This Is Our Love

This Is Our Love
Penyebabnya



Di sebuah koridor yang dilihat dari nuansa coklat muda dan banyak orang berseragam putih hilir mudik dan dari aroma yang tercium adalah koridor rumah sakit. Pada dokter dan perawat hilir mudik untuk melakukan kunjungan pagi, ada juga yang mengantar sarapan berikut obat. 


Di antara banyaknya orang yang lalu lalang di koridor itu, di depan sebuah ruang rawat, di bangku tunggu duduk seorang wanita. Kepalanya tertunduk menatap lantai marmer putih. Di sebelahnya ada sebuah tiang infus komplet dengan infus yang menancap di pergelangan tangannya. 


Wanita itu tampak tidak terganggu dengan aktivitas pagi rumah sakit. Ia tetap bergeming. Beberapa saat kemudian terdengar helaan nafas kasar. Ia kemudian mengangkat pandangannya. Lingkar hitam di bawah matanya mengartikan bahwa ia tidak bisa tidur semalamam. Bibirnya sering dan tampak sangat lelah.  Sorot matanya nanar, kesedihan tergambar jelas padanya. 


Lagi ia menghela nafas kasar kemudian mendongak melihat botol infusnya. Sudah mau habis. Wanita itu lalu mengalihkan pandang ke arah pintu di sampingnya. 


Di menit berikutnya, wanita itu berusaha berdiri. Ia tertatih, menyentuh pelan pinggangnya. Tampaknya ia mengalami luka cukup serius pada bagian pinggang. Melihatnya berdiri, seorang perawat menghampiri dirinya.


"Nona Anda mau ke mana?"tanyanya ramah. 


Wanita itu tidak menjawab, hanya menoleh sekilas pada botol infusnya. Perawat itu langsung mengerti.


"Sebentar saya ambilkan kursi roda dulu. Jika Anda terlalu banyak bergerak takutnya luka Anda kembali terbuka dan akan menambah banyak waktu untuk sembuh," ucap Perawat tersebut. Wanita itu tidak menjawab dan perawat langsung pergi untuk mengambil kursi roda. Wanita itu kembali menyentuh pinggang kirinya. Bibirnya bergerak tipis. 


"Mari, Nona," ucap Perawat tadi yang sudah kembali dengan mendorong kursi roda. Wanita itu duduk dibantu oleh Perawat. Ia memejamkan matanya saat Perawat mendorong kursi roda.


Di ruang infus, botol infus yang sudah habis sudah diganti dengan yang baru. Wanita itu, tatapannya kembali nanar. Matanya sembab tanda habis menangis. 


"Nona lebih baik Anda istirahat di ruang rawat. Di sana ada ranjang, lebih cocok untuk kondisi Anda. Anda pasti sangat lelah duduk terlalu lama dengan kondisi seperti ini," ujar Perawat tadi yang masih menemaninya. Wanita itu menggeleng.


"Tidak perlu, hanya luka kecil. Aku bisa bertahan. Aku istirahat di depan ruangan saja. Terima kasih," jawab wanita itu datar dan sedikit serak. 


"Tapi, Nona …."


"Duduk atau tidur sekarang sama saja bagiku," sela wanita itu cepat. Perawat itu tampak diam. Tatapannya sedikit aneh juga rumit. Ingatannya kembali ke beberapa waktu yang lalu. Sejak ia menangani wanita itu, wanita itu tetap menolak untuk istirahat di ruang rawat. Tetap duduk di depan ruang rawat yang ia ketahui adalah anggota keluarga wanita itu. 


"Baiklah. Kalau begitu saya akan ambil sarapan dan obat Anda." Biar bagaimanapun wanita itu adalah pasien rumah sakit walau tidak dirawat di dalam ruangan. Wanita itu hanya mengangguk sekilas. Ia kembali menunduk.


"Nona Anda sarapanlah dulu lalu minum obat. Saya pergi sebentar untuk mengecek pasien lain," ujar Perawat lagi yang sudah kembali dengan membawa sarapan dan obat untuk wanita itu.


Perawat itu meletakkannya di bangku tunggu kemudian pergi lagi. Wanita itu hanya melirik sarapan dan obatnya tanpa niat untuk menyentuhnya. Ia lantas memalingkan wajahnya, tak ada selera makan sama sekali. 


"Morning, Nona Bella!"sapa seorang pria berseragam dokter. Wanita itu menoleh ke sumber suara. 


"Pagi, Dokter Rey!"sahutnya datar. 


"Nona mengapa sarapannya tidak Anda makan? Nutrisi sangat penting untuk kondisi Anda saat ini. Takutnya jika Anda begini terus, yang ada Anda ikutan tumbang," tutur dokter muda itu, sedikit menyelipkan lakaran.


"Aku baik-baik saja. Dan aku tidak lapar." Dokter muda itu mendengus senyum. Ia lantas mendudukkan dirinya di sebelah kursi di mana sarapan dan obat diletakkan.


"Saya tahu Anda sangat terpukul dengan apa yang menimpa Nesya. Akan tetapi bersikap menyiksa diri seperti ini adalah sikap yang salah." Wanita yang tak lain adalah Bella itu bergeming. Rey, dokter yang menangani penyakit Nesya itu menghela nafas pelan. 


"Jika Anda sakit bagaimana bisa Anda menjaga Nesya dengan optimal? Saya yakin Nesya akan sangat sedih dan marah jika Anda mengabaikan kondisi diri sendiri hanya untuk menunggui dirinya di depan pintu tanpa masuk ke dalam. Nona Anda pribadi yang kuat, Anda juga cerdas. Kondisi Anda ini masih butuh perawatan lanjut. Diinfus tanpa istirahat yang baik sama saja omong kosong. Diinfus tanpa makan apapun, juga sama."


Kali ini Bella tidak bergeming. Ia menoleh ke arah Rey. Tatapannya tetap datar.


"Setidaknya jika Anda tidak bersedia Anda bisa beristirahat di ruang rawat Nesya. Sofa lebih baik daripada bangku keras," lanjut Rey, sedikit menyeringai.


Ia tahu di balik raut datar Bella ada pertimbangan yang tengah dilakukan. 


"Bagaimana kondisi Adikku? Apa ada tanda-tanda akan sadar? Kapan dia akan sadar?"tanya Bella beruntun.


Raut wajah Rey langsung berubah muram. 


"Untuk itu kami tidak bisa memastikan, Nona. Nesya bisa sadar kapan saja. Bisa juga tidak akan sadar lagi. Kondisinya saat ini sangat belum stabil. Kami harus memantau kondisinya secara berkala memastikan agar tidak ada hal buruk yang terjadi lagi padanya."


"Dalam artian dia koma," gumam Bella. Walau sudah tahu tetap saja rasanya sangat berat untuk menerima. 


"Nona doakan saja agar Nesya cepat sadar. Temani dia dengan baik bisa memberi rangsangan untuknya bangun. Dan jika kondisinya sudah stabil mungkin rencana cangkok sum-sum bisa dilakukan," ujar Rey. 


"Aku belum berpikir ke sana. Namun, jika kau mengatakan hal itu maka lakukan yang terbaik untuk adikku. Aku sudah kehilangan keponakan kecilku. Aku tidak mau kehilangan satu-satunya keluargaku yang tersisa!"tukas Bella.


"Pasti!" Rey menjawab mantap. "Saya permisi dulu, Nona. Silakan nikmati sarapan Anda dengan baik!"pesan Rey. Dokter muda itu berdiri dan melangkah meninggalkan ruang infus. Bella mengulum senyum.


*


*


*


"Bagaimana sudah dapat lokasi menantu ketigaku di mana sekarang?"tanya Surya via telpon pada bawahannya. Saat ini ia tengah berada di lobby rumah sakit tempat Ken kembali dirawat. Rahayu sudah pergi lebih dulu ke atas.


Sedangkan Surya dan keluarga Kalendra kecuali Rose, Helena, dan Key yang ikut dengan Rahayu berada di lobby. Brian dan Silvia kembali ke rumah lebih dulu. 


"Sudah Tuan. Nona Muda Ketiga sekarang berada di rumah sakit Permata Jaya."


"Permata Jaya?"


"Benar, Tuan."


"Baik."


"Sungguh? Tapi, untuk apa dia pulang malam-malam hanya untuk pindah rumah sakit?"tanya Louis heran.


Surya mengeryit tipis, sejurus kemudian bergegas menemui resepsionis.


"Ada yang bisa dibantu, Tuan?"


"Pasien atas nama Nabilla Arunika Chandra ada di ruangan mana?"tanya Surya. 


"Pasien ada di ruang infus, Tuan," jawabnya setelah memeriksa data.


"Ruang infus? Bukankah seharusnya di ruang rawat?" Resepsionis itu kembali memastikan.


"Benar, Tuan. Beliau tidak mengambil ruang rawat mana pun. Anda bisa memeriksanya sendiri," tandas Resepsionis.


"Baiklah. Kalau begitu apa ada pasien atas nama Nesya di sini?"


Entah mengapa firasat Surya mengatakan bahwa pasti Nesya alasan kuat Bella kembali ke Jakarta dini hari tanpa bisa menunggu pagi apalagi dengan kondisi lukanya yang masih basah.


"Nesya Aruna Chandra?"tanya Resepsionis memastikan. Surya mengangguk, jantungnya berdebar lebih kencang.


"Pasien ada di ruang VIP 3," jawab Resepsionis kemudian. 


"Terima kasih." Setelah mengatakan hal itu, Surya segera mengajak Max, Leo, dan Louis untuk menuju ke ruangan yang disebutkan Resepsionis tadi.


*


*


*


"Abel?!"seru Surya, Max, Leo, dan Louis bersamaan yang mendapati Bella sudah kembali duduk menunggu di depan ruang VIP 3. Tiang infus masih setia menemani dirinya.


Bella yang menunduk dengan mata tertutup, langsung membuka matanya dan tampak tidak terkejut mendapati empat pria itu ada di hadapannya. Bella malah menarik senyum tipis.


"Sudah datang?"tanyanya tanpa rasa bersalah.


"Kau ini! Apa yang terjadi sebenarnya?"tanya Surya menuntut penjelasan.


"Abel kau mengapa tidak di ruang rawat saja? Di sini dingin tidak bagus untuk pemulihanmu," ucap Max. Sedangkan Leo dan Louis saling pandang sejenak kemudian melihat interaksi antara sepupu mereka dengan mertua dan pamannya. 


"Adikku di dalam, Dad, Pa," jawab lirih Bella. 


Sejenak keduanya tertegun. Hati Max menghangat mengetahui bahwa ia masih sangat penting untuk Bella. Sedangkan Surya mengalihkan pandang ke arah pintu, "lalu mengapa kau di luar?"


"Aku tidak berani masuk," jawab Bella, lirih pula.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa adikmu bisa di dalam?"tanya Max cemas.


Bella memejamkan matanya, "kecelakaan di lapas."


*


*


*


Tadi malam Bella menerima kabar dari kepala lapas bahwa Nesya mengalami kecelakaan parah. Kepalanya terbentur keras karena berkelahi dengan napi lainnya. Belum lagi adiknya terancam keguguran. Bella yang terkejut dan sangat khawatir dengan kondisi adiknya tanpa pikir panjang langsung mencabut sendiri jarum infusnya.


Bergegas memakai jaketnya yang berada di laci. Tak lupa ponsel dan ranselnya. Dengan tertatih, Bella keluar dari kamarnya setelah menghubungi pilot pesawat keluarga Kalendra dan memesan ojek online. 


Keluarga Kalendra memang membebaskan Bella untuk menggunakan pesawat pribadi kapan saja. Dan pilot yang sudah tahu itu tidak banyak tanya hanya mengiyakan. 


Dengan menggunakan sandal rumah sakit, berjalan tertatih guna menjaga agar lukanya tidak kembali terbuka, Bella tiba di luar rumah sakit. Ojeknya sudah datang. Segera ia naik dengan hati-hati.


Setibanya di bandara, Bella langsung terbang kembali ke Jakarta. Perasaannya kalut memikirkan nasib adiknya. Setelah perjalanan kurang lebih 2 jam, Bella tiba di Jakarta sekitar pukul 04.00. 


Syukurlah ada ojek online yang masih stay di jam segitu. Rumah sakit Permata Jaya menjadi tujuan Bella. 


Bella tidak memperdulikan lukanya yang kembali terbuka, darah merembes mengotori baju rumah sakitnya. Hanya saja ditutupi oleh jaket jadi tidak begitu terlihat. Nafasnya terengah dengan wajah pucat saat tiba di depan ruangan di mana ada petugas lapas yang berjaya. Segera Bella menanyakan bagaimana kondisi adiknya. 


Karena benturan yang cukup keras, janin Nesya gugur. Benturan pada kepalanya menyebabkan pendarahan yang mengharuskan operasi, alhasil kondisi Nesya kritis. Walau operasi berlangsung lancar, akan tetapi bagi penderita kanker darah, operasi adalah hal yang sangat tidak boleh dilakukan.


Operasi bisa mengancam nyawa Nesya. Namun, jika tidak dilakukan operasi maka Nesya akan benar-benar lewat. 


*


*


*