This Is Our Love

This Is Our Love
Negosiasi



Ya, Bella tengah dalam fase ngidam. Seperti kebanyakan ibu hamil, Bella menginginkan sesuatu yang asam dan lazimnya memanglah mangga muda yang langsung diambil dari pohonnya. Dan kebanyakan lagi, istri akan menyuruh suami yang memanjat langsung pohon mangga untuk memenuhi permintaan istri dan calon anak. 


Karena Ken tidak ada dan Desya sebagai orang yang membawa Bella dari sisi Ken, tentu haruslah bertanggung jawab. Bella tidak peduli dengan wajah heran dan bingung Desya. Yang Bella pedulikan adalah Desya harus mendapatkan keinginannya, sendiri dan bagaimanapun caranya, Bella tidak peduli. 


Setelah menyampaikan keinginannya, Bella duduk di meja Desya. Sementara Desya masih berpikir, di mana ia bisa menemukan pohon mangga? Sedangkan untuk mangga yang matang saja negara ini impor dari negara lain terutama Indonesia. 


Harusnya ia terbang ke negara tropis? Indonesia? Tapi, butuh berapa lama? Itu akan memakan waktu satu hari satu malam dengan pesawat pribadi? Akankah Bella bisa menahan sampai besok? Dan lihatlah wajah Bella yang sudah ditekuk. 


Sial! Desya mengumpat dalam hati. Mengapa ibu hamil yang di depannya itu begitu rumit? Padahal saat kedua istrinya mengandung, ia tidak perlu repot bahkan ia sama sekali tidak menemani istri-istrinya melahirkan. Simple bukan? Ya memang karena pada dasarnya ia tidak punya perasaan apapun terhadap ketiga istrinya. Pernikahannya berlangsung karena bisnis, bukan perasaan. So, ya setelah menikah dan memenuhi tugasnya untuk memberikan pewaris, finish. Ia menganggap dirinya sudah tidak ada kewajiban lagi. 


"Di mana aku bisa menemukannya?" Desya kembali bertanya. 


"Mana aku tahu. Ini kah bukan wilayahku," jawab Bella dengan acuhnya. 


"Baiklah. Kau tunggu di sini!" Desya sudah frustasi. 


Di saat demikian, pintu ruang kerja Desya terbuka. Itu Irene yang datang dengan membawa makan siang untuk Desya. Irene terkejut mendapati Bella ada di ruangan Desya dan merasa bingung dengan ekspresi Desya. Apa yang terjadi di sini? Itu yang ada dalam benaknya. 


"Siapkan helikopter aku akan ke bandara!" Desya langsung memberi perintah pada Irene.


"Anda akan ke mana, Tuan?"tanya Irene. 


"Negara tropis," jawab Desya namun tidak menyebutkan nama negaranya. 


"Berikan saja makanan itu padanya," titah Desya dengan menatap ke arah Bella. 


Bella tersenyum. Irene menurut. "Oh iya sebentar, Desya!"tahan Bella ketika Desya hendak meninggalkan ruangan. 


"Ada apa lagi?" 


"Kau membawaku ke istanamu ini. Yang akibatnya adalah kekhawatiran di pihak keluargaku. Setidaknya saat keluar nanti kau kirim pesan atau apalah itu yang menandakan aku baik-baik saja. You know bukan jika aku mempunyai banyak keluarga, akan terbayang seberapa besar kekacauan akibat perbuatanmu ini. Aku bukannya hendak memainkan tipuan, mari bernegosiasi!"ajak Bella dengan pembawaan seriusnya. 


"Jadi apa maumu?"tanya Desya. Bella tersenyum penuh arti. 


"Gampang. Biarkan aku menulis sebuah surat untuk keluargaku. Lalu kau kirimkan pada suamiku," jawab Bella. 


Desya diam sejenak. Sepertinya ia tengah menimbang. "Aku punya adik. Dan dia sedang di penjara dalam kondisi sakit. Jika dia mendengar kabar jika aku diculik, bagaimana perasaannya?"


Bella memainkan emosional. Ya, tentu saja. Dia bukan orang yang sembarangan. 


"Hm? Bisa." Desya tersenyum. Namun, senyum itu terasa pertanda kurang baik untuk Bella. Bella mengernyitkan dahinya. 


"Kemarin kau mengatakan bahwa kau masih terikat pada suami bukan?" Desya bertanya dengan melangkah mendekati Bella dan beberapa langkah dari Bella. 


Bella tak bisa untuk tidak duduk tegak. Aura Desya terasa lebih menekan dari pada sebelumnya. "Aku setuju kau mengirim surat pada keluargamu. Namun, dalam surat itu kau harus menuliskan bahwa kau memutuskan hubungan dengan suamimu!"


Mata Bella terbelalak. Dalam artian, Bella menceraikan Ken begitu? Melihat itu, Desya tersenyum simpul. 


"Kita bernegosiasi, bukan? Jangan lupakan bahwa aku juga memegang keselamatan keluargamu! Jika kau ingin mengirim surat, surat itu harus berisi hal yang sebutkan tadi juga surat pemutusan hubungan yang ditandatangani dengan cap ibu jari!"


"Nona Nabilla Arunika Chandra, jangan kira hanya kau sendiri yang bisa memainkan lidah, aku juga bisa!! Aku yakin kau tahu, bukan hal sulit bagiku untuk menghancurkan keluargamu!!" Itu sebuah ancaman. Bella mengepalkan kedua tangannya. Sejenak ia lupa bahwa Desya adalah mafia berdarah dingin. 


"Pikirkan dengan baik, apa keputusanmu!!" Desya menunjuk Bella dengan jarinya. Bella berpikir. Keputusan apa yang harus diambil? 


Ck! Bella diampit oleh dua yang sulit, membuatnya menjadi dilema. Satu sisi, jika Ken menceraikan Ken dengan cara seperti ini, pasti akan menimbulkan kesan buruk bukan di mana Ken sendiri dan keluarga Mehendra. Namun, jika tidak begitu ia sulit untuk memberi kabar. 


Di istana ini ada koneksi internet dan sinyal. Akan tetapi, penggunaannya dibatasi dan ada kata sandi lagi untuk menggunakannya. 


Bella menghela nafas. Ia sudah mempertimbangkan dan membuat keputusan. "Aku … setuju!" Ya setidaknya itu yang terbaik untuk sekarang. Mungkin, rasanya akan sakit. Namun, diambil untuk kebaikan semua orang.


Tapi, walaupun Bella setuju, tidak serta merta mematahkan keinginannya untuk segera meninggalkan tempat ini setelah misinya selesai. Ya, Bella menganggap dirinya memiliki sebuah misi. Desya yang artinya bahagia namun berbanding terbalik dengan realita kehidupannya. Desya yang tidak mengerti apa itu keyakinan, mungkin Bella lah yang akan menjadi penerang. 


"Bagus! Pilihan yang bijak!" Lihatlah senyuman Desya, penuh arti. Bella tidak menggubris, "berikan aku kertas dan pena!"


Irene segera mengambilkan kedua benda itu untuk Bella. Bella mulai menuliskan kata demi kata dalam kertas kosong itu. Bella menulisnya penuh penghayatan. Of course! Itu surat perpisahan. 


Desya diam di tempatnya. Ia melihat Bella menulis. 


"Selesai!"ucap Bella setelah membubuhkan tanda tangan plus cap jempolnya di kertas itu lalu melipat dan memberikan kertas itu pada Irene. Irene memberikannya pada Bella. 


Desya mengeryit melihat bahasa yang Bella gunakan.  Bahasa Indonesia yang tidak ia mengerti. Terlihat jelas gurat kecurigaan. "Irene bawa ini dan terjemahan!" Irene bergegas melakukan perintah Tuannya. 


Bella tersenyum kecut mendengarnya. "Aku tidak pernah mengingkari kata-kataku, Desya!"


"Tapi, itu hakmu. Mungkin dengan begitu kau bisa meningkatkan kepercayaan padaku." Ya hadapi saja dengan kepala dingin. 


"Kemari," ucap Desya. 


"Untuk apa?"


"Aku akan mengantarmu ke kamar," jawab Desya. 


"Aku bisa sendiri!"tolak Bella. 


"Jangan membantah! Ini perintah!"tegas Desya. 


Bella tetap menggeleng. Tak lama kemudian Irene kembali dan membisikkan sesuatu pada Desya. 


"Baiklah. Nikmati harimu!" Setelahnya Desya keluar diikuti oleh Irene. 


Sepeninggalnya Desya dan Irene dari ruangan ini, Bella terduduk lemas. Tidak Bella sangka, apa yang dialami Umi Hani dan Allen akan terjadi padanya. 


Bella menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangan. Dadanya terasa sesak. Rasanya sangat sakit. Bella tidak bisa mengatakan apapun lagi selain tangis yang terdengar. 


Tapi … ada sesuatu yang Bella lupakan!!