
Anak itu terlihat polos tapi punya kekuatan yang luar biasa, terlebih kekuatan cinta.
Bella tersenyum saat meninggalkan kediaman Utomo. Melajukan motornya dengan kecepatan sesuai dengan kondisi jalan. Setelah menempuh sekian waktu perjalanan, akhirnya Bella tiba di lapas tempat Nesya direhabilitasi.
Seperti biasa, Nesya sudah menunggu di ruang tunggu dengan pakaian yang tertutup berwarna biru dengan hijab berwarna hitam. Wajahnya natural, tak memakai sedikitpun riasan, lebih ke pucat. Senyumnya mengembang saat Bella melangkah masuk.
"Kakak!" Nesya langsung memeluk Bella.
"Assalamualaikum adikku, Sayang. Apa kabarmu hari ini?"tanya Bella seraya menyentil hidung Nesya.
"Waalaikumsalam, Kakak. I'm fine. Hanya mual beberapa kali saja. Mimisan juga hanya sekali. Kondisi aku lebih baik setelah kemoterapi terakhir."
"Alhamdulillah … baguslah. Harapan sembuh kamu meningkat pesat." Bella menghela nafas lega. Ia tersenyum lebar.
"Tentu. Ada Kakak yang berjuang dan menanti diriku. Juga ada anakku, aku tak ingin mengecewakan kalian lagi," tutur Neysa sungguh-sungguh.
"Syukurlah. Adikku sudah sadar akan kekeliruannya," ucap Bella, kemudian menghadiahi Neysa kecupan di kening. Nesya tersenyum bahagia. Kakak yang lembut dan sayang menyayangi dirinya.
"Ayo berangkat." Bella menggenggam jemari Nesya, melangkah berdampingan menuju parkiran. Di parkiran, Bella menyodorkan jaket untuk Nesya kenakan. Hawa dingin tidak baik untuk kesehatan, terutama yang menderita penyakit serius.
"Kak jangan cepat-cepat ya," pinta Nesya saat Bella memakaikannya helm.
"Why?"
"Aku ingin lebih lama bersama Kakak," jawab Nesya penuh harap.
"Jika pulang nanti bisa, tapi untuk berangkat, ingat kita mengejar waktu, sudah buat jadwal dengan dokter Gane," terang Bella.
"Kan bisa menghubungi dokter Gane." Nesya menatap Bella penuh harap. Bella menghela nafas pelan.
"Baiklah … kita sesuaikan dengan kondisi jalan," pungkas Bella yang langsung diangguki oleh Nesya.
Mesin motor sudah hidup, Nesya naik dan memeluk erat Bella, bersandar pada punggung sang kakak.
*
*
*
Pukul 10.00, Bella dan Nesya tiba di rumah sakit. Karena jadwal yang sudah dibuat, jadi Nesya tidak perlu menunggu lagi. Akan tetapi, sebelum melakukan kemoterapi, Nesya lebih dulu cek kandungan. Sebuah alat pendeteksi bergerak di atas perut Nesya. Tatapan dokter, Nesya, dan Bella terarah pada layar monitor hitam putih yang menampilkan janin yang sudah memiliki telinga dan kelopak mata. Air mata Nesya jatuh setelah mendengar detak jantung sang janin. Sedangkan Bella, ia tersenyum lebar.
Setelah memeriksa kandungan yang setelahnya dibekali obat, vitamin, nasehat serta saran, keduanya langsung menuju ruang kemoterapi. Di sana sudah menunggu dokter Gane. Ia tersenyum manis pada keduanya. Dengan ramah mempersilahkan Nesya untuk berbaring. Sebelum mulai, dokter Gane lebih dulu memeriksa kondisi Nesya secara menyeluruh.
"Syukurlah. Penyebaran kankernya bisa ditekan. Untuk saat ini kondisi Nesya stabil dengan catatan jangan banyak pikiran, dan jauhi semua larangan saya. Terutama di kondisinya yang sedang hamil. Pasti akan sangat berat jika efek kanker dan dukanya hamil terjadi secara bersamaan. Bukankah morning sickness biasa terjadi pada trimester kehamilan pertama?"ungkap dokter Gane, berdecak kagum dengan ketahanan dan ketabahan Nesya.
"Mungkin beberapa bulan ke depan adalah hal terberat bagi Nesya dalam menjalani pengobatan. Semoga saja janin Nesya anak yang baik jadi tidak memberi kesulitan untuk ibunya," harap dokter Gane yang langsung diaminkan oleh Nesya dan Bella.
"Semua ini karena Kakak," ucap Nesya menatap haru Bella.
"Adikku sangat kuat. Tetaplah berjuang, Sayang. Kakak akan selalu mendukungmu!" Air mata Bella lolos.
"Dokter Gane juga berperan penting dalam penyembuhan Nesya," tutur Bella.
"Ah tidak, Nona! Saya hanya menjalankan tugas sebagai dokter. Kesembuhan bukan di tangan saya melainkan di tangan pasien itu sendiri atas izin Tuhan. Dokter hanyalah perantara," ralat dokter Gane.
"Terima kasih, dokter Gane!" Nesya berkata dengan tulus, tak lupa senyum lebar untuk dokter Gane. Dokter Gane tertegun sesaat.
Ehem.
"Sama-sama, Nesya." Ia menjawab dengan tegas tapi wajahnya berpaling. Tak ada satupun yang menyadari bahwa telinga dokter Gane memerah. Ada debaran aneh di dalam tubuhnya.
"Dokter Gane? Are you okay?"tanya Bella cemas karena Gane masih menatap lukisan lautan.
"Ah maaf, saya teringat sesuatu yang penting tadi." Dokter Gane terkesiap. Ia kembali menatap Nesya yang tampak lega.
"Baiklah. Mohon jangan ditahan jika sakit. Ekspresikan saja. Mengaduh sakit bukankah tindakan lemah apalagi pengecut," tutur dokter Gane, mulai menyuntikkan obat pada Nesya.
Nesya memejamkan matanya. Meringis pelan saat jarum ditarik dari tubuhnya. Nesya mengeratkan pelukannya pada Bella. Biarpun sudah dua kali, tetap saja rasanya sakit, tidak ada yang berubah.
"Ah dokter Gane, apa Anda ada jadwal lagi setelah ini?"tanya Bella. Dokter Gane menatap Bella dengan alis terangkat.
"Sebenarnya tidak. Nesya adalah jadwal terakhir saya hari ini," jawabnya.
"Baguslah."
"Bagus?"beo dokter Gane bingung.
"Iya. Apakah saya bisa minta tolong?"
"Tolong? Ya mungkin." Nada bicara dokter Gane tidak yakin.
"Haha … mengapa Anda tegang sekali? Sebentar lagi kan jam makan siang, saya mau beli makan siang di luar. Saya takut meninggalkan Nesya sendiri, jadi saya minta tolong jagakan Nesya sebentar," papar Bella. Dokter Gane terkesiap, ia menatap Bella tak percaya. Serius? Bella percaya padanya?
"Kakak?!" Nesya ingin protes, tapi suaranya lirih, lebih mirip sebuah rengekan.
"Tidurlah," ujar Bella, memberi tepukan lembut pada Nesya. Karena efek obat, Nesya mengantuk dan tak lama kemudian ia tertidur.
"Bagaimana dokter Gane?"
Melihat tatapan Bella, dokter Gane tak kuasa menolak. Ia mengangguk, "baiklah. Tapi saya ke ruangan dulu," jawab dokter Gane.
"Terima kasih."
"You are welcome."
Selesai membalas pesan, Bella menghela nafas lega.
Jalan kita semakin berjauhan, Kakak. Tapi aku pun tak bisa memastikan apakah dengan berjauhan, dengan memulai suatu hubungan baru bisa menghapus semua rasa dan kenangan kita selama ini. Aku harap kau bahagia selalu.
Bella menatap layar ponsel yang menampilkan fotonya dengan Louis dengan latar belakang pegunungan salju, foto itu diambil saat musim dingin tahun lalu.
"Maaf menunggu lama, Nona." Nada menyesal, Gane datang dengan tergesa. Bella mendongak, menyimpan ponsel dan memberikan senyum lebar padanya.
"No problem, Doctor Gane. Maaf merepotkan Anda."
Dokter Gane menggeleng pelan menyatakan tidak masalah. Bella kemudian segera keluar kamar dengan membawa ranselnya. Sebelum keluar rumah sakit, lebih dulu Bella membayar semua biaya administrasi.
Di dekat pintu keluar, Bella berpapasan dengan Ken dan Cia yang sepertinya baru datang. Cia tersenyum lebar melihat Bella, berbeda dengan Ken yang datar dan acuh. Ia bahwa melewati Bella tanpa ada sapaan.
"Ken itu Kak Bella loh!" Cia menoleh ke belakang, Ken malah lebih cepat mendorong kursi roda Cia.
"Wow …." Bella hanya berdecak, antara kagum dan kesal. Bella yang merasa diacuhkan mengendikkan bahunya lalu kembali melangkah.
"Ken!" Cia berseru karena setiap ucapannya yang mengenai Bella diacuhkan.
"Apa, Sayang?" Ken menyahut lembut. Cia mencembikkan bibirnya.
"Mengapa kamu abaikan Kak Bella?"tanyanya yang membuat Ken tertawa tanpa suara.
"Kenapa aku harus menggubris dia? Walaupun kami sudah menikah, aku tak pernah menganggapnya istri. Bagiku hanya kamu, satu-satunya pemilik hati dan ragaku. Lagipula pernikahan itu tersembunyi, hanya segelintir yang tahu bahwa kami sudah menikah. Jadi Sayang, please jangan bahas lagi apapun yang menyangkut aku, dia, dan pernikahan. Tolong jangan buat lukaku lebih dalam lagi," jawab Ken, lembut dan lirih di akhir. Cia terdiam. Tak lama senyumnya mengembang.
"Baiklah."
*
*
*
"Dokter Gane, terima kasih banyak telah menjaga Nesya," ucap Bella yang sudah kembali dari membeli makan siang sekaligus menunaikan salat zuhur di masjid rumah sakit. Dokter Gane tersenyum, "sama-sama, Nona. Saya juga senang menemani Nesya."
Nesya yang mendengarnya, tersenyum dan sedikit tersipu.
"Karena Anda sudah kembali, saya pamit. Ada hal penting yang harus saya lakukan setelah jam makan siang nanti," lanjut dokter Gane.
"Baiklah. Sekali lagi terima kasih dan hati-hati di jalan."
Dokter Gane mengangguk, ia menatap Nesya sekilas, tatapan mereka bertemu dan keduanya sama-sama canggung. Dokter Gane lantas segera keluar dengan membawa jubah dokternya yang berwarna putih bersih.
"Sepertinya kau senang ditemani dokter Gane," ucap Bella menyelidik.
"Eh benarkan? Mungkin karena kepribadian dokter Gane yang ramah dan mudah diajak bicara," jawab Nesya yang tampak salah tingkah.
Bella hanya menggeleng pelan, membuka bungkus makanan yang ia bawa, lalu menyuapi Nesya.
"Dekatnya harus hanya sekedar dokter dan teman," ucap Bella memperingati.
"Aku tahu, Kakak. Aku juga tidak pernah berharap akan memiliki kekasih apalagi menikah. Bahkan dalam mimpi sekalipun aku tidak berani," jawab Nesya meyakinkan.
*
*
*
Tiba saatnya Neysa pulang. Seperti biasa, Bella memapah Nesya. Keduanya berjalan beriringan dengan pandangan Bella ke depan sedangkan pandangan Nesya pada Bella.
Saat hampir mencapai pintu keluar, mereka kembali menabrak seseorang dan itu adalah orang yang sama dengan yang mereka tabrak tempo hari yakni Ken dan Cia.
Mata Ken sudah berang sedangkan Cia mengamati wajah Nesya yang tampak kesal dengan mereka.
"Kali ini bukan kami yang menabrak! Anda tidak bisa memarahi kami!"ucap Nesya sebelum Ken buka mulut.
"Benar. Kali ini kalianlah yang salah."
"Enak saja! Kalian yang tidak punya mata malah mengalahkan orang lain!" Ken berujar kesal. Nesya menatap kesal Ken sedangkan Bella memutar bola mata malas.
"Sepertinya Anda harus periksa mata!"sinis Nesya.
"Kau!" Ken mengeraskan rahang mendengarnya.
"Hei Nona, katakan pada kekasihmu untuk tidak terlalu angkuh!" Bella menatap Cia datar, kemudian mengajak Nesya melanjutkan langkah.
"Kakak harusnya dia minta maaf dulu baru kita pergi. Kalau gini dia merasa menang. Huh aku membenci pria itu!" Nesya misrah - misruh kesal, mulutnya tiada henti mengomel sampai tiba di dekat motor.
"Sudah. Untuk anak angkuh sepertinya, kata maaf untuk kita itu tidak usah diharap," ujar Bella seraya memakaikan Nesya helm.
"Hmhp! Mengapa setiap kali aku kemo pasti bertabrakan dengan mereka? Sial sekali!" Nesya bergumam.
"Kakak …."
"Hm?"
"Aku mau ganti hari kemoterapi. Bisa-bisa aku darah tinggi setiap bertemu dengan mereka. Aku juga harus menjaga perasaanku," ucap Nesya serius.
"Oh okay. Nanti Kakak atur jadwal baru dengan dokter Gane. Ayo naik."
"Kakak yang terbaik!"puji Nesya. Bella tersenyum, melajukan motornya dengan kecepatan sedang membelah jalanan dengan hari yang memasuki waktu ashar.