This Is Our Love

This Is Our Love
Reuni 2



"Ah Jani, kemarin katamu Ratu Es itu akan datang. Di mana dia sekarang? Apa sudah mendatar di Jakarta atau jangan-jangan cuma goshting doang?"tanya Sera pada Anjani. 


"Bella akan datang," jawab Anjani. 


"Hm kira-kira bagaimana tampilannya sekarang? Aku sangat penasaran." Sera seakan menerawang rupa Bella sekarang.


Yang pasti lebih baik darimu, sahut Anjani dalam hati.


"Jani apa dia sudah menikah?"


"Apa pekerjaannya sekarang?"


Pertanyaan demi pertanyaan mengalir pada Anjani. 


"Assalamualaikum," sapa seseorang. Semua perhatian tertuju ke arah pintu. 


"Waalaikumsalam."


"Abel!" 


"Jani!" 


Bella melangkah masuk diikuti oleh Ken. Ken memasang wajah santainya walau sedikit gugup.


"Kau lama sekali," keluh Anjani.


"Ada nyamuk nakal tadi," jawab Bella berbisik. Anjani melirik Ken yang sudah duduk dan kini menerima tatapan penasaran.


"Oh."


Anjani dan Bella lantas duduk. "Hello guys. Lama tidak bertemu kalian kalian tidak banyak berubah, ya!"sapa Bella dengan senyum tipisnya.


"Kau Bella?" Viola bertanya.


"Of Course."


"Lalu dia?"


"My Husband."


"Husband? Oh God!" Kecuali Anjani, Ken dan Arka yang lain terbelalak dengan dengan jawaban santai Bella. Ken hanya melambaikan tangannya memberi sapaan.


"Oh Bella. Kau! Kau sungguh luar biasa. Aku berekspektasi terlalu tinggi untukmu. Ku kira kau akan menikah dengan bule secara kau lama di luar negeri. Tapi, nyatanya kau menikah dengan anak ingusan. Uh anak keluarga mana ini? Apa kau kekurangan wanita di dunia ini?" Cibiran itu keluar dari bibir Sera. 


"Lantas apa hubungannya denganmu?" Sera terdiam mendengar balasan acuh dari Bella. Bahkan ia bergidik menerima tatapan tajam Bella yang tidak berubah sejak dulu. Apalagi senyum miringnya. Sungguh nyali Sera ciut.


"Eh sebentar. Artinya kau sudah pulang cukup lama ke Indo ya?"terka salah seorang pria teman SMA Bella. 


"Yups!"


"Lalu kau kerja di mana sekarang? Dan suami bocahmu itu … dia kuliah atau kerja?" Viola semakin mengorek.


"Kerja."


"Artinya sekarang kau kerja di mana?"tanya Diva penasaran.


"Pasti perusahaan kecil. Perusahaan besar mana mau menerima calon karyawan dari keluarga penipu!"jawab Sera. Niat untuk merendahkan Bella lebih besar. Nyalinya kembali besar, senyumnya menjadi mengejek. 


Bella menaikkan alisnya. Sedang Ken menoleh dengan raut wajah tidak suka pada Sera. 


"Sembarangan!"bentak Anjani kesal. 


"Penipu? Apa maksudmu?!"tanya Ken dingin.


"Ups?! Kau tidak tahu? Apa dia tidak memberitahumu tentang keluarganya? Asal kau tahu saja, ayahnya itu seorang penipu yang menggelapkan pajak perusahaan dan surat perizinan. Keluarga mereka bahkan tidak bisa bangkit lagi setelahnya," jelas Sera dengan wajah yang puas. 


"Bukankah ayahmu juga sama? Cih! Seorang anggota dewan yang korupsi. Jangan maling teriak maling, Sera! Kau tak lebih dari seorang yang mengandalkan orang lain," sahut Bella datar. Tiada raut wajah khawatirnya. Sebelum menghadiri acara ini, Bella sudah mencari tahu tentang kehidupan teman-teman SMA nya.


"Isteriku sudah memberitahuku. Kau mau membuat kami terpecah dengan masa lalu itu? Oh picik sekali dirimu!" Ken tersenyum miring pada Sera. 


"Apa yang kau katakan, Bella! Kau baru pulang sudah memfitnah orang!"bentak Sera, wajahnya kesal penuh emosi. Tangannya menggepal. Sang suami menunjukkan raut wajah bingung.


"Semua jadi saksi apakah ucapanku ini fitnah atau bukan?" Tiada yang membela Sera atau menghardik Bella. Kebungkaman yang diartikan sebagai kebenaran. Sera terpojok. Bahkan teman dekatnya tidak membela dirinya. 


"Jangan kira aku tidak tahu tentang kehidupan kalian sekarang." Bella melipat tangannya. Mengedarkan pandang melihat teman-teman SMA nya. 


"Kau, Diva, seorang model bukan? Kau juga mengalami perceraian beberapa kali, mengapa mencibir Anjani?"tunjuk Anjani. 


"Apa yang kau katakan?!" Diva tampak terkejut. Wajahnya memucat.


"Maka diamlah dan intropeksi dirimu sendiri sebelum menilai orang lain!"ucap Bella, senyum lebar membuat yang lain bergidik. Diva bungkam. Ia menunduk kala menerima tatapan aneh dari sekitarnya. Viola dikenal sebagai model yang belum pernah menikah. Namun, melihat Diva yang tidak lagi mengelak membenarkan ucapan Bella. Sungguh tidak disangka!


"Dan kau Viola …." Bella beralih menatap Viola. 


"Tidak. Aku mengerti," sela Viola langsung.


"Good!"


"Kalian ini … orang-orang yang menerima pendidikan tinggi namun karakter seperti tidak pernah sekolah. Orang yang berpendidikan tidak akan pernah merendahkan orang lain. Kalian bahkan lebih rendah daripada orang tidak pernah sekolah," cibir Ken. 


"Memangnya siapa kau anak muda?!"tanya seorang pria yang merasa tersindir dengan ucapan Ken.


"Memangnya kau siapa?"tanya balik Ken.


"Aku se …." Jawabannya terpotong saat pintu ruangan terbuka. Sosok pria tampan dengan setelan jas hitam masuk. Ia begitu stylish, melangkah lebar mendekati seseorang. 


"Maaf aku telat. Ada keterlambatan penerbangan tadi," ucapnya pada seorang wanita yang mengenakan long dress berwarna putih, rambutnya digerai dengan perhiasan yang Anjani kenali sebagai produk dari perusahaanya. Bella menatap pria itu dengan tatapan sukar dijelaskan. 


"Tidak apa. Yang penting kau datang," jawab wanita itu lembut.


"Eh kenalkan ini teman SMA ku yang sudah lama di luar negeri. Dia baru pertama menghadiri reuni SMA ku," ujar wanita itu menunjuk ke arah Bella. Pria itu menoleh pada Bella dan Ken. Matanya membulat. 


"Siang, Tuan Gibran," sapa Bella ramah.


"Tunggu, kau kenal mereka?" Wanita itu bingung. Sedang yang lain menerka Bella dan Ken menduduki posisi apa hingga Gibran, seorang Presdir dari perusahaan perbankan bisa mengenal keduanya bahkan kini menyapa secara formal.


"Tentu saja, Vania. Beliau adalah wakil Presdir Mahendra Group sedangkan Tuan Muda ini adalah Tuan Muda Ketiga dari keluarga Mahendra," ujar Gibran memperkenalkan Bella dan Ken. Semua kembali terbelalak. Terlebih Sera, Viola, dan Diva yang merasakan tamparan tak kasat mata pada wajah mereka. 


"Hola, Tuan Gibran. Tidak menyangka kita bertemu di sini. Dan tidak menyangka juga jika kau suami Vania," sapa Bella.


"Saya juga tidak menyangka jika Anda adalah teman SMA istri saya," sahut Gibran ramah. Ia berjabat dengan Bella dan Ken.


"Eh bukankah Anda Nona Anjani? Presdir Diamond Corp?" Anjani tersenyum mendengarnya.


"Senang jika pemula ini dikenal oleh Anda," jawab Anjani.


"Presdir Diamond Corp?" Okay. Dengan posisi Bella mereka tak terlalu heran. Namun, Anjani? Seorang yang dulu mereka kenal payah dalam belajar, mudah ditindas, berubah menjadi Presdir dari perusahaan besar? Sungguh? Seriusan? Jika yang mengatakannya orang lain mungkin mereka tidak akan percaya.


Lain hal jika Gibran, Presdir yang membawa perusahaannya menjadi 50 besar perusahaan terbesar di Indonesia. Ucapannya tidak mungkin salah. Tapi, bagaimana caranya? 


"Vania mengapa kau tak memberitahuku tentang ini?"tanya Gibran pada istrinya.


"Aku juga baru tahu, Ran."


"Ah lanjutkan nanti saja obrolannya. Kita makan siang dulu," ujar Anjani.


"Baiklah."


*


*


*


"Tuan Gibran," panggil Bella sebelum Gibran dan Vania meninggalkan ruang reuni. Sedang yang lain kecuali Ken, Anjani, dan Arka sudah pergi. Acara reuni sudah berakhir. Apa yang terjadi saat reuni tadi pastinya akan melekat di ingatan semua peserta reuni. Terutama untuk Sera, Diva, dan Viola yang jelas kehilangan muka. Bahkan tadi, hubungan Sera dan suaminya terlihat merenggang. 


"Boleh kita bicara empat mata?"


Mendengar nada serius Bella, Gibran mengangguk dengan menerka-nerka apa yang ingin Bella bicarakan.


"Aku menunggu di luar," ucap Vania kemudian keluar.


"Jangan terlalu lama," bisik Ken, kemudian keluar disusul Anjani dan Arka.


"Ada apa yang ingin Anda bicarakan, Nona?"tanya Gibran penasaran.


"Melihat wajah saya apa Anda tidak merasakan sesuatu?"tanya Bella dingin.


"Maksud Anda?" Gibran mengeryit tidak mengerti.


"Empat bulan lalu. Tanggal 22, di hotel ini juga, apa Anda mengingatnya?"


Gibran diam mengingat apa yang Bella tanyakan. Tak berapa lama wajahnya berubah menjadi waspada.


"Apa yang Anda inginkan?"tanyanya to the point.


"Aku tidak ingin apapun selain kau meminta maaf padanya. Apa kau tahu dampak dari malam itu?"


"Anda siapanya?"


"Aku? Kau tanya aku siapa? Aku kakaknya!"


"K-Kakak?"


"Benar sekali, Tuan Gibran. Aku kakak dari Nesya Aruna Chandra. Kakak dari orang yang telah Anda ambil kehormatannya tanpa bertanggung jawab! Dan apa kau tahu dampaknya?" Emosi Bella meledak. Ia mencengkeram kerah baju Gibran. Gibran terbelalak. Ia sungguh terkejut. 


Belum habis keterkejutannya, Gibran terhuyung dan terjerembab menerima pukulan keras Bella. Keributan itu tidak terdengar keluar sebab ruangan yang kedap suara.


"T-tunggu, Nona. Aku bisa menjelaskannya!" Gibran menahan tangan Bella. Wajah Bella merah padam. Amarah beberapa hari ini ia lampiaskan pada Gibran.


"Penjelasan apa?" 


"Apa penjelasanmu sekarang penting? Huh tidak ada tanggungan lagi!"


"Tanggungan? Tanggungan apa?"


"Selamat anakmu yang berada di rahim adikku telah pergi dan sekarang! Sekarang adikku sangat menderita karenanya!"ucap dingin Bella. Kini membersihkan tangannya dengan sapu tangan.


"Jika kau ingin menjelaskannya, jelaskan pada adikku. Anda tenang saja, aku tidak akan meminta tanggung jawab Anda. Dan selamat atas karma untuk Anda!" Seusai mengatakan hal itu, Bella keluar meninggalkan Brian yang terpaku. 


"Vania kau tidak pernah berubah," ucap Bella sebelum melangkah pergi.


Vania tetap dengan wajah datarnya, "kau juga, Abel," sahutnya pelan.


Vania, seorang yang acuh dengan sekitar. Ia tidak peduli dengan orang lain. Mau mereka melakukan apapun baik atau buruk, asalkan tidak menyeret namanya, ia tidak akan ikut campur. Orang yang cerdas namun anti sosial. Menghadiri acara seperti ini ia diam tanpa niat menimbrung. Cukup datang yang lain tidak peduli. 


Wanita cantik dengan penampilan sempurna. Sayang, ia divonis tidak bisa memiliki anak. Beruntung memiliki suami yang mencintainya tanpa mempermasalahkan ada tidaknya seorang anak, sepertinya?!


Sedangkan di dalam, Gibran masih terduduk di lantai dengan tatapan rumit.


"Apa maksud ucapannya tadi? Wanita itu hamil? Dan janinnya gugur? Adiknya menderita?"


"Artinya wanita itu keguguran yang menyebabkan adiknya mengalami kondisi ...."


"God! Apa yang harus aku lakukan sekarang? Bagaimana jika Vania tahu?"


Kesalahan satu malam yang terus membekas dan menyerang batinnya. Gibran merasa bersalah pada istrinya juga wanita yang menghabiskan malam dengannya tempo hari.


Sebuah khilaf yang menyakiti banyak orang.


"Aku harus menemui dan meminta maaf padanya," tekadnya sebelum berdiri dan merapikan penampilannya.