
Kabar Bella yang melahirkan telah tersebar. Bucket bunga tampak memenuhi sudut ruangan. Itu adalah ucapan selamat dan turut berbahaya dari para petinggi dan karyawan Mahendra Group, juga dari para relasi. Ah, juga dari Azzura dan Anggara. Bahkan Nizam saja turut mengirimkan hadiah untuk Bella dan Ken.
Tuan Adam langsung terbang ke Indonesia begitu Bella mengabari bahwa ia telah melahirkan. Begitu juga dengan keluarga Kalendra. Tidak mungkin mereka tidak hadir. Bahkan keluarga itu dalam bersama dengan Calia dan Evan, dan Allen, peneliti senior itu juga itu. Tujuan utamanya bukanlah untuk mengunjungi Bella, akan tetapi mengunjungi Nizam dan mantan istrinya. Lebih-lebih lagi kabar Nizam yang ta'aruf sampai di telinganya. Setidaknya, ayah itu ingin bertemu dengan calon menantu keduanya.
"Abel!" Calia langsung berseru memanggil sahabatnya itu.
"Aunty Abel!"
Bella menoleh ke arah pintu. Itu adalah Calia, Evan, Allen, dan keluarga Kalendra.
"Calia!"balas Bella. Bella sudah tidak lemas lagi.
"Jangan lari, Lia!"ucap Evan, menahan lengan Calia. Bukan apa, Calia itu tengah hamil. Meskipun dekat, tetap saja tidak menutup potensi jatuh.
Calia mencebikkan bibirnya. "Aunty Abel!" Calia kalah cepat dengan Key. Ia sudah sangat lama tidak bertemu dengan Bella. Terakhir bertemu saat menikah dengan Evan. Itu sekitar 7 bulan yang lalu.
Sebelum bercengkrama dengan Bella, keluarga Kalendra bertukar kabar lebih dulu dengan Ken, Nesya, dan Dylan, juga Tuan Adam. Sementara keluarga Mahendra yang lain belum datang. Mereka mengucapkan selamat atas pernikahan Nesya dan Dylan.
"Aunty. Key sangat merindukan Aunty!"ucap Ken. Bocah itu naik dengan bantuan kursi.
"Ah, My Prince semakin besar, ya?" Bella mencium kening Key. "Tak terasa, dulu pertama kali kita bertemu, kau masih bayi. Janganlah berlari, kau hanya bisa berbaring." Bella menyentil hidung Key.
Key malah antusias mendengar cerita Bella. "Sekarang, kau sudah sebesar ini. Bahkan, Aunty sudah melahirkan dua bayi."
"Bayi Aunty sudah lahir?" Key langsung menatap perut Bella. Tentu saja sudah kempes.
"Sudah, Key. Sebentar lagi kau akan bertemu dengan mereka." Sebelum Key membalas, Calia menyelanya.
"Ah, Abel. Congratulation!" Begitu berada di dekat Bella, Calia langsung memeluknya.
Key mencembik. Helena kemudian memanggilnya turun. Key menurut.
"Aku masih belum percaya bahwa My Abel, yang tergila-gila dengan pekerjaan ini, sekarang sudah jadi seorang ibu. Bahkan bayi twins!!"ucap Calia, begitu antusias. Bella terkekeh.
"Aku juga masih belum percaya. Kau, yang lama terjebak masa lalu bisa move on, menikah, dan kau akan segera menyusulku menjadi seorang ibu!"balas Bella.
"Aku juga tidak menyangka secepat ini," balas Calia, dengan berbisik.
"Ku pikir akan butuh waktu lama secara dia kan ilmuwan kimia. Aku sempat mencemaskan kesuburannya," imbuh Calia, dengan berbisik pula.
Mendengar itu, Bella tak bisa menahan tawanya. "Apa yang kalian bicarakan?"tanya Evan. Punggungnya terasa dingin.
"Tidak ada. Hanya mengingat sesuatu saja," jawab Calia. Evan memicingkan matanya, tampak tidak percaya.
"Bagaimana kondisimu, Abel?" Namun, sebelum Evan bertanya lebih jauh, Rose menyelanya.
"Sudah, Mom. Mom tahu kan kalau pemulihanku itu cepat?"jawab Bella, dengan senyum mengembang lebar.
"Abel." Teresa mendekat dan memeluk Bella. "Aku sangat bahagia untukmu."
"Ah, aku merasa bersalah."
"Mengapa?" Louis langsung menjawab ucapan Bella.
"Kalian, kau, kau, dan kau Kak Helen, tengah hamil. Jerman ke Indonesia bukan penerbangan singkat. Kalian pasti sangat lelah, bukan?"papar Bella.
"Ah … tidak perlu merasa begitu, Abel. Kami kan naik pesawat pribadi, terus tidak pergi sendirian. Dan jika diingat-ingat, apa yang kami lakukan tidak sebanding denganmu!" Astaga. Bella ditelakkan oleh Helena. Hal itu diangguki oleh Teresa dan Calia. Bella meringis seraya terkekeh.
"Di hari yang bersejarah, mana mungkin kami tidak hadir, Abel?"ucap Max. Bella tersenyum.
"Terima kasih. Aku senang sekali dengan kedatangan kalian."
"Ah, di mana baby twins nya, Abel?"tanya Rose, yang tidak menemukan baby Nayan dan Nazira di ruangan ini.
"Mereka ada di ruangan bayi. Sebentar," jawab Bella, kemudian memanggil Ken. Bella meminta Ken membawa baby Nayan dan Nazira ke ruangan ini. Ken menganggukinya. Ia menjemput kedua bayinya bersama dengan Nesya.
"Kalian lebih baik duduk dulu," ujar Bella, menunjuk ke arah sofa.
Mereka melakukan apa yang Bella katakan. Ah, tidak. Kecuali Louis dan Rose yang masih berada di samping Bella. "Kau pasti kesulitan melahirkan mereka bukan, Abel?"ucap Rose, menatap sendu Bella seraya mengusap kening Bella.
Bella tersenyum. "Mom sudah pernah mengalaminya. Dua kali malah."
"Kau benar. Mom bahkan masih ingat bagaimana rasanya," jawab Rose.
"Apakah sangat sakit?"tanya Louis, dengan mimik penasaran.
"Mustahil tidak sakit," jawab Rose. "Pikirkan saja dengan logika, bayi keluar dari tempat kau memasukkan benihmu. Mom rasa, punyamu saja sudah terasa sakit apalagi kepala bayi yang ukurannya lebih besar," jawab Rose. Ya, cukup frontal.
"Makanya kau jangan pernah sekalipun menyakiti hati perempuan! Ah, Mom rasa kau tidak percaya jika hanya mendengar. Kau akan melihat dan merasakannya sendiri nanti pada saat Resa melahirkan," tambah Rose.
Bella malah terkikik geli melihat Louis yang sudah tegang duluan.
"Mom, jangan buat melahirkan menjadi momok yang menakutkan," ucap Bella kemudian.
"Dan intinya, semua itu perlu perjuangan."
Mendengar ucapan Bella, ketegangan Louis menurun. "By de way, senang melihatmu lagi, Kak," ujar Bella.
"Tidak terasa, kau juga akan segera menjadi seorang ayah," lanjut Bella. Louis menghela nafasnya. Sorot matanya berubah sendu.
"Aku senang dengan kehidupan ini," ujar Louis. Artinya, ia tidak pernah menyesali apa yang terjadi dalam hidupnya. Perjalanan cintanya, juga harapan yang pernah kandas. Sebab, hidup terus berlanjut.
Dan tak lama kemudian, Ken dan Nesya kembali dengan menggendong baby Nayan dan Nazira.
"Ini adalah putra kami, Nayan. Nayan Chandra Mahendra. Sementara putri kami bernama Nazira Chandra Mahendra," ucap Ken, memberitahu nama kedua anaknya.
"Chandra? Kalian memakai nama keluarga Chandra sebagai nama tengah?" Tertegun.
"Kedua anak kami, bukan hanya milik keluarga Mahendra, juga merupakan milik keluarga Chandra. Jadi, sudah semestinya kami memakaikan unsur keluarga Chandra di dalamnya. Lagipula, itu sangat cocok. Dua marga digabungkan dan hasilnya tidak bertentangan, cocok," jelas Ken. Itu diangguki oleh Bella.
"By de way, apa kau yang memberi nama mereka, Abel?"tanya Leo.
"Bagaimana kakak tahu?"balas Bella, dengan terhenyak.
"Nama depannya N. Itu itu sama dengan nama denganmu dan Nesya."
"Ah, hehehe."
"Astaga! Mereka perpaduan yang sempurna sekali! Ah alisnya! Uh, mereka tambah menggemaskan dengan alis tebal ini!"ucap Teresa. Baby Nayan dan Nazira, kini dalam gendongan Max dan Rose.
Ken dan Bella melihatnya dengan berpelukan. "Aku sangat bahagia, Ken."
"Apalagi aku, Aru."
"Tapi, kau tidak melupakan janjimu, bukan?"
"Ah … tentu saja, tidak." Bella mendengus kesal karena Ken menjawabnya cukup lama. Seperti lupa. Ken tertawa pelan.
"Apapun, untukmu my Aru," ucap Ken dengan mendaratkan kecupan pada kening Bella.
*
*
*
Di mansion kediaman Mahendra, Bella dan twins N disambut dengan penuh suka cita. Balon berwarna biru, dengan rangkaian balon bertuliskan welcome Baby Nayan dan Baby Nazira menyambut kepulangan Bella. Apalagi seluruh keluarga inti berkumpul.
Saat melihat kamar, Bella tertegun. Saat terakhir ia di kamarnya dengan Ken, kamar itu masih kosong dengan keperluan bayi. Ya, mau bagaimana? Karena sibuk dengan perencanaan perusahaan baru, juga Ken yang sibuk dengan tugasnya, membuat keduanya lupa membeli perlengkapan bayi. Lagipula, sebelumnya mereka berpikir bahwa membeli perlengkapan itu bisa dilakukan kapan saja. Asalnya ada budget untuknya.
Ada tambahan dua box bayi di dalam kamar. Yang diletakkan tak jauh dari ranjang. Dasar kamarnya saja sangat luas. Jadi, ditambah dengan dua box bayi itu serta perlengkapan lagi, tidak membuat kamar tampak sempit.
Box bayi itu keduanya berwarna putih. Sudah lengkap dengan kelambunya.
"Kau yang melakukan semua ini, Ken?"tanya Bella, setelah Baby Nayan dan Baby Nazira ditidurkan di dalam box.
Ken menggeleng. "Bukan aku sendiri, tapi juga Mama, Kak Via, dan Nesya," jawab Ken. Ken tidak begitu tahu apa saja yang menjadi keperluan bayi. Maka, belanja bersama dengan Rahayu adalah jalan keluarnya. Selain itu, Silvia dan Nesya, mereka bisa memberikan saran untuk desain, motif, warna, ataupun tata letak. Jadi, apa yang berubah di kamar ini adalah hasil kerja sama.
"Bagaimana, Abel? Apa kau suka?"tanya Rahayu. Bella mengangguk.
"Abel suka sekali, Ma!"jawab Bella.
"Apa kau tahu, kak?" Nesya bertanya dengan melirik Ken. "Suami Kakak ini lebih cerewet dan ribet daripada perempuan. Kami pikir dia menyerahkan semuanya pada kami. Tapi, dia selalu cerewet dan memberi kritik. Kurang pas lah, warnanya terlalu mencolok lah. Dan banyak lagi," ucap Nesya.
"Benarkah?" Bella terhenyak. Menatap Ken tidak percaya. Ken tampak salah tingkah.
"Ya, itu karena aku ingin yang terbaik," kilah Ken, membela diri. Wajar bukan? "Aku juga punya penilaian. Dan yang paling memahami istriku adalah aku. Begitu juga dengan kedua anakku," lanjut Ken. Ia tidak merasa bersalah. Hanya merasa malu saja.
Bella mendengus senyum. "Terima kasih," ucap Bella.
"Terima kasih atas usaha kalian. Aku dan twins N sangat menyukainya," lanjut Bella.
Satu minggu setelah twins N lahir, acara akikah dilaksanakan. Tiga ekor kambing disembelih sebagai bentuk ucapan syukur atas kelahiran Baby Nayan dan Baby Nazira, juga sebagai syarat akikah.
*
*
*
Hari-hari Bella dan Ken berubah setelah twins N lahir. Begitu juga dengan hari-hari penghuni mansion Mahendra.
Bella, harinya tambah berwarna dan ya, tidak dipungkiri ia bertambah sibuk. Mengurus anak dan juga pekerjaaan. Apalagi, ada tambahan rencana. Yang akan dibangun bukan hanya perusahaan yang bergerak di bidang food and drink. Akan tetapi, juga akan bergerak di bidang start up. Dengan bekal ilmu yang dimilikinya dalam pemrograman, juga dibantu dengan Dylan yang memiliki kemampuan untuk itu, Bella memutuskan untuk terjun ke dunia start up.
Bersyukur, twins N tidak begitu rewel. Dan jika rewel, ada yang berjaga untuk itu. Rahayu, dan juga Nesya. Dan untuk Silvia, dia belum mengambil izin cuti. Silvia tetap bekerja meskipun pekerjaannya tidak terlalu banyak. Ia lebih mirip menemani Brian bekerja.
Nesya, wanita itu kini telah dinyatakan lulus seleksi mandiri Unair. Artinya, sudah pasti Dylan dan Nesya akan tinggal di Surabaya selama masa kuliah mereka. Setelah dinyatakan lulus, keduanya langsung mencari tempat tinggal. Karena keduanya yang sudah menikah, sudah sah menjadi suami dan istri maka menyewa rumah menjadi pilihan keduanya. Menyewa rumah hanya untuk berdua.
Dan tiga hari sebelum perkuliahan dimulai, Nesya dan Dylan berangkat ke Surabaya. Berangkat berdua, tidak diantar oleh keluarga, mengingat mereka sudah dewasa dan juga menikah. Nesya dan Dylan menuju Surabaya menggunakan pesawat terbang, komersial.
Dan ya, Nesya dan Dylan telah memulai keseharian yang baru, menjadi mahasiswa baru di usia yang seharusnya sudah menyandang gelar sarjana. Tapi, mau bagaimana lagi? Hal itu dikenakan hal yang tidak terduga. Lagipula, tidak ada batasan usia untuk menimba ilmu.
Dan tidak akan terlupakan, Liev. Bocah itu telah menjadi kakak dari tiga orang adik. Lesta, baby Nayan, dan Baby Nazira. Akan segera menyusul menjadi kakak dari empat adik jika anak yang dikandung Evalia lahir.
Liev, anak sulung Desya tidak canggung dalam berinteraksi dengan baby Nayan dan baby Nazira. Hubungannya dengan sang ayah? Itu tetap terjaga. Begitu juga dengan hubungan Bella dan Desya. Keduanya tetap terlibat hubungan kerja. Di saat demikian pula, Bella menyertakan kabar tentang perkembangan Liev.
Ken tidak lagi begitu cemburu. Mengapa? Karena hati Bella hanya untuk dirinya. Apalagi ditambah dengan kehadiran twins N. Terlebih lagi, Desya juga sudah memiliki kehidupan yang harmonis dengan Evalia. Ya, Evalia, istri satu-satunya Desya.
*
*
*