
Ken, Bella, Brian, dan Silvia meninggalkan kediaman Utomo saat waktu menunjukkan pukul 19.00 setelah hujan mereda dan menyisakan gerimis. Hal itu dikarenakan mereka mengendarai sepeda motor. Mereka magrib di kediaman Utomo. Sebelum pulang, Ken kembali memeluk Anggara dan Angkasa.
Di kediaman Utomo, selepas ba'da isya, kediaman Utomo kembali ramai dengan tetangga dan teman dekat Bayu lainnya yang datang untuk tahlilan.
Sementara di sisi lain, Ken, Bella, Brian, dan Silvia telah tiba tiba di mansion keluarga Mahendra. "Assalamualaikum," ucap kedua saat memasuki ruang tengah.
"Waalaikumsalam," jawab Dylan yang tengah bermain game monopoli dengan Calia.
"Malam, Guys," sapa Calia dengan nada riangnya.
"Malam, Calia," balas Bella dan Silvia. Keempatnya mengambil tempat duduk di sofa, menghela nafas setelah beraktivitas seharian. Pelayan datang membawakan minum untuk Tuan dan Nona Muda mereka.
"Apa keluarga itu akan tamat?"tanya Dylan yang mengetahui kabar meninggalnya Bayu dari siaran televisi.
"Dari mana kau mengatakan keluarga Utomo tamat?"tanya balik Ken.
"Ku lihat dari wajahnya, aku kurang yakin siapa namanya kemarin? A-Angkasa ya? Ya Angkasa itu bisa mengelola Utomo Company," jawab Dylan.
Bella mengeryit tidak suka dengan jawaban Dylan itu, "jangan suka merendahkan orang lain, Dylan! Jangan menilai seseorang dari luarnya!"ucap Bella memperingati Dylan.
Dylan cemberut. "Bocah, apa kau kira keluarga Adhitama itu sekadar pajangan? Apa selama bertahun-tahun mereka hidup tidak mempelajari apa yang akan mereka jalani?"tanya Brian.
Dylan merenung. Gurat-gurat rasa bersalah mulai hadir. "Biar begitu, mereka punya kemampuan. Dan untuk sekarang kau fokus pada diri dan studimu! Setelah kau lulus kuliah, atau sembari kau kuliah kita akan membangun kembali keluarga Chandra dan Buana!"ucap Bella, mengingatkan Dylan lagi akan tujuan utamanya, bukan mengurusi urusan orang lain!
"Aku keliru," sesal Dylan.
"Wah, bocah kau bisa merasa bersalah juga rupanya," kaget Calia dengan menatap Dylan tidak percaya.
"Jika aku salah, maka aku akan meminta maaf. Jika jangan harap!"jawab Dylan.
"Hei itu keliru lagi! Dalam beberapa konteks, tidaklah salah atau kalah seseorang yang meminta maaf lebih dulu. Bahkan itu lebih mulai! Jadi, selagi masih bisa diselesaikan dengan kepala dingin, minta maaflah agar urusan clear!"ralat Silvia.
"Ah aku salah lagi," ucap Dylan mencembikkan bibirnya.
"Tapi, bocah mengapa kau tidak minta maaf padaku padahal kau sering membuatku kesal?"tanya Calia dengan mata menyelidik pada Dylan.
"Karena aku tidak merasa salah. Aku hanya bercanda kau menganggapnya serius, bukan aku yang salah, bukan?"jawab enteng Dylan yang membuat Calia tersenyum geram dengan tangan mengepal. Bella menepuk dahinya. Sedangkan tiga lainnya mendengus senyum.
Bugh! Calia yang kesal menendang Dylan hingga terjerembab di lantai.
"Auh!" Dylan langsung mengaduh. Ia menatap marah Calia.
"Apa-apaan sih? Mengapa menendangku, hah?"seru Dylan pada Calia.
"Ups, sorry. Aku bercanda," jawab Calia dengan wajah yang dibuat semenyesal mungkin yang membuat Dylan mengertakkan giginya kesal. "Kau sengaja!"tuduhnya tidak percaya.
"Kalau begitu aku juga tidak percaya kau bercanda saat menjahiliku!"sahut Calia dengan senyum lebarnya.
"Sudah malam, aku kembali ke paviliun dulu," ujar Calia, berdiri.
"Okay," sahut Bella.
"Bagaimana dengan permainan kita? Ini belum selesai," cegah Dylan dengan menahan tangan Calia.
"Aku sudah tidak mood. Dan aku lelah. Lanjut lain kali atau jika kau tidak bisa menunggu silakan main sendiri," jawab Calia.
"Ck!" Dylan berdecak. Calia terkekeh. "Good night, All. Have a nice dream," ujar Calia sebelum meninggalkan ruang tengah kembali ke paviliun.
"Awas ada kodok!"seru Dylan. Calia menghentikan langkahnya dan menoleh sinis pada Dylan.
"Pembual!"sinis Calia.
"Eh kodok," seru Dylan tiba-tiba yang membuat Calia terlonjak kaget dan langsung lari terbirit. Dylan tertawa terpingkal.
"Dasar kalian ini," gerutu Bella.
"Hehehe …."kekeh Dylan, ia begitu puas telah menjahili Calia lagi.
"Awas sebentar lagi Calia akan pulang kau malah jadi murung nanti nggak ada teman," peringat Silvia. Dylan tertegun mendengarnya. Tampaknya ia langsung kepikiran akan hal itu.
"Diam artinya tidak memikirkan ke sana. Dasar Bocil," ucap Ken.
"Em kalian sudah makan malam?"tanya Dylan, mengalihkan pembicaraan. Waktu menunjukkan hampir pukul 20.00.
Keempatnya menggeleng. "Kau sendiri, Lan?"tanya Bella.
"Kami kira tadi kalian akan pulang setelah tahlilan jadi kami makan lebih dulu," jawab Dylan.
"Hm … jadi kau mau ikut makan lagi?"tanya Bella. Dylan menggeleng. "Aku kenyang," jawab Dylan kemudian berdiri dan menepuk-nepuk bokongnya.
"Aku mau ke perpustakaan dulu," ujar Dylan yang diangguki Bella. Dylan kemudian berlalu dan keempat orang itu saling melempar pandang satu sama lain.
"Malam di kamar masing-masing," ucap keempatnya serentak karena jujur saja mereka malas untuk kembali turun ke meja makan. Keempatnya kemudian meninggalkan ruang tengah naik ke lantai dua menuju kamar masing-masing. Sedangkan bagian dapur bergegas menata masing-masing makan malam Nona dan Tuan Muda mereka di atas nampan lalu diantar ke kamar masing-masing.
Setibanya di kamar, Bella langsung membuka hijab dan melonggarkan dasinya. Sedangkan Ken bersiap untuk mandi.
"Aku baru teringat kalau Angga tinggal di kediaman Adhitama, setelah ini bagaimana menurutmu , Aru?"tanya Ken sebelum masuk ke dalam kamar mandi.
"Maka ada tiga kemungkinan. Yang pertama Angga dan Azzura pindah ke kediaman Utomo atau Angkasa yang ikut tinggal di kediaman Adhitama, dan Angkasa ataupun Anggara tidak ada yang pindah," jawab Bella sembari membuka kaos kakinya.
"Lebih cocok yang pertama, maybe," pikir Ken kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Bella mengendikkan bahunya, toh itu bukan urusannya.
Kini Bella menyandarkan punggungnya di di sandaran sofa, mencari tempat ternyaman dengan kedua kaki lurus. Bella menatap langit-langit kamar. Matanya mengerjap beraturan, seakan tengah melihat kilas balik. Tak lama kemudian, Bella mengukir senyum smirk. Sepertinya sebuah rencana sudah tercetak di otaknya.
Welcome to my paradise
Ponsel Bella berdering. Ada sebuah panggilan masuk. Bella menoleh dan meraih ponselnya. Ia menarik senyum tipis kemudian menjawabnya dengan mengenakan earbud. Sembari memakai hijabnya Bella menuju balkon.
"Assalamualaikum, Kak."
"Waalaikumsalam, Frozen. What's problem?"tanya Bella dengan duduk di kursi balkon menikmati benda langit yang malam ini bertebaran cukup banyak.
"Aku ingin menghilangkan title keterbelakangan mentalku, segera. Aku butuh cara dan saran dari Kakak," jawab Azzura.
"Oh kau sudah memutuskannya? Orang tuaku setuju?"tanya Bella memastikan.
"Mereka setuju, hanya bingung caranya aku muncul di publik dengan diriku yang sebenarnya. Jika tiba-tiba aku sembuh akan menjadi sebuah pertanyaan besar. Jika aku mengaku aku sudah sembuh sejak lama, maka keluargaku akan menjadi cibiran publik. Aku ingin yang kelihatan real namun aku tidak tahu caranya. Kakak kemarin mengatakan akan membantuku," jelas Azzura. Bella menganggukkan kepalanya mengerti.
"Sebentar," ucap Bella pada Azzura saat mendengar suara pintu kamar diketuk diikuti dengan suara pelayan.
"Masuk," sahut Bella dengan berteriak. Pintu terbuka, dua pelayan masuk dengan membawa nampan berisi makan malam keduanya. "Makan malam Anda dan Tuan Muda, Nona."
"Jadi, aku ada satu untukmu, Frozen. Hanya saja, cara ini butuh pengorbanan dan berisiko membuatmu masuk rumah sakit," ucap Bella melanjutkan percakapan tadi.
"Dalam artian cukup ekstrim?"
"Begitulah. Kau bisa memikirkannya dulu atau kau mau mendengarnya baru memutuskan?"tawar Bella.
"Katakan saja," jawab Azzura yakin.
"Okay. Caranya ada beberapa tahap …." Bella kemudian menjabarkan tahap demi tahap dengan sesekali melihat ke dalam kamar.
"Tapi, cara itu bukannya akan tetap menimbulkan kerugian?"
"Keajaiban tidak bisa dicerna secara ilmiah dan logika, Frozen. Mereka diterima dan akui oleh hati dalam bentuk keimanan," terang Bella santai.
"Tak apa jika kau ingin mempertimbangkannya lebih lama lagi. Namun, ingat waktu mengejar kita," tukas Bella kemudian.
Hening sesaat. Azzura sepertinya masih mempertimbangkan.
"Aru? Kau berbicara dengan siapa?" Ken sudah keluar kamar mandi dan menghampiri Bella di balkon dengan menggunakan kimono handuknya.
"Aku setuju." Bella tersenyum mendengar jawaban itu.
"Baiklah. Kalau begitu kita sambung lagi nanti. Good night," putus Bella.
"My bestie," jawab Bella pada Ken seraya melepas earbudsnya.
"Teresa?"tanya Ken memastikan.
"Hm," sahut Bella, melangkah masuk ke dalam kamar dan bersiap untuk mandi.
*
*
*
"Masih belum terbiasa?"tanya Brian pada Silvia saat keduanya tengah makan malam.
"Namanya masih baru, Mas. Lama-lama juga akan menjadi sebuah kebutuhan," jawab Silvia apa adanya.
"Kalau begitu teguhlah pada pendirianmu. Kau harus istiqomah. Walaupun aku senang kau melakukan pintaku kemarin, tetap saja niat dasar dan utamanya atas dasar Allah," ujar Brian mewanti-wanti sang istri.
Silvia menganggukinya, "Mas semakin hari semakin jauh lebih baik," tutur Silvia.
"Dari segi?"
"Everything," jawab Silvia.
Brian yang dulunya sebut saja jarang shalat kini alhamdulilah sudah full lima waktu. Shalat malam pun menjadi sebuah kebiasaan. Brian juga mulai meninggalkan alkohol dan rokok di saat ia gelisah.
*
*
*
Azzura menumpukan kedua tangannya di tepi ranjang Anggara. Anggara tampak begitu pulas dalam tidurnya. Mungkin efek kelelahan karena acara berakhir menjelang pukul 23.00. Azzura mengamati, memeta wajah sang suami dalam dan lekat.
"Aku akan menjadi yang terbaik untukmu. Aku tidak akan membiarkanmu tenggelam dalam kesedihan. Anggara, walau kau menyembunyikannya sedalam apapun, aku dapat melihatnya. Kau begitu terluka dan terpukul. Namun, kau berusaha tegar demi adikmu. Kelak aku yang akan menegarkan dirimu," bisik Azzura lembut. Ia menundukkan wajahnya dan memberi kecupan hangat pada dahi suaminya.
"Good night, have a nice day," bisik lembut Azzura lagi sebelum keluar dari kamar menuju ruangan pribadinya yakni tempatnya melukis dan bekerja dari balik layar.
*
*
*
Bella membuka matanya saat timer yang ia aku di jamnya bergetar. Menoleh ke samping dan melihat Ken tidur dengan pulasnya.
Bella bangkit dengan pelan dan hati-hati. Mencari ikat rambutnya kemudian melangkah pelan menuju walk in closet. Di sana Bella membuka salah satu lemari paling bawah. Ia mengeluarkan sebuah koper dengan sandi dan dilengkapi dengan pengenal sidik jari. Bella membukanya dengan hati-hati dan sesekali melihat ke arah pintu masuk.
Pencahayaan yang redup yang mampu menyembunyikan senyum Bella yang penuh arti dengan menatap lembaran-lembaran kertas yang ia pegang. Sepertinya itu kertas yang sangat berharga hingga dilindungi seperti itu.
"Kau akan menghadapi apa yang selama ini tidak pernah kau bayangkan," gumam Bella dengan sorot mata tajamnya.
Awalnya aku ingin membuat semuanya menjadi mudah. Namun, kau malah semakin luar biasa!
Jangan salahkan siapapun jika aku turut melibatkan semua keluarga Nero dalam hal ini. Salahkan saja dirimu sendiri yang tidak bisa menerima kenyataan!
Bella kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang, "halo," ucap Bella saat panggilan dijawab.
*
*
*
"Ayah, gawat!"ucap Aldric pada Marco yang tengah menikmati sinar matahari di beranda mansion.
"Ada apa?"sahut Marco tenang dengan tetap menggoyahkan kursi goyangnya. Ia tampak begitu tenang, berbanding terbalik dengan Aldric yang begitu panik.
"Saham Tuan Williams ditarik semua, Ayah," beritahu Aldric pada Marco. Marco langsung membuka matanya dan menoleh tidak percaya pada sang putra.
"Apa yang kau katakan?"
"Baru saja orang kepercayaan Tuan William menarik semua saham atas dasar perintah yang mewarisi saham beliau!"jelas Aldric.
"Bagaimana bisa itu terjadi?!" Marco langsung berdiri dan merasa sangat shock.
"Tapi, apa alasannya? Perusahaan selalu memberi keuntungan besar setiap tahunnya! Mengapa tiba-tiba begini?!" Marco mengerang frustasi.
"Ini tidak bisa terjadi! Kita harus meyakinkannya untuk kembali menanamkan saham di sini. Publik pasti mengira Nero Group dalam masalah jika saham Tuan Williams ditarik total! Ini juga akan mempengaruhi investor lain!" Marco tidak bisa untuk tidak panik.
Perusahaan memanglah perusahaan keluarganya. Hanya saja, untuk saham, saham keluarga Nero hanyalah sekitar 25 % di dalamnya. Sedangkan saham milik Tuan Williams yang disebutkan itu kini separuh dari jumlah total seluruh kepemilikan salam dalam matematis adalah sekitar 50%. Perusahaan akan sangat terguncang jika ahli waris Tuan Williams benar-benar serius menarik semua saham itu.
"Kontak kepercayaan Tuan Williams. Katakan aku ingin bertemu dengan ahli waris Tuan Williams!"ucap Marco pada akhirnya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah dengan gusar. Aldric melakukan perintah sang ayah. Jujur, ia juga penasaran siapa sebenarnya ahli waris Tuan Williams yang sampai saat ini belum pernah menampakkan diri saat rapat akhir tahun dan sekarang tiba-tiba menarik semua saham.
Kami tidak salah menyinggung orang, bukan?