
"Nona Bella, Nona Lesta."
Yang dipanggil namanya menoleh ke arah pintu. Irene yang memanggil. Wanita itu berada di ambang pintu dengan tersenyum lebar.
"Ya?" Menjawab sama.
"Tuan Besar memanggil Anda berdua untuk makan siang bersama," ujar Irene.
"Hah?" Bella tercengang. Makan siang bersama?
"Apa itu kakek?"tanya Lesta yang diangguki oleh Irene. Lesta langsung melonjak senang.
"Yeah. Bertemu ayah bertemu kakek. Ayo Aunty. Aku juga akan bertemu dengan Liev!"
"Ah, iya!"
Irene memimpin jalan menuju ruang makan. Bella melihat sekeliling, bukan ke arah ruang makan saat bersama dengan Liev dan Lesta kemarin.
Melihat luasnya istana ini, tak mengherankan jika memiliki lebih dari satu ruang makan.
Bella mengikuti Irene dengan menggendong Lesta yang terus mengoceh. Bella menanggapinya dengan tersenyum. Di depan Lesta, Bella berulang kali mengumbar senyumnya.
Akan tetapi, saat Irene menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu ruangan yang tidak lain adalah ruang makan, Bella mengubah ekspresinya menjadi datar.
Bella tidak tahu, untuk apa ia dipanggil untuk makan siang bersama?
Namun, apapun itu Bella tidak ambil pusing. Ia yakin bisa menghadapinya.
Irene membuka pintu, mempersilakan Bella masuk. Bella masuk dengan tetap menggendong Lesta sementara kedua pengasuh Lesta tetap berada di luar.
Irene kemudian menyusul masuk dan menutup rapat pintu.
Di meja makan yang berbentuk persegi panjang yang mampu menampung lebih dari sepuluh orang itu, sudah duduk semua anggota keluarga Volkov.
Tersisa satu tempat duduk di sisi di depan Evalia. Bella masih berdiri di tempatnya. Menatap keluarga Volcov yang menatap dirinya. Ada yang datar, acuh, dan sinis.
Berbagai hidangan tersedia di atas meja. Rata-rata menu daging.
"Ibu!"
Lesta sedikit meronta yang membuat Bella menurunkan Lesta dari gendongan.
Segera, kaki kecil Lesta menghampiri sang ibu, Lucia.
"Sayang, ke mana saja kau?"tanya Lucia sembari membawa Lesta dalam pangkuannya.
"Bersama Aunty Bella," jawab Lesta dengan menatap Bella, tatapannya riang yang dibalas senyum tipis Bella.
"Sungguh?" Lucia menatap Bella.
Lesta mengangguk. "Aunty mengajariku bermain piano. Aunty Bella juga pandai bermain gitar," cerita Lesta dengan penuh semangat.
"Terima kasih, Nona Bella," ujar Lucia, tulus pada Bella. Bella mengangguk singkat.
"Apa tidak ada pelatih musik di istana ini hingga menggunakan orang luar?"
Ariel berkata dengan sinis.
Liev yang berada dalam pangkuannya menunjukkan wajah datar. Namun, sekilas tadi ia menatap cemburu Lesta.
Bella mengangkat alisnya.
"Dia sudah jadi bagian dari istana ini!"ucap Desya, angkat bicara dengan menatap tajam Ariel.
Ariel terkesiap sesaat kemudian mendengus. Tidak menduga setelah Dimitri dan Aleandra kembali, Desya tetap membela Bella.
Kedua orang tua Desya diam memperhatikan. Dan diamnya mereka itu menimbulkan rasa curiga di hati Ariel.
Mereka tidak tertarik pada wanita sialan itu, kan?! pikirnya dalam hati.
"Duduk!"titah Desya dengan menatap Bella.
"Thanks!"ucap Bella sebelum duduk.
Biar bagaimanapun ia harus tetap menunjukkan rasa hormat pada keluarga ini.
"Ayo makan!" Desya sebagai kepala keluarga memberi perintah. Dimitri dan Aleandra pun menuruti perintah tersebut.
Bella menatap hidangan, mencari yang bukan daging.
"Irene, bisa kau ambilkan aku roti dan selai? Juga teh mawar?" Bella menatap Irene yang berada di sisi Desya.
"Apa hidangan ini tidak sesuai seleramu, Nona Bella?"tanya Lucia.
"Aku sedang tidak ingin makan berat," jawab Bella. Rata-rata daging dan menunya tidak ada yang menggugah seleranya.
"Kau pikir kau siapa? Beraninya memerintah bawahan Tuan!"
Lagi-lagi Ariel berkata dengan sinis pada Bella. Bella tidak menggubrisnya.
"Yes or no?" Irene melirik Desya.
Mengangguk setelah Desya mengangguk. Irene segera melangkah keluar keluar untuk mengambilkan apa yang Bella mau.
"Sialan!"gumam Ariel.
Ia sudah dipermalukan dua kali dan tidak ada yang membelanya. Menyebalkan!!
"Kalian bisa makan duluan. Tidak perlu menungguku," ucap Bella yang melihat Desya tidak makan, malah meletakkan kembali sendok dan garfunya.
Hal itu diikuti oleh Dimitri dan Aleandra. Sebagai menantu, ketiga istri Bella mana berani makan sementara suami dan mertua mereka tidak makan.
"Kau! Apa susahnya sih makan ini? Apa kau tidak terbiasa dengan makanan ini? Apa kau begitu miskin hingga perutmu tidak bisa mencerna makanan mahal ini? Kau merepotkan! Kau kira kau siapa membuat kami harus menunggumu?!"hardik Ariel yang sudah begitu kesal.
Tidak takut sama sekali. Ia tahu, meskipun Desya dan orang tuanya kesal padanya, namun apa yang bisa mereka perbuat? Paling hanya menegurnya. Itulah ia Ariel pikirkan.
Namun, di ruangan ini bukan hanya keluarga Volcov. Akan tetapi juga ada keluarga Chandra, Nabilla Arunika Chandra. Dan Bella, bukan tipe yang diam saja jika disinggung.
Bella tersenyum miring mendengar. Sorot matanya yang datar kemudian menatap tajam Ariel.
"K-KAU?!"
Ini juga di luar dugaan Ariel. Bella sama sekali tidak takut. Bahkan dengan adanya Dimitri dan Aleandra pun sama saja.
"So, calm down dan nikmati makanan Anda!"imbuh Bella dengan melipat kedua tangannya.
"Nona Bella, keberanianmu patut aku acungin jempol," bisik Evalia pada Bella.
"Kau berisik!"ucap Desya pada Ariel.
Wajah Ariel memerah gelap. Emosinya di ubun-ubun namun ia tidak bisa meledak di sini.
"Maaf, Tuan dan Nyonya Besar jika keberadaan saya mengganggu Anda sekalian. Kalau begitu saya izin pamit!"ucap Bella dengan menoleh pada Dimitri dan Aleandra.
"Tidak. Tetaplah di sini," ucap Aleandra. Bella terhenyak beberapa saat kemudian tersenyum.
"Okay."
Apa-apaan ini?!
Lucia melirik kanan dan kirinya. Sepertinya Tuan dan Nyonya Besar seirama dengan Tuan, batinnya dalam hati.
Evalia cenderung acuh. Ia sudah resmi menjadi wanitanya Desya dan itu membuatnya bahagia. Yang lain ia tidak terlalu peduli.
Siapa yang paling disayang?
Siapa yang Desya cintai?
Evalia tidak terlalu mempedulikannya hal itu.
Tak lama kemudian, Irene kembali dengan membawa apa yang Bella minta.
"Maaf dan terima kasih telah menungguku," ucap Bella, nadanya datar namun tidak menghilangkan kesan sopannya.
*
*
*
"Yang lain boleh keluar, kecuali Nona Bella!"ucap Dimitri saat telah selesai makan siang.
"Baik."
Tuan Besar sudah bertitah. Tidak ada yang berani membantah.
Ariel, kemudian Lucia, Evalia, Liev, dan Lesta juga termasuk Desya dan Irene, mereka keluar dengan tanpa menimbulkan banyak suara.
"Ada apa lagi ini?"gumam Bella, memutar bola matanya malas.
"Apa kau tidak punya rasa takut?"tanya Dimitri, serius pada Bella.
"Punya. Tapi, tidak untuk kalian!"jawab Bella.
Insan mana yang tidak punya rasa takut? Tidak ada bukan?
"Desya begitu memperhatikanmu. Bagaimana bisa kau sedingin itu?"sahut Aleandra.
"Lantas aku harus bagaimana? Menerimanya?"balas Bella.
Ia menjawabnya dengan malas. Kedua tangan bersedekap di dada.
Sebelum Dimitri ataupun Aleandra membalas, Bella mengangkat kedua tangannya ke atas.
"Hentikan. Aku bosan dengan bahasan ini. Tidak adakah hal lain? Aku ingin menjalani hari yang tenang. Aku sudah masuk ke sarang bahaya setidaknya jangan bebani aku dengan bahasan romansa dengan putra kalian itu. Bukankah sudah aku tegaskan tadi pagi. So, please, jangan bahas lagi hal ini! Jangan menambah masalahku itu sudah bantuan besar. Tenang saja, kalian tidak perlu cemas aku akan merebut harta kalian. Aku hanya membantu, bukan menguasainya! Please, aku sangat memohon. Jangan libatkan aku dalam urusan rumah tangga Desya. Jangan seret atau singgung aku. Dia mau bagaimanapun dengan rumah tangganya, jangan tarik aku ke dalamnya!"
Bella sudah bosan. Dan yakin, setidaknya kedua orang tua itu bisa memahaminya.
"Look. I'm pregnant! Aku butuh ketenangan bukan keributan! Selain itu, aku juga tidak akan kabur sebelum tugasku selesai! So don't afraid, selama misiku belum selesai, aku akan tetap berada di sisi putra kalian! Understand, Mr. Dimitri dan Mrs. Aleandra!"ucap Bella dengan penuh penekanan.
"Apa putra kami tidak menarik? Kau tidak menyukainya?"tanya Aleandra tidak percaya.
Apakah pesona putranya benar-benar tidak bisa meluluhkan Bella?
Memangnya seberapa tampan suami Bella itu? Menggelitik hati Dimitri dan Aleandra.
Bella menghela napasnya. "Putra kalian menarik. Namun, hatiku sudah ada pemiliknya. Mau setampan apapun putra kalian, maaf aku tidak menyukainya dalam konteks hubungan pria dan mafia. I'm sorry. Aku harap kalian mengerti dan dapat memberi pengertian padanya. Terima kasih!"
Bella kemudian bangkit dan meninggalkan tempat.
Memang keras. Dimitri dan Aleandra bertukar pandang. Lantas tertawa.
"Menarik!"ucap keduanya.
"Mari kita lihat setangguh dan setegas apa pendiriannya!"ucap Dimitri.
"But," ucap Aleandra dengan wajah berubah gusar.
"Bagaimana jika keluarga itu berulah?"
"Sayangku, Ale. Ariel sudah mendapat lawan yang setimpal. Dengan menggunakan Bella kita bisa membungkam mereka. Kau tahu kan, aku sudah muak dengan keluarga itu!"balas Dimitri.
"Cucu kita, Lesta tampaknya juga sangat menyukai Bella. Lucia juga menyapanya tadi. Jika itu terus berlanjut, maka kau tahu artinya bukan?"lanjut Dimitri.
"Meskipun sulit, aku setuju dengan Desya. Kita lihat, seberapa jaya Black Rose di bawah kendalinya!"imbuh Dimitri.
"Hm. Kau benar. Kita harus percaya pada putra kita," balas Aleandra.
"By de way, keberaniannya memang luar biasa. Aku penasaran kehidupan apa yang telah dilewati wanita itu hingga karakternya seperti ini," ujar Dimitri, penasaran.
"Ya, aku juga penasaran."
*
*
*