
"Apa-apaan mereka? Mau memaksakan kehendak agar aku menerima putra mereka?"
Bella bersungut-sungut saat keluar dari ruang makan. Ia bersandar di pilar besar koridor. Ingin mengomel sendiri.
Aku merasa merinding mendengarnya. Awalnya sih sesuai bayanganku. Tapi, mengapa mereka malah sepertinya mendukungku dan Desya? Apa yang mereka peroleh pikirkan? Bukankah mereka memihak Ariel?gumam Bella dalam hati. Dahinya mengernyit dan ia tengah berpikir untuk menemukan alasan yang tepat.
Bukankah alasan Dimitri dan Aleandra kembali karena aduan Ariel? Tapi, mereka tampak tidak begitu menyukai Ariel?
Apa yang sebenarnya terjadi?
Apa mungkin karena alasan itu juga? Yang Irene katakan? Alasan yang sama dengan Desya?
Karena mereka ingin menggulingkan Desya dan mengambil alih kekuasaan?
Bella kembali melangkah dengan masih memikirkan alasannya.
"Akhg!" Bella berteriak saat tiba-tiba ada yang menariknya. Saat membuka mata, Bella mendapat Desya menatapnya dalam.
Punggung Bella bersandar pada dinding, Desya memenjara Bella dengan kedua tangannya.
"Apa yang kau lakukan?"tanya Bella, berusaha melepaskan diri dari Desya. Ia sadar dan benar-benar terkejut. Dalam hati menggerutu, mengapa ia memikirkan itu sembari jalan?
"Apa yang kalian bahas tadi?"tanya Desya.
Tatapannya begitu dalam. Mungkin, jika Bella masih single, Bella akan terlena dalam tatapan itu. Tatapan Desya dalam dan begitu lembut. Dengan wajah tampannya, sejenak bohong rasanya tidak bisa tidak terpana.
"Ah, Oppa," ucap Bella tanpa sadar.
Dan sebenarnya itu terbalik karena Bella lebih tua dari Desya.
"Oppa?" Desya mengernyit.
"Ah tidak. Lepaskan aku!"balas Bella.
"Apa itu Oppa?"
"Bukan apa-apa. Itu cuma panggilan untuk pria yang lebih tua," jawab Bella.
"Artinya aku lebih tua darimu?"
"Tentu saja, tidak! Itu hanya refleks. Mungkin aku rindu menonton drama Korea," jawab Bella, menyelipkan maksud bahwa ia ingin menonton drama Korea.
Bella yakin, sudah banyak drama on going bertebaran. Ahh … Bella merindukan wajah tampan aktor-aktor itu.
"Baiklah."
"Singkirkan tanganmu, aku mau pergi!"ucap Bella.
"Tidak sebelum kau menjawab pertanyaanku!"
"Kau mau tahu?"
"Iya. Mereka tidak menyulitkan atau menekanmu, bukan?"
"Jika iya, apa yang akan kau lakukan?"
Desya diam beberapa saat. Bella menaikkan alisnya. Ia penasaran dengan jawaban Desya.
"Ya sudah aku tebak pasti kau akan diam saja. Kan mereka orang tuamu," celetuk Bella.
"Tidak." Desya membantah. "Aku akan mengirim mereka untuk istirahat agar tidak mencampuri urusanku," jawab Desya.
"Kau akan menghabisi mereka?"terka Bella dengan mata membulat.
"Tentu saja, tidak," jawab Desya yang membuat Bella mengernyit.
"Lantas?"
"Aku tidak sekejam itu. Aku hanya akan mengirim mereka istirahat menikmati hari tua. Bukan mengambil nyawa. Kau ini, seburuk itukah aku di matamu?"ucap Desya dengan nada ketus dan itu berbanding terbalik dengan tatapannya pada Bella yang masih lembut.
"Oh. Kata istirahat itu agak ambigu," sahut Bella, tak kalah ketus dengan tatapan datar pada Desya.
"Now, answer me!"titah Desya.
"Tanyakan saja pada orang tuamu," jawab Bella.
"Bella!" Desya sedikit mengeram.
Kesal dan juga merasa gemas bersamaan. Ia kesal namun senang. Bella tidak seacuh pagi tadi. Setidaknya mereka sudah berinteraksi seperti biasanya.
"Lepaskan aku, Desya!"ucap Bella.
"Tidak sebelum kau menjawabku," jawab Desya. Desya malah memajukan wajahnya.
Jarak wajah keduanya begitu dekat.
Jarak keduanya begitu dekat. Bella mengerjap. "A-apa yang kau lakukan? Mundur!" Bella memalingkan wajahnya.
"Jawab aku atau aku akan menciummu," bisik Desya, memberikan ancaman.
Bella langsung menatap marah Desya. Dalam hatinya meruntuk kesal. Beraninya mengancam seperti itu!
"Apa susahnya sih menjawab?"gerutu Desya.
"Okay!" Bella memilih untuk menjawabnya.
"Tapi, setelah ini kau jangan sedih, okay?"
"Hm."
"Baiklah." Bella kemudian memberitahu apa yang dibicarakan olehnya, Dimitri, dan Aleandra tadi di ruang makan.
Dan apa yang Bella khawatirkan terjadi. Wajah Desya berubah menjadi muram. Dan ia lengah. Kesempatan untuk Bella. Dalam sekali gerakan gesit, Bella lepas dari penjara tangan Desya.
Desya tersadar karenanya. "Sudah berkali-kali aku mengatakannya. Jadi jangan terlalu dibawa perasaan, okay," ucap Bella dengan mengacungkan jempolnya.
"Kau?" Desya menatap Bella dengan perasaan tidak menentu. Ditolak berulang kali, siapa yang tidak sakit?
"Ah, aku ada hadiah untukmu," ucap Bella, dengan tersenyum smirk.
Desya sedikit merinding. Hatinya berkata ia dalam masalah. Akan tetapi, tubuhnya tidak mau beranjak.
Bella seperti mengambil ancang-ancang.
Bugh!
Tendangan tidak terduga Bella layangkan pada Desya.
Desya langsung terbelalak. Matanya melotot. Dengan kedua tangan berada di antara kedua paha.
"Ahhh." Itu erangan. Dan Desya perlahan berlutut. Mendongak menatap langit.
Sakit.
Sungguh sakit.
Sementara sang pelaku tersenyum puas.
"Huh!"
"B-Bella bagaimana bisa kau menendangnya?"tanya Desya dengan sudah payah, meringis sakit.
Menatap Bella dengan mata kadang terbuka kadang terpejam.
"Tentu saja untuk melampiaskan kekesalanku. Lekaslah panggil dokter," balas Bella, melambai kemudian pergi dengan langkah girang.
Meninggalkan Desya yang sangat kesakitan.
Jelas. Bagian vitalnya ditendang dengan persiapan oleh Bella. Bukan main, sakitnya tidak kunjung hilang.
"Tuan, Anda kenapa?"
Irene bergegas membantu Desya berdiri. Satu tangan berada di bahu Irene sementara satu tangan lagi masih menutup asetnya.
"Panggil dokter ke kamarku, cepat!"ucap Desya.
"B-baik, Tuan!" Melalui earphone nya, Irene menghubungi bagian medis istana.
"Ke kamar Tuan sekarang!"titah Irene sembari memapah Desya menuju kamarnya.
Tak hentinya Desya meringis sepanjang jalan.
Semoga tidak apa.
*
*
*
Irene menunggu dengan resah. Irene berdiri tak jauh dari ranjang Desya. Di mana di balik ranjang yang ditutupi dengan selimut itu, Desya tengah diperiksa asetnya.
"Tidak terlalu parah, Tuan. Setelah minum obat akan sembuh dengan sendirinya," ujar dokter yang menangani Desya.
"Sungguh tak apa? Tidak cacat kan?"tanya Desya, memastikan.
Desya duduk berbaring dengan selimut sebatas pinggang.
Dokter tersebut tersenyum seraya menggeleng. "Benar, Tuan."
"Aku masih bisa punya keturunan, kan?"tanya Desya lagi yang dibalas anggukan sang dokter.
Desya menghela nafas lega.
"Syukurlah."
Apa Tuan berencana memiliki anak lagi? Dokter tersebut bertanya-tanya dalam hati.
"Kau serius, kan? Hanya memar sedikit, kan?"
Desya sekali lagi memastikan. Hatinya benar-benar resah. Takut kalau ia akan kehilangan kemampuannya dalam memiliki keturunan.
"Benar, Tuan. Bahkan jika Anda ingin memiliki satu lusin anak, itu pasti akan terjadi," balas dokter tersebut.
Desya tersenyum lebar. Kali ini benar-benar lega.
"Irene," panggil Desya.
"Ya, Tuan!"
"Berikan hadiah untuknya," ucap Desya.
"Baik, Tuan."
"Terima kasih, Tuan!"
Wajah dokter tersebut begitu sumringah. Desya melambaikan tangannya. Sang dokter segera undur diri bersama dengan Irene.
Desya melihat ke arah di antara dua pahanya.
"Aku senang kau baik-baik saja, rekan kecilku," ucap Desya dengan mengelusnya.
"Sttt…."
Masih sakit. Desya meringis pelan. "Lebih baik aku istirahat sebentar." Desya memejamkan matanya.
"Tapi, aku penasaran seberapa kuat kekuatan fisiknya," gumam Desya dengan tetap memejamkan matanya.
"Aku harus mengujinya!"gumam Desya sebelum akhirnya benar-benar terlelap.
*
*
*
Di sisi lain, Bella yang telah tiba di kamarnya tertawa terbahak. Bella begitu senang karena telah melampiaskan kekesalannya.
Sangking bahagianya, Bella sampai menyeka sudut matanya.
"Aku harap dia jera," ucap Bella mengakhiri tawanya.
"Beraninya mengancam mau menciumku!"gerutu Bella kemudian. Ia bangkit dari sofa.
"Hm, rasa sakitnya tidak sebanding dengan rasa sakitku dipisahkan dari keluarga. Desya harusnya kau bersyukur aku hanya menendangnya, bagaimana jika aku …."
Bella menarik senyum smirk. Tatapannya berubah.
"Tidak itu terlalu kejam."
"Ah. Lupakan saja." Bella menuju kamar mandi. Ia hendak berwudhu dan menunaikan shalat Zuhur.
*
*
*
Selesai shalat Zuhur, Bella teringat ucapan Desya tadi pagi.
Kau bisa berkeliling melihat para prajurit berlatih. Irene akan menemanimu.
Bella segera berganti pakaian. "Hm?" Bella mengernyit melihat isi lemarinya. Lemari itu penuh. Bella mengecek, apakah sesuai dengan gaya berpakaian.
Pas. Semua cocok. Juga ada tambahan beberapa kain panjang dan lebar yang dapat difungsikan sebagai hijab.
Meskipun Bella tidak menyukai Desya, Bella tidak membenci Desya. Pria itu menghormati diri dan keyakinannya.
"Aku harap kau berhenti mengharapakanku …."
Bella bergumam kemudian mengambil pakaiannya. Celana training dan kaos lengan panjang yang dipadukan dengan hijab berwarna hitam dan juga sneakers.
Perfect. Bella tersenyum setelah memberi sedikit polesan pada wajahnya. Hamil, tak membuatnya kesulitan bergerak. Mungkin nanti jika sudah memasuki trimester tiga baru Bella akan merasa kesulitan.
Tak lupa, sebelum keluar kamar Bella memakai mantelnya. Melangkah dengan riang. Suasana hatinya sedang sangat bagus.
"Excuse me," sapa Bella pada salah seorang penjaga koridor.
Penjaga yang sepertinya tahu siapa Bella langsung menunduk, "ada yang bisa saya bantu, Nona?"balasnya dengan nada sopan.
"Area latihan di mana ya?"tanya Bella. Istana ini luas dan Bella belum tahu benar tata letaknya.
"Anda ingin ke ruang latihan apa, Nona?"tanya penjaga tersebut.
"Hm …."
Bella berpikir sejenak. Benar juga. Ini organisasi besar, pasti tidak hanya satu yang dilatih.
Berenang?
Ah tidak.
Menembak?
Tidak.
Memanah?
Ah ya!
"Lapangan memanah," jawab Bella.
"Nona ikuti saja koridor ini. Nanti di perempatan belok ke kanan lalu saat di pertigaan belok ke kiri," ujar penjaga tersebut, memberitahu Bella.
"Wow, sudah seperti jalanan ya," decak Bella.
Penjaga tersebut tersenyum simpul.
"Okay. Thanks," ucap Bella kemudian melanjutkan langkahnya.
"You are welcome, miss," jawab penjaga tersebut.
"Perempatan ke kanan, pertigaan ke kiri."
Bella menggumamkan kalimat itu sepanjang jalan. Hingga setelah cukup lama ia berjalan, Bella tiba di sebuah lapangan. Tentu saja lapangan outdoor.
Matahari bersinar terang. Akan tetapi udara terasa sejuk. Beginilah awal musim dingin. Bella memejamkan matanya. Menarik nafas menikmati suasana. Udaranya begitu segar.
Aku merindukan ini.
Di lapangan panahan, terdapat banyak anggota yang berlatih. Di bawah pohon cemara, Bella berdiri dan melihat mereka berlatih.
"Hei, Nona! Mengapa kau berdiri di sana! Keluarlah, ini bukan area wanita. Di sini berbahaya. Kau bisa terkena panah nyasar!"seru seorang anggota yang melihat Bella.
Bella menoleh pada sumber suara.
"Kau berbicara padaku?"tanya Bella dengan menunjuk dirinya sendiri.
"Memangnya siapa lagi? Cuma kau wanita di sini!"
CK!
Bella berdecak. Cara bicaranya cukup kasar. Bella sedikit menilik penampilannya. Rambutnya agak gondrong dengan kepala memakai head band yang menutupi dahi atasnya.
Kulitnya terkesan lebih ke kuning langsat, wajahnya tergolong tampan, dan tubuhnya tinggi semampai. Tangannya menenteng sebuah busur panah dan di pundaknya menggendong quiver yang berisi beberapa anak panah. Dan tubuhnya terlihat sexy dengan keringat mengalir dari pelipisnya.
Tatapannya tajam pada Bella. Berani menegur dan bicara seperti itu, Bella tersenyum.
Teman yang sempurna!