
"Via aku mau shalat dulu, ya," ucap Bella. Silvia yang duduk di sisi Bella mengernyit tipis, "kau kan lagi sakit? Gimana wudhunya? Terus lukamu kan masih banyak, nggak bisa banyak gerak."
Bella tersenyum mendengarnya, "bisa kok. Lagipula sakit bukan alasan meninggalkan shalat. Masalah wudhu bisa tayamum. Kalau nggak bisa berdiri, bisa duduk, tidur telentang, atau miring, atau jika benar-benar tidak mampu hanya menggerakan mata saja tidak masalah."
Silvia tampak tercengang kemudian mengangguk pelan. "Kalau begitu apa yang bisa aku bantu?"
"Bantu aku miring ke kanan. Di sana arah kiblat," jawab Bella. Setelah membantu Bella miring ke kanan, Silvia sedikit menjauh memberi ruang untuk Bella. Ia duduk di sofa, mengamati gerakan Bella dari tempat.
Silvia tanpa sadar termenung. Ia merasa dirinya sangat kurang akan pengetahuan agama. Silvia tersenyum kecut, dalam benaknya bertekad untuk mempelajari ilmu agama lebih jauh lagi.
Ia hanya sendiri di sini, bersama dengan Bella dan Ken. Sedangkan yang lain tengah keluar. Keluarga Kalendra kembali ke resort untuk membersihkan diri sedangkan keluarga Mahendra ke hotel milik keluarga suaminya itu. Kemungkinan sebentar lagi baru kembali.
"Permisi …." Silvia tersadar dan melihat ke arah pintu. Perawat datang dengan membawa makan malam untuk Bella. Silvia menerimanya. Perawat itu lalu undur diri.
Silvia melihat menu makan malam Bella. Bubur putih, gabus kuah kuning, sayur, dan sebuah pisang. Hm … ikan gabus, cocok untuk mempercepat bekas jahitan mengering.
"Sudah diantar?"
"Ah ya baru saja." Silvia berdifi dan kembali duduk di sisi Bella.
"Mau makan sekarang?"tanya Silvia. Bella menggeleng, "aku belum lapar," sahut Bella. Ia berpaling menatap Ken yang masih tak sadarkan diri di ranjang sakitnya. Wajah Ken tampak pucat dengan infus dan oksigen yang masih menancap.
"Abel jangan khawatir. Ken sudah aman. Kata dokter kemungkinan besar besok pagi sudah siuman," tutur Silvia.
Terdengar helaan nafas. Bella berpaling menatap langit-langit ruangan.
"Aku tahu."
"Hm by de way bagaimana bulan madumu dengan Brian di sana? Pasti menyenangkan sekali." Wajah Silvia langsung berubah, ia sedikit muram. Namun, saat Bella berpaling melihatnya senyumnya sungguh lebar.
"Benar. Pemandangan di sana tak kalah dengan di sini. Terlebih keindahan bawah lautnya. Lain kali kalau ada jadwal liburan kita harus ke sana!"ucap Silvia berseri-seri.
"Benarkah? Ahh Via kau membuatku penasaran!"rengek Bella pelan. Silvia terkikik.
"Bagaimana dengan kalian?"tanya Silvia kemudian.
"Aku punya firasat bahwa kita akan hamil bersamaan," sahut Bella.
"Hahaha … kau ini bisa saja. Tapi aku sangat menantikannya. Bukankah menyenangkan jika kita nanti hamil bersamaan? Ke rumah sakit bareng, ngidam bareng, pelatihan bareng, mungkin juga melahirkan di waktu yang sama." Senyum Silvia sungguh lebar. Seakan tengah membayangkan apa yang ia ucapkan.
"Of course!"
Keduanya sama-sama tersenyum.
Benarkah yang kau ucapkan itu, Via?
Aku sangat berharap apa yang aku ucapkan tadi menjadi kenyataan, gumam Silvia dalam hati.
"Oh ya Via apa kau tahu di mana orang-orang yang menyerang kami tadi malam?"tanya Bella, suasana menjadi serius seketika.
"Seingatku tadi tiga yang masih hidup berada di penjara dan tiga lagi yang sudah tewas berada di rumah sakit," jawab Silvia.
Bella mengangguk paham. "Abel apa kau tahu siapa mereka?" Silvia merasakan bahwa Bella tahu identitas orang-orang yang menyerangnya.
"Mereka pembunuh bayaran."
"P-pembunuh bayaran?!" Silvia terkejut dan langsung gemetar. Alis Bella menaut tipis. Ah Bella tahu. Silvia belum pernah berhubungan dengan hal seperti ini. Hidupnya selalu aman dikelilingi oleh penjaga sama halnya dengan Ken. Lain hal dengan dirinya yang sudah terbiasa hidup di lingkungan yang keras. Disergap seperti ini bukan hal baru baginya. Tiba-tiba Bella mengusap wajahnya kasar.
Bagaimana bisa aku ceroboh?runtuk Bella dalam hati.
"Sudah jangan takut. Incaran mereka itu kami bukan kau. Lagipula sudah berlalu," tutur Bella.
Siapa sebenarnya yang membayar mereka untuk membunuhku dan Ken? Apa motifnya? Mengincar kami berdua artinya musuh keluarga Mahendra. Ck! Bella berdecak sebal. Bella menoleh ke arah Silvia yang masih meremas lututnya takut. Ia mendengus senyum. "Aku lapar." Lebih baik mengalihkan pikiran Silvia.
"Sudah lapar? Ah baiklah!" Dengan terburu Silvia meraih piring makan malam Bella dan membuka plastik pelindungnya.
Silvia menyuapi Bella dengan hati-hati. Raut wajahnya sungguh serius. Karena luka Bella derita termasuk luka fisik jadi tak terlalu mempengaruhi ***** makan. Makan malam Bella ludes berakhir di lambung berikut dengan obatnya. Sendawa kecil ia suarakan.
Beberapa saat setelah Bella selesai makan malam dan minum obat. Keluarga Kalendra dan Mahendra tiba di ruangannya.
"Bagaimana perasaanmu sekarang, Bel?"tanya Max lembut, meletakkan kantong plastik yang berisikan martabak di atas nakas. Silvia menyingkir dan duduk di dekat Brian yang tampak fokus berkutat dengan tablet, bekerja.
"Sudah lebih baik, Dad."
"Syukurlah. Pemulihanmu memang sangat cepat," ucap lega Max.
"Oh iya ada yang ingin aku tanyakan," ucap Bella.
"Apa itu?"tanya Louis.
"Kenapa wajah kalian seperti itu? Ada masalah kah?"
"Abel mereka …." Louis menjeda ucapannya.
"Mereka?" Bella tidak sabar.
"Bunuh diri di sel," jawab Louis. Bella mengerjap pelan. Bunuh diri? Sedetik kemudian wajahnya berubah sinis. "Sungguh setia." Pujian yang terdengar sinis.
"Kau tahu mereka?"tanya Surya.
"Pa apa kau pernah mendengar nama organisasi Black Wolf?"tanya Bella. Surya terkesiap. Gurat wajahnya menunjukkan keterkejutan sekaligus rasa cemas.
Bagi konglomerat seperti dirinya, organisasi Black Wolf bukan hal asing lagi. Organisasi Black Wolf adalah organisasi bayaran yang bergerak di bidang jasa pengawalan sekaligus pembunuhan. Organisasi ini sangat misterius. Pusatnya tidak bisa dipastikan namun anggotanya tersebar di seluruh dunia. Nama organisasi ini sangat ditakuti dan dihormati di dunia bawah maupun bagi pengusaha seperti dirinya.
Setiap anggotanya memiliki kesetiaan yang sangat tinggi. Harga nyawa target tidak sebanding dengan sikap setia mereka. Oleh karena itu saat Bella menawarkan bayaran dua kali lipat asalkan melepaskan keduanya ditolak mentah-mentah. Setiap pekerjaan ada aturan tersendiri dan mereka memegangnya dengan erat. Seperti yang Bella dengar barusan. Bunuh diri, mereka memilih mati karena gagal dalam misi. Kembali ke organisasipun pasti hasil yang sama.
Bella tahu siapa mereka karena melihat tato serigala di dada kanan mereka saat bertarung. Tato serigala berwarna hitam dan bermata merah.
"Tuan Surya, karena kejadian ini terjadi di negara ini, maka saya serahkan penyelidikan lebih lanjut kepada Anda. Walau pelaku sudah tewas semua namun petunjuk tidak terputus. Asalkan bisa menemukan markas mereka di sini, pasti bisa ditemukan siapa yang menyuruh mereka," papar Max. Surya mengangguk menyetujui.
"Namun itu akan sangat berat. Transaksi biasanya dilakukan secara daring. Dengan tingkat penjagaan identitas yang ketat. Tugas Tuan bukan hanya menemukan markas mereka namun juga mencari alamat IP pelaku sesungguhnya. Saya rasa Anda paham akan hal ini," tambah Leo.
"Aku pasti akan menemukan pelaku bersungguhnya!"sahut Surya lantang.
"Abel apa kau punya orang yang pantas dicurigai?"tanya Louis meminta analisis Bella. Bella berpikir sejenak. Matanya terpejam. Tak lama kemudian ia menggeleng.
Aku memang mencurigai dua orang. Namun … aku juga tidak yakin dengan hal itu, batin Bella.
*
*
*
Kecuali Max, Rose, dan Louis, yang lain kembali ke resort dan hotel masing-masing.
"Abel ada satu hal yang harus kami beritahu padamu, dan juga kau Louis," ucap Max serius.
"Apa itu?" Mata Bella menyipit sedangkan Louis menanti ucapan lanjutan. Hati Bella dan Louis berdebar, merasakan apa yang akan disampaikan oleh Max dan Rose adalah suatu hal yang sangat penting.
"Abel … Louis sesungguhnya kalian adalah satu darah keturunan Kalendra," ucap Max.
"Satu darah?"
"Bagaimana mungkin?!" Keduanya jelas terbelalak. Saling tatap tidak percaya. Dari mana jalannya?
"Dad jangan bercanda! Dari mana jalannya? Keyakinan kita saja berbeda mana mungkin satu darah?"bantah Bella.
"Benar, Dad! Tidak masuk akal jika aku dan Abel satu darah! Bagaimana mungkin ia adikku sedang kami lahir di tahun dan bulan yang berdekatan. Atau apa Dad punya anak dari wanita lain dan hasilnya adalah Abel?!"
"SEMBARANGAN!" Louis terkesiap dibentak oleh orang tuanya juga Abel. Sorot mata ketiganya sungguh horor.
"Bisa-bisanya kamu tuduh Dad yang sangat setia ini selingkuh! Setan mana yang merasukimu, Louis!"gemas Max tak habis pikir.
"Benar. Tega sekali kamu tuduh suami Mom ini selingkuh!"timpal Rose.
"Kau kira aku ini anak angkat di keluargaku? Nenekku itu golongan darahnya sama denganku!"omel Bella kesal.
"Ya terus dari mana asalnya? Dad kau anak tunggal. Kakek juga anak tinggal, tolong jelaskan!"punya Louis. Ia mengusap wajahnya kasar. Sungguh rasanya mimpi.
"Dari kakekmu dan nenekmu, Bel. Kalian satu buyut!"jawab Max.
"Satu buyut?" Artinya mereka sepupu? Ingatan Bella langsung tertuju pada nama belakang K di balik nama kakek buyutnya dari pihak neneknya. Jadi kepanjangan dari K itu adalah Kalendra? Tapi bagaimana ceritanya neneknya beragama islam dan menikah dengan kakeknya?
"Apakah ada peristiwa di masa lalu yang menyebabkan keluarga Kalendra terguncang?"tanya Bella memastikan terkaannya. Louis kini hanya duduk lemas di lantai. Ia tertunduk bergulat dengan batinnya sendiri untuk mencerna dan menerima kebenaran yang baru diungkap.
Max mengangkat pandangannya. "Itu luka yang terjadi puluhan tahun silam. Bahkan yang menyaksikan tahun itu sudah tiada semua. Aku memang sudah ada namun tidak mengerti apa yang terjadi. Aku masih dalam ayunan," ucap Max mengalami kisah masa lalu keluarga Kalendra.
"Nenekmu adalah wanita yang hebat. Di usianya yang masih muda sudah menduduki jabatan Presdir Kalendra Group. Sedangkan Kakek Pamanmu, ia lebih suka berkarier di perusahaan lain. Awalnya semua berjalan dengan baik hingga pada akhirnya bertemu dengan kakekmu. Nenekmu jatuh cinta dengan kakekmu yang kala itu adalah mahasiswa S2 di sana. Cinta nenekmu tidak bertepuk sebelah tangan. Hubungan mereka sangat romantis dan berniat lanjut ke jenjang pernikahan namun … kau tahu kan dua aturan tak tertulis keluarga Kalendra?"tanya Max dan Bella mengangguk.
Dilarang menikah dengan yang beda keyakinan, tidak boleh menikah dengan seseorang yang masih ada ikatan darah, dan tidak boleh meninggalkan keyakinan.
"Kakek buyutmu tidak setuju. Nenekmu memberontak dan meninggalkan keluarga Kalendra. Ia bahkan meneteskan darah dan melepas nama keluarga Kalendra dari namanya. Nenekmu melepas keyakinannya dan masuk ke keyakinan kakekmu. Mereka menikah dan membangun kekuasaan di sini."
"Itu artinya aku bukan bagian dari keluarga Kalendra karena nenek sudah memutuskan hubungan dengan kalian!"ucap Bella setelah mendengarkan cerita Max.
"Tidak Abel! Hubungan darah sampai kapanpun tidak akan bisa diputuskan!"tegas Rose