
Setelah kurang lebih tiga hari berada di rumah sakit, kondisi Azsura dan Nyonya Dinda sudah sangat membaik.
Dengan begitu keduanya sudah diperbolehkan pulang. Sebenarnya hal itu dipercepat karena Azzura yang merasa sudah sangat bosan berada di rumah sakit ini. Ia sudah sangat ingin kembali pada aktivitas normalnya.
Anggara juga tak bisa mencegah keinginan sang istri. Azzura yang sekarang bukan lagi Azzura yang dulu mudah untuk dibujuk. Azzura yang sekarang sudah punya pemikirannya sendiri. Sudah punya keinginan yang kuat.
Namun, sampai saat ini masih ada satu hal yang mengusik hati dan pikiran Anggara. Memang sebuah keajaiban tidak bisa dicerna dengan logika karena itu adalah hal gaib dalam bentuk abstrak hanya bisa dirasakan, dilihat. Namun, tidak bisa dibuktikan dengan akal. Karenanya dibutuhkan iman untuk bisa mempercayainya.
Dan yang menjadi sebuah pertanyaan bagi Anggara bukanlah tentang keajaiban itu melainkan tentang ingatan Azzura yang tidak berubah.
Azzura tidak memberontak ataupun seperti tidak menerima atau kebingungan saat Anggara memperkenalkan dirinya sebagai suaminya. Dan dengan entengnya Azzura menjawab, "aku tahu. aku tidak lupa ingatan," dengan datar.
Tuan Adhitama memberi tahu Anggara agar lebih bersabar dalam menghadapi perubahan sikap Azzura.
Harus segera beradaptasi dengan perubahan Azzura dari anak-anak menjadi seorang yang dewasa sesuai dengan usianya.
Senin siang Azzura sudah pulang dan tiba di kediaman Utomo. Pelayan kediaman Utomo segera menyambut nyonya muda pertama mereka. Akhirnya rumah ini tidak kosong dan lengkap dengan kehadiran seorang nyonya.
Tuan Adhitama dan Nyonya Dinda ikut mengantar kepulangan dan kepindahan putri tunggal mereka. Keduanya juga tidak berada terlalu lama di kediaman Utomo.
Sebelum waktu ashar, keduanya sudah meninggalkan kediaman Utomo, meninggalkan Anggara dan Azzura. sedangkan Angkasa sendiri masih berada di Utomo Company.
" Zura," panggil Anggara yang tengah duduk di dekat jendela kamar menatap hamparan bunga yang tengah bermekaran di taman.
"Ya," sahut Azzura dengan memalingkan wajah pada sang suami.
"Di perusahaan aku masih ada sedikit pekerjaan. Tidak masalah kan kalau aku kembali ke perusahaan lagi?"
Azzura menyipitkan matanya mendengar ucapan Anggara itu.
"Jangan khawatir ataupun takut. Aku akan pulang dengan cepat. Kasihan Angkasa sendirian mengerjakan pekerjaanku."
"Baiklah. Tapi, usahakan cepatlah pulang. Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu."
Anggara mengangguk mengerti. Dalam benaknya bertanya-tanya hal apa yang ingin Azzura membicarakan padanya? Kedengarannya begitu serius?
"Kalau begitu aku berangkat. Assalamualaikum," pamit Anggara dengan mengulurkan tangannya pada Azzura
"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan," jawab Azzura meraih uluran tangan Anggaran dan mencium punggung tangan sang suami.
Setelahnya Anggara meninggalkan kamar kembali ke perusahaan.
Azzura kembali melanjutkan aktivitasnya melihat hamparan bunga di taman. Ingatannya kembali ke beberapa saat lalu saat masih berada di rumah sakit dan saatnya tengah bertelepon dengan Bella.
Saat itu, Bella mengatakan jangan membuat yang terdekat kebingungan. Rencananya itu dibuat guna untuk tidak menimbulkan pertanyaan dan spekulasi yang aneh-aneh di publik.
Namun, untuk orang seperti Anggara yang akan menjadi teman seumur hidup susah ataupun senang haruslah diberitahukan akan kebenaran. Lagipula bukan suatu keburukan menceritakan rahasia yang telah terbongkar.
Azzura merasa hal itu ada benarnya. Dengan begitu ia bisa bebas bertindak ataupun berekspresi di depan Anggara karena sampai detik ini ia masih belum memberitahu Anggara kalau sebenarnya dia adalah seseorang yang berpendidikan dan berkemampuan.
*
*
*
Kembali kita lihat bagaimana kondisinya Nero Group. Setelah beberapa hari saham mereka berada di titik terendah dan tidak laku sama sekali di pasar saham, masih berada di tempat yang sama belum ada perubahan sama sekali.
Belum runtuhnya perusahaan besar itu ditopang oleh para investor yang masih bertahan dan klien yang ditahan mereka. Mencoba menahan mereka dengan memberikan keyakinan yang besar.
Sampai saat ini Aldric masih berusaha keras untuk bisa mendapatkan izin menemui ahli waris Tuan Williams.
Sayangnya sampai detik ini orang kepercayaan tuan william acuh padanya. Dan sekarang sepertinya satu-satunya cara dan harapan agar Nero Group tetap bertahan dan berdiri kokoh adalah menjual saham mereka pada ahli waris Tuan Williams. Sebagaimana tawaran sebelumnya.
Marco dengan berat hati nyuruh putranya untuk mengabari orang kepercayaan Tuan Williams bahwasannya ia setuju untuk menjual saham yang dimiliki oleh keluarga Nero.
Sebelumnya keputusan itu ditentang pelh keluarga yang lain. Namun, Marco sebagai kepala keluarga tentu yang lebih berhak.
Sebuah ancaman pun ia berikan.
"Kita harus mengalah untuk saat ini! Hari ini kita akan menjualnya, besok kita akan membelinya kembali! Jika kita mempertahankan harga diri dan ego untuk saat ini, maka kita akan semakin hancur. Lebih baik menyerah untuk menyerang. Jika kalian tidak bersedia, tidak apa! Tapi, silahkan angkat kaki dari keluarga ini!"
Marco mengusap wajahnya kasar setelah Aldric mengatakan bahwa orang kepercayaan Tuan Williams akan segera memberitahukan keputusan mereka kepada ahli waris Tuan Williams.
Sekarang mereka hanya bisa menunggu dan mendengar harga yang ditawarkan oleh ahli waris Tuan Williams akan seluruh saham mereka
Di sisi lain orang kepercayaan Tuan Williams segera mengirimkan email kepada ahli waris Tuan Williams, bahwasanya tawarannya diterima oleh keluarga Nero. Setelah mengirim email pada nonanya, orang kepercayaan Tuan Williams itu tersenyum tipis.
Di depan matanya tertera jelas grafik saham Nero Group masih di tempat yang sama, tidak ada perubahan selama sekali.
"Salah kalian sendiri mencari masalah dengan Nonaku."
Sebenarnya orang kepercayaan Tuan Williams juga tidak mengetahui alasan mengapa tiba-tiba ahli waris Tuan Williams menyuruhnya untuk menarik seluruh saham di Nero Group.
Kini ia malah memikirkan hal baru. Hal yang baru terpikir olehnya. Tindakan nonanya ini sungguh diluar dugaannya. Dengan Nero Group menjual saham kepada mereka otomatis, kepemilikan perusahaan besar itu akan jatuh kepada nonanya. Itu seperti mundur untuk menang, taktik tarik ulur.
*
*
*
Senin sore, Marco sudah menerima kabar bahwa tanda tangan pembelian saham akan dilakukan pada hari Kamis.
Karena pada saat itulah ahli waris Tuan Williams akan ke Los Angeles. Untuk masalah harga ahli waris Tuan Williams akan memberikan harga standar saham.
Setidaknya sekarang Marco bisa bernapas lega dan sejak kabar itu tersebar banyak investor yang ingin menanamkan saham di Nero Grup. Sayangnya, saham kosong sebanyak 50 persen itu akan diisi kembali oleh ahli waris Tuan Williams. Para klien pun akhirnya bisa tenang dan tidak rewel lagi.
*
*
*
Pukul 21.00, Anggara dan Angkasa baru kembali. Anggara yang sudah makan malam dengan klien langsung menuju kamarnya. Azzura juga sudah makan malam bersama dengan para pelayan. Di dalam kamar Azzura sudah menunggu kepulangan Anggara.
Saat melihat wajah sang istri Anggara teringat akan ucapan Azzura sebelum dia kembali ke kantor.
"Mandilah dulu agar kau dapat mengerti apa yang aku sampaikan dengan baik," ujar Azzura setelah mencium punggung tangan Anggara.
Anggara mengangguk. Dalam waktu lima belas Anggara sudah selesai mandi.
Keduanya kini duduk di sofa. Azzura menghela nafasnya sebelum mengatakan apa yang ingin ia sampaikan.
"Sebenarnya aku sudah lama sembuh. Namun, aku sengaja untuk tidak memperlihatkannya."
*
*
*
"Paspor sudah amankan?"tanya Bella pada Ken. Ken mengangguk. Seluruh dokumen yang mereka butuhkan untuk berpergian ke luar negeri sudah disiapkan semuanya. Bella tersenyum.
Ini sudah hari rabu, dan mengingat penerbangan yang cukup lama, mereka akan terbang ke Papua pukul 02.00 dini hari. Anjani dan Arka juga ikut sekalian.
Satu kabar baik Bella sudah dinyatakan sembuh total dari traumanya. Dan saat ini sudah bisa naik mobil dalam keadaan diam atau bergerak dengan kecepatan random tanpa mengalami muntah dan gejala trauma lainnya.
Hal itu menjadi sebuah kemudahan tersendiri karena mereka bisa dalam suatu kendaraan tanpa harus pisah-pisah.
Di Jayapura, Anjani ada agenda hendak melihat toko perhiasannya. Umi Hani dan Nizam pun diminta untuk ke Jakarta, mereka berangkat saja bersama-sama sejak awal.
Karena jika menyusul lagi ke Bandung dari Jayapura akan memakan waktu hampir empat jam perjalanan, sangat lama bukan?
Itupun sudah dengan kecepatan maksimum pesawat yakni 1100 km/jam.
Sehari sebelum mereka berangkat, mereka telah mengunjungi Nesya di penjara. El yang sudah bertemu dengan Nesya sudah menunjukkan keakraban.
Nesya yang tidak bisa ikut hanya bisa menitip salam kepada keluarga Kalendra dan berpesan agar Bella hati-hati dan menjaga kandungannya selama di sana. Nesya juga meminta sang kakak untuk jangan gegabah dalam membalaskan perbuatan Tuan Tua Nero pada keluarga mereka. Bella tentu saja mengerti.
Ia juga tidak bisa bertindak gegabah. Ada nyawa lain yang berada di dalam perutnya. Tentu saja ia harus semakin waspada.
Beruntunglah sejak Bella menekan Pak Roy agar memberi tahu siapa dalang dibalik tindakannya, tidak ada hal menyebalkan yang datang padanya.
Pukul 02.30 pesawat pribadi keluarga Mahendra lepas landas dari bandara Soekarno-Hatta menuju Jayapura. Perjalanan udara itu memakan waktu kurang lebih sekitar 4 jam artinya mereka akan tiba di jayapura sekitar pukul 06.30.
Yang tidak ada urusannya dengan proyek bebas untuk jalan-jalan di sekitar bandara selama 2 jam untuk melepas rasa bosan menunggu cara peresmian dan peletakan batu pertama selesai.
Menuju lokasi sekitar kurang lebih 1 jam dari jalan biasa namun jika sudah dibangun jalan maut untuk akan sangat mempercepat waktu.
Acara peresmian pembangunan dan peletakan batu pertama akan dilaksanakan pukul 09.00, waktu Indonesia Timur. Acara dihadiri langsung oleh Presiden, Gubernur, dan Bupati serta beberapa menteri terkait.
Juga perusahaan yang menjadi rekan kerja sama dalam proyek pembangunan ini yaitu Gamma Company. Bella sebagai Presiden direktur sementara Malendra Group memberikan kata sambutannya setelah Presiden memberikan apresiasinya.
Apa yang disampaikan Bella adalah hal-hal yang telah menjadi tujuan dan harapan yang telah tertulis di lembaran-lembaran sebelumnya.
Leo tidak menghadiri acara peresmian dan peletakan batu pertama ini secara langsung melainkan virtual. Mengingat jarak yang sangat jauh pasti akan sangat buang waktu.
Lagipula ini barulah peresmian dan peletakan batu pertama. Mungkin jika meresmikan bangunan, Leo bisa hadir secara langsung.
Terlebih lagi Bella akan segera berangkat ke Jerman. Rasanya akan ada pemborosan ke Indonesia lalu balik lagi ke Jerman untuk acara yang begitu singkat.
Mungkin, jika sekalian ada urusan di negara tetangga mungkin itu bisa saja. Namun, kali ini hadir secara virtual adalah keputusan yang terbaik.
Setelah melakukan sholat dzuhur di masjid bandara, keluarga Mahendra berangkat menuju Jerman.