
"Ya sudah, kalau begitu kami pulang ya, Abel, Ken," pamit Rahayu.
Bella mengangguk, "hati-hati Ma, Pa, Kak Brian, Kak Via, Kak El," jawab Bella.
"Ken jaga istrimu baik-baik!"ucap Surya, kembali mengingatkan Ken.
"Ken mengerti, Pa!"
Setelah itu, keluarga Mahendra kecuali Ken pamit dan pulang ke rumah, meninggalkan Ken dan Bella berdua di kamar rawat.
Bella merenggangkan tubuhnya sejenak sebelum tidur.
"Oh iya Kak El berangkat ke Bandung besok, bukan?"tanya Ken.
"Benar."
"Apa kau ikut mengantar, Aru?" Bella menggeleng.
"Tiga hari lagi aku adalah hari pengangkatanku. Rasanya terlalu lelah jika aku ikut mengantar. Lusa akan menjadi hariku bersantai sebelum kembali masuk ke lingkaran bisnis," jawab Bella.
"Ah benar juga. Lagipula kau baru sembuh. Kalau begitu aku juga tidak akan ikut. Aku akan menemanimu bersantai," putus Ken, tersenyum lebar.
"Tidak. Antarlah kakakmu itu. Dia butuh dukungan kalian. Dia juga sudah banyak membantumu," tolak Bella.
"Tapi kau sendirian. Aku yakin kak El akan mengerti," kekeh Ken.
"Baiklah. Terserahmu saja!" Setelah mengatakan hal itu, Bella berbaring dan Ken menarik selimut menyelimuti Bella.
"Kau tidurlah di sofa. Jangan tidur duduk di sini!"suruh Bella yang melihat Ken duduk di kursi dan kepalanya bertumpu pada ranjang Bella.
"Aku ingin di sini, memelukmu." Sejurus kemudian tangan Ken berada di atas pinggang Bella. Tersentak pelan seperti ada aliran listrik yang menyengatnya, Bella mengerjap dengan wajah yang memerah.
"Tapi punggungmu nanti sakit," bujuk Bella. Ken menggeleng.
"Tapi aku ingin seperti ini."
Hah!
Bella seharusnya tahu bahwa Ken keras kepala. Bella tersenyum dengan kepala menggeleng pelan.
*
*
*
Hmmm
Ken bergumam tak jelas sebelum akhirnya terbangun. Ken mengusap matanya, azan subuh terdengar berkumandang dari ponselnya dan masjid rumah sakit.
"Aru ayo bangun, kita salat bareng." Ken hendak menepuk untuk membangunkan Bella sembari memejamkan matanya sejenak.
"Oh iya aku lupa Aru lagi libur salat." Gerakan hendak menepuk Ken urungkan. Saat melihat ranjang, Ken terkejut.
"Aru? Aru! Kau di mana?" Ranjang kosong membuat Ken panik. Ia mengedarkan pandang tapi tidak menemukan Bella. Ken menajamkan pendengarannya, dan dengan langkah cepat mendekati kamar mandi.
"Aru kau di dalam?" Ken mengetuk pintu.
"Ya sebentar!"
Ken menghela nafas lega. Tak berselang lama pintu kamar mandi terbuka dan Bella keluar dengan pakaian yang sudah berganti, bukan pakaian rumah sakit lagi.
"Aru!" Ken langsung memeluk Bella.
"Hei-hei? Ada apa?"heran Bella.
"Ku kira kau meninggalkanku."
Bella mendengus senyum, "aku sudah berjanji untuk selamanya berada di sampingmu. Untuk apa takut, Hm?"
Ken tidak menjawab, ia melepas pelukan dan menatap bingung Bella yang sudah bersiap seperti hendak berangkat.
"Setelah lepas infus aku akan ke perusahaan sebentar mengantar berkas yang sudah selesai. Setelah itu aku harus menjemput adikku untuk kemoterapi. Hari ini jadwalnya. Aku tidak bisa tidak pergi karena Nesya adalah adikku satu-satunya!"ucap Bella menjawab kebingunan Ken.
"Aku ikut!" Dilarang pasti tidak akan digubris.
Bella menujukkan wajah menolak, "adikku masih punya dendam padamu. Dan aku belum bisa memberi tahunya mengenai hubungan kita."
Wajah kecewa Ken tunjukkan, "mengapa tidak bisa? Dia kan adikmu. Bukankah hal bagus memberi tahunya tentang hubungan kita?"
Bella memalingkan wajahnya sejenak, tampaknya ia sedang mencari jawaban atau menimbang keputusannya sendiri.
"Hm sudah azan bukan?"tanya Bella.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, Aru!"
"Salatlah dulu. Setelah itu akan aku jelaskan apa alasannya," ujar Bella lembut.
"Cepatlah, waktunya semakin sedikit," tambah Bella melihat Ken yang tetap diam menatapnya.
"Ayo-ayo, jangan seperti patung!" Dengan cepat Ken membalikkan tubuh Ken dan mendorongnya ke arah pintu keluar.
"Tapi janji, ya!"
Bella mengangguk. Ia menghela nafas saat melihat punggung Ken menjauh.
Aku akan jelaskan tapi tidak pagi ini!
Bella bergegas memasukkan laptop, ponsel, dan semua berkasnya ke dalam ransel, mengambil kunci motor yang berada di dalam lemari nakas kemudian melangkah keluar dari ruang rawatnya. Infus masih tetap melekat padanya. Seberani-beraninya Bella ia juga tidak bisa sembarangan melepas sendiri jarum infusnya. Bella menuju ke meja suster jaga.
"Permisi, Sus," sapa Bella ramah.
"Eh iya, Nona. Ada yang bisa kami bantu?" Suster tersebut tersenyum ramah, matanya menilik heran Bella.
Pakaiannya rapi tapi masih pakai infus, jika memang pasien mau kabur kan biasanya nggak bawa-bawa infus, heran sister tersebut dalam hati.
"Sus, tolong lepas infus saya," ujar Bella.
"Oh maaf Nona. Ini di luar kewenangan saya. Anda harus mendapat izin dokter terlebih dulu," tolak Suster.
Uh seharusnya aku tahu. Tapi bukan Nabilla Arunika Chandra namanya jika tidak bisa menyelesaikan masalah!
"Sus saya ada agenda penting sebentar lagi. Lagipula penyakit saya tidak parah. Kemarin dokter sudah mengatakan bahwa saya pagi ini bisa keluar dari rumah sakit. Tapi saya tidak bisa menunggu dokter datang. Jika Anda tidak percaya dengan yang saya ucapkan, silahkan Anda hubungi dokter Alex, beritahu padanya jika pasien kamar VVIP 1 atas nama Nabilla Arunika Candra ingin lepas infus dan keluar rumah sakit lebih cepat. Atau biar saya sendiri yang menghubunginya, berikan nomornya."
Suster tersebut tampak goyah, "saya juga sudah menyelesaikan biaya administrasi. Please, Sus."
"Baik. Sebentar saya konfirmasi dulu pada dokter Alex."
Suster tersebut menghubungi dokter yang disebutkan Bella tadi.
"Baik, Nona. Anda sudah mendapat izin dari dokter Alex, tapi sebelumnya harus periksa tekanan darah dulu," ujar Suster setelah selesai berbicara dengan dokter.
"Okay."
Bella mengulurkan lengan kirinya. Beberapa saat kemudian infus Bella sudah dilepas. Bella tersenyum puas melihat jarum yang lepas dari pergelangan tangannya.
"Oh iya Sus nanti kalau ada laki-laki yang nyariin saya katakan padanya saya pergi duluan. Jika dia bertanya, katakan saja saya menunggunya di sini lagi jam 10.00 nanti," pesan Bella.
Suster tersebut mengangguk walau tetap bingung dengan Bella. Kabur tapi meninggalkan pesan.
*
*
*
Huh jika aku menunggunya pasti dia akan mengikutiku. Tunggu setelah Nesya sembuh baru aku akan memberitahunya. Lagipula Neysa memang masih dendam padanya. Maaf ya Ken, aku belum bisa memberitamu tentang keluargaku lebih dalam. Ahh Ken entah kau ikut memang enggan atau tidak pandai menggunakan statusmu sebagai anak kesayangan keluarga Mahendra, tapi itulah yang membuatku suka padamu.
Benar bukan? Dengan kekuasaaan sang Papa, bukan hal sulit untuk mencari tahu tentang detail seseorang tapi Ken malah tidak menggunakannya.
*
*
*
Di lain sisi, Ken tengah panik sendiri mendapati Bella tidak berada di dalam kamarnya. Kamar mandi kosong, Ken duduk frustasi di sofa. Menenangkan pikirannya sejenak.
Ransel?
Ken menoleh ke arah tempatnya meletakkan ransel Bella. Jelas kosong.
Laptop, berkas, dan ponsel, tidak berada di tempat. Ken berdiri untuk mengecek kunci motor, tidak ada.
Baru menyadari juga kalau infus tidak ada di tempatnya. Wajah Ken berubah kesal dan cemas seketika.
Aru menghindar!
Segera Ken keluar kamar dan menuju ke meja suster jaga.
"Sus apa tadi tadi ada pasien yang lepas infus di sini?"
"Ah benar, apa Anda keluarganya?"
"Saya suaminya!"
"Suami?"beo suster terkejut.
"Benar. Apa istri saya ada menitip pesan?"
"Ada, Tuan. Katanya tadi, beliau akan kembali sekitar pukul 10.00," jawab Suster.
Ken mengeryit tipis.
Ahh aku lupa lagi. Kan hari ini adiknya Aru kemoterapi. Huh awas saja nanti!
"Baik, Sus. Terima kasih, ya!" Ken berlalu untuk membereskan barang-barang yang masih berada di kamar rawat.
Orang kesal kalau terpaksa senyum lucu juga ya, batin suster tersebut.
Ken memeriksa jadwalnya hari ini. Aish bimbingan lagi! Ken memutuskan untuk pulang ke rumah setelah mengirim pesan pada Bella. Dihubungi pun percuma. Bella lagi di motor dan biasanya ponselnya di mode diamkan.
*
*
*
Matahari telah terbit. Sinarnya mengusir hawa dingin. Bella yang awalnya merasa kurang enak membawa motor setelah cukup lama berkendara tubuhnya sudah bisa beradaptasi seperti biasa. Kecepatan yang tadinya cukup lama kini mulai naik. Bella tidak langsung menuju perusahaan, masih pukul 06.30, dan perut Bella berbunyi lapar. Kebetulan warung sarapan pagi sudah ada yang buka. Ken berhenti di warung makan tersebut dan memesan sarapan serta teh hangat.
Lima belas menit waktunya tersita untuk makan. Bella juga sudah melihat dan membalas pesan Ken. Kini Bella menantikan kabar baik dari Teresa.
Sesaat kemudian, motor Bella kembali melaju bergabung dengan kendaraan lain.
"Eh Non Abel, kok sudah masuk kerja? Pagi sekali lagi. Non kan harusnya istirahat di rumah," ucap satpam heran juga khawatir.
"Cuma sakit ringan kok, Pak. Sudah sehat, buktinya sudah mampu bawa motor dan keluar sepagi ini," jawab Bella, sebelum kembali melaju menuju basement.
Tapi kata Presdir kemarin Nona Abel sakit parah sampai nggak bisa bangun dari tempat tidur. Kayaknya Presdir berlebihan, deh!
*
*
*
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Anjani terperanjat saat salamnya dijawab. Dengan menelan ludah kasar, Anjani membuka lebar pintu ruangannya. Ia memasukkan kepalanya mengintip ruangan kerjanya.
Kosong?
Tapi masa' iya hantu jawab salam? Tapi tadi kayak suara Abel. Tapi kan Abel masih di rumah sakit. Huh gara-gara meeting pagi aku nggak bisa jengguk Abel dulu!
Aku coba lagi deh. Maha tahu tadi cuma ilusi aku saja.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mata Anjani langsung membulat.
"AHH HANTU!!"pekik Anjani takut tapi masih berada di tempat.
"Hantu apaan? Kau berisik sekali, Jani!" Bella menujukkan dirinya yang berada di balik lemari buku.
"Abel? Kau kah itu?"
"Lantas?"
Anjani memberanikan diri masuk. Pencahayaan ruangan memang tidak terlalu terang. Anjani menghidupkan lampu ruangan. Tampak jelas wajah Bella yang tengah membaca sebuah buku.
"Abel? Kau? Mengapa kau di sini? Bukankah?"
"Aku hanya mengantar pekerjaanku lalu mengambil pekerjaan baru."
"Lalu pulang kan?"
"Tidak. Setelah ini aku menjemput Nesya dan bekerja di rumah sakit sembari menemani Nesya."
"Ah aku lupa. Pantas saja kau sudah keluar dari rumah sakit."
"Hm. Aku sudah mengambil bagianku. Aku akan pergi sekarang. Ah semangat untuk meetingnya!"
Anjani tersenyum penuh semangat. Sebelum pergi, keduanya berpelukan.
"Jangan lupa besok ada meeting dengan direksi sekaligus perpisahan dengan karyawan," ucap Anjani.
"I remember."
*
*
*
Ah Aru tunggulah hukuman dari suamimu ini. Aku akan menerima dan meminta kompensasi darimu!
Ken tersenyum menatap balasan pesan dari Abel.
I'm sorry, my husband. Nanti setelah aku pulang aku akan memberi konpensasi.
Bukan pesannya yang membuat hati Ken gemas tapi emoji yang melengkapinya. 🙏❤️😜.