
Tiba sudah Bella dan Ken di depan gerbang kediaman Utomo. Gerbang menjulang tinggi itu menjadi pemisah antara area kediaman dan area luar. Ken turun dari motor, dan melakukan hal yang sama seperti Surya dulu. Ken muntah, memuntahkan semua isi perutnya, mulutnya sampai terasa kecut. Bella tersenyum lebat, ternyata menurun pada Ken.
Ken telah selesai dengan ritual muntah dan mualnya, kini ia menatap berang Bella yang menatapnya santai.
"Why?"tanya Bella santai.
"Sudah ku katakan pelan-pelan mengapa malah melebihi Rossie?! Kakak mau membunuhku ya?!"
"Oh tapi kamu nggak mati kan?"
"Aku hampir mati jantungan!"
"Hampir kan?"
"Kakak mau cepat jadi janda ya?"gerutu Ken.
"Cerai mati kan nggak dosa," sahut Bella santai.
Ken menggertakkan giginya kesal. Bukankah Bella terlalu dingin untuk seorang perempuan? Lihatlah ekspresinya, santai seolah tak berbuat salah. Saat diancampun, tidak ada rasa takut. Bella benar-benar tidak bisa Ken kendalikan. Yang ada ia yang dikendalikan oleh Bella.
"Eh Tuan Muda Ken, tumben naik motor. Mobilnya ke mana?" Penjaga gerbang yang mendengar keributan dan suara Ken menunjukkan wajahnya dari balik gerbang.
"Eh Pak Muji, nggak papa sih Pak. Hari ini naik mobilnya Cia saja," ujar Ken, berubah menjadi ramah.
"Ohh ya sudah ayo masuk," ujar Pak Muji, membuka gerbang untuk Ken.
Ken masuk tanpa mengajak Bella. Bella mendengus kesal, dan melajukan motornya masuk namun dicegat oleh Pak Muji.
"Maaf Anda tidak boleh masuk," ujarnya tegas.
"Saya istrinya Ken! Saya berhak ikut kemana suami saya pergi!"jawab Bella datar.
"Eh istri Tuan Muda Ken?" Pak Muji tampak terkejut. Dan seketika tahu alasan mengapa belakangan ini keluarga yang ia jadikan majikan tampak berbeda.
"Iya. Jadi tokong buka gerbangnya ya, Pak!"
Pak Muji tersadar, ia dengan cepat membuka kembali gerbang. Bella melajukan motornya masuk. Bangunan mewah yang bernuansa teduh dengan cat didominasi warna hijau. Aneka tanaman mengisi taman, semerbak bunga yang bermekaran tercium begitu wangi. Bella melepas helmnya, kemudian mendongak menatap balkon. Terlihat jajaran pot bunga yang penghuninya berbunga sangat indah dengan aneka warna.
Ken sudah masuk, Bella menyusul Ken masuk. Ruang tamu yang mewah dengan foto keluarga yang terpajang tapi di dinding. Di sofa duduk dua orang paru bayah yang mana yang wanita tampak memberengut, entah kesal atau marah.
"Assalamualaikum," sapa Bella ramah.
"Waalaikumsalam," jawab sang pria yang tak lain adalah Bayu. Clara menatap Bella lekat, sedangkan Bayu mengeryit. "Kamu siapa?" Clara bertanya ketus.
"Nabilla, istri Ken," jawab Bella sopan, dan tersenyum walau ia tahu aura permusuhan memancar lekat dari Clara.
"Berani sekali kamu menginjakkan kaki di rumah ini! Pergi kamu! Kamu tidak diterima di rumah ini!"usir Clara dengan tangan menunjuk pintu keluar. Bella menoleh ke arah pintu keluar, kemudian menatap Clara.
"Jika saya harus keluar, saya harus membawa suami saya keluar juga!"jawab Bella, memberikan senyum lebar yang lebih mirip menyeringai.
"Kamu! Sombong sekali! Memangnya kau siapa bisa membawa Ken pergi?! Kau hanya istri yang tidak diinginkan oleh Ken! Kau hanyalah alat! Kau tak berhak atas Ken!" Clara berkata lantang. Ia menatap Bella penuh kebencian. Bella terkekeh mendengarnya. Bayu menyipitkan mata melihat Bella yang tampak tenang.
"Kau salah, Nyonya Utomo! Aku jelas punya hak! Putri kalianlah yang tidak punya hak atas Ken! Aku dan keluarga Mahendra sudah berbaik hati memberikan kebebasan untuk Ken dan Cia, so jangan larang aku untuk bertemu dengan suamiku sendiri karena Anda sangat tidak punya hak untuk itu!"sarkas Bella dan dengan santai melangkah menaiki tangga.
"Wanita sialan! Sombong sekali kau!!"teriak Clara geram. Bella tersenyum tipis mendengarnya.
"Cukup, Ma! Yang dia katakan benar. Kita tidak punya hak apapun atas Ken, begitu juga dengan Cia. Sekarang dia jelas paling berhak atas Ken. Dan Papa yakin dia bukanlah wanita yang bermain licik untuk menyingkirkan putri kita. Lagipula di sana ada Angga dan Akas, juga ada Ken yang melindungi putri kita," ucap Bayu menenangkan Clara.
"Papa kenapa selalu membela mereka?"
"Karena mereka tidak salah! Sudah cukup! Mama diam saja di sini temani Papa!"jawab Bayu. Clara mendengus, ia duduk dengan wajah yang teramat kesal.
Bella membuka pintu kamar yang di depannya ada tag name Cia. Bella menggosok hidungnya mencium aroma obat yang pekat. Kamar yang terang dengan pencahayaan lampu dan sinar matahari.
Di ranjang, terlihat Ken yang tengah menyisir rambut Cia dengan penuh kelembutan. Tatapan teduh dan penuh cinta yang belum pernah Bella lihat. Tak jauh dari mereka ada Anggara dan Angkasa yang mengamati dengan lekat apa yang Ken dan Cia lakukan. Karena ia membuka pintu dengan pelan nyaris tanpa suara, membuat empat orang itu tidak menyadari kehadirannya.
Ehem!
Bella berdehem. Keempat orang itu sontak menoleh padanya. Mata Ken melebar melihat keberanian Bella. Cia sendiri diam mengingat siapa yang ada di depannya ini sedangkan dua adiknya menatap Bella dingin. Bella tersenyum pada dua anak itu.
"Mengapa Kakak kemari?" Ken bertanya dingin. Ia kini memeluk pinggang Cia. Cia akhirnya ingat. Matanya menatap lekat Bella yang sejenak mereka beradu pandang.
Bella menarik senyum tipis, "apa salahnya berkenalan dengan pemilik hatimu?"
Bella melangkah, Anggara dan Angkasa berdiri dan menjadikan tubuh mereka pagar melindungi Cia. Bella menaikkan alisnya, "what this?"
"Jangan dekati Kak Cia!"ucap Anggara penuh tekanan.
"Keluar dari sini sekarang juga!"timpal Angkasa dingin.
"Jangan keterlaluan, Kak! Kau sendiri yang mengatakan tak masalah aku berhubungan dengan Cia! Jadi tolong jangan ganggu kami!!"ucap Ken dingin.
"Tapi tidak ada larangan aku bertemu dengannya. Dan juga aku tidak menganggu kalian. Aku hanya ingin berkenalan dengannya," jawab Bella, menatap Cia yang menunduk usai bertubruk pandang dengannya.
"Kak Billa!" Ken berseru kesal.
"Minggirlah anak ingusan! Aku tidak akan menyakiti kakak kalian!" Bella melangkah memutar, sebelum sempat keduanya menghalangi Bella lagi, Bella sudah duduk di samping Cia yang tampak takut dan memeluk erat Ken. Ken menatap marah Bella.
"What happened? Mengapa kau takut? By de way ini pertemuan kedua kita bukan?" Bella menyodorkan tangannya, ingin bersalaman dengan Cia. Cia meliriknya, mendongak menatap Ken.
"Ya~ ku rasa." Cia menjawab pelan setelah Ken menyuruhnya menjawab.
"Benar. Pertemuan pertama kita saat di rumah sakit beberapa waktu lalu. Aku tak sengaja menabrak kalian," ujar Bella, menarik tangannya kembali karena Cia sepertinya enggan berjabat tangan dengannya.
"Namaku Bella, namamu Cia bukan?" Bella buka suara lagi.
"Ya." Lagi-lagi menjawab pelan. Ken mengeryit tipis, mencari maksud tindakan Bella ini.
"Tidak perlu takut. Aku tidak akan mengatakan hal yang membuatmu takut, kan? Lagipula aku belum mau bertengkar dengan Ken. Aku hanya ingin berkenalan. Aku tahu posisiku, aku juga tahu posisi kalian. So jangan terlalu tegang. Anggap saja aku ini kakak tertua kalian," ujar Bella tenang.
Kakak tertua? Apa maksudnya? Ken semakin mencari.
"Kakak tertua apanya? Kami tidak punya kakak selain Kak Cia!"ketus Anggara.
"Aku juga tak mau menjadi Kakak kalian. Kalian itu hanya merujuk pada Ken dan Cia!"sahut Bella yang membuat Anggara mengeram kesal.
"Anggrek? Kau punya selera yang bagus." Bella berdiri, matanya tertuju pada balkon. Dengan langkah pasti, Bella melangkah menuju balkon. Cia berdiri, menyusul langkah Bella. Ken menatap hal itu dengan perasaan bingung. Anggara dan Angkasa menyusul Cia.
"Pemandangan yang indah, cocok untuk penyembuhanmu. Sayang sekali, berbeda jauh dengan Nesya."
Bella memejamkan matanya, menghirup udara pagi yang menyegarkan namun terasa sesak di dada. Adiknya hanya sendiri di sana, tanpa sanak saudara, ia tahu benar bahwa Nesya tak betah di sana, tapi siapa juga yang betah di dalam kurungan?
Jangankan manusia, hewan sekalipun akan berusaha untuk keluar, hanya saja untuk Nesya sendiri, itu adalah batas dan rantai pemutus untuk semua kebiasaan buruknya.
"Kakak suka bunga anggrek?" Cia bertanya pelan setelah memberanikan diri berdiri di samping Bella.
"Tidak. Aku suka bunga edelweis, tapi aku berpikir untuk membelikan anggrek untuk Nesya. Ku rasa itu bunga yang cocok untuk ia rawat," jawab Bella, nadanya beruba sendu.
"Adik Kakak sakit apa?" Cia malah semakin penasaran.
"Sama sepertimu, hanya saja dia kanker darah." Bella membuka matanya, sorot matanya sedih.
"Tapi kau lebih beruntung daripada Nesya."
Cia tidak mengerti, beruntung dalam segi apa?
"Jika memang ingin memberi bunga anggrek, ambillah satu milikku," tawar Cia, ia tak mau ambil pusing dengan pertanyaannya sendiri.
"Baiklah. Berikan saja pada Ken. Aku sulit untuk membawanya."
Bella tersenyum lembut, tangannya terangkat dengan lembut mengusap rambut Cia. Cia terkesiap, ia berdiri kaku menerima sentuhan lembut Bella.
"Hei!" Angkasa memekik tak suka melihat itu. Ken yang melihat keakuran Cia dan Bella, dan melihat Cia yang nyaman, dengan segera menutup mulut Anggara dan Angkasa sebelum keduanya kembali merecok.
"Aku tak tahu apakah nanti sanggup melihat rambut Nesya gugur seperti ini. Rasanya aku gagal menjadi seorang kakak."
Cia menangkap kesedihan dalam tatapan Bella, ada penyesalan dan beban yang berat.
Cia menangkap tangan Bella, membawanya ke pipinya. "Jangan menjadi lemah karena itu sudah menjadi efek samping. Jadilah kuat agar adik Kakak juga kuat. Jika Kakak lemah siapa yang akan menjaga dan menyemangati adik Kakak? Juga terima kasih karena tidak menghalangi hubunganku dan Ken, karena Ken adalah semangat hidupku," tutur Cia lembut.
"Anak baik, aku tidak akan pernah menghalangi hubungan kalian," ucap Bella sungguh-sungguh.
"Terima kasih."
"Hm aku harus pergi," ucap Bella setelah melihat jam tangannya.
Cia melepas tangan Bella. Bella lalu melangkah menghampiri Ken.
"Aku harus pergi."
"Baiklah."
Ken terperanjat kaget saat Bella menarik dan mencium panggung tangannya. Cia juga membulatkan matanya. "Jangan tegang, ini hal biasa untuk suami istri. Aku pergi, Assalamualaikum," pamit Bella, melangkah keluar kamar.
"Wow, aku suka gayanya," gumam Anggara.