
Dengan hati yang menerka-nerka, Rahayu mencoba mencari apa alasan Surya bersikap demikian. Wajah Surya tadi, walaupun di matanya begitu teduh. Namun, Rahayu bukan sehari dua hari bersama dengan Surya. Sudah puluhan tahun bersama. Perasaan Surya, Rahayu perkiraan dengan terganggu. Namun, bukan dalam konteks kekesalan dengan El melainkan lebih kepada rasa bersalah.
Rahayu menghela nafas kasar. Agaknya sekarang ia sudah mengetahui alasannya. Rahayu merasa, memang Surya butuh waktu untuk itu. Untuk memaafkan dirinya sendiri.
Mengesampingkan hal itu, Rahayu langsung menghubungi El.
*
*
*
Sementara Surya saat ini memberhentikan mobilnya di pinggir jalan. Jalanan yang cukup sepi, tidak begitu senggang. Tatapannya fokus ke depan. Dalam tatapannya langsung seperti infocus yang tengah memancarkan sebuah pancaran dari komputer.
Dalam kilas balik itu terlihat seorang anak kecil yang tengah berlarian di tepi jalan kemudian tiba-tiba turun dengan badan jalan. Entah bagaimana, anak itu tiba-tiba menyeberang tanpa melihat kanan kiri.
Bertepatan ada sebuah mobil melaju dengan kecepatan kencang. Alhasil tabrakan tidak dapat dielakkan dan anak itu tertabrak dan seketika berlumuran darah. Hal itu langsung membuat orang-orang berkumpul dan ada yang menghubungi polisi.
Tak lama setelah itu, ada seorang wanita yang histeris dan langsung menangis setelah melihat rupa anak laki-laki itu. Dan seorang pria juga tampak terkejut dan begitu menyesal melihat anak laki-laki bersimbah darah.
Dan pria itu dikenali sebagai Surya sedangkan wanita yang histeris itu adalah istri pertama Surya yakni Tiara.
Sementara anak itu … anak itu adalah Elvano kecil yang mengalami kecelakaan itu di usia. Dan itu terjadi di jalan ini. Di jalan di mana Surya tengah berhenti.
Kecelakaan itu terjadi bertepatan dengan keluarga Mahendra yang tengah liburan akhir tahun di Paris. Siapa sangka? Liburan yang harusnya menyenangkan menjadi sebuah duka yang bekasnya tidak akan pernah hilang.
Masih ingat kala Nizam bertanya-tanya mengapa El bisa sebegitu sulit menyerap pelajaran?
Itu karena kepala El cidera serius akibat kecelakaan itu. Padahal sebelumnya El termasuk anak yang aktif juga cerdas.
Itulah yang mengakibatkan nilai akademik El tidak terlalu bagus. Namun, sejak kecil ia punya minat dan bakal di dunia musik yang El kembangkan lebih lanjut dengan memasuki dunia akting dan akhirnya menjadi sutradara. Minat itulah yang menyebabkan kecelakaan itu.
Sebelum kecelakaan itu, terjadi pertengkaran di antara ayah dan anak yang berakibat fatal. Surya tidak setuju saat El mengatakan ia ingin menjadi seorang sutradara, ingin menjadi seorang aktor. Karena Surya ingin El berperan penting dalam perusahaannya.
El menolak. Ia tidak mau masuk ke dalam perusahaan. Ia ingin bebas berekspresi dalam dunia akting. Surya yang mendengarnya langsung marah dan El yang merasa takut, sedih, dan kecewa dengan Surya langsung lari dari hotel tempat mereka mengingat. Dalam perasaaan kacau dan gundah itu, potensi kecelakaan semakin besar.
Tiara menyalahkan Surya atas apa yang terjadi pada El. Surya yang sangat menyesal tidak bisa mengubah apapun. Cidera itu dikatakan permanen.
Sejak saat itu, Surya tidak melarang lagi El untuk melakukan dan berfokus pada minatnya.
Dengan demikian nilai El berkembang di seni musik dan teater namun menurun di bidang akademik. Surya tidak banyak komentar. Ia menyerahkan urusan El pada Tiara.
Dan sejujurnya sejak kecelakaan itu, Tiara seperti menjaga jarak pada El dan berfokus pada Brian yang bagus nilai akademiknya. Kala itu, Ken masih kecil. Masih belum bisa mengingat hal apapun.
Perlahan, Surya menjadi acuh dan abai dengan El. Begitu juga dengan Tiara. Hal malah semakin membuat El merasa tidak diinginkan, tidak diperhatikan lagi. Dan demi mencari perhatian itulah, dia menjadi seorang badboy. Bukan broken home, lebih kepada diabaikan karena tidak sesuai dengan keinginan orang tuanya.
Rahayu yang merasa prihatin pada El pun tidak bisa berbuat banyak. Tiara melarangnya untuk ikut campur dalam urusan El.
Mereka punya anak masing-masing, maka urus saja anak mereka masing-masing. Namun, diam-diam Rahayu sering menyemangati El.
Sayangnya, dari hari ke hari, bukannya sebuah pengakuan yang El terima. Malah tatapan sinis, dingin, dan tidak suka yang harus membuatnya menebalkan wajah untuk bisa bergabung dengan keluarganya. Selain itu juga, perlakuan keluarga yang seakan menolaknya dengan sikap, membuat El semakin terjerumus dalam pergaulan bebas.
Brian sendiri yang satu ibu dengan El saja menjaga jarak. Bagaimana dengan Ken yang beda ibu?
Tentu saja mereka tidak banyak berinteraksi. Mungkin hanya saling berselisih saja tanpa menyapa. Itulah yang terjadi sebelum Bella memasuki kediaman Mahendra.
Dan penyesalan selalu datang terakhir. Namun, ada kalanya masih diberi kesempatan untuk menebus kesalahan itu. Surya mulai sadar dari kekeliruannya.
Mencoba untuk membina El melalui bantuan pesantren Umi Hani. Dan bersyukur ada penyemangat El untuk bisa berubah. El juga menyadari dia keliru, berusaha keras untuk merubah dirinya dan mendapatkan impiannya. Da beginilah keegoisan orang tua dan keinginan anak kadang menyebabkan sebuah pusaka yang akan menjadi penyesalan seumur hidup.
Surya menghela napas kasar. Sekarang putranya sudah berubah sudah menjadi lebih baik dan bahkan memiliki pencapaian yang walaupun tidak seberapa baginya mampu membuat hatinya bahagia dan bangga.
Tak terasa El sudah akan berumur hampir 26 tahun dan sebentar lagi juga akan menikah dengan seseorang yang dia cintai, Anjani. Masalah Anjani yang seorang janda tidak masalah bagi Surya.
Yang penting dan paling utama adalah karakternya, bukan statusnya. Dan terbukti Anjani membawa dampak positif bagi El.
Masalah anak anggap saja beli satu gratis satu. Lagi pula Rahayu sudah menganggap Arka sebagai cucunya sendiri. Jadi, okay- okay saja.
Kelegaan yang teramat Surya rasakan. Brian si Batu Es sudah berubah. Begitu juga dengan menantunya, Silvia.
Ken dan Bella juga sangat harmonis. Tidak ada lagi perselisihan internal di antara anak-anaknya. Di perusahaan pun mereka kompak.
Bersaing secara sportif dan saling bahu membahu dalam mengembangkan dan semakin memajukan perusahaan ke tingkat yang lebih tinggi lagi.
Mengenai pewaris sejujurnya Surya sudah memutuskannya. Hanya saja agar tidak dikira berpihak pada anak yang satu padahal anak yang satu sudah menunjukkan kemampuannya lebih dulu.
Sementara yang Surya pilih belum sama sekali. Dan demi mencegah perselisihan, hal itu lah yang mendorong Surya membuat keputusan menjodohkan dan menikahkan Ken dengan Bella.
Sebagai kepala keluarga Surya sudah bisa tenang dan lega melihat anak dan menantunya yang begitu akur dan saling membantu.
Puas melihat kilas balik tentang El, Surya kembali menghidupkan mesin mobil dan meninggalkan jalan yang mengisahkan kenangan pahit.
Surya berencana untuk memberikan sebuah pesta pernikahan yang sangat berkesan. Sesejujurnya ia sangat menyayangi El, hanya saja karena keegoisan membuatnya bersikap seperti itu selama bertahun-tahun pada El.
*
*
*
Sementara di kediaman Mahendra, sebuah pesta kecil dilakukan untuk merayakan kelulusan El dan suksesnya lamaran dadakan yang dilakukan El pada Anjani.
Daging dipanggang. Ada dua jenis daging yaitu sapi dan ayam. Yang ayam tentu saja untuk Bella.
Minuman soda dan jus menjadi pelepas dahaga.
Brian menunjukkan kemampuannya lagi dalam hal musik. Gitar dipetik dengan begitu serius, suaranya yang begitu merdu membuat yang mendengarnya menikmati nyanyian.
Dan Brian saat ini berduet dengan sang istri. Bukan hanya mereka yang mendengarkan dan menikmati nyanyian Brian dan Silvia. Tapi, juga para pelayan yang tak berada jauh dari lokasi di mana pesta kecil itu diselenggarakan.
Dylan dan Calia juga tak mau ketinggalan menundukkan bakat mereka dalam hal menari dengan menggunakan sound aplikasi tik tok yang tengah viral. Bella dan Anjani menunjukkan kemampuan mereka dalam hal memasak. Sementara El sendiri bermain game dengan Arka.
Selesai semuanya masak-masakan menikmati makan malam itu sambil ngobrol mereka menikmati kebersamaan.
Di di tengah kebahagiaan itu ada yang merasa kurang termasuk Bella yang merasa kurang lengkap tanpa hadirnya Surya dan Rahayu.
Juga adiknya nisa Nesya. Andai saja bisa, bisa bisa pulang sebentar pasti Bella sudah menjemputnya. Hanya saja itu tak bisa karena dilarang oleh hukum.
"Abel," panggil El pada Bella. "Ya ada apa, El?"sahut Bella.
Semua pandang tertuju pada El, menantikannya melanjutkan ucapannya.
"Aku sebagai Tuan Muda Kedua Mahendra Group, apakah punya hak untuk memintamu memecat salah satu karyawan Mahendra Group?"tanya El.
Bella mengeryit mendengar pertanyaan El. Dalam benaknya dan benak beberapa orang, termasuk Anjani langsung tahu apa yang ingin El katakan dan maksudkan pada Bella.
"Kau bisa menyuruhku melakukannya. Namun, aku tidak bisa melakukannya tanpa alasan yang jelas. Jika aku memecat karyawan tanpa suatu alasan, aku akan dianggap menyalahgunakan kekuasaan yang aku miliki. Tapi, ada cara lain untuk membuatmu merasa tenang dan aku sudah lakukan sejak lama," jawab Bella.
"Eh maksudmu …." Bella mengangguk. El tertegun mendengar jawaban Bella.
"Iya, Kakak. Mantan suami kak Anjani sudah Aru pindahkan ke kantor cabang di luar Jawa, tepatnya Kalimantan. Jadi, tidak perlu takut pria selingkuh itu akan mengganggu kalian berdua apalagi mengganggu Arka."
Dilihat dari mimik wajahnya, Anjani sepertinya juga baru mengetahui hal ini. Segera dia mengucapkan terima kasih kepada Bella. Sungguh Bellalah yang paling mengerti akan dirinya.
"Karena lamaran sudah diterima, maka lebih baik kalian berdua merencanakan pertunangan atau pernikahan sekalian juga boleh," saran Brian.
"Eh? Kau serius dan sadar kan berbicara seperti itu?" El masih merasa belum terbiasa dengan perubahan 360 derajat kakaknya itu.
"Aku hanya memberi saran sebagai seorang kakak. Keputusannya ada di tangan kalian berdua," jawab Brian dengan melempar pandang pada El dan Anjani yang duduk berdampingan.
Tidak ada kata terlalu cepat untuk memulai sebuah hubungan. Asalkan saling berkomitmen, cepat atau lambat bukanlah suatu masalah.
El dan Anjani saling melempar pandang. Mereka berdua seakan tengah berdiskusi lewat tatapan.
"Mengenai hal itu kurasa harus meminta pertimbangan Bunda dan Papa," ujar El.
"Berarti itu bisa kalian bicarakan dalam waktu beberapa hari lagi. Oh, iya Jani. kau bisa ikut kan hari Rabu, Kamis, dan Jum'at ke Jerman untuk menghadiri pernikahan Louis dan Teresa?"tanya Bella pada Anjani.
Anjani tampaknya terkejut. Ia masih hanya tahu kalau beberapa hari lagi adalah pertunangan bukan pernikahan Louis dan Teresa.
"Aku bisa ikut? Apa aku diundang?"
"Tentu saja! Sekarang kau kan tunanganku. Dan menurut kebiasaan Tuan muda seorang tunangan mempunyai kewajiban untuk menemaninya menghadiri acara-acara penting. Sudah seperti istrinya belum terikat tali pernikahan saja," terang El yang membuat Anjani tersipu.
"Seluruh keluarga Mahendra diundang dalam acara itu. Dan kalian tahu kan aku ini termasuk keluarga Kalendra. Jadi, aku bisa mengundang orang yang ingin aku undang," imbuh Bella.
"Kau bisa kan, Jani?"tanya El. Anjani menjadi melihat ponselnya sejenak. Ia tengah melihat jadwalnya dan kebetulan di hari itu jadwalnya tidak terlalu padat dan bisa dipindahkan ke hari lain.
Anjani mengangguk menyetujui. Dan El berseru senang.
Yess! Liburan dengan calon istri dan anaknya, di luar negeri! Kalau bisa mereka melakukan pertunangannya di Jerman.