This Is Our Love

This Is Our Love
Pengunduran dan Pengangkatan



Pagi telah tiba. Ken merapikan dasinya di depan cermin. Penampilannya begitu formal dengan setelan jas hitam. Rambutnya disisir ke belakang, menampilkan dahinya yang putih mulus nan bersih.


Tak lupa, jam tangan melingkar di pergelangan tangan kirinya.


Ken menghela nafas. Satu kata untuk penampilannya, perfect!


Sayangnya, ada yang kurang. Ken menoleh ke nakas, di sana ada foto Bella. Ya tentu saja istrinya.


"Aru bagaimana penampilanku? Sudah tampan bukan? Ah aku selalu tampan dalam keadaan apapun." Ken bertanya dan menjawabnya sendiri.


Diraih dan dikecupnya foto Bella tersebut.


"Aru, hari ini aku akan naik jabatan menggantikanmu. Aku harap kau tidak marah ya. Hahaha aku rasa kau merasa bangga padaku. Meskipun ada nepotisme di sini, aku berjanji padamu bahwa aku pantas untuk duduk di jabatan ini!"


Rupanya hari ini adalah hari di mana Ken anak dilantik menjadi wakil Presdir Mahendra Group menggantikan Bella. Di sana juga nanti Surya sebagai Presdir akan mengumumkan Bella yang mengambil cuti karena hamil.


"Pasti mereka akan geger mendengar alasan kau cuti. Ah … sudah terbayang bagaimana membosankan dan menyebalkannya itu!" Ken mengadu.


"Aru, di sini aku berusaha bertahan dan mencarimu. Aku harap, di sana kau bertahan menungguku. Tim terbaik sudah diturunkan termasuk adikmu, Azzura," beritahu Ken.


My Lovely, My Aru, hold me!


*


*


*


Ken menghela nafas pelan. Menatap bangunan tinggi yang berdiri megah di hadapannya ini, Mahendra Group. Di samping kanan Ken adalah Surya dan Rahayu. Sedangkan di kiri Ken adalah Brian dan Silvia. 


"Ayo," ajak Surya, memimpin jalan dengan Rahayu yang memegang lengannya. 


Sementara Ken, Brian, dan Silvia berjalan di belakang Surya. Tentu saja itu menjadi pemandangan tersendiri. Dan juga mengundang pertanyaan. 


Mengapa Tuan Muda Ken hanya sendirian? Di mana wakil Presdir? 


Ketidakhadiran Bella di tengah-tengah mereka menimbulkan pertanyaan hati karyawan. 


Kelima orang itu langsung menuju lift untuk naik ke ruang yang digunakan untuk pengangkatan Ken sebagai wakil presdir menggantikan Bella. 


Di sana sudah banyak yang menunggu. Kursi kursi yang tersedia telah diisi oleh jajaran direksi, direktur perusahaan, general manager, manajer, dan pemegang posisi sentral lainnya dalam perusahaan. 


Mereka semua memang disuruh oleh Surya berkumpul di ruangan ini. Meskipun tidak tahu dalam agenda apa, mereka tetap melakukannya. Pasti hal penting jika sudah disuruh berkumpul seperti ini. 


Saat keluarga Mahendra memasuki ruangan, mereka semua berdiri dan memberikan hormat dengan sedikit membungkuk dan menundukkan kepala. Surya mengangguk pelan. 


Sama seperti para karyawan yang melihat mereka tadi, dalam ruangan ini juga bertanya-tanya mengapa Bella tidak ada di tengah mereka?


Kemana wakil Presdir mereka? Mengapa hanya Ken, sekretaris wakil Presdir mereka yang ada? 


Rahayu, Ken, Brian, dan Silvia mengambil tempat yang telah disediakan. Sementara Surya naik ke atas podium. 


Surya lebih dulu mengedarkan pandangnya sebelum berbicara. Raut wajah penasaran mendominasi ruangan. 


Ya, Surya tahu itu. Ia menarik senyum tipis.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Surya menyapa semua yang hadir di ruangan ini.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh."


"Selamat pagi, salam sejahtera hadirin sekalian yang saya hormati," sapa Surya, kembali menyapa. 


"Pagi, Presdir!"


"Sebelumnya terima kasih telah hadir di ruangan ini. Saya yakin Anda sekalian merasa bingung dan penasaran mengapa saya mengumpulkan Anda sekalian di ruangan ini," ujar Surya yang dibalas anggukan kecil.


Suasana ruangan senyap, hanya Surya yang berbicara. Dengan serius, mereka mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemegang posisi tertinggi dalam Mahendra Group itu. 


Surya kembali menghela nafas.


"Saya juga tahu apa yang Anda sekalian bingungkan. Di sini, saya ingin mengumumkan bahwa wakil Presdir Mahendra Group yaitu Nabilla Arunika Chandra, telah mengajukan cuti hamil dan telah disetujui. Beliau juga mengundurkan diri jabatan wakil Presdir dan itu juga sudah saya setujui." 


Terkejut. Semua yang hadir di ruangan ini kecuali keluarga Mahendra terkejut dengan apa yang disampaikan oleh Surya. 


Wakil Presdir mereka mengajukan cuti sekaligus mengundurkan diri? Jika hanya mengajukan cuti, mereka tidak terlalu terkejut. Akan tetapi, jika mengundurkan diri, itu yang menjadi pertanyaan besar. 


Apa alasannya? Mengapa mendadak? Bukankah Bella baik-baik saja selama menjabat menjadi wakil Presdir? Isu yang yang menginginkan ia mengundurkan diri dari jabatannya, Bella sama tidak terpengaruh malah membuka orang-orang yang menyebarkan isu itu. 


Kinerja Bella juga sangat bagus. Bahkan pembangunan apartemen di Papua saja lancar tanpa kendala berarti sampai detik ini.


Meskipun jabatannya baru sebentar, sudah banyak yang Bella lakukan untuk perusahaan ini. Semua karyawan sudah menaruh rasa hormat pada Bella. Tiba-tiba mengundurkan diri seperti ini tanpa pemberitahuan, tentu saja menimbulkan tanda tanya besar. 


Ada masalah apa? Dan mengapa Bella tidak hadir di tengah-tengah mereka? Bukankah seharusnya Bella menyampaikan kata-kata perpisahan? 


Keluarga Mahendra berusaha tenang mendengar bisik-bisik hadirin. Ya wajar saja mereka terkejut dan bingung. 


"Tenang semua!" Seketika senyap. Surya kembali mengedarkan pandang. 


Tatapannya tajam mengintimidasi. 


"Wakil Presdir kita mengundurkan diri bukan karena masalah pekerjaan. Akan tetapi, beliau memutuskan untuk mengurus perusahaannya sendiri. Beliau juga tidak bisa hadir karena sibuk di Los Angeles mengurus pekerjaan beliau. Saya harap Anda sekalian memakluminya dan tidak mempermasalahkan hal tersebut."


Wakil Presdir mereka punya perusahaan sendiri? Mengapa tidak pernah dengar? Dan jika Bella mengurus perusahaannya di Los Angeles sementara Ken di sini, bukankah mereka akan berjauhan atau LDR? 


"Tapi, Presdir … mengapa tiba-tiba? Tugas Nona Bella kan belum usai? Beliau masih ada tanggung jawab terhadap proyek pembangunan apartemen di Papua. Meskipun beliau akan mengundurkan diri tetapi, beliau harus menyelesaikannya lebih dulu. Selain itu, mengurus perusahaan? Artinya selama ini beliau punya perusahaan sendiri yang berdiri di Los Angeles? Mengapa tidak pernah dengar? Apakah ada masalah internal?"selidik salah seorang direksi. 


Bella adalah pemimpin yang mumpuni. 


"Apakah bos harus selalu menampakkan diri?"


Bagi seorang Bella, dengan kemampuannya jika memiliki perusahaan sendiri juga tidak mengherankan. 


"Ya tetap saja ini mendadak dan sulit diterima. Dengan sikapnya yang begini bukankah artinya ia menyepelekan Mahendra Group? Selain itu, apa nama perusahaan beliau?"


Surya sudah bisa menebaknya. Pertanyaan-pertanyaan ini pasti akan muncul. Ken memejamkan matanya. 


Maaf, Aru. Kami harus membongkarnya untuk kepentingan kita bersama. 


"Nero Group!"jawab Surya. 


Terhenyak. Semua terbelalak. 


Nero Group? Perusahaan benefit yang hampir bangkrut tempo hari? Bukankah itu diakuisisi dan telah menjadi milik seorang investor hebat? Pewaris Tuan Williams?


Wait?


Benar-benar terkejut. Semua saling pandang. Ternyata orang luar biasa berada di tengah mereka. Pantas saja!


Luar biasa! Daebak! Tatapan kagum. Wakil Presdir mereka sehebat itu. 


"Sekarang, saya akan umumkan dan mengangkat seseorang untuk mengantikan posisi Nona Bella yakni adalah Mahesa Ken Mahendra!" Surya menunjuk Ken. 


Dan saat ini, memang Ken yang paling cocok. Ken tahu cara kerja Bella. Ken juga sudah beberapa kali menangani klien besar di bawah jabatan Bella. 


Kalau Brian, dia memang cocok menjadi direktur keuangan. Menilik raut wajah Brian, ia acuh, sama sekali tidak ada gurat tidak senang. 


Dan tidak mengherankan jika Ken yang diangkat. 


Ken berdiri. Naik ke atas podium. Ia kemudian menunduk kecil menyapa para hadirin. 


Surya dan Ken kemudian berjabat tangan. 


"Mahendra Ken Mahendra, dengan izin Tuhan Yang Maha Esa, saya mengangkat Anda menjadi wakil Presdir Mahendra Group, menggantikan wakil Presdir sebelumya yang telah mengundurkan diri. Saya berharap Anda dapat memikul dan menjalankan tugas serta tanggung jawab sebagai wakil Presdir dengan baik!"ucap Surya, tegas.


"Saya, Mahesa Ken Mahendra menerima tugas dan tanggung jawab sebagai wakil Presdir Mahendra Group. Saya berjanji akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajiban saya!"jawab Ken dengan tak kalah tegas pula. Ditambah dengan wajah tegas penuh keyakinan dan juga senyum di akhir kata.  


Ruangan langsung riuh dengan tepuk tangan. Ken telah diangkat dan resmi menjadi wakil Presdir Mahendra Group menggantikan Bella. 


Ken kemudian menyampaikan kata sambutannya. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Selamat pagi dan salam sejahtera hadirin sekalian," sapa Ken.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, wakil Presdir."


"Pagi, wakil Presdir."


"Sebelumnya terima kasih kepada hadirin sekalian yang telah hadir di ruangan ini."


Ken menjeda ucapnya. Mengedarkan pandangnya.


"Beberapa waktu yang lalu saya juga berdiri di sini sebagai sekretaris wakil Presdir. Hari ini saya kembali berdiri di sini sebagai wakil Presdir. Saya tahu ini mendadak. Dan Anda sekalian pasti terkejut. Namun, itulah kenyataannya. Banyak di dunia ini yang sulit atau sama sekali tidak bisa diprediksi. Sama seperti hari ini." Ya itu sedikit bernostalgia. Ken tersenyum.


"Kalian mungkin bertanya-tanya tentang hubungan saya dan istri saya bagaimana bukan? Tenang saja. Kalian tidak perlu mengkhawatirkannya. Yang perlu kalian khawatirkan adalah kemajuan dan kinerja kalian!" Tatapan Ken berubah menjadi tajam. Perubahan ekspresinya sangat cepat.


"Atau jika di antara kalian ada yang menganggap saya tidak mampu atau tidak pantas berada di posisi ini, silahkan angkat tangan. Saya akan membuktikan bahwa saya mampu dan pantas untuk posisi ini!" 


Brian berdecak dalam hati. Keberanian Bella menular padanya.


Putraku sangat keren, ucap Rahayu dalam hati. 


Aku suka sikapnya ini, batin Surya yang tersenyum lebar di belakang Ken. 


Ken mengedarkan pandang. Tidak ada sahutan ataupun bantahan.


"Diam artinya setuju. Saya harap kita memberikan kontribusi terbaik untuk kemajuan perusahaan ini. Sekian dan terima kasih. Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," ucap Ken mengakhiri sambutannya. Sedikit arogan memang. Namun, itulah karakter keluarga Mahendra. Arogan yang berdasarkan tempatnya. 


*


*


*


Sekarang, di sinilah Ken. Di ruangan wakil Presdir, ruang kerjanya yang dulu adalah ruang kerja Bella. 


Ken mengedarkan pandangnya ke setiap sudut ruangan. Ruangan ini juga menyimpan banyak kenangan Ken dan Bella. 


Ken menatap lurus ke arah meja kerja. Di mana di sana Bella biasanya sangat fokus bekerja. 


Ken menarik senyuman. Ia kemudian mengalihkan pandang ke arah jendela. Di mana Bella juga sering berada di saat, melihat pemandangan untuk melepa penat ataupun jenuh. 


Lalu ke sofa. Di sana keduanya sering makan bersama sembari bercengkrama kala jam makan siang tiba. 


Semua kenangan yang membuat rindu semakin menggunung. Ken menghela nafasnya. Mulai melangkah untuk duduk di kursinya. Setumpuk berkas sudah ada di sana. Menunggu untuk ditandangi. Akan tetapi, agaknya itu harus direvisi karena wakil Presdirnya sudah ganti. 


Ken memejamkan matanya. "Aku telah selesai diangkat, Aru. Bagaimana denganmu? Apa yang sedang kau lakukan di sana?"


*


*


*


Di lain sisi, Bella tengah mengajari Lesta bermain piano. Dipangkunya Lesta dan membimbing jari-jari mungil Lesta menekan tus-tus piano. Lagu anak-anak twinkle, twinkle little star pun menjadi lagu yang Bella ajari untuk Lesta. 


Lesta begitu bersemangat belajar piano dengan Bella. Cara mengajarinya mudah untuk dipahami olehnya. 


Keduanya berada di ruang musik. Tentu saja ditemani oleh kedua pengasuh Lesta. Di ruangan ini tidak hanya terdapat piano tetapi juga gitar, seruling, dan alat musik lainnya.


"Kau ingin mendengar Aunty bermain gitar?"tanya Bella pada Lesta. Dibalas anggukan semangat oleh bocah itu. 


Lesta turun dari pangkuan Bella. Dan Bella berdiri dan melangkah untuk mengambil gitar. Sebelum memainkannya, Bella lebih dulu menyetel gitar tersebut. 


"Aunty tidak begitu tahu lagu Rusia. Bagaimana dengan lagu berbahasa Inggris?"tanya Bella.


"Apa saja, Autny," jawab Lesta. Bella mengangguk.


Bella membawakan lagu berjudul night changes.


Suara Bella menyatu dengan petikan gitarnya. Lesta terkagum melihatnya. Ia bertepuk tangan. Kedua pengasuh Lesta juga tidak bisa untuk tidak terpesona.


Benar-benar! Penuh bakat.


Even when the night changes


It will never change me and you


"Aunty hebat!"ucap Lesta saat Bella selesai bernyanyi. 


"Thank you, girl," balas Bella. Lagu itu, menyiratkan kerinduan Bella pada Ken.


"Aunty, besok kita latihan lagi ya," pinta Lesta. 


"Off course," jawab Bella. 


"Nona Bella, Nona Lesta." 


Yang dipanggil namanya menoleh ke arah pintu. Irene yang memanggil. Wanita itu berada di ambang pintu dengan tersenyum lebar. 


"Ya?" Menjawab sama.


"Tuan Besar memanggil Anda berdua untuk makan siang bersama," ujar Irene. 


"Hah?" Bella tercengang. Makan siang bersama?


"Apa itu kakek?"tanya Lesta yang diangguki oleh Irene. Lesta langsung melonjak senang. 


"Yeah. Bertemu ayah bertemu kakek. Ayo Aunty. Aku juga akan bertemu dengan Liev!"


"Ah, iya!"