This Is Our Love

This Is Our Love
Keheranan Silvia, Duka Twins A



"Hmm?" Silvia terheran-heran melihat Brian yang menikmati makan siangnya setelah kembali dari ruang meeting dengan dewan direksi tadi. Silvia sendiri sudah makan lebih dulu. Awalnya mau menunggu Brian kembali baru makan bersama. Namun, Brian melarangnya, menyuruhnya untuk makan lebih dulu. Silvia menurut dan kini mengamati Brian yang sedang makan satu porsi rujak. 


Sekilas tidak ada yang aneh. Wajar kan siang-siang, suasana panas begini makan rujak. Hanya saja, yang menjadikannya sebuah keanehan adalah buah untuk rujak berasa asam semua, padahal Brian sangat tidak menyukai buah yang berasa asam. Tapi, ini malah sangat menikmatinya. Silvia sendiri saja merasa ngeri untuk menyantap mangga muda, cermai, dan belimbing wuluh secara bersamaan. Silvia bergidik, lidahnya mendadak terasa kelat. 


"Mas … are you okay?"tanya Silvia ragu pada Brian.


"Emm?" Brian mengangkat wajahnya menoleh pada Silvia dengan mulut masih menguyah cermai.


"Ada yang aneh, Sayang?"tanya Brian setelah menelan kunyahannya.


"Itu asam atau manis, Mas? Mas kok kayak nggak ngerasa asam gitu?"tanya Silvia dengan mata mengerjap. Brian menatap piring berisi rujak yang tinggal separuh.


"Ini enak, Sayang. Komplet kayak gado-gado," jawab Brian dengan kembali menyuapkan potongan mangga muda ke dalam mulutnya. 


"E-enak? Mas sudah suka buah asam? Dari tadi aku perhatikan Mas begitu lahap makan tuh. Aku saja yang melihatnya Mas makan merasa ngeri," ujar Silvia, sekali lagi berdigik.


"Hm?"


 Brian tampaknya tertegun. Dilihatnya dalam-dalam rujak yang tersisa dan dikunyahnya dengan perlahan yang berada di dalam mulut. Perpaduan asam, segar, dan pedas layaknya nano-nano sungguh pecah di dalam mulutnya. Rasanya sungguh enak dan membuat candu hingga Brian melupakan ketidaksukaannya pada rasa asam. 


Brian mengingat-ingat. Tadi, mendadak ia menginginkan rujak. Namun, buah yang terbayang di benaknya bukanlah buah pada umumnya. Setelah itu Brian mengingat-ingat. Buah yang terbayang di benaknya jarang bahwa cenderung tidak ada di tukang rujak. Alhasil Brian memerintahkan bawahannya untuk mencarikan buah yang ia inginkan. 


Setelah semua dapat, dibawa ke tempat di mana ada tukang rujak di sekitar jalan yang akan Brian lewati saat keluar untuk meeting tadi. Hal itu tanpa sepengetahuan Silvia. Silvia tahunya saja buah rujak Brian saat Brian membukanya. 


Sebenarnya baik orang yang disuruh untuk mencari dan tukang rujak itu sendiri mengira akan ada kabar baik. Namun, mereka orang Brian itu terlalu takut untuk mengatakannya pada Brian. 


"Mungkin seleraku ikut berubah," ucap Brian dengan tersenyum dan lanjut makan. Brian sendiri bukannya tidak menyadari. Namun, ia menganggap itu hal wajar karena kesukaan setiap orang bisa berubah, selera juga bisa berubah seperti dirinya saat ini.


"Errr … maybe," sahut Silvia. Silvia tidak ingin memperpanjang hal Ini. Baginya asalkan Brian suka dan nyaman, ia bahagia dengan itu. Dengan catatan ke arah yang baik dan benar. 


*


*


*


Angkasa sudah tiba di rumah sakit tempat jenazah sang ayah dan sopir dibawa. Angkasa menuju resepsionis dengan berlari. Paman Wahyu yang sudah paruh baya mengejarnya dengan berlari kecil. 


"Papa saya di mana, Sus?"tanya Angkasa langsung dengan nafas terengah. Matanya masih merah.


"Atas nama siapa, Dik?"tanya Suster tersebut.


"Bayu Utomo, korban kecelakaan di tol xxxx," jawab Angkasa.


"Ah Bapak Bayu, beliau ada di ruang jenazah. Di sana juga sudah ada keluarga Adik," jawab Suster tersebut dengan nada prihatin. Karena artikel yang memuat kecelakaan menyinggung sedikit profil keluarga Utomo, Suster itu tahu jika Anggara dan Angkasa kembar. Itu artinya Anggara sudah tiba lebih dulu. 


"Turut berduka cita ya, Dik. Semoga Adik dan keluarga diberikan ketabahan," ucap tulus Suster tersebut. Angkasa tidak menggubrisnya dan segera mencari ruang jenazah bermodalkan penunjuk ruangan yang tersedia di setiap koridor dan persimpangannya. 


Sedangkan Paman Wahyu baru tiba di meja resepsionis. Paman Wahyu mengambil dan mengatur nafasnya lebih dulu. "Minum dulu, Pak," tawar Suster bagian resepsionis tadi dengan menyodorkan segelas air kemasan. Paman Wahyu menerimanya dan mengucapkan terima kasih. 


"Bapak keluarganya Adik yang tadi?"tanya Suster tersebut ramah.


"Ah bukan, Sus. Saya karyawan perusahaan mereka," jawab Paman Wahyu.


"Ohh. Saya turut prihatin dengan keluarga Utomo ini. Beberapa waktu lalu istri dan anak perempuan Tuan Bayu yang pergi. Sekarang Tuan Bayu yang menyusul. Maut memang tidak disangka-sangka. Adik tadi sepertinya benar-benar terpukul. Matanya merah tapi air matanya serasa habis," ujar Suster tersebut, mengajak ngobrol Paman Wahyu. 


Paman Wahyu mengangguki hal tersebut. "Anda benar, Sus. Ini ujian untuk mereka dan saya yakin mereka pasti bisa melewatinya," ucap Paman Wahyu dengan tersenyum simpul.


"Mereka anak yang kuat, saya yakin seperti Anda," balas Suster tersebut. Paman Wahyu kemudian mengucapkan terima kasih lagi lalu berlalu menyusul Angkasa. 


Suster tersenyum menghela nafas pelan kemudian tersenyum tipis. Melihat keluarga kesedihan, tangis, histeris, dan reaksi lainnya saat ditinggal pergi oleh seseorang sudah biasa bagi setiap Suster maupun petugas di rumah sakit. Hal itu seakan sudah menjadi makanan sehari-hari mereka. Mereka hanya menutup mata sesaat sebagai tanda turut berduka.


Di sisi lain, Paman Wahyu sudah tiba di depan ruang jenazah. Di sana ada beberapa orang polisi dan melihat ke dalam ruangan, Anggara dan Angkasa tengah berpelukan erat saat melihat papa mereka yang terbujur kaku di pembaringan. Tak jauh dari keduanya, Nyonya Dinda dan Azzura berdiri dengan Azzura bersandar pada bahu mamanya. Keduanya menatap iba kembar itu. Tuan Adhitama juga masih dalam perjalanan pulang dari luar pulau begitu mendengar kabar duka akan besannya.


Paman Wahyu melangkah masuk dan berdiri di depan ranjang jenazah Bayu. 


"Kita lakukan pemakamannya langsung atau besok pagi, Tuan Muda?"tanya Paman Wahyu. Anggara melepas pelukan pada adiknya. Angkasa kembali memeluk tubuh sang ayah yang sudah kehilangan hangatnya. 


Anggara melihat jam tangannya. Pukul 14.20. Ia lalu melihat sang ayah. Dari wajahnya, terlihat damai. Anggara menghela nafas, ia sudah jadi kepala keluarga sekarang. 


"Dilangsungkan saja, Paman. Kasihan Papa jika diinapkan sampai besok," putus Anggara. 


"Kalau begitu Paman akan segera mengurus pemakaman Tuan Bayu," jawab Paman Wahyu kemudian undur diri keluar dari ruang jenazah.


*


*


*


Pukul 16.15, jenazah Bayu tiba di kediaman Utomo. Di sana sudah ramai dengan pelayat yang terdiri dari tetangga sekitar kediaman Utomo, karyawan, relasi bisnis, dan teman-teman Bayu lainnya. Di antara mereka, hadir Ken, Bella, Brian, Silvia, bahkan Gibran turut hadir. Bella dan Gibran bersikap layaknya sesama pebisnis. Mereka hanya menyapa secara formal.


Jajaran papan bunga ucapan duka cita juga turut menghiasi halaman kediaman yang merembet keluar gerbang. 


Melihat Anggara dan Angkasa yang turun dari ambulans dan akan mengangkat jenazah sang ayah yang sudah berada di dalam keranda, Ken turut ikut mengangkat keranda diikuti oleh Brian. Hal itu tentu menjadi hal yang cukup mengejutkan di antara pelayat yang hadir yang mengenal Brian sebagai pria yang dingin dan acuh pada sekitar. 


Anggara dan Angkasa menyadari hal itu tidak banyak bicara. Ruang tengah kediaman sudah dibersihkan di mana di tengah ruangan sudah disediakan tempat untuk jenazah. 


Nyonya Dinda dan Azzura juga tiba, tak lama Tuan Adhitama juga tiba. Mereka masuk bersama-sama. Di dalam ruang tamu sudah padat. 


Keranda diletakkan di tengah dan di ujung keranda diletakkan foto Bayu. Anggara dan Angkasa duduk di samping keranda sang ayah. Ken mendekati keduanya dan memeluk keduanya bergantian. Tidak ada lagi isak tangis dari Anggara dan Angkasa. Wajah mereka menunjukkan ketabahan. 


"Kakak yakin kalian bisa melewatinya," ucap Ken yang sejujurnya bingung mau berkata apa. Masalah ketabahan tentu keduanya yang lebih tahu dan merasakan, sedangkan dirinya belum kecuali Brian. Ken melirik sang kakak yang duduk diam menatap lurus ke arah keranda.


"Tiap-tiap yang bernyawa akan kembali pada-Nya. Maut adalah suatu ketetapan yang menjadi sebuah rahasia Illahi. Bagi yang ditinggalkan harus ikhlas agar yang pergi dapat tenang di sana. Allah tidak akan membebani atau menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuannya," ucap Brian dengan nada datarnya.


 Anggara dan Angkasa terpana sesaat mendengar ucapan Brian itu. Ia menggunakan salah satu firman Allah untuk menabahkan mereka. 


"Di dunia ini, kalau tidak meninggalkan ya ditinggalkan. Namun, bakti kalian berdua terhadap orang tua kalian tidak berhenti di sini. Karena untuk orang yang pergi, ada tiga hal yang bisa membantu mereka, sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang soleh. Kakak yakin kalian anak-anak yang soleh," ucap Bella dengan menepuk bergantian pundak Anggara dan Angkasa. 


"Mereka tidak pergi jauh. Mereka ada di dalam hati, selalu dekat dengan kita. Yang hancur hanyalah raga mereka, sedangkan kasih sayang mereka abadi dalam ingatan. Kalian jangan tenggelam dalam kesedihan berlarut, semua ini sudah takdir. Keikhlasan adalah jalan yang terbaik," imbuh Silvia. 


Brian, Bella, dan Silvia sudah merasakan bagaimana rasanya ditinggalkan orang tua untuk selama-lamanya. 


Jenazah hanya disemayamkan sebentar di rumah duka. Pukul 17.00, jenazah dibawa ke masjid untuk dishalatkan karena sudah dimandikan dan dikafani dari rumah sakit. 


Ken dan Brian dan para lelaki ikut menshalatkan jenazah sedangkan para wanita tinggal di rumah duka. Ada juga yang langsung pulang. 


Kediaman menjadi cukup lenggang. Karena yang tinggal kebanyakan adalah tetangga. Para pelayan gerak cepat membersihkan ruangan dan mempersiapkan untuk acara pengajian atau tahlilan malam nanti. 


Di saat semua sibuk, Azzura melirik pada Bella yang melihat ponselnya duduk di ayunan yang terletak di halaman samping. 


"Kak, aku butuh bantuan Kakak," ucap Azzura dengan berbisik. Bella menoleh sekilas pada Azzura kemudian mengkode seperti sedang menelpon, "nanti malam, okay?" Azzura mengangguk mengerti. 


*


*


*


Acara pemakaman sudah selesai. Anggara dan Angkasa menatap sayu gundukan makam ayah mereka yang terletak di sisi makam mama dan kakak keduanya, tentu saja kedua makam itu hanyalah makam simbolis. 


Anggara kemudian mengangkat pandangannya. "Terima kasih kami ucapkan kepada semuanya. Mohon Papa kami dimaafkan jika ada khilaf ataupun kesalahan yang sengaja maupun tidak," ucap Anggara. Semua mengangguk tanda sudah memaafkan. Dan satu-satu mulai bubar karena hari sudah menjelang magrib. Ada rintikan gerimis. 


"Ayo," ajak Ken pada keduanya.


Selamat jalan, Papa. 


Anggara dan Angkasa meninggalkan makam yang masih basah itu. Setelah tiba di mobil, hujan turun dengan derasnya seakan menggambarkan kesedihan Anggara dan Angkasa.