This Is Our Love

This Is Our Love
Getaran asing?



Sepasang kaki melangkah pelan menuruni satu demi satu anak tangga dengan berpegang pada pembatas tangga. Sangking pelannya tidak ada suara yang ditimbulkan dari gesekan alas kakinya dan lantai. 


Tiba di anak tangga terakhir,sosok itu lebih dulu mengedarkan pandang. Pencahayaan yang hadir dari bias lampu bagian luar. Menciptakan suasana remang yang membuat sosok itu menekan ludah, takut. Ia kembali melangkah dengan hati-hati seperti tidak paham dengan tata letak barang.


 Ia meraba dinding, mencari sesuatu di sana.


Ceklek! 


Lampu salah satu ruang menyala, bagian dapur. Dan sosok itu adalah Dylan. Pria imut itu sedikit menghela nafas kemudian melangkah memasuki dapur. 


Dylan yang tidak familiar dengan rumah dan dapur ini mengecek setiap lemari yang ada di dapur, termasuk kulkas. Dylan menghela nafas kasar dan duduk lesu di kursi dekat dengan meja kopi.


"Aku lapar," gumam Dylan seraya menepuk pelan perutnya.


"Tidak ada makanan." Dylan kemudian menyembunyikan wajahnya di balik lipatan tangannya di atas meja. 


Dylan punya kebiasan makan di tengah malam. Ia mudah lapar dan bangsa tak tahan lapar. Dulu semasa kecil keluarga juga pembantunya yang paham dengan kebiasaannya, selalu menyisikan makanan di tempat penyimpanan untuk Dylan. 


Cemilan dan roti juga tak pernah habis di rak penyimpanan. 


Dan itu mulai kembali lagi. Ini pukul 02.00, Dylan keluar kamar dengan hati-hati agar tidak menimbulkan suara yang takutnya menganggu yang lain. 


Perut Dylan berbunyi nyaring. Ia mengangkat wajahnya yang tampak menyedihkan. Rasa kantuknya sungguh tidak ada. Rasa lapar begitu mendominasi. 


Sesaat kemudian wajah Dylan berubah ragu. Ia menatap keluar dapur. Dylan mengigit bibir bawahnya dan kembali memberi tepukan ringan pada perutnya.


Tidak. Kak Abel bukan seperti dulu. Kak Abel sudah menikah dan orang dewasa tidak pernah merepotkan orang lain. 


Dylan berkata pada dirinya sendiri, ia menggeleng pelan. Wajah ragu masih tercetak jelas. Dan sorot matanya tak bisa berbohong saat Dylan melihat ke meja masak, di mana di sudut meja terdapat keranjang berisi mie instan.


Ia kembali menggeleng pelan, ia mudah lapar tapi sama sekali tak bisa memasak walau hanya sekadar mie instan. 


Ingin meminta tolong pada pelayan, Dylan merasa dirinya tidak bisa melakukan hal itu. Ia hanya tamu, tak ingin merepotkan keluarga ini walaupun itu pelayannya. 


Lagipula Dylan tidak tahu kamar pelayan. Setahunya semua pelayan di sini ada asrama di bagian belakang mansion dan mansion ini sangat luas!


Hah! 


Helaan nafas pria imut itu begitu berat. Ia berdiri dan dengan langkah gontai meninggalkan dapur, tak lupa mematikan lampu. 


Saat melangkah menaiki anak tangga, tiba-tiba Dylan merasakan ia bertabrakan dengan sesuatu. Diikuti oleh suara pekikan tertahan. 


Di tengah kegelapan, Dylan menahan pinggang yang bertabrakan dengannya. Pinggang ramping juga suara wanita, Dylan menerka dalam gelap. 


Sementara wanita itu tampak terpaku, ia sendiri memegang lengan Dylan. Keduanya saling menerka dalam gelap. 


Wangi kasturi, apa dia Dylan?terka wanita itu dalam hatinya disusul oleh perasaan asing yang hadir di hatinya. Di dalam gelap itu, wajahnya memerah.


"A-Anda tak apa?" Jika wanita, kalau bukan Bella, Rahayu, ya Silvia. Dan ini bukan pinggang Bella. 


Rambut panjang wanita itu sempat menyentuh walau Dylan. Rahayu? Tidak seramping ini. 


Dan Dylan tahu aroma Rahayu adalah citrus bukan lavender. Hanya ada satu jawaban, Silvia.


"A-Anda tidak apa kan, Nona?"tanya Dylan cemas.


"Dylan? Ah aku tidak apa. Untung kau sigap menahanku." Silvia tersadar dan melepaskan diri dari pelukan tangan Dylan.


Silvia yang hafal letak sakelar lampu langsung menyalakannya. "Tenyata benar dirimu. Apa yang kau lakukan tengah malam begini di bawah?"


Dylan merasa malu untuk mengatakan alasannya. 


"Cari angin, Nona. Saya tidak bisa tidur," bohong Dylan. 


"Nona? Kau memanggil mertuaku dengan Bunda, mengapa memanggilku Nona? Adik Abel juga adikku. Anak manis panggil aku Kakak saja ya!" Tatapan Silvia mengintimidasi Dylan. 


Dylan terperangah. Ia nengerjap pelan. Silvia sedikit menyeringai.


"Kenapa diam? Ayo jawab 'ya'!"sentak Silvia gemas. Wajahnya tak sabar menanti Dylan memanggilnya Kakak. 


"K …." Baru satu kata, dengan lancangnya perut Dylan berbunyi, sungguh nyaring dan membuat Silvia terkesiap. "Kau lapar?"tanya Silvia memastikan. Dylan tersenyum canggung, ia mengangguk dengan mengusap tengkuknya.


"Ke dapur mencari makan tapi tidak ada?" Dylan kembali mengangguk. Silvia mendengus senyum, istri Brian itu langsung meraih dan menarik tangan Dylan ikut dengannya.


"Kau itu adik Abel, keluarga kami juga. Jika kau lapar, bisa panggil Pelayan untuk membuatkanmu makanan. Makan malam di rumah ini memang selalu tak tersisa," ujar Silvia. Dylan yang merasakan getaran aneh saat ditarik oleh Silvia tidak menjawab. Ia hanya menatap lekat tangan Silvia yang menarik tangannya. Dylan bak daun yang jatuh sungai, mengikut aliran tanpa bisa menolak. 


Silvia mendudukan Dylan di meja makan. Wanita berusia 25 tahun itu lalu mengambil tempat duduk berhadapan dengan Dylan. Dylan hanya diam menatap Silvia. Silvia tersenyum lembut kemudian mengalihkan tatapan pada keranjang mie instan di sudut meja masak. "Kau bisa makan mie instan, kan?"tanyanya memastikan. Dylan mengangguk pelan, "aku bisa makan apapun asalkan halal."


"Tidak perlu, Kak. Aku sudah tidak lapar lagi. Aku akan kembali ke kamar saja. Maaf tadi membuat Kakak hampir jatuh," tolak dan sesalnya, Dylan menunduk. Silvia tampak tidak senang. Alisnya mengerut dalam. 


"Aku tak mau selama di sini kau menjadi semakin kurus dan sakit. Nama keluarga Mahendra akan menjadi buruk jika sampai tercium publik. Dan aku akan memaafkanmu jika kau duduk menungguku memasak di sini!" Silvia berkata tegas. Ia berdiri dan menatap Dylan tajam. Dia menggeleng dan menyatakan dengan tangannya bukan itu maksudnya. Bibir hanya terbuka tipis. "Tidak ada penolakan!"


Dylan mengikuti langkah Silvia dengan matanya. Pria imut berjiwa tiga belas tahun itu hanya bisa menghela nafas pasrah. Kini ia kembali melipat kedua tangan di atas meja dan menidurkan kepalanya di sana. 


Sementara Silvia, ia menatap bingung mie instan yang baru saja ia masukkan ke dalam rebusan air yang sudah dicampur dengan telur dan bumbunya. Ada apa denganku? 


Silvia membatin. Heran sendiri dengan tindakannya terhadap Dylan. Wanita itu bahkan tak pernah memasak untuk suaminya, ah salah pernah namun karena Brian yang tidak pernah menyentuh masakannya, Silvia berhenti untuk menyentuh bagian dapur. Ya lagipula sebenarnya ia hanya bisa masak mie instan, khas anak kos. 


Pandangan Silvia beralih menatap punggung Dylan yang membungkuk tidur. Silvia menatap dalam-dalam punggung itu. 


Ia tadi turun ke dapur hendak mengambil air minum karena air minum di kamar sudah habis. Tak tahu, setelah melihat Dylan rasa haus itu hilang dan kini ia malah memasak untuk pria yang baru ia kenal.


Silvia kembali merasakan getaran aneh dalam tubuhnya saat mengingat lingkaran tangan Dylan tadi. Wajahnya memanas dan ia buru-buru kembali menunduk.


Tidak. Jangan berpikir yang aneh-aneh, Via. Cintamu itu Mas Brian. He is love and love life. 


Silvia mematikan kompor karena mie sudah matang. Sebelum mengambil piring, Silvia memegang dada bagian jantungnya, "mungkin karena jiwanya." Silvia meyakinkan dirinya sendiri. Di sini hanya ia yang merasakan perasaan asing sedangkan pria imut itu, jiwanya masih 13 tahun, usia yang masih belia untuk merasakan ketertarikan terhadap lawan jenis terlebih pada wanita yang berusia 2 kali lipat darinya.


"Dylan, wake up. Miemu sudah jadi." Silvia telah duduk di hadapan Dylan dengan sepiring mie di tengah keduanya. Dylan menggumam kecil. Bulu mata yang cukup lentik ia bergerak kecil dengan alis tebal yang sedikit mengerut.


"Wake up, Dylan?!"


Panggilan kedua itu sukses membangunkan Dylan. Mata polosnya menatap Silvia. Silvia terdiam sendiri. 


"Ah itu mie nya sudah jadi. Cepat makan sebelum kembang," ucap Silvia. 


Dylan beralih menatap sepiring mie yang asapnya masih mengepul. "Xie xie," ucapnya sopan dan mulai meraih sendok.


"Kau tahu bahasa china?" 


Dylan mengangguk dengan mulut menguyah makanan.


"Seberapa bisa?" Silvia tampak antusias.


"Jika ke China mungkin tak butuh penerjemah lagi," jawab Dylan, nadanya begitu tenang. 


"Wow jadi kau bisa mengerti buku dalam bahasa china juga?" Dylan mengangguk.


"Bisa ajari aku?"


"Ajari?" Nada tanya Dylan antara aneh dan terkejut. Ia berhenti makan dan menatap Silvia yang tampak salah tingkah, tengah mencari alasan.


"Ah begini, kau tahu kan kalau aku sekretaris dan Mahendra Group banyak bekerja sama dengan perusahaan sana. Jadi kadang ada beberapa perusahaan yang mengirim email atau kontrak dengan bahasa mereka. Aku harus mencari memanggil penerjemah dulu untuk itu. Dan lagi aku sering kunjungan bisnis ke sana, suamiku paham mengerti bahasa china, sedangkan aku hanya bisa menyimak tanpa mengerti apa yang mereka bicarakan. Rasanya sungguh membosankan!" Tanpa sadar Silvia mengeluh.


 Tatapan Dylan berubah heran, "setahuku jika ada kerja sama antar perusahaan lain negara, bukankah biasanya menggunakan bahasa inggris?"


"Ya benar sih. Tapi kadang ada beberapa perwakilan yang tidak bisa berbahasa inggris. Lagipula tidak ada salahnya bukan mempelajari bahasa negara lain?" Ada alasan lain yang tidak Silvia ungkapkan. Ia sama seperti Bella, pencinta drama china.


"Hem." Pria muda itu kembali menggulung mie dengan garpu dan memasukkannya ke dalam mulut. Silvia menatap harap Dylan.


"Mengapa tidak kursus saja?"


"Er … keluarga ini biasanya kursus di rumah. Kecuali untuk hal-hal yang berbau dengan olahraga. Dan jika ada yang bisa keluarga yang mengajari untuk apa kursus dengan orang lain?" Silvia tampak ragu sendiri dengan jawabannya. Ia menyentuh tengkuknya dan tersenyum kik-kuk.


"Kan ada suami Kakak." Silvia terpelongo mendengar jawaban Dylan. Bukankah pria di depannya ini berjiwa 13 tahun? Seharusnya mudah untuk dibujuk dan betapa cermatnya ia menyimak ucapannya. Silvia terperangkap dalam ucapannya sendiri. Silvia hanya bisa tertawa tanpa suara.


"Aku memang menguasai bahasa china tapi aku tidak bisa mengajari orang lain. Aku tak tahu caranya. Aku takut kakak tidak akan mengerti apa yang aku ajarkan. Tapi jika kakak masih ingin tetap belajar, bisa minta sama kak Abel. Dia menguasai bahasa itu sejak umur 10 tahunan," ujar Dylan. Dylan tak mau ambil pusing dengan jawaban yang masih dirangkai oleh Silvia. Ia sudah kenyang dan kembali mengantuk. Selesai minum, Dylan langsung berdiri.


"Ah ya terima kasih atas makan malamnya. Aku pasti akan membalasnya. Xie xie." 


"You are welcome." Dengan masih mencerna ujaran Dylan, Silvia menjawab.


"Eh tunggu!" Dylan yang sudah diambang batas dapur dan ruangan lain, berbalik dan menatap tanya. 


"Ada apa?"


"Apa kau punya kebiasaan makan tengah malam? Ah maksudku begini, jika memang ia besok aku akan menyuruh pelayan menyisakan beberapa makanan untukmu."


Dylan berpikir sesaat kemudian tersenyum. "Xie xie." Sekali lagi ia mengucapkan terima kasih dalam bahasa asing. Dylan kembali melangkah pergi.


Xie xie. Nada bicaranya begitu lembut seperti irama air terjun yang jatuh dan mengalir melintasi bebatuan di antara pepohonan yang berbisik karena angin. Tanpa sadar, memunculkan ketertarikan. Wajahnya yang teduh menenangkan hati yang melihatnya. Bulu mata, alis, tulang hidung, dan bibir, perpaduan yang indah menciptakan sebuah kata untuk pemilik wajah itu, sempurna!