
Ken terperangah kagum saat melihat Bella keluar dari ruang ganti. Selama ia mengenal Bella, baru ini kali pertama Bella mengenakan setelan jas. Ia berdecak, semakin terpesona dengan Bella.
Bella yang tengah merapikan ujung jasnya, menoleh saat merasakan ada tatapan penuh bunga yang tertuju padanya.
"Hei? Ken? Hei kau kenapa?" Ken mengerjap, tersadar dan langsung tersenyum manis.
"Aruku tambah cantik plus berwibawa dengan jas. Mengapa hari ini pakai jas?"tanya Ken, ia melangkah mendekati Bella, melingkarkan kedua tangan pada pinggang Bella.
"Acara hari ini sangat formal. Jadi aku harus berpakaian formal juga," jawab Bella.
"Kau sendiri? Mengapa belum pakai dasi?"tanya Bella heran, ia melepaskan diri dari Ken dan menuju meja rias.
"Aku tak bisa memasang dasi," jawab Ken. Ia mengikuti Bella setelah mengambil dari yang tersedia di laci.
"Aku tak percaya. Jadi saat sekolah dulu, apa dasimu selalu dipasangkan orang lain?"sahut Bella, setelah itu memberikan sedikit polesan pada wajahnya.
"Ini acara formal, jika pasang sendiri, hasilnya seperti cakar ayam," ucap Ken, duduk di tepi ranjang. Ken menatap sendu dasi di tangannya.
"Jadi intinya kau mau aku yang memasangnya?"
"Apa aku harus memanggil pelayan lagi?"
Bella langsung menatap Ken. Tatapan matanya tajam, membuat Ken sedikit bergidik. Bella berdiri, ia mendekati Ken.
Tangannya terulur meminta dasi Ken. Dengan perasaan gugup Ken memberikannya. Padahal sudah sering berdekatan seperti ini, tapi rasanya masih sama, debaran itu kian menjadi. Dari waktu ke waktu semakin berkembang kayaknya sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.
Bella menegaknya kerah kemeja Ken. Tatapannya matanya hanya terfokus pada belitan dasi yang ia buat.
Dalam waktu singkat, dasi sudah menambah penampilan Ken. Bella kembali merapikan kerah baju Ken, "sudah."
Bella berniat untuk mengecek kembali barangnya di dalam ransel. Belum sempat kakinya berputar, Ken sudah mencekal tangannya dan menarik Bella cepat. Bella mengerjap pelan saat tahu ia duduk dalam pangkuan Ken dan ya morning kiss yang kedua kalinya.
Hanya sebentar, Ken melepaskan bibir Bella dan tersenyum penuh arti, "untuk memulai sesuatu yang penting dibutuhkan asupan yang lebih."
Bella mendengus, "dasar bocah! Lihat akibat perbuatanmu! Huh!"
Bella kembali menuju meja rias. Melihat lispstipnya yang berantakan. "Cepat pakai jasmu setelah itu kita sarapan!"titah Bella. Dan Ken tetap duduk di tepi ranjang menatap lekat Bella. Bella bergidik sendiri merasakan tatapan lekat itu.
"Cepatlah. Acara ini sangat penting. Jangan permalukan Papa dan dirimu sendiri!"ucap Bella lagi, dan Ken tetap diam.
"Ken?!" Selesai membereskan riasannya, Bella menatap garang Ken yang senyumnya semakin melebar.
"Astaga! Kau benar-benar manja!!"gerutu Bella. Dengan bersungut-sungut, Bella menuju ruang ganti dan kembali dengan membawa jas berwarna hitam.
"Berdiri!" Ken menurut. Ia berdiri dengan kedua tangan merentang lebar.
"Ya ini memang tugas istri. Huh belajarlah untuk pakai dasi sendiri. Kelak aku akan sangat sibuk, kau tidak bisa bergantung sepenuhnya padaku," ujar Bella. Ken tidak menjawab, ia masih tetap setia menatap wajah Bella yang sibuk memakaikan jas padanya. Omelan Bella terdengar seperti senandung indah di telinganya.
"Sudah selesai. Coba ku lihat dulu." Bella mundur beberapa langkah. Ia menilai penampilan Ken. Jas okay, kemeja dan dasi pas. Rambut hmm ….
Bella menarik lengan Ken menuju cermin, memberikan sedikit sentuhan pada rambut Ken.
Setelah selesai dengan rambut, Bella kembali menilai. "Ah satu lagi. Sebentar." Bella kembali ke walk in closet.
Ken menanti seraya kembali merapikan penampilannya, "kau sudah tampan. Lebih tampan lagi saat Aru yang mendandanimu," gumam Ken.
"Nah ini dia," ujar Bella, menarik lengan kiri Ken dan memakaikan jam tangan pada pergelangan tangan Ken.
"Jam tangan?"
"Yups, ini baru perfect, sama sepertiku," ucap Bella merasa senang, menunjukkan jam tangan berwarna silver yang ia gunakan. Ken kembali terpesona dengan senyuman Bella yang menunjukkan gigi kelincinya.
"Apa ini cocok untukku? Aku bahkan belum tahu jabatanku apa. Bisa saja kan cleaning servis?"kekeh Ken.
"Hahaha cleaning servis berdasi, cocok juga."
"Ish kau ini!" Ken mencubit gemas hidung Bella. Keduanya kembali saling tatap dan meresapi perasaan satu sama lain.
Tok.
Tok.
Tok.
"Tuan Muda, Nona Muda Ketiga, Tuan Besar memanggil Anda berdua untuk segera ke ruang makan."
Ck! Pelayan itu lagi. Lagi-lagi kembali mengangguk. Ken mendengus kesal. "Iya!"sahut ketus Ken.
"Sudah ayo. Kita memang lama sekali," ajak Bella, meraih ranselnya dan menarik lengan Ken keluar dari kamar.
"Ah tunggu ponselku!"
*
*
*
Surya, Rahayu, Brian, dan Silvia serta pelayan yang ada di ruang makan menatap takjub pasangan suami istri yang melangkah menghampiri mereka di ruang makan. Wajah Bella yang tenang serta wajah Ken yang ceria, menjadi satu kesatuan.
Brian segera menyembunyikan wajah kagumnya. Adiknya lain ibunya itu terlihat berwibawa jika berpakaian formal seperti ini. Sudah mirip seorang Presdir muda. Silvia juga segera mengalihkan pandangan setelah mendapat lirikan tajam Brian.
"Pagi semua."
"Pagi."
Surya dan Rahayu tersenyum. Mereka saling lirik sama-sama menyetujui. Mereka tak bisa memuji Ken secara berlebihan. Surya dan Rahayu sepakat untuk bersikap netral walau sudah terkesan agak terlambat.
Rahayu juga ikut dalam acara pengangkatan Bella juga Ken. Wanita itu tampil anggun dengan kebaya berwarna silver dengan rambut disanggul apik. Polesan make up yang membuat wajahnya lebih muda daripada usianya.
Brian sepertinya sudah lebih tenang dan santai daripada tadi malam. Syukurlah jadi aku tak terlalu merasa bersalah.
Brian tertegun sesaat saat Bella tersenyum ramah padanya.
Ya hari ini persaingan resmi dimulai. Brian kau orang yang anti berbuat curang. Mama juga tak pernah mengajarkanmu berbuat curang. Bri kau harus yakin jika kau adalah pemenangnya. Akan tetapi … ah pikirkan nanti saja. Pasti ada jalan. Via maaf.
*
*
*
Bella menatap sejenak bangunan megah nan tinggi Mahendra Group. Bangunan yang didominasi warna putih gading dan dinding kaca itu tampak berkilau karena terpaan sinar matahari. Dicermatinya bangunan di depannya ini, hampir sama dengan Kalendra Group, bagai pinang di belah dua, mungkinkah arsiteknya orang yang sama?
Ken yang terhitung hanya beberapa kali menginjakkan kaki di perusahaan ini berdecak kagum.
"Ayo masuk, kita sudah ditunggu," ucap Surya. Kabar pergantian wakil Presdir Mahendra Group sudah tercium oleh media khususnya bagian majalah bisnis. Ken langsung merasa gugup saat kilat lampu flash menyambut langkahnya dan keluarga memasuki lobby. Kecuali Ken yang lain tampak santai dan tenang. Bella, ia sudah sering berhadapan dengan wartawan dan berbagai wawancara.
Karyawan Mahendra Group juga mengambil bagian untuk melihat wajah calon wakil Presdir mereka, ada dua wajah baru, mereka penasaran siapa gerangan calon itu.
Ken mengeratkan genggamannya pada Bella. Terlebih saat menaiki eskalator
Menuju lantai dia di mana di sanalah acara pengangkatan akan dilangsungkan, ternyata di sana sudah lebih banyak yang menunggu. Jajaran direksi, direktur beserta wakilnya, GM, manager, dan posisi tinggi perusahaan lainnya sudah mengisi tempat duduk. Bagian depan diperuntukan untuk anggota keluarga Mahendra. Kecuali Surya, yang lain langsung menuju tempat duduk mereka.
Suasana yang tadinya sedikit riuh berangsur tenang saat Surya naik ke podium. Ia berdiri tegak dengan tatapan tajam, mengedarkan pandang sejenak.
"Assalamualaikum Wr. Wb."
"Waalaikumsalam Wr. Wb."
"Selamat pagi hadirin yang saya hormati."
"Pagi, Pak!"
Surya kemudian menyampaikan sepatah dua kata sambutan untuk pengangkatan Bella hari ini. Tatapan mata Bella tetap tenang. Senyum tipis yang ia singgungkan ikut memberikan pengaruh positif pada Ken. Ia yang tadinya gugup tak jelas. Cemas berlebihan kini jauh lebih tenang. Ken merutuki dirinya sendiri. Ternyata hanya dia yang masih canggung, gugup, dan demam panggung di acara formal begini, lingkungan yang masih terasa asing bagi Ken. Ken juga merasa ia tak lebih baik dari El. Kakaknya itu walaupun kelakuannya tak seindah namanya, tapi El jelas punya kemampuan untuk tampil di depan publik tanpa canggung lagi. Bahkan lebih terkesan sangat santai hingga begitu percaya diri dengan penampilan nyentriknya.
Huh.
Ken menghela nafas pelan. Membahas El, Ken sangat merindukan kakak keduanya itu. Ken penasaran apakah kakaknya itu berperilaku alim di sana atau tetap tak terkendali? Ah membayangkan suasana heboh di pesantren yang tenang nan damai mengejar Ken tersenyum geli sendiri.
Ken tersadar saat Bella berdiri dari duduknya. Ken mengamati tindakan Bella. Bella lebih dulu menyapa para hadirin dengan menundukkan kepala lalu berjalan dengan langkah tegas naik ke podium.
Ternyata sudah waktunya serah terima jabatan. Wakil Presdir juga ikut naik ke podium. Bella dan wakil Presdir itu berdiri berhadapan dan melakukan serah terima jabatan dengan penuh hikmat. Setelah serah terima jabatan itu, keduanya saling berjabat tangan, "selamat bertugas, Nona Bella!"
"Saya akan memberikan yang terbaik!"
"Silahkan Abel," ujar Surya, mempersilakan Bella memberikan kata sambutan perdananya di depan segenap pemegang kekuasaan Mahendra Group. Bella mengangguk. Ia terlebih dulu mengedarkan pandang dengan tatapan tenang dan senyum tipisnya. Menarik nafas menghilangkan rasa gugup yang terselip di dalam hati. Kilat lampu flash tak hentinya memenuhi ruangan.
"Assalamualaikum Wr. Wb. Selamat pagi dan salam sejahtera untuk kita semua," ucap Bella, dengan nada tegasnya.
"Waalaikumsalam Wr. Wb/Pagi, Wakil Presdir!"
"Terima kasih saya hanturkan pada Presdir Mahendra Group, Pak Surya juga kepada jajaran direksi dan segenap karyawan Mahendra Group yang telah memberikan kepercayaan besar pada saya untuk menduduki jabatan ini."
Bella menjeda ucapannya sesaat, menatap Ken, Surya, Rahayu, Brian, dan Silvia bergantian.
"Saya yakin di antara kalian pasti ada yang kurang setuju dengan alasan ini. Saya tahu, saya orang baru di perusahaan ini. Usia saya juga masih muda tapi saya mohon kerja samanya. Saya tidak biasa mengumbar janji. Tapi saya bisa memastikan bahwa saya akan melakukan yang terbaik yang saya bisa untuk kemajuan dan perkembangan perusahaan ini. Saya sama seperti kalian, butuh bukti bukan sekadar janji manis. Jadi tolong kerja samanya, demi perusahaan karena semua juga untuk kita sendiri," ucap Bella. Tanpa takut dan ragu langsung menjawab penolakan beberapa orang yang tertangkap olehnya.
"Saya percaya pada Anda, Nona! Anda telah membuktikannya dengan membawa nama Diamond Corp masuk 50 besar perusahaan di Indonesia dalam waktu singkat. Saya juga sudah mendengar sepak terjang ada selama menjabat sebagai GM di luar negeri. Saya yakin, perusahaan akan semakin maju dengan pimpinan muda nan energik seperti Anda. Nona Bella, saya siap membantu Anda jika Anda mengalami kesulitan kelak," ucap mantan wakil Presdir dengan sejuta keyakinan dan kepercayaan.
"Mahendra Group lah yang beruntung bisa merekrut Anda, Nona Bella!" Itu suara dari kursi jajaran direksi.
"Kami menantikan pencapaian Anda, Nona Bella!" Suara bulat yang membuat Bella melebarkan senyum.
"Terima kasih atas kepercayaannya!"
Setelah itu Bella menyampaikan salam penutup dan Surya kembali naik. Bella tetap di podium.
"Hari ini saya juga akan memilih sekretaris untuk wakil Presdir kita yakni Mahesa Ken Mahendra, Ken silahkan naik." Terdengar bisik-bisik gosip. Mereka kaget dan tak percaya bahwa Tuan Muda Ketiga yang biasanya acuh dan sama sekali tak menunjukkan minat pada bisnis kini masuk perusahaan sebagai sekretaris Bella.
Ken berdiri dan berusaha tenang dalam melangkah. Ia sungguh tak menyangka ternyata inilah posisi yang dikatakan Surya, tidak akan mengecewakanku dan Ken sangat senang dengan keputusan ini.
Masih masa pengantin baru. Wajar jika posisinya seperti itu.
Sekretaris? Posisi yang cocok untuk pemula.
So sweet, Presdir tahu bahwa anak dan menantunya saling mencintai jadi sengaja memilih posisi itu untuk Tuan Muda Ketiga.
Bukankah ini terasa aneh?
Sepertinya akan ada persaingan.
Ah sayang Tuan Muda Ketiga sudah menikah, sayang sekali. Tuan Muda Ketiga mengapa baru sekarang Anda masuk perusahaan?
Dan masih banyak bisik-bisik lagi.
"Ehem!"
Deheman Surya mengheningkan ruangan.
"Bella, Ken, selamat bergabung!"ucap Surya, bergantian menjabat tangan Bella dan Ken.
"Selamat bergabung, Wakil Presdir Bella, Sekretaris Ken!"