bergerak di bidang transportasi dan IT. 


Mahendra Group bertugas sebagai perusahaan yang membangun bandara internasional yang akan didapuk sebagai bandara terbesar di Indonesia. Sementara perusahaan pemerintah berperan sebagai pemilik proyek pembangunan dan Nero Group bertugas sebagai penyedia pesawat baru pesawat milik negeri sekaligus pembuat sistem keamanan bandara.


Bella menatap lurus  ke depannya. Lurus, seperti sedang menerawang jauh. Sementara laptopnya masih dihubungkan ke meeting online. 


"Aru sudah mulai," bisik Ken yang duduk di belakang Bella. Tugasnya adalah mencatat poin penting meeting. Bella tersentak pelan dan menoleh polos ke belakang.


"Apa?"


"Kau melamun lagi. Meetingnya sudah mulai," ucap Ken lembut namun matanya mengisyaratkan agar Bella kembali mendapatkan fokus diri dan melihat ke arah kamera.


Bella mengangguk singkat. Ia memejamkan mata sejenak, saat membuka mata tatapan berubah. Aura wibawa dan anggun terpancar dari Bella. 


Meeting dimulai. Bella mendengarkan dengan serius bahan pembicaraan. Baru angkat bicara saat gilirannya ataupun masa tanya jawab dan tukar pikiran. Bella sama sekali tidak menunjukkan wajah kesal, dan gelagat anehnya di depan kamera. Di depan Tuan Besar dan Tuan Tua Nero, Bella tetap menyunggingkan senyum walau hatinya berteriak ingin berteriak, bertanya apa hubungan keluarga itu dengan keluarganya, mengapa mereka terlibat dalam kasus itu?


Mengapa mereka menargetkan keluarganya hingga hancur, bahkan menyeret sahabat keluarganya?!


Ken mengeryit sekilas saat melihat jamari kiri Bella terkepal erat tanda sedang dalam kondisi marah namun wajah istrinya bersahabat. 


Ada apa dengan Aru?


*


*


*


"Akhirnya saya bisa berbincang dengan Anda, Nona walaupun virtual," ucap senang Tuan Tua Nero. Setelah meeting diakhiri, Tuan Tua Nero meminta secara pribadi untuk berbicara dengan Bella. Tak ingin memberikan kesan angkuh, Bella menyetujui. Lagipula ada sesuatu yang ingin Bella lihat.


"Saya juga senang bisa berbincang dengan Anda lagi, Tuan Tua," jawab Bella, tegas nan tenang.


"Lagi?" Alis mata Tuan Tua terangkat mendengar kata lagi. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


"Wajar jika Anda sudah lupa, Tuan Tua. Sudah hampir 5-6 tahun yang lalu saya menjadi magang di perusahaan Anda," jawab Bella.


Wajah keriput itu melebarkan matanya, ia terkejut dengan jawaban Bella. Tak lama kemudian ia tersenyum simpul, "sayang sekali. Sayang sekali kami melepas anak bertalenta seperti Anda, Nona," ujarnya dengan menggeleng pelan.


Bella tersenyum. 


Ya sayang sekali. Seharusnya aku keluar setelah memecahkan masalah ini. Namun, apa mau dikata. Toh kebenarannya baru terbuka dan belum rampung.


"Tapi saya yakin suatu hari nanti Anda akan kembali ke perusahaan ini," ucapnya penuh keyakinan. Bella semakin tersenyum lebar, "semoga ke depannya saya berjodoh dengan perusahaan Anda," sahut Bella.


"Saya menantikannya, Nona Nabilla Arunika …."


Ucapan Tuan Tua Nero terjeda karena tidak tahu kepanjangan dari huruf C di belakang nama Arunika.


"Chandra," ucap Bella memperkenalkan nama lengkapnya. Bella menilik serius ekspresi Tuan Tua Nero setelah mendengar kata Chandra. Pria tua itu hanya terperanjat sesaat kemudian tersenyum lebar.


"Ya, Chandra. Nama yang bagus," timpalnya tersenyum lebar. Entahlah Bella merasakan ada aneh. Senyumnya seperti mengandung misteri. Hati Bella seketika begitu yakin bahwa Tuan Tua itu memiliki jawaban yang akan memuaskan dirinya.


*


*


*


Selesai berbincang singkat dengan Tuan Tua Nero, Ken langsung menyodorkan jadwalnya. Bella menerima dan melihat jadwalnya. Hm hanya ada satu pertemuan dengan klien, selebihnya tetap bekerja di ruangan. 


"Ken kau bisa mengurus pertemuan ini, kan?"tanya Bella menuju jadwal pertemuan dengan perusahaan tersebut.


"Tentu," jawab singkat Ken, penuh kemantapan.


"Maaf dua hari ini aku melimpahkan sebagian tugas padamu. Kau tahu sendiri kan, urusan pribadiku harus segera aku selesaikan, dan aku pastikan hari ini selesai!"


"Aku mengerti, Aru. Maafkan juga sikapku yang membuatmu semakin pusing. Kau tahu kan, aku sangat mencintaimu. Hatiku langsung terbakar jika melihat kau didekati ataupun berdekatan dengan pria lain, apalagi sampai bermanja dan lengket denganmu bak perangko. Dan tadi pagi itu, untunglah alasannya sangat mengena di hatiku, jika tidak aku pasti sudah melemparnya dari balkon!"ucap Ken, nadanya sedikit menggebu. Ken merangkul mesra Bella yang tetap duduk di kursi kebesarannya. 


Bella melirik sebal Ken, "jika kau benar-benar melemparnya, aku pasti akan sangat membencimu!"ketus Bella, menggerakkan tubuhnya merasa risih dengan rangkulan Ken yang sedikit nakal.


"Jaga sikapmu! Di sini ada CCTV!"


"Makanya jangan pernah berkata kau akan membenciku. Hatiku sangat sakit mendengarnya," ucap Ken, mendaratkan kecupan pada rambut Bella yang tertutup oleh hijab.


"Maka jangan lakukan hal yang aku benci!"sahut Bella penuh tekanan. 


"Aku berjanji." Ken masih mencuri kesempatan mencium pipi Bella. 


"Kalau begitu aku pergi," ucap Bella, berdiri setelahnya yang membuat Ken hampir terpelanting jatuh.


"Kasih rambu-rambu dong, Aru. Cium lantai kan nggak lucu," sungut Ken seraya mengusap dadanya.


"Hm. Aku kembali percayakan meeting denganmu. Aku harap hasilnya seperti kemarin, kau punya kemampuan!" Bella menepuk pundak Ken yang masih kesal seraya tersenyum lebar.


"Jangan cemburu, aku merasa tidak nyaman merasakan aura dingin di punggungku," ucap Bella, memberi kecupan singkat pada pipi Ken. 


"Hm." Pria itu hanya bergumam. Tatapan matanya menyiratkan sebuah keengganan untuk melepas Bella pergi berdua dengan Dylan. Ia ingin ikut tapi tugasnya sebagai sekretaris menahan keinginannya. 


"Aku berangkat, Assalamualaikum." Bella mencium punggung tangan Ken setelah memakai ranselnya.


"Waalaikumsalam, hati-hati. Jangan ngebut, dan jangan lama-lama."


Bella menjawab dengan anggukkan kecil. Ken menghela nafas berat setelah Bella keluar dari ruangan. Ken memutar langkah, menatap jalanan dari jendela ruangan ini. Tatapan matanya seperti sedang memikirkan sesuatu. 


"Aru … apa kau benar-benar akan membenciku jika aku melakukan hal kau benci? Apa kau akan meninggalkanku?"gumam Ken, lirih.


*


*


*


"Kakak mengapa kita ke sini?" Wajah Dylan bingung saat motor Bella berhenti di parkiran sebuah TPU, Taman Sakti.


"Di sinilah Kakak akan memberitahu kebenarannya," jawab Bella, pelan. 


"Kebenaran?" Perasaan Dylan yang sedari pagi sudah tidak semakin tidak enak. Hatinya berkecamuk, membantah opininya sendiri.


Dylan melangkah dengan wajah bingung, tangannya ditarik oleh Bella dan berhenti di beberapa gundukan makan yang sudah dilapisi oleh prasasti makam.


Mata Dylan langsung melebar saat melihat nama yang tertulis di ketiga makam itu, Dewa Buana, Larasati, dan Deo Buana. Dylan bahkan mengucek matanya memastikan bahwa penglihatannya salah. Sampai matanya merah pun apa yang ia lihat tidak berubah, "tidak. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Kak Abel orang tuaku dan Kak Deo masih hidup kan? Ini cuma nama yang sama saja kan? Mereka pasti sedang melihat dari suatu tempat dan datang membawa kue ulang tahun setelah aku menangis histeris kan? Iya kan?!"


Bella tidak menjawab. Matanya memerah dan tatapannya menunduk. 


"Kak Abel ayo jawab!"seru Dylan tidak sabar.


" Di mana?? Di mana mereka?" Dylan melihat ke sana kemari mencari sosok orang tua dan kakaknya. 


"Mana mereka? Ini semua tidak mungkin!"teriak Dylan. 


"Ini benar, Dylan. Om Dewa, Tante Lara, Deo, bahkan orang tua dan nenek kakak juga sudah pergi lebih dulu. Hanya tinggal kau, aku, dan Nesya. Mereka telah pergi, Dylan. Itulah kenyataannya!"ucap Bella, ia berusaha untuk tidak menangis namun air matanya tetap menetes.


Dylan menggeleng keras, tatapannya terkunci pada tiga gundukan makam itu. Dicermatinya lagi, tanggal kematian yang sama.


Tangis Dylan pecah seketika. Ia terduduk lemah di samping makan sang ayah. Memeluk histeris batu nisan dengan perasaaan hancur. 


Bergantian, Dylan memanggil-manggil keluarganya dan memeluk nisan. Pemuda imut itu begitu rapuh sekarang. Bella mendengarkan dengan hati yang kalah hancur juga. Ia memejamkan mata dengan kedua tangan terkepal erat. Sekelebat ingatan masa lalu hadir di dalam ingatan Bella.


Ini semua terjadi karena kalian! Kalian penyebab keluargaku hancur! Aku membenci kalian!


Hah


Hah


Nafas Bella memburu. Matanya terbuka dengan kaget. 


A-apa keluarga Nero juga dalang di balik keruntuhan keluarga Buana? 


"Kakak …." Bella langsung menatap Dylan. Tatapan Dylan kosong. Wajahnya begitu sayu. Bibirnya pucat dan sedikit bergetar.


"K-kata Kakak, Kak Deo sudah menikah dan bahagia. Kakak berbohong padaku." Nadanya begitu dingin. 


"Aku tidak berbohong, Dylan." Bella melangkah mendekati Dylan, berjongkok lalu memeluk Dylan dari belakang. "Kakakmu, Deo dan kekasihnya, Tania sudah bahagia di alam sana."


Dylan menatap nanar gundukan makam atas nama Deo Buana itu. 


"Deodorant, mengapa kau meninggalkan aku sendirian di sini sedangkan kau bahagia dengan kekasihmu? Apa kau takut aku mengganggu kalian?"ucap ketus namun pilu Dylan. 


"Kau jahat, Deodorant! Kau penipu! KAU PENIPU!"


Tangis Dylan kembali pecah. 


Tiada kata menenangkan yang keluar dari bibir Bella, hanya pelukan hangat darinya untuk Dylan.


"Kakak …."


"Hm?"


"Mengapa mereka semua pergi sedangkan aku tetap di sini?"tanya nanar Dylan.


"Kecelakaan maut."


"Kecelakaan?"


"Waktu itu kita sedang dalam perjalanan liburan ke Bogor. Naas di perjalanan mobil yang kalian tumpangi terlibat kecelakaan. Om Dewa dan Tante Lara tewas di tempat, sedangkan Deo sempat kritis di rumah sakit namun tak bisa bertahan."


"Lantas aku?"


"Kau sempat koma selama sebulan, Dylan. Saat bangun kau mengalami depresi berat. Awalnya kami yang merawatmu akan tetapi musibah menimpa keluarga Chandra. Keluarga Chandra hancur dan jatuh ke titik terendah. Dan beberapa bulan kemudian, orang tua kakak ikut menyusul. Namun, depresimu tak kunjung sembuh. Kakak tak punya pilihan lain selain mengirimmu ke rumah sakit jiwa karena kakak harus berangkat ke Amerika. Maaf … maafkan kakak Dylan. Dan … dan kau kembali koma setelah terjatuh dari tangga tangga," jelas Bella, berusaha menenangkan dirinya sendiri juga Dylan.


"J-jadi aku koma bertahun-tahun?" Rasanya bagia hidup di dalam sebuah cerita. 


"Iya." Air mata Dylan sudah berhenti mengalir. Pria imut itu diam cukup lama.


"Ikhlaskan kepergian mereka, Dylan. Suratan takdir tak kuasa tidak tolak. Janganlah bersedih terlalu dalam. Tabahkan hatimu karena kakak juga pernah mengalami hal yang sama."


Dylan tidak menjawab. Ia memejamkan matanya. Pelan tapi pasti, sebuah lengkungan tipis hadir di bibirnya, "aku akan berusaha untuk ikhlas, Kak."


"Jadilah anak yang kuat. Kamu tidak sendiri, ada aku dan Nesya," tutur Bella, lemah lembut.


"Jangan pernah tinggalkan aku ya, Kak. Aku seorang diri sekarang."


"I promise."