
Benar. Mengapa Bella tidak mengajukan syarat untuk dia bisa meninggalkan istana ini? Lepas dari cengkraman Desya?
Tidak bisa. Yang bertanding adalah Bella dan Ariel. Artinya kesempatan hanya bisa dibuat oleh keduanya. Desya hanya bisa menyetujuinya.
Lagipula, mana mungkin Desya setuju jika Bella meminta kebebasan.
Dan bagi Bella pun, itu bukan permintaan yang tepat. Ia sudah punya tanggung jawab di sini dan harus diselesaikan hingga tuntas. Dia tidak akan setengah-setengah dalam melakukan sesuatu!
*
*
*
Hari tenang Bella lewati. Sudah tiga hari sejak hati tantangan tempo hari. Ia bisa mengerjakan pekerjaannya dengan tenang dan lancar. Desya juga tidak menemui atau memanggilnya selama tiga hari belakangan ini. Mungkin, Desya merasa trauma bertemu dengan Bella. Wanita itu, balas dendamnya tidak main-main.
Semua pekerjaan yang ditujukan untuknya diantar atau disampaikan melalui perantara yakni, Irene.
Lesta sering mengunjunginya. Adapun Liev, ia juga mengunjungi Bella meskipun tidak sesering Lesta. Liev mencuri kesempatan untuk itu.
Ketiganya biasanya bertemu di ruang musik. Dengan alasan belajar, mereka bisa menghabiskan waktu bersama. Akan tetapi, mereka benar-benar belajar musik dengan Bella.
Mengenai pekerjaannya, Bella telah membantu Desya menyelesaikan pembelian tiga perkebunan yakin, perkebunan anggur di Italia, perkebunan tembakau di Temanggung, dan perkebunan zaitun di Spanyol.
Untuk membeli ketiga perkebunan itu, Desya menghabiskan dana sekitar 15,75 juta dollar, atau setara dengan 230 milyar rupiah. Lain dengan budget yang dikeluarkan untuk membeli pulau pribadi yang Bella beri nama dengan perkebunan pisang di Maladewa.
Setelah pembelian itu selesai, pekerjaan Bella tidak terlalu banyak. Desya memberinya tugas sebagai penasehat. Juga menyeleksi tawaran kerja sama yang masuk. Bella juga diminta untuk menjadi penilai beberapa kerja sama yang telah berlangsung. Semua itu dilakukan dengan perantara Irene. Terlihat jelas siapa yang tersiksa akibat perang dingin Desya dan Bella.
Dan saat malam, Bella ada waktu untuk menyantaikan dirinya. Kemarin, Desya mengirim Irene padanya untuk meminta yang dibutuhkan atau yang diinginkan.
Bella jelas saja langsung mengatakan ia ingin menonton drama Korea. Rutinitas yang telah lama ia tinggalkan.
Drama Ghost Doctor yang baru saja tamat, langsung Bella suruh Irene untuk mendownloadnya. Selain itu drama on going Twenty Five Twenty One pun Bella suruh Irene untuk mendownloadnya.
Lengkap sudah. Ada cemilan dan minuman hangat. Bella begitu menikmati malamnya.
"Sayang, jika kau laki-laki, wajahmu setegas Rain, juga imut seperti Kim Bum, dan tampan seperti Nam Joo-Hyuk, pasti akan menjadi perpaduan yang luar biasa," ucap Bella sembari mengusap perutnya.
Ia tengah menonton drama terbaru yang dibintangi Nam Joo-Hyuk dan Kim Taeri. Drama itu berlatar tahun 1998. Saat dunia dilanda krisis moneter.
"Tapi, seperti apa wajahmu kelak, Mama berharap kau tumbuh dengan baik. Memiliki akhlak yang baik dan juga cerdas. Mama berharap yang terbaik untukmu," imbuh Bella lagi.
Dan episode kedua dari drama ongoing itu telah selesai. Bella memutuskan untuk tidur, mempersiapkan diri menyambut hari yang baru.
*
*
*
Desya tiba di ruangannya. Disambut oleh Irene yang langsung memberikan agenda Desya untuk hari ini.
Akan tetapi, ada yang berbeda. Wajah Desya hari ini sangat-sangat tidak bersemangat. Ia lesu.
Tidak duduk di meja kerjanya, melainkan di sofa. "Wine." Satu kata darinya, Irene langsung mengerti. Tuannya dengan bingung dan gundah. Tapi, apa yang membuat Tuannya demikian?
"Silakan, Tuan," ujar Irene setelah menuangkan wine ke dalam gelas.
Desya langsung meraih dan menenggaknya hingga tandas. Dan kembali menyodorkannya pada Irene. Menandakan lagi.
Irene kembali menuangkannya. Ia masih belum bertanya mengapa Tuannya seperti ini. Sembari melayani Desya, Irene menerka-nerka.
Dan ini sudah gelas keempat. Wajah Desya mulai memerah. Ia mulai sedikit mabuk. Posisinya pun berubah menjadi berbaring di sofa. Matanya terpejam dengan tangan memijat pelipis.
"Jangan!"ucap Desya serak saat Irene hendak membawa pergi wine dan gelasnya.
"Apa karena Nona Bella, Tuan?" Dan itu alasan yang paling cocok menurut Irene. Irene kembali meletakannya. Dan keduanya duduk di lantai, bersiap untuk mendengar celotehan Tuannya.
"Aku bingung." Desya duduk. Matanya merah. Ia bertambah mabuk. "Bagaimana lagi caranya meluluhkan hatinya?"lanjut Desya. Ekspresinya saat ini, seperti orang yang tengah putus asa.
"Tiga hari ini, aku tidak menemuinya. Aku merindukannya."
Irene setia mendengarkan isi hati Tuannya. Mungkin ini masih pembukaan.
"Aku sudah menjauhkannya dari suaminya. Aku juga memberi posisi dan perlindungan padanya di sini. Aku juga memberinya perhatian. Aku tulus padanya. Aku benar-benar menyukainya. Tapi …." Desya menjeda ucapannya. Ia menatap cangkir yang telah kosong. Sebelum diperintah lisan, Irene kembali menuang wine ke dalam gelas tersebut.
"Jawaban yang aku terima dari awal tetap sama. Dia tidak menyukaiku sama sekali." Setelah minum Desya menunduk. Gurat kesedihan tercetak padanya.
Ya … Irene tahu itu.
"Kau tahu, Irene? Rasanya sangat sakit. Aku merasa kalah. Namun, aku juga merasa ia semakin menarik."
Tubuh Desya sedikit goyah. Irene mendongak. "Aku tidak bisa membencinya. Meskipun dia membuatku sakit."
"Tuan, Anda benar-benar mencintainya atau hanya obsesi untuk mendapatkannya?" Irene angkat bicara.
"Apa maksudmu?" Desya bertanya. Meski tubuhnya goyah, tatapannya masih tajam pada Irene.
"Tuan ingat apa yang Nona Bella cari saat di pesawat tempo hari?"tanya Irene. Desya mengerutkan dahinya. Ia tengah mengingat.
"Apa?"
Irene menghela nafasnya. "Yang pertama Nona cari adalah mukenanya. Pakaian untuk Nona ibadah. Dan karena Tuan tidak memberinya, Nona menggunakan selimut dan sprei kamar," papar Irene. Desya tampaknya terhenyak. Ia memikirkan arti perkataan Irene.
Desya menatap lekat Irene. Mencerna ucapan Irene. Namun, agaknya ia tidak mengerti. "Katakan terus terang!"titah Desya.
"Tuan, sebelum Anda mendapatkan hatinya, Anda harus mengerti keyakinannya. Artinya, Anda harus lebih dulu menemukan dan mengenal Tuannya. Anda harus dekat dengan Tuhannya dulu barulah dengan Nona. Saya rasa itu cara yang paling ampuh untuk meluluhkan hati Nona Bella!"tutur Irene. Ah … dia menarik kesimpulan yang luar biasa! Dari mendengar saja, Irene sudah menemukan maksud perkataan Bella dari waktu ke waktu.
"Jadi, maksudmu aku harus mempelajari dan mengenal keyakinannya?" Irene mengangguk membenarkan.
Ah … benar. Bella sudah memberi kode sejak awal. Hanya saja, ia yang terlalu keras dan tidak mau percaya.
Akan tetapi … "apa yang harus aku pelajari sekarang?"
*
*
*
Perpustakaan, di dalamnya terdapat banyak buku yang mengandung berapa ilmu.
Perpustakaan Green Palace, bangunan itu menyimpan begitu banyak buku. Ada juga koleksi buku yang telah berusia tua. Beragam buku, mulai dari sejarah, sains dan teknologi, hukum, ekonomi, bisnis, dan lainnya terdapat di dalam perpustakaan ini.
Bangunan ini terdiri atas tiga lantai. Di dalamnya juga ada buku-buku yang bernuansa keagamaan. Tidak hanya satu agama, tetapi ada beberapa agama, di antaranya adalah Islam dan Kristen.
Koleksinya cukup bahkan sangat lengkap. Ditata rapi dalam sebaris rak besar. Bahkan di sana juga ada kitab suci yang dalam bentuk terjemahan bahasa Rusia.
Ya, meskipun Desya mengaku tidak percaya dengan Tuhan alias ia tidak beragama, akan tetapi tidak dengan anggotanya, penghuni Green Palace yang lain.
Kebanyakan dari mereka menganut agama Kristen. Ada juga segelintir yang menganut agama Islam. Hanya saja, di istana ini tidak ada bangunan untuk beribadah. Hanya ada beberapa ruangan yang difungsikan untuk hal itu.
Lantas apa Desya tidak mengetahuinya?
Desya tahu. Hanya saja, Desya tidak terlalu mempedulikannya. Yang penting semua bagian melaksanakan tugasnya dengan baik. Bagi Desya, itu pribadi mereka. Ia tidak menyuruh anggotanya untuk memeluk atau tidak memeluk keyakinan. Itu kebebasan pribadi.
Malam harinya, Desya mengunjungi perpustakaan. Hanya ada beberapa pengunjung.
Saat Desya datang, mereka semua bangkit dan memberi hormat. Desya mengangguk kecil. Ia ditemani oleh Irene.
Kepala perpustakaan menghampiri Desya. "Tuan, hal apa yang membawa Anda kemari?"tanyanya sopan.
"Buku keagamaan, ada di bagian mana?" Kepala pelayan itu tampaknya terkejut.
Begitu juga yang mendengarnya, kecuali Irene.
"Hei!"
"A-ada di lantai dua, Tuan!"jawabnya dengan tergagap karena terkejut dengan sentakan Desya.
Desya mengangguk. Ia dan Irene kemudian melangkah menuju lantai dua.
Apa yang membuat Tuan mencari buku agama? Kepala perpustakaan melempar tatapan rumit.
Akankah karena wanita asing itu? pikirnya kemudian.
Perpustakaan ini tutup di pukul 10.00 dan akan dikunci.
Dan perselingkuhan kemarin itu pasti terjadi di atas pukul tersebut. Cara mendapatkan kuncinya?
Itu bukan hal sulit untuk Ariel. Dia adalah Nyonya pertama di istana ini. Ibarat kata, dia adalah ratu.
*
*
*
"Terima kasih atas kunjungan Anda, Tuan Muda!"ucap seorang pria paruh bayah pada Ken. Keduanya berjabat tangan.
"Sudah seharusnya, Pak!"jawab Ken, menarik senyum.
"Saya dan tim, akan berusaha agar pembangunan berlangsung dengan baik!"
"Semua sudah dipertimbangkan oleh wakil Presdir sebelumnya. Anda dan tim hanya perlu fokus pada jalannya pembangunan."
"Saya sangat berterima kasih. Nona memanglah orang yang memperhitungkan semuanya," ucap Bapak itu yang tak lain adalah penanggung jawab lapangan pembangunan proyek apartemen di Papua ini.
Tiga hari setelah meeting umum kemarin, Ken terbang ke Papua untuk mengecek perkembangan pembangunan secara langsung.
Hasilnya, sejauh ini sama seperti apa yang Bella perkiraan. Ada hambatan namun tidak begitu berarti. Keamanan juga begitu ketat. Selain itu, tidak ada lagi perlawanan atau penolakan dari warga sekitar karena rencana Bella dijalankan.
Penduduk sekitar dilibatkan dalam pembangunan tersebut. Untuk pria, mereka bekerja di proyek pembangunan. Sementara untuk para wanita, dibina dan diberi pelatihan untuk nantinya bekerja di mall yang juga tengah dalam masa pembangunan.
Memang butuh dana yang besar. Namun, nantinya akan sebanding dengan keuntungannya. Baik untuk perusahaan sendiri ataupun penduduk sekitar. Membangun perusahaan, sekaligus membangun negeri.
"Kalau begitu saya pamit," ucap Ken.
"Hati-hati, Tuan Muda!" Ken mengangguk singkat dan masuk ke dalam mobil.
Mobil melaju, meninggalkan lokasi proyek pembangunan menuju bandara. "Aru, aku akan menjaga dan menyelesaikan kerja kerasmu. Aku harap saat peresmiannya nanti, kau sudah ada di sisiku."
.