This Is Our Love

This Is Our Love
Bella menjemput Teresa



Di dalam kamarnya, MUA untuk Louis telah selesai memberikan sentuhan terakhir untuk calon mempelai pria. Louis menatap dirinya sejenak dalam pantulan cermin dari atas kepala sampai ujung kaki.


Setelan jas hitam dilengkapi dengan setangkai mawar pada sakunya. Dasi kupu-kupu sebagai perhiasan di kerah. 


Jam tangan bermerk turut menghiasi pergelangan tangannya. Penampilannya sungguh perfect untuk hari pernikahannya,  namun berbanding terbalik dengan raut wajahnya datar. 


Louis menatap penampilannya. Ia terkesiap sesaat. Di dalam, di lubuk hati terdalamnya masih mengharapkan Bella. Louis menggeleng pelan. 


Tidak Louis.


Jangan seperti ini!


Jangan kau ragukan sendiri dirimu!


Abel bahagia dengan Ken. Apa yang kau sesalkan?


Takdir memang seperti ini. Apa yang ingin kau keluhkan? Sejak awal kita memang tidak ditakdirkan untuk bersatu. Hanya aku saja yang memaksa untuk bisa bersama. 


Dan seperti awal.


Kita hanya bisa berteman dan menjadi keluarga, ini adalah sebuah ketetapan. 


Hari ini adalah hari bahagiaku. Tidak seharusnya aku ragu. 


Teresa. Dia wanita yang baik. Abel merestuinya. Dan aku … mencintainya. Apalagi yang membuatmu tidak tersenyum? 


Louis menarik senyum tipis pada bibir. Dan senyum tipis itu berubah menjadi senyum lebar. "Kau yang mengambil keputusan. Jangan ragukan keputusanmu sendiri. Jangan kecewa semua yang berbahagia. Teresa is your destiny!"ucap Louis kembali meyakinkan dan memantapkan hatinya sendiri. 


Setelahnya, Louis memutar tubuhnya, melangkah keluar dari kamarnya. 


Di ruang keluarga, semua sudah berkumpul. "Akhirnya mempelai kita turun juga," ucap Max, tersenyum lebar seraya menepuk pundak Louis.


"Kita berangkat sekarang, Dad?"


"Jika tidak sekarang, kita akan terlambat Louis. Bagaimana sih kamu ini?"keluh Rose. 


"Teresa sudah dijemput?"tanya Louis. 


"Aku akan segera menjemputnya," sahut Bella dengan memutar kunci mobil di jarinya.


"Abel?" Louis terhenyak. "Kau bisa mengemudi?" Bukankah Bella baru sembuh dari trauma, dalam waktu yang singkat kapan Bella belajar mengemudi? Kecuali Ken, Brian, Silvia, dan Dylan yang lain itu terhenyak dengan apa yang Bella katakan. 


"Ah tidak, kau ada SIM? Jangan membahayakan dirimu sendiri, Abel." Gurat kecemasan tercetak jelas di wajah mereka, terutama Louis. Bella tersenyum, ia mengeluarkan sesuatu dari tas kecil yang ia bawa, sebuah kartu. 


Itu kartu SIM. "Aku tidak akan bertindak tanpa persiapan," jawab Bella.


"Ah secepat itu kau sudah bisa mengemudi, Abel? Siapa yang menjadi toturmu?" Max mengusap wajahnya, antara terkejut, takjub, juga cemas.


"Abel lebih baik sopir saja yang menjemput Teresa," ucap Rose. 


Bella menggeleng. Ia sudah menyampaikan keputusannya pada Ken, dan Ken menyetujuinya setelah perdebatan. 


"Atau aku naik motor saja menjemputnya?"


"Eh jangan!" Ken menatap Bella dengan senyum tipisnya. Itu salah satu ancaman Bella padanya tadi. 


"Jika sudah mendapat SIM berarti sudah mendapat pengakuan dan Abel bukan orang yang suka main belakang. Jika kau ingin begitu, maka tidak apa," tukas Leo.


"Kau memang mengerti aku, Kak Leo," balas Bella. 


"Bagaimana, Louis?"tanya Bella pada Louis. Karena Louis lah yang nantinya akan punya hak atas Teresa.


Melihat Bella yang sudah memiliki SIM, mengingat watak Bella, mengingat hubungan Bella dan Teresa, melihat Ken yang tidak mencegah niat Bella itu, Louis mengangguk pelan. "Hati-hati. Pelan-pelan saja bawa mobil. Dan aku titip Teresa sebelum pernikahan," ujar Louis, lembut. 


"Itu sudah pasti!"sahut Bella. 


"Kalau begitu aku berangkat." Bella lebih dulu mencium punggung tangan Ken, Surya, Rahayu, Max, dan Rose. 


"Assalamualaikum," ucapnya kemudian melangkah pergi.


"Waalaikumsalam," jawab keluarga Mahendra.


"Kalau begitu aku kita berangkat," ajak Max. 


"Mari," balas Surya. Setelah mereka formal. Dengan Silvia dan Anjani yang pastinya memakai long dress bersama senada dengan pasangan mereka. Brian dan Silvia kompak dengan setelan warna grey. 


El dan Anjani dengan setelan berwarna maroon. Untuk Ken dan Bella berwarna biru. Sementara Surya dengan setelan jas formalnya dan Rahayu dengan dress berwarna cream bawah lutut dengan rambut disanggul. 


Untuk keluarga tentu saja setelan formal mereka. 


"Key, Arka, let's go," panggil El pada kedua bocah yang tengah bermain game. Sudah jumpa yang sefrekuensi ya langsung lengket begitu. 


Umi Hani dan Nizam tidak ikut. Mereka terlalu lelah untuk perjalanan yang sangat panjang. Ibarat dari Indonesia dengan Arab Saudi. Keduanya memilih untuk tetap tinggal untuk menyiapkan energi dan hati bertemu dengan anak dan mantan suami Umi Hani. 


Umi Hani dan Nizam tidak merasa takut atau ragu untuk makan masakan di rumah ini. Karena sejak awal Bella berkunjung sampai sering menginap, semua peralatan masak dan makan di rumah ini diganti. 


Dan jika mereka ingin makan sesuatu yang diharamkan dalam agama Islam mereka akan makan di luar. 


Namun, itu artinya mereka kurang menghormati pemilik rumah. 


*


*


*


Bella mengemudi dengan kecepatan sedang, membelah jalanan kota Berlin menuju apartemen Teresa, untuk menjemput pengantin wanita. Bibirnya melengkungkan senyum lebar. Setelah sekian bulan ia tidak melewati jalanan kota yang sudah menjadi keseharian, akhirnya Bella kembali kemari walaupun hanya sebentar saja. 


Ada perbedaan, dulu ia naik motor dan sekarang ia menyetir mobil. Sungguh sebuah perasaan yang berbeda. Begitu mendapatkan SIM, mengemudinya di luar negeri. 


Darimana Bella belajar mengemudi?


Dari mengamati dan belajar dari Ken dan Calia. Kedua orang itu adalah toturnya. Dan juga dari melihat konten YouTube tentang mengemudi. Dalam waktu singkat, Bella sudah lancar dan mendapatkan SIM A nya tanpa menyogok. 


Pancaran kebahagiaan tak bisa ditutupi dengan kacamata hitam yang Bella kenakan. Menjemput Teresa saat pernikahan adalah keinginannya sejak lama. Dan itu akhirnya terwujud. 


Dalam waktu kurang lebih setengah jam, Bella sudah di depan lobby apartement Teresa. Di sana rupanya Teresa, ibunya, dan adik laki-laki Teresa sudah menunggu. Bella tersenyum tipis.


Bella membuka pintu mobil kemudian turun. Tanpa membuka kacamatanya, ia membuka pintu bagian penumpang mobil alphard itu. 


Teresa mengeryit melihat wanita muslimah mengenakan kacamata hitam turun dan membukakan mobil, seakan itu jemputan untuk dirinya. 


"Mana jemputannya, Resa? Sebentar lagi acara akan dimulai," ucap Ibu Teresa gelisah.


"Macet kali, Bu," ucap adik Teresa.


Tatapan Teresa berfokus pada Bella yang tersenyum simpul tanpa membuka kacamatanya. "Abel?"gumamnya kemudian.


"Silahkan masuk, Nona Teresa. Tuan Muda Louis sudah menunggu Anda di tempat pernikahan," ucap Bella, dengan membuka kacamatanya kemudian membungkuk kecil ala seorang sopir yang mempersilahkan tuannya masuk. 


Teresa terbelalak. Matanya membulat. Begitu juga dengan ibu dan adik laki-lakinya.


"Nona Abel/Kak Abel?"


Bella tersenyum. Teresa segera menghampiri Bella dan memegang kedua pundaknya. "Ini sungguh kau, Abel? Ah … mobil? Kau menyetir? Traumamu sudah sembuh? Kau bisa menyentir? Sejak kapan? Oh … God! Ini sungguh mengejutkanku!"cerca Teresa. Wajahnya memeta rumit Bella yang semakin mengembangkan senyum. 


"Nona Teresa, bertanyanya nanti saja. Anda sudah ditunggu. Mari silahkan naik," jawab Bella.


"Bibi, Timotius," ujar Bella. 


Teresa, ibu, dan adiknya hanya bisa menahan rasa penasaran. Teresa segera naik. Gaun pengantinnya yang simple membuatnya tak kesulitan bergerak. Gaun pengantin ini pun dipilih oleh Louis. Tadinya Teresa ingin tetap menggunakan gaun yang dipakai untuk acara pertunangannya. 


Namun, karena pernikahan di gereja dominan dan lazimnya memakai gaun berwarna putih, maka gaun pertunangannya akan digunakan saat acara resepsi. 


Teresa memperhatikan Bella yang serius mengemudi. Tidak kaku, apalagi tegang. Terlihat sudah biasa. Caranya membawa mobil juga enak, tidak membuat yang berada di dalam minum takut dan mual. 


"Abel … kau sungguh mempelajari sesuatu dengan cepat," decak Teresa kemudian.


"Terima kasih atas pujian Anda, Nona Teresa," balas Bella.


"Mengapa begitu formal Nona Bella? Kamilah yang seharusnya …."


"Bibi, saat ini saya bertugas sebagai sopir yang menjemput pengantin Tuan Muda Louis. Maka saya harus bersikap seperti itu," jawab Bella, menyela ucapan ibunya Teresa.


"Eh Kak Abel ke Jerman sendirian?"tanya Timo.


"Tidak. Saya bersama dengan keluarga. Nanti saya akan mengenalkan Anda pada mereka," jawab Bella.


"Abel …," panggil Teresa dengan nada terharu.


"Saya, Nona Teresa," sahut Bella.


"Terima kasih. Terima kasih telah menempati janjimu yang aku kira tidak akan pernah terwujud," ujar Teresa. 


"Aku tidak akan berjanji jika tidak bisa menepatinya, Resa." Bella berhenti bersikap formal.


"Ini hadiah yang tak ternilai untukku," ucap Teresa, matanya memanas. 


"Hei, jangan menangis! Kau membuatku merasa bersalah jika make up mu luntur nanti," seru Bella. Teresa menatap langit-langit kemudian menyeka sudut matanya. 


"Aku sangat senang hingga aku tidak bisa mengendalikan perasaanku. Kau memang benar-benar saudaraku, Abel," ucap Teresa dengan menahan tangis. Semakin dibilang jangan menangis, perasaan ini menangis malah semakin kuat. "Tenang saja, make upku water proof," imbuh Teresa sebelum Bella protes. Bella tidak menggubrisnya, ia mengambil tisu dan menyerahkannya pada Teresa.


"Selamat untuk Bibi karena mendapatkan menantu idaman di seluruh kota," ucap Bella pada ibunya Teresa.


"Semakin dia menjadi idaman, semakin tinggi juga angin yang akan menerpanya nanti. Bibi hanya bisa berharap Teresa dan Tuan Muda Louis bisa saling menjaga dan melengkapi, dan tidak terpengaruh oleh angin-angin itu," turut ibunya dengan lembut, sembari mengusap punggung Teresa. Teresa tersenyum dan berpelukan dengan sang Ibu.


"Anda benar, Bibi. Tapi, saya yakin mereka akan langgeng sampai maut memisahkan."


"Aminnn." Itu langsung disahuti mantap oleh Timo. Teresa juga bukan dari keluarga yang biasa-biasa saja. Orang tuanya adalah dosen di salah satu universitas di Jerman yang artinya apartemen yang ditinggali oleh mereka adalah fasilitas dari kampus. Sayangnya, ayah Teresa meninggal saat usia masih belia. Meninggalkan sang ibu. Bersyukur mereka sudah mapan. 


Tak lama kemudian, mobil tiba di gereja di mana pernikahan akan dilakukan. Sebuah karpet merah membentang dari depan pintu mobil sampai ke dalam gereja. Pintu terbuka. Timo sebagai yang akan mengantarkan Teresa ke altar segera turun dan menghampiri sang Kakak. Tangannya terulur dan Teresa menerimanya. Teresa yang sudah memakai tudung kepalanya melangkah turun diikuti sang ibu. Seorang wartawan yang memang diizinkan untuk mengikuti acara pernikahan segera mengabadikan moment, beradu dengan fotografer yang ditunjuk. Sedangkan Bella lanjut memarkirkan mobil kemudian sebelum Teresa mencapai pintu gereja, Bella sudah masuk dan duduk di barisan di mana keluarganya berada. Agar tidak terlalu mencolok, keduanya duduk di barisan tengah namun bisa melihat dengan jelas pengantin dari tempat mereka duduk. 


Tamu yang diundang untuk menghadiri acara pernikahan tidak banyak, oleh karenanya gereja tidak terlalu ramai. Dan menikah di gereja adalah impian Teresa dan hari ini itu akan terwujud.