This Is Our Love

This Is Our Love
Perpisahan manis?



"Eits! Mau ngapain ikut masuk?" Bella berdiri tepat di tengah pintu kamar. Keduanya tangan merentang mencegah Ken untuk masuk ke kamar inapnya. 


"Aku tidak bisa tidur tanpamu. Makanya tadi aku kemari," jawab Ken, menunjukkan mata memelasnya. 


Bella mengerjap. Ternyata Ken juga merasakan hal yang sama. Tapi ia agak ragu. Bella kemudian mencondongkan kepalanya mengecek sekitar. Sepi, jelas sudah tengah malam. 


"Eh?" Ken memekik tertahan saat ia ditarik masuk oleh Bella. Sejurus kemudian pintu dikunci rapat. 


"Aku tadi hanya memberinya aba-aba. Lagipula di sini kita dikenal sebagai atasan dan bawahan. Aku cemas jika ada yang melihat kau masuk ke kamarku dan tak kunjung keluar besok bisa jadi masalah. Masih harus hati-hati," tutur Bella. Ia melangkah ke dekat nakas, melepaskan jaket dan mengubah suhu ruangan menjadi hangat. 


"Kenapa? Takut digerebek atau takut tak sesuai rencana?" Ken melangkah, memeluk Bella dari belakang. 


Bella menegang. Hembusan nafas Ken terasa sangat jelas pada leher dan telinganya. 


"Lihat aku," ucap Ken. Bella menurut, dengan lambat memutar tubuhnya. Tinggi mereka yang hampir sama, membuat keduanya langsung bertemu pandang. Wajah Ken menatap dalam Bella, menyelami sorot mata sang istri.


"Aku tahu apa yang kau takutkan. Tapi ini sudah tengah malam, semua sudah tidur. Jangan cemas, aku akan pergi sebelum subuh," ucap Ken. Satu tangannya menyentuh pipi Bella. 


"Yakin?"


"Hem. Sangat yakin. Bukankah ada istriku yang siap siaga?"jawab Ken. Bella tersenyum. Tangannya kini bergerak, menyentuh pipi Ken. Ken memejamkan matanya saat telunjuk Bella kembali menyusuri batang hidungnya dan berhenti di bibirnya. 


"Sepertinya kau sudah terbiasa," ucap Bella.


"Dan kau sudah candu," sahut Ken. Matanya terbuka, menatap Bella penuh arti. 


"Aru aku mencintaimu," tutur Ken.


Lengkungan senyum Bella sungguh manis. 


"Apa kau sudah siap?"


Dahi Ken langsung mengeryit. Harusnya kan Bella membalasnya dengan mengatakan 'aku juga mencintaimu'.


Cup.


Ken langsung mengerti setelah mendapat kecupan singkat pada bibirnya.


"Aku siap. Aru jadilah milikku seutuhnya." 


"Ya jadilah milikku seutuhnya!"


Moment yang ditunggu akhirnya tiba juga. 


*


*


*


Suasana kamar yang hangat. Lampu kamar yang remang-remang. Di atas ranjang, sejoli masih tidur nyenyak dengan berpelukan dan berselimut tebal sebatas dada. Sang wanita tidur dengan terbantal dahi sang pria. 


Tidur nyenyak keduanya terganggu karena alarm yang berbunyi, membangunkan pasangan itu. Tangan sang pria bergerak, mencari alarm dan mematikannya.


"Sudah jam 04.00?"tanya serak sang wanita yang tak lain adalah Bella. 


"Hem."


"Tidurlah sebentar lagi," ujar Ken, mencium pucuk kepala sang istri yang tidak terbalut kerudung.


"Sudah bangun. Sulit untuk tidur lagi. Kita ngobrol saja," ucap Bella, telunjuknya bergerak menyusuri leher Ken.


"Apakah masih sakit?"tanya Ken, sedikit cemas. 


"Tidak." Bella menggeleng. "Hanya lelah," lanjutnya.


"Serius?" Sorot matanya masih cemas. 


"Serius. Kau melakukannya dengan lembut, bagaimana bisa aku merasakan sakit?" Ken masih menunjukkan sorot mata tidak percaya. Masih teringat jelas Bella meringis saat ia hendak masuk. Air mata Bella jatuh dan itu membuatnya cemas. 


"Baiklah. Aku akui, hanya sedikit sakit. Aku tidak akan tumbang karenanya." 


"Ke depannya aku akan lebih lembut lagi," ucap Ken serius. Bella mengangguk sebagai tanggapan.


"Aru aku harap malaikat kecil kita segera hadir di rahimmu."


"Kalau begitu butuh berapa lama bibitmu bertemu dengan bibitku?"tanya Bella. 


"Kau memintaku untuk menjelaskannya?"


"Bukankah itu jurusanmu?"tanya balik Bella. Ken tersenyum, ia mengecup pipi Bella sebelum menjelaskannya. 


"Dari sekian banyak bibit yang masuk hanya akan ada satu yang berhasil masuk dan diterima oleh bibitmu. Jarak antara leher rahim ke tubafalopi itu sekitar 18 cm. Paling cepat bisa dicapai sekitar 45 menit an, ada juga yang setengah hari. Hehehe maklum saingannya banyak. Oh iya kau tahu kan apa itu tubafalopi?"tanya Ken. Bella menghentikan gerakan jarinya pada leher Ken. 


"Tentu. Tempat bibitku dan pembuahan berada bukan? Nilai biologiku sangat tinggi, jadi aku masih ingat bab yang membahas tentang reproduksi."


"Benar." Sebelum lanjut, Ken mencium puncak kepala Bella.


"Setelah terjadi pembuahan maka akan terbentuk zigot yang akan pindah ke rahim. Namun, ada kalanya sel laki-laki tidak menemukan sel perempuan, maka mereka harus menunggu dan bisa bertahan selama 7 hari. Jika dalam jangka itu terjadi evolusi, maka ada kemungkinan terjadi pembuahan. Itu penjelasan simplenya," jelas Ken.


"Ya tapi pada praktiknya tak sesimpel teori."


"Asalkan sudah berusaha pasti berhasil."


"Aku yakin dalam waktu dekat buah hati kita akan hadir," ucap Ken. 


*


*


*


"Kita ke Kintamani lalu ke Ubud," jawab Max. Bella mengangguk mengerti. 


"Abel aku naik motor denganmu, jika Key ikut denganmu tak masalah," ucap Louis. 


"Tidak boleh!" Ken berkata dengan bahasa Indonesia.


"Kenapa? Setidaknya buatlah kenangan indah denganku. Berpisah dengan cara yang manis, okay?" 


Berpisah dengan cara yang manis? Max, Rose, Leo, dan Helena saling tukar pandang. 


"Baiklah." 


"A …."


"Sudahlah. Kemungkinan ini yang terakhir." Ken memejamkan matanya kemudian mengangguk pelan. Louis tak terlalu ambil pusing dengan hubungan Ken dan Bella. Asalkan Bella setuju penolakan dari siapapun bukan masalah.


*


*


*


Wajah Ken mematut cemburu melihat Bella yang berboncengan dengan Louis juga Key dari jendela bus. Sudah mirip potret keluarga bahagia. 


Teresa yang duduk di sebelah Ken merasa tidak nyaman dengan aura pekat cemburu Ken. Ia tahu bahwa sedari tadi tatapan Ken tak lepas dari Louis dan Bella yang memang melaju di belakang bus. Ken memang duduk di posisi paling belakang. 


"Em excuse me," sapa Teresa, cukup kaku. Ken tidak menjawabnya. 


"Young master, hallo? Excuse me?"sapa Teresa lagi, menaikkan volume suaranya.


"Are you jealous of them?"tanya Teresa. Walau kesal setidaknya ia bisa mengurai kepekatan cemburu Ken.


"Hm." Hanya gumaman. Teresa mendengus kasar.


"Do you like Abel?" Teresa masih bertanya lagi.


"Hm." Bibir Teresa mengerut kesal. 


"If you like it, I as Abel's friend will give you some things about Abel's likes," ucap Teresa. Ia langsung tersenyum saat Ken menggubris dirinya. "Seriously?" Alis Ken terangkat satu. Teresa mengangguk.


"On what basis? We just met, why do you believe me?"tanya Ken penuh selidik. 


"Because I want Abel to be happy. I witnessed how their story began until now. You don't need to be jealous, they will never be together but they won't be apart either. You know that Abel is the adopted son of the Kalendra family, right?"


Ken mengangguk tahu. "From what I see Abel also likes you." 


Ken semakin penasaran dengan sahabat Bella ini. Orangnya cukup to the point. 


"That's why Abel kept his distance from Mr. Louis at the airport yesterday. Now maybe they are making good memories to end their story," lanjut Teresa. 


Kenangan indah yang terakhir? Ken kembali melihat ke belakang. Tiba-tiba bibir Ken tersenyum. 


"Okay."


*


*


*


 Lokasi pertama yang mereka kunjungi adalah melihat tari Barong di Batubulan. Melihat pertunjukan tari ini memakan waktu sekitar satu jam. Mereka dan wisatawan lain mengabadikan pertunjukkan itu dengan kamera mereka.


Selesai memanjakan dan berdecak kagum dengan tari Barong, wisata dilanjut dengan mengunjungi pasar batik di Galuh. Di sini kaum wanita lah yang antusias. Mereka kembali melanjutkan perjalanan setelah puas melihat dan membeli batik.


Objek Wisata Kintamani, adalah inti dari perjalanan wisata mereka. Pemandangan alam kawasan pegunungan yang berada di ketinggian 1500 meter dari permukaan laut dengan pemandangan unik dan menakjubkan. Menikmati pemandangan alam baik hutan, danau, dan gunung batur. Sepanjang menikmati keindahan Objek Wisata Kintamani, Louis tak melepas genggaman tangganya dari Bella. 


Ken hanya tersenyum tipis melihatnya. Terlebih saat mendengar godaan dan ucapan semangat dari Teresa. Anggap saja, karma sedang mendatangi dirinya karena dulu, ia tetap bermesraan dengan Cia walau statusnya adalah suami Bella. Ia semakin akrab dengan Teresa, bahkan mereka sudah bertukar nomor ponsel. 


Selesai isoma, mereka kembali melanjutkan perjalanan, turun kembali ke Kuta. Singgah di desa Ubud untuk menikmati pesona alam nan elok, dataran tinggi, dan pemandangan sawah terasering yang menenangkan. Ubud, dikenal sebagai pusat seniman di Bali maupun mancanegara. Beberapa shooting film hollywood pun berlangsung di sini. Ubud juga dikenal dengan festival menulis membaca dan menulisnya. 


Perjalanan dilanjut untuk makan malam di Pantai Jimbaran. Menu khas yakni seafood menjadi menu makan malam mereka. Melepas lelah sejenak sembari menikmati suasana restoran pinggir pantai. Bulan di ujung laut terlihat begitu indah nan bulat. Cuaca begitu terang dan tenang. 


Hingga akhirnya wisata hari ini ditutup dengan melihat ribuan kunang-kunang yang terbang bebas di Tegalalang. Suasana romantisme begitu terasa. Di tengah kerlipan cahaya kunang-kunang, Ken mendekat dengan menggenggam erat jemari Bella. Bella berdiri di tengah, di antara Ken dan Louis. 


Perasaan hangat menyelimuti Bella. Kehangatan dari suami dan seorang kakak. Sungguh begini juga bagus!


*


*


*


"Tuan Muda Louis lebih baik Anda naik bus saja. Biar saja yang naik motor," ujar Ken. Dari  berangkat sampai mau pulang ke penginapan, Louis yang mengemudi. 


"Baiklah." Louis langsung setuju dan naik ke dalam bus.


"Kalau begitu kalian hati-hati. Jangan jauh-jauh dari kami," ucap Max. Bella dan Ken mengangguk. Bus mulai melaju, kembali ke penginapan diikuti dengan Ken yang berboncengan dengan Bella. Bella memeluk erat pinggang Bella, kepalanya bersandar pada punggung Ken. 


Saat pulang nanti aku akan cari terapis untuk Aru, batin Ken.


Sementara di dalam bus, Louis langsung tidur. Bibirnya yang tersenyum dengan raut wajah bahagia. Keluarganya tak begitu heran, hanya penasaran saja, tumben Louis langsung setuju? Apa karena memang terlalu lelah atau sudah puas membuat kenangan indah sebagai perpisahan manis dengan Bella?


Abel ... aku akan menuruti permintaanmu. Mencoba untuk melepas dan menghapus cinta untukmu. Kau cinta pertamaku, ku harap kau bahagia selalu dengan siapa pun kelak engkau bersanding. Terima kasih untuk semua waktu yang kita lalui bersama. Namamu akan tetap terukir indah di dalam hatiku, sebagai kenangan terindah dalam hidupku.