
Louis dan Leo menunggu resah di depan ruangan penanganan Ken dan Bella. Keduanya tak henti mondar-mandir di depan ruangan. Darah Ken dan Bella bahkan sudah mengering di pakaian dan tangan keduanya. Kecemasan dan rasa tegang begitu terasa.
"Leo, Louis?!" Keduanya sontak berganti mondar-mandir dan menoleh ke sumber suara. Itu Max dan Rose yang datang tergopoh menghampiri keduanya. Wajah keduanya begitu cemas. Mata Rose bahkan terlihat sembab.
"B-bagaimana kondisi mereka?"tanya Max.
"Masih ditangani, Dad. Aku harap apa yang kita takutkan tidak terjadi," jawab Leo.
"Ya Tuhan! Banyak sekali darahnya!"pekik Rose histeris. Tangisnya kembali pecah.
"Max Abel akan baik-baik saja, kan?!" Rose menggoyahkan tubuh sang suami. Max mengusap wajahnya kasar lalu mengajak Rose untuk duduk.
"Kita berdoa saja. Abel anak yang kuat, luka tusuk itu pasti bukan masalah!"ucap Max menenangkan sang istri yang menangis dalam peluknya.
Max lantas bertukar pandang dengan kedua anaknya. "Apa kalian tahu apa yang terjadi pada keduanya?"tanya Max. Baik Leo atau Louis menggeleng lemah.
"Saat kami tiba, semua penjahat sudah tumbang. Ken sudah pingsan lalu Abel yang pingsan. Mungkin ini ulah perampok," jawab Leo.
"Perampok?" Max mengeryit tidak yakin. "Bukan ulah perampok!"bantah Louis kemudian.
"Dilihat dari pakaian mereka, kemungkinan besar mereka suruhan musuh. Target mereka adalah Ken dan Abel, kemungkinan musuh keluarga Mahendra," ucap Louis menyatakan analisisnya.
Kali ini Max mengangguk, "mungkin."
"Apa kita perlu memberi tahu keluarga Ken? Kejadian ini bukan hal sepele," tanya Leo meminta persetujuan.
"Kita tunggu hasil penanganan dokter dulu. Ini sudah terlalu malam, setidaknya jika ada kepastian kondisi keduanya tidak begitu panik," jawab Max.
Leo mengangguk. "Leo, Louis, lebih baik kalian bersihkan dulu darah-darah itu. Mom pusing melihatnya," titah Rose. Tanpa banyak tanya keduanya mengangguk dan bergegas ke toilet.
Beberapa menit kemudian, keduanya kembali bersamaan dan keluarnya dua orang dokter. Satu menangani Ken dan satu lagi menangani Bella.
"Bagaimana kondisi mereka, Dokter?"tanya Max, harap-harap cemas.
"Untuk kondisi pasien pria sudah stabil. Untung rumah sakit ada stok golongan darahnya jadi bukan masalah. Dia aman sekarang," ujar Dokter yang menangani Ken. Tiga keciali Louis menghela nafas lega.
"L-lalu Abel?"tanya Louis tak sabar.
Wajah dokter yang menangani Bella terlihat tertekan.
"Beliau kehilangan banyak darah dan golongan darahnya sangat-sangat langka. Kondisinya masih kritis. Apa di antara kalian ada yang memiliki golongan darah Golden Blood?"
Apa yang ditakutkan terjadi. Golden Blood, golongan darah super langkah yang pemiliknya kurang dari 100 orang di dunia ini. Lutut keempatnya langsung melemas, bahkan Rose merosot di lantai.
"B-berapa lama ia mampu bertahan sampai golongan darah didapat?"tanya Max, ia adalah orang tua, harus bisa tenang untuk menenangkan yang lain.
"Secepatnya! Kondisinya sangat rawan!"jawab dokter tersebut.
"Secepatnya! Baik akan kami dapatkan!"
"Baik, Tuan!"
Keempatnya kini duduk memikirkan di mana bisa mendapatkan donor darah untuk Bella. Opsi Key jelas tidak mungkin. Masih terlalu kecil.
"God! Bagaimana bisa lupa!" Leo memeluk dahinya keras.
"Mom, Dad, aku akan hubungi bank darah kita untuk mengirim kantong darah Key!"ucap Leo.
Mata ketiganya melebar. "Louis apa stok darah Abel di sana masih ada?"
"Aku konfirmasi dulu!"
Setelah menghubungi pihak bank darah di Berlin, Louis menggeleng.
"Semua sudah dibawa oleh Abel."
"Itu bagus! Aku akan hubungi keluarga Mahendra untuk membawa kantong darah untuk Abel!"ucap Leo cepat.
"Biar Daddy saja." Max langsung mengambil ponselnya. Namun, sejenak ia diam.
"Ada yang tahu nomornya?"
Leo dan Louis mengesah pelan. Mereka kembali buntu. "Tas Abel mana? Biasanya ada kartu nama atasannya di situ." Pertanyaan Rose adalah angin segar. Buru-buru Louis berlari pergi. Lima menit kemudian ia kembali dengan ransel Bella.
Benar saja. Ada kartu nama Surya di dalamnya. Max akhirnya bisa menghubungi Surya.
Suara dering ponsel yang tak kunjung berhenti membuat tidur Surya terusik. Dengan sedikit malas dan kesal ia meraih ponselnya.
"Siapa sih ini? Nggak tahu waktu apa?"gerutu Surya. Segera menjawabnya.
"Ya, hallo. Siapa ini?"
"Siapa? Max Kalendra?" Mata Surya langsung terbuka lebar.
Apa gerangan yang membuat casanova asal Jerman itu menghubunginya tengah malam begini, ah lupa di Jerman ini masih sekitar pukul 20.00 atau 21.00.
"WHAT??!" teriak kaget Surya. Tubuhnya langsung menegang. Rahayu terbangun, "apa apa, Mas?"tanyanya serak.
"Okay. Well. I'll be there soon!" Max buru-buru turun dari tempat tidur dan menghubungi kepala pelayan.
"Mas ada apa? Mau ke mana naik pesawat malam-malam begini?"cerca Rahayu ikut panik.
"Sayang cepat ganti pakaianmu! Kita ke Bali sekarang! Ken dan Abel diserang orang tidak dikenal! Mereka kritis di rumah sakit!"
Mata Rahayu langsung terbelalak.
"APA?"
Pantas saja hati tak nyaman.
Bukan perkara mudah mengambil darah Abel yang berada di bank darah tempatnya menyimpan kantong darahnya. Butuh banyak persetujuan dan konfirmasi. Wajar, golongan darah super langka, biasanya pemilik darah itu mendonorkan darahnya untuk disimpan. Agar sewaktu-waktu terjadi hal tidak diinginkan tidak kesulitan mencari donor darah.
Setelah serangkai prosedur akhirnya Surya dan Rahayu terbang ke Bali dengan jet pribadi keluarga Mahendra. Perasaan keduanya begitu cemas. Tegang dan takut bercampur.
Mereka tiba di Bali menjelang subuh. Segera menuju Bali International Medical Center atau BIMC.
Tiba di ruang gawat darurat, keduanya langsung disambut tatapan lega dari Max, Rose, Leo, dan Louis.
Kantong darah Bella segera diberikan agar Bella segera dalam kondisi aman. Ken sudah dipindahkan ke ruang rawat inap. Rahayu ditemani oleh Rose menuju ruang rawat Ken, meninggalkan para pria tetap menunggu di depan ruangan penanganan.
Max menjelaskan alasan mereka berada di sini. Mendengar itu, Surya hanya bisa menggeleng pelan. Gurat wajah khawatir akan kondisi Bella begitu terlihat. Louis yang sedari Surya dan Rahayu tiba hanya menyimak, menarik kesimpulan bahwa benar apa yang ia dengar sebelum Bella tak sadarkan diri. Louis berdiam diri di ujung kursi dengan tatapan rumit. Jika ditanya apa ia sakit hati? Jelas, hati Louis berdenyut nyeri. Matanya memerah namun tak ada air mata yang keluar. Sebagai cara menenangkan gejolak hatinya, Louis memejamkan matanya dengan kedua tangan terkepal.
Puk!
Sebuah pukulan lembut hinggap di bahu Louis. "Jangan sedih. Harusnya kau sudah siap untuk hari ini," ujar Leo.
"Ya." Louis tersenyum simpul. Bella sudah memberinya peringatan. Namun, tetap saja menjalaninya sungguh berat. Pantas saja Ken menunjukkan sikap memusuhi dirinya.
"Maksud Anda, penyerangan yang menimpa Ken dan Abel, adalah perbuatan musuh saya?" Surya memastikan.
"Itu perkiraan kami."
Mata Surya terpejam, ia menerka siapa kiranya yang mengincar nyawa anak dan menantunya.
"Namun, untuk lebih jelasnya kita tanya pada Abel nanti," imbuh Max.
Surya mengangguk. Tak lama kemudian dokter keluar dengan wajah yang cukup lega.
"Pasien sudah melewati masa kritis. Namun kondisinya masih rentan. Kami akan memantau kondisinya beberapa waktu ke depan. Jika sudah stabil akan segera dipindah ke ruang rawat," ucap dokter.
"Syukurlah. Thank God."
"Alhamdulilah."
Wajah lega terpancar.
"Apa sudah bisa dijenguk, Dokter?"tanya Louis.
"Bisa namun hanya satu orang saja yang bisa masuk. Dan jangan buat keributan," pesan dokter.
Louis segera masuk untuk melihat kondisi Bella. Sementara Max dan Leo menuju ruang rawat Ken dan Surya turun ke lantai bawah untuk memenuhi panggilan salat. Hatinya sudah lega.
Selesai salat, hari sudah hampir terang. Surya mengambil ponselnya dan menghubungi Brian.
Menjelang siang, kondisi Bella sudah stabil dan dipindahkan satu ruang dengan Ken. Keduanya masih belum sadar. Ruang VVIP jadi bisa menampung keluarga Mahendra kecuali El dan keluarga Kalendra berikut Teresa di dalamnya. Dua keluarga konglomerat itu sudah cukup akrab. Kecuali Leo, Louis, dan Brian. Mereka hanya memberikan tampang datar.
"Teresa sudah hampir waktunya kembali ke Jerman. Kau bersama dengan yang lain pulang sesuai jadwal. Kami akan menyusul setelah Abel sadar," ujar Leo, memerintah Teresa.
Teresa yang duduk di sisi Bella tampak enggan meninggalkan sahabatnya yang masih terbaring tak sadarkan diri. Ingin rasanya menolak, namun apa kuasa dirinya.
Teresa berdiri kemudian menunduk hormat pada orang-orang yang berada dalam ruangan. "Baik, Tuan. Kalau begitu saya permisi. Mohon hubungi saya jika ada kabar tentang kondisi Abel."
"Tentu," sahut Louis. Teresa keluar dengan langkah lambat, sebelum benar-benar meninggalkan ruangan, Teresa berbalik. Matanya berkaca-kaca, "cepatlah sembuh, my Abel,"gumam Teresa penuh harap.
Menjelang sore barulah Bella sadar. Hal pertama yang ia tanyakan adalah kondisi Ken. Hati Louis mencelos.
Bella tersenyum lega saat tahu bahwa Ken sudah aman, tinggal menunggu sadar saja.
"Abel kau ini bagaimana? Mengapa tak lari saja?"tangis Rose. Ia menggenggam jemari Bella. Bella tersenyum lembut, "lari atau tidak resikonya sama, Mom. Lebih baik hadapi langsung."
"Apa kau memikirkan akibatnya? Lihat untung saja stok darahmu ada kalau tidak?!"
"Aku tahu, Mom. Makanya aku tidak ragu," jawab Bella, lemah.
"Hanya saja aku tidak menyangka Ken ikut bertarung dan terluka parah. Harusnya ia lari saja!"
"Kau ini! Jika dia lari jelas ia tak pantas untukmu! Tusukan itu adalah bukti bahwa ia berusaha untuk melindungimu!"sahut Leo.
"Aku merestui hubungan kalian," imbuh Leo kemudian. Tatapan lemah Bella langsung tertuju pada Louis. Louis sedikit salting.
"Mengapa menatapku begitu?"
"Maaf …."
"Untuk apa minta maaf? Itu hakmu. Aku tak ada kuasa melarangnya. Semoga kau bahagia dengannya." Nadanya tegar namun wajahnya tidak. Air mata Louis turun, segera ia seka dan lari keluar dari ruangan.
"Louis?" Bella memanggil namun tidak digubris. Leo mengejar Louis, takut adiknya melakukan hal konyol.
"Sudahlah, yang lain sekarang bukan masalah. Hanya saja tidak disangka kau dulu yang sadar," ucap Surya, kagum dengan ketahanan tubuh Bella.
"Aku sudah terbiasa dengan lingkungan keras. Tak heran juga Ken belum sadar," sahut Bella, menoleh pada Ken.
"Ini salah kami juga karena terlalu memanjanya. Harusnya sebagai pria ia bis melindungi dirinya sendiri manapun orang yang ia sayangi," ucap sesal Surya.
"Masih bisa dibina. Jangan begitu menyalahkan dirinya sendiri," ucap Max.
"Abel istirahatlah," ucap Rose. Bella mengangguk dan kembali memejamkan matanya.