
Ken melepaskan ciumannya ketika ponsel yang berada di sakunya bergetar dan berdering.
"Dari siapa?"tanya Bella.
"Kak Brian," jawab Ken, segera menjawab panggilan dari kakaknya itu.
"Ya. Assalamualaikum, Kak," jawab Ken.
"Waalaikumsalam," balas Brian, nadanya datar. "Kau dan Abel di mana?"tanya Brian.
"Kami ada di taman hiburan. Kenapa, Kak?"tanya balik Ken.
"Taman hiburan? Astaga! Apa kau dan Abel lupa aku dan Silvia malam ini akan kembali ke Indonesia? Kami menunggu kalian pulang kalian malah ke taman hiburan? Oh God! Kalian luar biasa!" Brian kelihatannya kesal. Ken meringis pelan seraya menyentuh lehernya.
"Ya … kami memang agak terbawa suasana. Kalau begitu kami akan segera kembali," ujar Ken.
"Berikan padaku," ucap Bella, meminta Ken memberikan ponsel padanya. "Hm?" Ken memberikannya.
"Hallo, Brian. Kami ada di dekat bandara. Akan membuang waktu jika kami pulang lagi. Lebih baik kita bertemu di bandara saja," ucap Bella.
"Baiklah. Kita bertemu di bandara saja," sahut Brian menyetujui. Bella tersenyum.
"Assalamualaikum," tutup Brian.
"Waalaikumsalam," jawab Bella dan panggilan berakhir.
"Semenjak meleleh kakakku itu seakan senang diperhatikan lebih. Lihatlah … dulu biasanya dia mau kemanapun, pergi-pergi sendiri, pulang-pulang sendiri, tanpa perlu diantar-antar segala. Ini … ya … ya sudahlah," dengus Ken. Ia kesal namun juga tidak bisa kesal. Setidaknya seperti ini sangat baik daripada sebelumnya.
"Daripada dia seperti batu es?"
"Ya seperti ini lebih baik," balas Ken. Keduanya lantas turun dari bianglala. Sebelum meninggalkan taman hiburan, Bella membeli kembang gula dan dua buah burger untuk mengganjal perut. Tentu saja dengan uang Ken.
Namun, sepertinya ada sesuatu yang mencurigakan. Saat Ken melajukan mobilnya meninggalkan area parkir taman hiburan, kaca jendela bagian penumpang mobil di sebelah mobil Ken dan Bella tadi terbuka setengah.
Jika dilihat dari tatapannya, itu seorang pria yang usianya diperkirakan antara 20-30 tahunan. Pria itu kemudian menarik senyum tipis dengan mata memancarkan sebuah ambisi. Matanya berkilat tajam, "aku menginginkannya."
*
*
*
Sekitar dua puluh menit kemudian, Ken dan Bella tiba di bandara. Di sana mereka menunggu di dalam bandara dengan menikmati roti dan minuman ringan yang dibeli dari mesin penjual makanan dan minuman.
Sembari menikmati santapan itu, keduanya menikmati pemandangan bandara di malam hari yang aktivitasnya tidak berhenti. Kedatangan dan keberangkatan silih berganti membuat bandara ini menjadi salah satu bandara tersibuk di dunia.
"Bagaimana rasanya menunggu?" Bella dan Ken menoleh ke sumber suara. Brian yang telah tiba, ia mendorong kursi roda Fajar, dan Silvia berjalan di sisi Brian. Untuk barang bawaan, dibawakan oleh Pelayan. Tuan Adam juga ikut di dalamnya.
"Ya … tidak buruk," jawab Bella. Santapannya sudah habis.
"Ada yang menemani, tidak akan merasa bosan," imbuh Ken dengan merangkul Bella.
"Ck!" Brian berdecak.
"Lebih baik kalian segera berangkat," ucap Bella.
Mereka kemudian melangkah menuju pesawat pribadi keluarga Mahendra yang parkir berdampingan dengan pesawat pribadi keluarga Kalendra.
"Abel, jangan lupa, kau harus pulang secepatnya, jika tidak, biang di perusahaan akan membuat keributan. Aku akan gerah mendengarnya," ucap Brian, mengingatkan dan memperingati Bella.
"Tidak, Brian. Meeting diundur menjadi lusa. Waktunya tidak terkejar," jawab Bella.
"Ah jadi diundur?" Brian memang belum tahu.
"Aku sudah mengabari dewan direksi. Jadi, nikmati penerbangan kalian tanpa was-was meeting besok," terang Ken.
"Itu sedikit melegakan," ucap Silvia.
"Hm … baiklah. Kalau begitu, kalian berdua juga segera pulang begitu selesai." Brian mengangguk kecil.
"Kami pulang duluan ya, Ken, Abel, assalamualaikum," pamit Silvia.
"Waalaikumsalam," jawab Ken dan Bella bersamaan.
"Hati-hati," tambah Ken.
"Have a nice flight," imbuh Bella.
Brian, Silvia, dan Fajar kemudian masuk ke dalam pesawat. Pesawat mulai bergerak keluar dari tempatnya parkir menuju landasan pacu.
Pesawat menjauh kemudian mengudara. "Ayo," ajak Ken.
"Ya," jawab Bella. Ken dan Bella beserta Tuan Adam dan pelayan yang itu tadi meninggalkan bandara kembali ke kediaman Tuan Williams.
*
*
*
Menit demi menit berjalan. Para pria mulai terpengaruh oleh alkohol, termasuk Allen. Umi Hani dan Nizam yang memang tidak minum, menatap mereka dengan wajah datar.
"Bersulang untuk pernikahan Evan dan Calia," ucap Tuan Arshen dengan memajukan gelas winenya.
"Semoga Tuhan memberkati dan bersama kalian selamanya," imbuh Allen.
"Terima kasih," ucap Evan, mereka kemudian bersulang. Nizam hanya minum jus untuk ikut bersulang.
"Sudah malam dan juga sudah mulai, lebih baik kita akhiri pesta dan pulang," ucap Umi Hani.
"Ah … ya benar-benar. Pengantin kita juga pasti sudah lelah," sambut Nyonya Shane.
"Aku belum lelah, Sayang. Aku masih mau minum," ucap Tuan Arshen, meronta saat Nyonya Arshen memegang tangannya.
Evan dan Allen sendiri yang sejatinya memilih toleransi tinggi terhadap alkohol, sudah memejamkan mata dengan wajah memerah.
Evan bersandar pada Calia dan Allen, bersandar pada bahu Nizam.
"Lanjut minumnya di rumah saja. Kasihan anak-anak. Ini sudah malam," ujar Nyonya Shane, memberi pengertian. "Kita juga harus segera kembali ke Berlin. Besok kau kan ada rapat umum," imbuh Nyonya Shane.
Tuan Arshen membuka matanya. "Ah? Rapat umum? Ahh ya … ya, aku ingat. Ayo kita kembali." Tuan Arshen berdiri. Nyonya Shane segera memeganginya agar Tuan Arshen tidak tumbang.
"Calia, Evan, Nyonya Hani, Nizam, Tuan Allen, karena pernikahan telah terjalin dan besok pun kami ada rapat, kami pamit lebih lebih dulu, ya. Kami akan langsung terbang ke Berlin," pamit Nyonya Arshen. Umi Hani dan Nizam mengangguk.
"Hati-hati, Mom," ucap Calia.
"Kau juga, Calia," balas Nyonya Shane.
"Kami pamit, selamat malam," pamit Nyonya Arshen.
"Malam."
"Biar saya bantu, Nyonya," ucap Nizam, segera berdiri dan memapah Tuan Arshen.
"Ah terima kasih," ucap Nyonya Arshen. Nizam kemudian memapah Tuan Arshen keluar restoran menuju mobil, meninggalkan Umi Hani, Allen, Calia, dan Evan.
"Jangan keluar dulu, Lia. Tunggu Nizam kembali," ujar Umi Hani yang diangguki oleh Calia.
Tentu saja, jika Calia keluar dengan memapah Evan, maka akan tinggal Umi Hani dan Allen. Jika berdua saja itu bisa menjadi sebuah dosa, jika meninggalkan Allen sendiri, itu juga berbahaya.
Tak sampai lima menit, Nizam kembali dan segera memapah ayahnya. Umi Hani membantu Calia memapah Evan.
Setibanya di area parkir, Calia segera memasukkan Evan ke dalam mobil. Ia yang akan menyetir. Sedangkan Nizam akan menyetir mobil satu lagi akan membawa Umi Hani dan Allen. Sekitar pukul 20.30, kedua mobil sedan itu melaju meninggalkan area restoran kembali ke rumah.
Setibanya di rumah, Nizam kembali memapah Allen yang belum sadar dari alkoholnya menuju kamar. Sedangkan Umi Hani kembali membantu Calia memapah Evan menuju kamar, sekaligus menunjukkan kamar Evan pada Calia.
"Beristirahatlah. Kalian pasti lelah," ucap Umi Hani. "Pakaian gantimu ada di lemari. Tadi sudah Umi sediakan," lanjut Umi Hani dengan mengarahkan pandang ke arah lemari. Calia mengangguk, "terima kasih, Umi. Umi juga istirahat," ucap Calia.
Umi Hani tersenyum dan keluar dari kamar. Calia menghela nafas pelan saat Umi Hani sudah keluar dari kamar. Ia duduk di tepi ranjang. Mengedarkan pandang, melihat kamar suaminya.
Warna dinding kamar adalah coklat muda. Untuk furniture dan warna seprai juga berwarna coklat muda. Tidak banyak barang di dalamnya. Hanya ada lemari juga meja belajar, juga meja kecil di sudut ruangan.
Ada beberapa miniatur yang berhubungan dengan bidang pekerjaan Allen, seperti model atom, model bentuk molekul, dan ada tabung reaksi, erlenmeyer, dan labu ikut di sudut ruangan. Kamar ini sepertinya jarang Evan tinggalin.
Calia lalu melihat ke arah suaminya yang tampak sudah tertidur. Ia tersenyum," tidak ku sangka profesor sepertimu tidak kuat terhadap alkohol. Tapi, masih memaksakan diri untuk minum. Ckckck!"
"Aku lelah," gumam Calia kemudian bangkit dan menuju lemari untuk mengambil baju ganti yang telah Umi Hani sediakan.
"Umi Hani memang yang terbaik," gumam Calia senang. Itu sebuah piyama yang cukup tebal.
"Jika itu Mom pasti sudah memberiku lingerie. Memangnya aku tidak menggoda tidak tidak memakai lingerie?" Calia kembali bergumam dengan melihat dirinya di pantulan cermin. Tubuhnya tinggi dan proporsional. Kulitnya putih bersih, bibirnya sedikit tebal, dan wajahnya tentu cantik.
"Kau cantik, Lia." Calia terperanjat dan membeku saat merasakan ada yang melingkar di perutnya. Itu tangan dan ada hembusan nafas yang terasa jelas di ceruknya.
"E-Evan, kau sudah bangun?"tanya Calia gugup.
"Ini malam pertama kita, bagaimana bisa aku tidur?" Calia merinding mendengarnya. Dari itu. Calia menyimpulkan bahwa Evan ingin melakukannya.
"Kita akan melakukannya? Bagaimana jika aku belum siap?"tanya Calia, lirih.
"Aku akan membuatmu siap," balas Evan, kini ia memberikan kecupan pada leher Calia yang membuat sang istri merasa geli juga semakin gugup.
Dalam hati Calia bertanya-tanya, dari mana lagi Evan bisa atau belajar hal ini? Ini terlalu berani untuk seorang yang katanya tidak pernah berpacaran dan selalu berhubungan dengan alat dan bahan kimia.
"Calia tahukah kau bahwa di saat begini seseorang akan terlihat semakin cantik atau tampan tanpa busana?"
Evan membalikkan tubuh istrinya. Calia menelan ludah gugup. "Kau sedang mabuk, Evan," ucap Calia.
"Aku sudah sadar." Evan menatap Calia sayu, penuh minat. Rambutnya yang sudah tidak diikat, membuatnya tampak tampan dan ya cantik di saat bersamaan. Calia terpesona.
"Kita sudah menikah, cepat atau lambat juga akan melakukannya. Kau setuju menikah denganku. Artinya kau setuju untuk menjalani rumah tangga denganku. Kau setuju untuk menjadi bagian dari hidupku. Untuk kesiapan kita tidak harus berpatokan bahwasannya kita masih saling mengenal. Dengan mendekatkan jarak di antara kita, akan membuat hubungan kita semakin erat. Jadi, jangan katakan kau tidak siap karena aku selalu siap untukmu. Aku bukan memaksamu Calia. Aku mengatakan hal ini karena aku tahu kau sudah dewasa." Evan mendapatkan ciuman pada Calia.
Calia bergetar dan tersentuh mendengar ucapan Evan. Dengan perlahan, Calia membalas ciuman Evan dan mengalungkan kedua tangan pada leher sang suami.