This Is Our Love

This Is Our Love
Terkejut



Anggara termenung cukup lama memikirkan dan mengingat kembali obrolannya dengan Bella via ponsel. Ia masih memegang ponselnya yang tengah diisi daya. Layar ponselnya masih menyala menunjukkan beranda game. 


Pertama, kondisi keluarga Utomo akan terjamin. 


Kondisi itu akan dibenarkan jika pernikahan antara dirinya dan putri dari Presdir ASA Bank, Azzura terjadi. Hal itu juga mengacu pada poin keempat yakni….


Selain itu, jika kau berhasil mendapatkan hatinya maka kau akan mendapatkan keluarga Adhitama


Kedua, kau mendapatkan istri cantik seperti bidadari. 


Ingatan Anggara kembali ke saat ia berkunjung ke kediaman Adhitama guna bertemu dengan calon istrinya. Anggara membenarkan dan mengakui ucapan Bella itu.


Azzura memang memiliki kecantikan yang luar biasa. Namun, kala itu Anggara tidak peduli dengan kecantikan yang dimiliki oleh Azzura. Gadis idiot sudah terpatri di memorinya. Baru setelah Bella membahasnya, hati dan pikiran Anggara mulai jernih. 


Ketiga, kau mendapatkan istri yang berbakat dalam melukis 


Melukis? Anggara juga berbakat di dalamnya. Apa ini suatu kebetulan atau memang benar-benar sebuah suratan untuknya?


Rasa penasaran ingin membuktikan semua ucapan Bella menyelimuti hati Anggara. 


Kini, ia tidak lagi mengedepankan kekurangan calon istrinya. Benar! Tiada yang sempurna di dunia ini! Seseorang yang punya kekurangan pasti punya kelebihan tersendiri. Picik rasanya jika memberi penilaian berdasarkan kekurangan seseorang. 


Anggap saja tengah mengasuh seorang adik!tekad Anggara. 


IQ seseorang yang mengidap keterbelakangan mental adalah rendah. Sifat dan perilakunya akan mirip dengan anak kecil. Asal bisa meraih hatinya, maka masa depan yang cerah berada di dalam genggaman. 


Wajah mendung, murung, dan ekspresi buruk lainnya hilang seketika. Digantikan dengan wajah penuh semangat. Anggara menutup beranda gamenya. Ia meletakkan ponsel di atas nakas kemudian menuju lemari pakaiannya.


Di lemari, ada satu set pakaian baru yang akan digunakan saat ijab kabul nanti. Sedangkan pakaian untuk resepsi, sudah diatur oleh bagian wedding organizer. 


Pakaian berwarna senada yakni putih keemasan yang kemarin sempat ia buangkan, kini ia ambil. Anggara menuju ke kamar mandi untuk berganti pakaian. 


Ceklek!


Pintu terbuka, sepasang kaki yang dibalut dengan celana panjang berwarna putih keemasan juga kemeja berwarna senada, melangkah keluar. Anggara kemudian bercermin, merapikan rambutnya kemudian memakai kopiah untuk melengkapi penampilannya. Anggara menyunggingkan senyum simpul. Kadar ketampanannya bertambah. 


"T-tuan muda?" Pelayan yang tadi membawakan makanan untuk Anggara terpaku dan tergagap melihat penampilan Anggara. Sebelumnya begitu muram namun kini terlihat bersemangat. 


"Mama ada di mana, Bik?"tanyanya dengan nada ceria.


"D-di ruang tengah, Tuan Muda," jawabnya terbata. Pelayan itu belum mampu mengendalikan keterkejutannya. 


Anggara mengangguk kemudian bergegas keluar.


Aneh? Apa Tuan Muda menjadi gila karena begitu tertekan?batinnya bingung. Dan dalam kebingungannya ia membereskan kamar Anggara. 


"Ma!" Anggara berlari dan berdiri di depan Clara dengan kedua tangan direntangkan lengkap dengan senyum manisnya.


"Angga?!"


Clara yang tengah menenangkan diri atas kekalutan hatinya l yakni memikirkan nasib Anggara terhenyak melihat penampilan Anggara. Matanya terbelalak, netranya juga menyiratkan ekspresi cemas.


Baju yang kemarin Anggara campakkan kini dikenakan dengan wajah meminta pendapat. Bahkan Anggara memutar tubuhnya, menunjukkan bahwa ia menyukai pakaian itu.


"Aku menerimanya dengan ikhlas. Aku tidak merasa dipaksa, aku memilihnya sebagai jalanku!"ucap Anggara lantang. 


"A-apa?!" Clara merasa pendengarannya bermasalah. Kemarin dan beberapa hari belakangan Anggara menolak keras keputusannya dan Bayu. Bahkan sampai mogok makan. 


"Aku akan menikah dengannya, tanpa paksaan. Ini adalah keputusan yang aku buat!"ulang Anggara. Clara menatap semakin cemas Anggara. Wanita itu berdiri dan membawa Anggara duduk di sisinya. Di ceknya suhu tubuh Anggara. 


"Tidak panas? Apa yang terjadi padamu, Nak? Apa kau begitu tertekan hingga mempengaruhi kinerja otakmu?"cemas Clara. Ia memeluk Anggara dan menangis.


Clara merasa sangat bersalah. Ia sangat mencemaskan kondisi Anggara yang ia kira akibat dari tekanan yang diterima. Anggara menepuk-nepuk pelan punggung Clara. 


"Ma, Angga serius. Jangan merasa bersalah dan tertekan lagi. Angga kini sama sekali tidak keberatan dengan keputusan yang kalian buat. Aku rasa itu keputusan yang terbaik untukku."


Bukannya tenang, tangis Clara semakin pecah. "Don't cry, Mom. Aku sungguh baik-baik saja." Anggara menghapus air mata Clara dengan ibu jarinya. 


"Huhu bagaimana bisa aku tidak menangis, Nak? Aku mengorbankanmu demi keogisanku sendiri," isak Clara. Anggara segera menangkupkan kedua tangannya pada pipi Clara. Ia menatap dalam sang ibu. 


"I'm fine, Mom. Angga baik-baik saja. Tadi, Angga shalat istiqarah, Allah sudah memberi pencerahan untuk Angga. Jadi, Mama nggak perlu sedih lagi. Angga sudah dewasa. Sudah bisa menentukan mana yang terbaik untuk Angga. Jika memang Azzura adalah jodoh Angga, tidak masalah. Angga menerimanya dengan penuh kelapangan dada," tutur lembut Anggara.


Clara terperangah. Ia melongo mendengar penuturan putra sulungnya itu.


"Azzura?" Sebelum ini, Anggara selalu memanggil calon istrinya dengan gadis idiot. 


Anggara mengangguk. Ia kemudian berdiri, dan sekali lagi meminta pendapat Clara tentang penampilannya. 


"Perfect kan?"tanyanya dengan senyum mengembang. Clara mengangguk dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Anggara memang perfect dengan penampilannya. Jika lusa ditambah dengan sentuhan bagian make up, Anggara akan menjelma menjadi seorang pangeran. 


Anggara tersenyum puas. Ia lantas meminta agar Clara memotretnya, untuk dikirim kepada kembaran dan kakaknya, juga pada Bayu agar pria tua itu tidak lagi kepikiran tentang dirinya, fokus dalam hal menstabilkan dan mengembalikan posisi aman perusahaan. 


*


*


*


Tap


Tap 


Tap


Suara langkah kaki menyusuri koridor rumah sakit lantai empat yang lenggang. Seorang pria tampan, pemilik suara langkah kaki itu membawa sebuah map coklat di tangannya. Ia berhenti di depan kamar VVIP 3, menarik dan menghembuskan nafas sebelum akhirnya masuk ke dalam kamar rawat itu.


"Assalamualaikum," sapa Gibran sedikit canggung.


"Waalaikumsalam," jawab Nesya dan Dylan. Nesya memalingkan wajahnya dari layar laptop.


Begitu juga Dylan yang mengalihkan perhatiannya dari buku, laptop, dan ponsel yang berada di atas meja sofa. Ia menyipitkan matanya selidik pada Gibran. Gibran menunjukkan map coklat yang ia bawa pada Dylan. 


Dylan mengangguk paham. Ia ingat bahwa Nesya kemarin mengatakan bahwa Gibran akan kemarin lagi besok untuk mengantar dan meminta tanda tangan Nesya untuk surat perjanjian keduanya.


"Bacalah, lalu beri tahu aku pendapatmu tentang isinya," ujar Gibran.


Nesya menerima map coklat itu. Gibran duduk di bangku dan mencuri pandang ke arah layar laptop yang menanyakan drama korea tahun 2019 yang berjudul Hotel Del Luna. Nesya menyadarinya, lalu mengklik pause dan merendahkan layar laptopnya. "Ah maaf," ucap gagap Gibran.


Nesya tidak menggubris, ia ingin masalahnya dengan Gibran cepat usai. Dibacanya dengan teliti surat perjanjiannya dengan Gibran yang intinya kedua belah pihak tidak menuntut dan memaksakan kehendak untuk bertanggung jawab terhadap insiden yang keduanya alami, sampai kapanpun!


Nesya tersenyum tipis, ia mengulurkan tangannya meminta pena pada Gibran untuk tanda tangan. "Sesuai?"


"Ya."


"Sudah selesai. Satu salinan denganku dan yang lain padamu. Urusan kita telah selesai. Semoga kita tidak akan pernah berurusan lagi di masa depan!"ucap Nesya. Gibran tertegun sesaat. 


"Haruskah seperti itu?"


"Ya. Lupakan semuanya tentang apa yang pernah terjadi di antara kita. Anda dan saya punya kehidupan yang berbeda, saling tidak mengenal dan berurusan lagi adalah jalan yang tepat!"


"Kalau begitu … selamat tinggal."


Gibran membereskan barangnya kemudian berdiri, sebelum keluar ia beberapa detik membungkukkan kepala pada Dylan.


"Have a nice day!"ucap Dylan dengan senyum polosnya. Mata Gibran membulat sesaat sebelum akhirnya tersenyum dan berlalu keluar.


Di luar, Dylan bersandar sejenak pada dinding. "Berakhir begitu saja?"gumamnya seakan tidak rela.


*


*


*


Bella membereskan mejanya setelah selesai bekerja. Hari ini pekerjaan selesai di pukul 17.30. Ken memakai jaketnya. Lalu melangkah mendekati jendela, melihat suasana sore ibukota. 


"Besok temanku dari Jerman akan datang ke Indonesia. Rencananya guna memudahkan proses hipoterapi akan tinggal di paviliun. Aku sudah meminta izin pada Papa nanti malam," beritahu Bella. 


"Sepertinya kalian sungguh dekat."


"Aku punya banyak teman dekat di Jerman," sahut Bella.


"No problem. Asal demi kebaikan, itu tidak masalah."


"Bagaimana dengan terapis yang kau sarankan?"tanya Bella. 


"Rencananya besok kita akan menemuinya," jawab Ken. 


"Okay. Besok hari free, it's okay. Bagaimana jika setelahnya kita refresing ke mall? Sekalian beli kado untuk pernikahan Anggara dan Azzura?"saran Bella.


"Good idea!"sahut Ken.


*


*


*


"Loh belum balik, Vi?"tanya Bella yang mendapati Silvia masih berada di basement sendirian seakan tengah menunggu seseorang.


Pasalnya Brian dan Silvia sudah keluar ruangan untuk pulang sekitar setengah jam yang lalu.


"Kak Brian mana?"tanya Ken yang tidak mendapati kakak tertuanya dengan Silvia. 


"Mobil kalian mana?"tanya Ken lagi, yang tidak mendapati mobil yang biasa digunakan Brian pada tempatnya. 


"Kau ditinggal?"terka Bella.


Silvia yang menerima rentetan pertanyaan dari adik ipar ketiganya menggelengkan kepalanya. Ia sebenarnya juga tidak tahu ke mana Brian pergi. Tadi ia diperintahkan oleh Brian untuk menunggu di sini.


Suaminya itu lantas pergi dengan mobil dan sang sopir, mengatakan bahwa ia akan kembali secepatnya. Ini sudah hampir setengah jam, Silvia mulai was-was. 


"Via?"panggil Bella yang melihat Silvia kebingungan.


"Ah ya? Aku juga tidak tahu ke mana Mas Brian pergi. Dia hanya menyuruhku untuk menunggu di sini," jawab Silvia.


"Menunggu? Selama ini?"


Ken dan Brian saling tatap. Keduanya bertanya-tanya kemana perginya Brian hingga meninggalkan dan menyuruh Silvia untuk menunggu Brian menjemput. Baik Ken dan Bella sama-sama tidak percaya jika benar Brian meninggalkan Silvia tanpa memenuhi janji untuk menjemput. 


Belum habis kebingungan mereka, terdengar suara motor mendekat. "Kawasaki Ninja ZX-10R," ucap Bella yang membuat Ken dan Silvia menatapnya kaget. Setelah Bella berkata demikian, sebuah motor dengan seri yang Bella ucapkan tadi berhenti di depan ketiganya. 


"Bagaimana kau bisa tahu, Abel?"


"Bagi pecinta otomotif itu hal kecil," sahut Bella. Menantikan siapa pengendara motor di depan mereka itu membuka helm. 


"Kak Brian?!" Ken terkejut bukan main setelah pengendara motor itu membuka helmnya. Silvia hanya melongo, mengucek matanya memastikan bahwa yang itu benar Brian. Bella menaikkan alisnya. 


"Ayo naik," ucap Brian datar pada Silvia.


Bella tersenyum penuh arti, menyenggol Silvia agar segera naik ke motor Brian.


Silvia bagai orang linglung menurutinya. Ia naik. 


"Eh tunggu!"seru Bella.


"Ada apa?"tanya Brian. 


"Kau ini! Niatnya mau romantis nanti malah berujung rumah sakit," keluh Bella. Pasalnya Silvia tidak berpegangan pada apapun.


Silvia membeku kala Bella mengarahkan kedua tangannya memeluk pinggang Brian. Brian juga tersentak pelan. Ia merasakan desiran aneh, tubuhnya seakan tersengat listrik tegangan rendah. 


"Ini baru benar. Naik motor itu, apalagi suami istri harus pegangan!"pungkas Bella. 


"Maklum, belum berpengalaman," imbuh Ken. Keduanya tersenyum menggoda pasangan kaku itu. Mereka seperti baru kenalan padahal sudah dua tahun menikah. Ckckck!