
"Apa yang Anda pikirkan, Tuan?"tanya Tuan Adam pada Ken yang melamun menatap keluar jendela ruang tengah kediaman Tuan Williams. Ken tersentak pelan. Ia lantas mengalihkan pandang menatap Tuan Adam yang baru kembali.
"Aku bingung," jawab Ken. Wajahnya murung.
"Kami akan segera mendapatkan informasi kemana pesawat itu mendarat. Dalam 2 x 24 jam, kami akan menemukan Nona," ucap Tuan Adam, kembali menenangkan Ken. Agar Ken tidak terjebak dalam kemurungan.
"Aku percaya. Tapi, bagaimana aku mengahadapi keluargaku dan keluarga istriku jika mereka tahu Aru diculik? Tadi baru saja kak Brian menghubungiku. Dia bertanya mengapa kami belum sampai juga di rumah sana. Aku berbohong. Aku mengatakan kami kembali mengundur kepulangan menjadi nanti malam. Namun, sampai kapan aku bisa menutupinya? Besok pagi di Jakarta Aru ada jadwal memimpin rapat akhir tahun. Dan jadwal lainnya. Apa yang harus aku katakan?!"
Ken mengeluarkan keresahannya. Ada banyak dampak yang ditimbulkan dengan diculiknya Bella. Tuan Adam merenung sesaat. Ya, benar! Bella bukan hanya seorang istri. Bella bukan hanya seorang ibu rumah tangga. Bella juga berasal dari keluarga yang berpengaruh. Dan juga seorang wakil Presdir Mahendra Group, perusahaan besar bertaraf internasional. Jadi, jika berita ini terdengar oleh keluarga keduanya, ya dapat dibayangkan akan seberapa panik dan juga akan ada pihak yang memanfaatkan moment tersebut.
"Lebih baik katakan saja seperti ini …." Tuan Adam membisikkan sesuatu pada Ken. Ken sesaat menunjukkan wajah ragunya. "Itu sedikit berbanding terbalik dengan apa yang telah terjadi. Tapi, setidaknya itu adalah yang paling pas untuk saat ini," ucap Ken.
*
*
*
Bella baru menyadari bahwa jam tangannya juga dilepas. Ia sedikit mengesah pelan. Teliti juga penculiknya. Di jam tangannya itu dilengkapi dengan GPS.
Bella masih berada di dalam kamar pesawat. Irene juga setia menemaninya. Bosan tidak melakukan apapun setelah makan, Bella melirik dan mengambil majalah di rak kecil dekat ranjang. Bella mengeryit tipis melihat tulisan yang ada di majalah tersebut. Bukan tulisannya melainkan bahasanya.
"Apa Tuanmu orang Rusia?"tanya Bella dengan menunjukkan tulisan dalam bahasa Rusia itu pada Irene.
Irene tampak terkesiap. Bahasa Rusia tidak ditulis dengan huruf latin. Namun, abjadnya seperti simbol. Bahasa negara terluas di dunia ini tergolong sangat sulit dan Bella menebaknya hanya dalam sekali waktu tingkat? "Sepertinya benar. Tuanmu itu orang Rusia. Hm coba ku ingat-ingat dulu, apakah aku punya kenalan atau masalah dengan orang Rusia," ujar Bella tersenyum.
Bella tidak terlalu tahu orang-orang berpengaruh di Negeri Beruang Putih itu. Kecuali Presidennya, yakni Pak Vladimir Putin.
Tentang Rusia? Dari pelajaran sejarah, Rusia adalah salah satu negara blok timur.
Dan Bella juga pernah membawa berita tentang negara Rusia, baik di media online maupun televisi. Rusia dikenal dengan ketangguhan militernya. Bahkan, negara itu kini sangat gencar dalam pengembangan nuklir. Dan saat ini juga sedang bersitegang dengan negara di Eropa, bahkan bisa memunculkan perang dunia ketiga. Negara ini juga adalah negara pemenang perang dunia ke dua yang mana pada kala itu namanya adalah Uni Soviet.
"Nona mengerti bahasa Rusia?"tanya Irene.
"Jet Tempur Rusia dan Belarusia Gelar Patroli Perbatasan." Bella membacakan judul artikel di majalah tersebut yang tertulis dalam bahasa Rusia. Irene terbelalak. Pramugari cantik itu kemudian bergegas keluar.
Bella yang merasa bosan, tersenyum seakan sudah menemukan sesuatu yang menarik. Bella lantas bangkit dan melangkah keluar kamar.
Pesawat yang luas dan mewah. Namun, bagi Bella sama saja. Toh ia sudah banyak melihat dan menaiki pesawat pribadi yang tak kalah mewah.
Setelah berjalan beberapa saat, Bella mendapati Irene tengah berdiri di depan sosok pria yang duduk di sofa pesawat. Bella berdiri diam memperhatikan dan menilai. Pria itu pasti orang yang menculiknya. Dilihat dari cara duduk, lebar bahu, gaya rambut, itu seperti seumuran dengannya. Bella melipat kedua tangannya.
"Kenalan saja deh," gumam Bella.
Bella melangkah menghampiri sisi pria itu. Langkahnya santai. "Nona." Irene berseru pelan yang membuat pria itu menolehkan wajahnya.
Mata Pria itu tajam, bibirnya tipis, alis tidak terlalu tebal, hidung cukup mancung, putih bersih, dan gaya rambut yang disisir ke belakang hingga menunjukkan dahinya yang lebar. Pria itu mengenakan setelan hitam dengan lengan kemeja digulung sampai siku. Pria itu tampan, sangat tampan. Bisa dikatakan lebih tampan dari Ken.
"Annyeong, Oppa," sapa Bella dengan bahasa korea yang membuat pria itu mengeryitkan dahinya. Bella tersenyum melihat gurat bingung di wajah pria itu. Dalam sekejap mata, Bella sudah dapat menerka bagaimana karakter pria itu, dua karakter yang berada di dalam benaknya, dingin juga kejam. Dan sikapnya pada Bella adalah pasti ada sesuatu yang menarik dari Bella hingga Pria itu menculiknya.
"What time is it, Irene?"tanya Bella pada Irene. Segera Irene melihat jam tangannya.
"5:00 p.m., Miss," jawab Irene.
"What? 5:00 p.m.?! God! Aku belum shalat Zuhur dan Ashar!" Bella menggunakan dua bahasa, ingris dan indonesia.
"What makes you uncomfortable?" Nada dingin. Pria itu bertanya dengan sorot mata tajam pada Bella.
"I have not fulfilled my duty to God!"jawab Bella dengan gelisah.
"Duty to God??" Pria itu bergumam. Bella mengangguk. "Where's my bag? I need a mukenah!"ucap Bella kemudian.
"Mukenah?" Kerutan dahi pria itu semakin terlihat.
"Yes! Where's that?!"
"It's been thrown away!" Pria itu menjawab dingin.
"Don't lie! Irene said that you guys kept it safe! You can kidnap me. This moment can separate me from my husband. But, you will forever be unable to separate me from my Lord. I just need a mukenah, or like this, Irene, please take me to my bag, a small blue bag!!"
(Jangan berbohong! Irene mengatakan bahwa kalian menyimpannya dengan aman! Kau bisa menculikku. Saat ini bisa memisahkanku dari suamiku. Tapi, kau selamanya tidak akan bisa memisahkanku dari Tuhanku. Aku hanya butuh mukenah, atau begini Irene tolong kau ambilkan di dalam tasku kantungan kecil berwarna biru).
Melihat Bella yang marah karena ia berkata demikian, Pria itu menunjukkan mata berpikir yang semakin dalam. Irene menantikan keputusan Tuannya. Bella berdecak. "Ck!" Bella kemudian meninggalkan tempat untuk kembali ke kamarnya. Di sana ada kamar mandi dan Bella langsung mengambil wudhu. Setelah selesai berwudhu, Bella mengedarkan pandangnya. Ia memakai celana panjang dan baju kemeja yang oversize.
Sprei ranjang bisa dijalani sebagai sarung. Untuk sajadah, selimut bisa menjadi alas shalatnya. Bella tersenyum dan mulai mengerjakan shalat jamak dzuhur dan ashar.
Tanpa Bella sadari karena khusyuk dalam shalatnya, Pria itu melihat dari balik pintu, ia mengintip. "Gerakan apa itu? Mengapa dilakukan berulang dan mengapa di yang tiga sama keempatnya tidak selama yang pertama dan kedua?"gumam pria itu. Ia bertanya lirih.
Pria itu tidak menjawab dan kemudian meninggalkan pintu kembali ke tempat duduknya tadi. Irene mengikuti Tuannya.
Setelah selesai shalat dan berdoa, Bella kembali keluar kamar. "Kita akan ke Rusia?"tanya Bella. Ia duduk di sofa depan pria itu. Pria itu lagi-lagi mengeryit dan itu tampak tidak suka. "Why? Anda tidak suka saya duduk?" Bella bertanya, ia tetap santai.
"Siapa yang mengizinkanmu untuk duduk?" Pria itu bertanya dingin.
"Aku tidak butuh izin siapapun untuk duduk," jawab Bella, acuh.
"Kau belum menjawab pertanyaanku." Bella tidak peduli dengan wajah pria itu yang berubah masam.
"Jangan coba-coba untuk kabur karena kamu tidak akan bisa kabur!" Pria itu memberi peringatan.
"Kau kaya, juga tampan. Aku juga sama sekali tidak mengenalmu, dan kita tidak pernah berinteraksi. Mengapa Anda menculik saya? Apa alasannya? Saya butuh alasan," ucap Bella. Kabur? Itu urusan belakang. Anggap saja ia tengah pergi tugas. Tegang akan berdampak negatif pada dirinya sendiri.
"Saya tertarik padamu." Kekesalan pria itu tampaknya luntur. Kini ia menyunggingkan senyum tipis.
"Tertarik? Hm … lalu aku akan jadi apa di sisimu?"tanya Bella to the point.
"Be mine," jawab Pria itu.
"Ouh!!" Bella berseru kaget. Be mine katanya?
"Aku sudah menikah," ucap Bella.
"I know and i don't care!!"jawabnya.
"Wow! Bagaimana dengan anak? Aku hamil dan aku harap kau tidak menganggu kehamilanku karena dia adalah anakku!"
"Saya tidak keberatan," jawabnya lagi.
"Hm … okay. Tapi, menyapa harus saya? Bukankah gadis Rusia cantik-cantik?"
"Mereka tidak menarik. Di mata saya … Anda yang cocok untuk mendampingi saya." Pria itu berbicara sangat formal. Ya senada dengan setelannya.
"Baiklah. Aku mengerti. Jika begitu, apa Anda mengenal saya?"
"Nabilla Arunika Chandra. Nama suami labil Anda adalah Mahesa Ken Mahendra. Anda …." Bella terperangah. Pria itu secara mendetail menyebutkan identitasnya.
"Stop!" Bella mengangkat kedua tangannya. "Kau mengenalku. Maka kau juga harus mengenalkan dirimu padamu. Siapa kau?"tanya Bella. Sorot matanya mengintimidasi namun pria itu tetap tenang.
"Saya? Desya," jawab Pria itu dengan melengkungkan senyum.
"Desya?" Bella menggumamkan namanya.
"Desya? Desya? Bahagia? Nama yang bagus," puji Bella. "But, sepertinya nama Anda tidak sesuai dengan kehidupan Anda."
Setelah memuji Bella mencibir. "Maka Anda yang akan mewujudkan arti nama saya," balas Desya.
"Wow! Itu sebuah tugas yang sangat berat. Tapi, ada satu hal yang Anda harus tahu. Saya tidak akan pernah bersama dengan orang yang berbeda keyakinan!" Bella tersenyum. Desya sepertinya terhenyak. "Keyakinan?"
Bella terkesiap sesaat. Tadi pria itu menggumamkan kewajiban kepada Tuhan. Lalu sekarang keyakinan?
Atheis? Itu yang langsung terpikir dalam benak Bella.
Aura dingin. Setelah hitam dan sebuah lambang. Punya keberanian besar menculik dirinya. Mafia? Bella berdecak pelan. Mimpi apa tadi malam ia sampai berusaha dan berada di tangan mafia?
"Satu lagi … bagaimana jika aku tidak setuju menjadi be yours?"tanya Bella saat ia berdiri.
"Keluarga Anda taruhannya."
"Keluarga saya akan mencari saya."
"Mereka tidak akan bisa menemukan Anda. Anda hanya tahu kita akan ke Rusia tapi, Rusia adalah negara yang sangat luas."
Bella tersenyum miring. Ia tidak menjawab. "Irene bawakan aku segelas susu," ucap Bella pada Irene kemudian melangkah kembali ke kamar. Irene melirik Tuannya dan Desya mengangguk pelan.
"He's crazy! Be mine? Ckckck. But, aku hanya bisa bersahabat dengan keadaan. Asalkan dia tidak menyakitiku aku akan mencoba berkerja sama," gumam Bella. Kembali duduk di ranjang dan membawa majalah dalam bahasa Rusia itu. Namun, Bella tidak bisa fokus pada majalah di tangannya. Ia sedang memikirkan Ken dan lainnya. "Dia pasti sangat tertekan. Semoga tidak melakukan hal bodoh," gumam Bella. Tak lama kemudian, Irene datang dengan membawa secangkir susu hangat.
"Thank you," ujar Bella.
"Sama-sama, Nona," balas Irene.
"Bangunkan aku saat sudah mendarat," pesan Bella. Berbaring setelah menghabiskan susu. Irene mengangguk. Kita pikirkan caranya setelah melihat lokasinya, batin Bella kemudian menutup matanya.