
Yang disebutkan namanya segera mengikuti Surya. Meninggalkan Rahayu, Ken, Silvia, dan Fajar. Ken semakin lemas.
"Tidak perlu seperti ini, Ken. Jangan menyalahkan dirimu sendiri! Kau harus kuat! Inj bukan salahmu!"ucap Silvia.
"Tapi, ini terjadi karena aku yang lemah, Kak." Parau.
"Maka kau harus menjadi kuat agar hal ini tidak akan terulang lagi. Ingat, kau bukan hanya seorang suami melainkan juga calon ayah!"
"Jika Kak Abel diculik, bagaimana cara memberi tahu adiknya, Nesya?"tanya Fajar.
Nah. Inilah yang menjadi masalah selanjutnya. Bagaimana cara memberitahu Nesya bahwa Bella diculik?
*
*
*
Satu jam sebelum makan siang, Ken, Dylan, dan juga Rahayu meninggalkan kediaman Mahendra untuk menjenguk Neysa.
Mereka membawa makan siang untuk Nesya. Perasaan ketiga tenggang. Ken mempersiapkan dirinya untuk mengatakan hal yang terjadi pada Bella. Ditemani dan dibantu oleh Dylan dan Rahayu.
Perjalanan menuju lapas memakan waktu lebih lama dikarenakan terjebak macet. Ken terus berdoa dan menguatkan dirinya. Mencoba mengurangi rasa tenggang dan gugupnya. Mengatakan dirinya bisa. Namun, ternyata tidak semudah itu. Ini lebih sulit dari presentasi di depan klien. Bahkan dari awal perjalanan hingga tiba, tangan Ken sudah terasa dingin.
"Ayo," ajak Rahayu yang melihat Ken membuka pintu namun tidak turun.
"Ma, aku takut," jawab Ken, menarik baju Rahayu seperti seorang anak yang tengah merengek.
"Tidak apa. Mama ada di sampingmu," tutur Rahayu, menggandeng tangan Ken. Bibirnya tersenyum, menenangkan Ken meskipun ia sendiri juga merasakan hal yang sama seperti Ken.
"Ada aku juga," imbuh Dylan dengan merangkul Ken.
"Baiklah. Ayo." Ken tersenyum. Ketiganya kemudian masuk.
Menunggu sejenak di ruang tunggu. Kemudian dipanggil masuk ke ruang bertemu dengan tahanan. Ken duduk tegak dengan kedua tangan berada di atas meja. Menunggu Nesya.
Rahayu menghidangkan makan siang dibawa. Beberapa rantang berisi nasi beserta lauk pauknya telah terhidang. Jantung Dylan berdebar kencang. Antara tak sabar ingin bertemu dengan kekasihnya juga harap-harap cemas dengan reaksi Nesya nanti.
"Assalamualaikum," sapa seseorang dengan suara lembut.
*Waalaikumsalam," jawab Ken, Rahayu, dan Dylan hampir bersamaan. Itu Nesya. Senyumnya mengembang lembar. Wajahnya tampak tidak pucat dan berseri. Sepertinya setelah keguguran, semua pengobatan hanya terfokus pada Nesya. Dan efeknya memang terlihat jelas.
"Kalian datang? Aku sangat merindukan kalian," ujar Nesya dengan memeluk Rahayu.
"Kami juga, Nesya," balas Rahayu, memberi tepukan ringan pada punggung Nesya.
"Bagaimana kabarmu, Nesya?"tanya Ken dengan sedikit tercekat. Dylan yang hampir rutin mengunjungi Nesya, duduk di samping Nesya. Menerima tatapan lembut Nesya saja sudah cukup untuk Dylan.
"Seperti yang kakak lihat. I'm fine," jawab Nesya dengan tersenyum lebar.
"Wah ini makanan kesukaanku semua," ucap Nesya saat melihat menu yang terhidang di meja.
"Ayo dimakan. Kita makan bersama," tutur Rahayu.
"Eh iya, Kakakku mana? Kalian tidak barengan?"tanya Nesya yang jelas menyadari ketidakhadiran sang kakak.
Deg!
Inilah pertanyaan yang dinanti sekaligus yang membuat jantung semakin berpacu kencang.
"Ehm? Mengapa tidak dijawab? Kakakku mana?" Nesya menjadi gelisah. Matanya memicing curiga pada Ken. Belum lagi, hanya Rahayu yang ikut dan menu ini adalah menu kesukaannya semua.
What's problem? Apa yang terjadi pada kakaknya?
"Kakakku baik-baik saja, kan? Dia tidak terluka, kan? Kak Ken kau berjanji untuk menjaganya, kan? Where my sister? Answer!!" Kegelisahan membawa Nesya tanpa sadar meninggikan nada bicaranya.
"Calm down, Nesya. Kak Abel baik-baik saja. Dengarkan kami dulu," ucap Dylan dengan menggenggam tangan Nesya.
"Apa maksudnya?" Semakin, Nesya memberikan tatapan mendesak pada Ken. Ken menghela nafas.
"Begini, Nesya. Kau tahu kan seperti apa kakakmu?" Ken memulai pembicaraan.
Nesya mengernyit. Seperti apa kakaknya? Jelas dirinya tahu.
"Lalu apa masalahnya? Apa kakak mendapat masalah karena karakternya?"tanya Nesya.
"Ya bisa dikatakan seperti itu," jawab Ken.
Bisa seperti itu?
Apa yang sebenarnya terjadi pada Kakak? Apa seperti kejadian di Bali? Atau bagaimana? Kakak mengapa kau sering mencari masalah?
"Katakan dengan rinci!"tegas Nesya.
"Kakakmu saat ini berada di Rusia. Bisa dikatakan kakakmu diculik, Nesya," ucap Ken. Nesya membelalakan matanya.
"APA?!!"
Diculik? Oleh orang Rusia? Apa motifnya? Apa kakak berhubungan dengan orang dari negara itu?
"Benar. Aku kurang yakin dengan motifnya. Tapi, aku yakin itu didasari oleh ketertarikan terhadap istriku. Terhadap karakter dan bakatnya," terang Ken. Ketiga orang itu tegang melihat Nesya yang tetap diam.
"Nesya? Kau tidak apa-apa? Keluarkan saja jika kau marah ataupun sedih," ujar Dylan, mengusap punggung tangan Dylan.
Ya mereka siap untuk ini. "Jangan dipendam, Nesya. Itu akan berpengaruh pada kesehatanmu. Ingat, tidak lama lagi kau akan menjalani operasi," imbuh Rahayu. Mengambil tempat duduk di sisi Nesya.
Ken mengangkat kepalanya.Menatap Nesya yang masih diam dan menunduk. Tidak terdengar suara tangis. Namun, bahu Nesya jelas bergetar.
"Ini salahku yang terlalu lemah. Aku tidak bisa menepati janjiku untuk menjaganya dengan baik. Pukullah aku, marahlah padaku, aku akan menerima semuanya," ucap Ken. Ya ini memang harus ia hadapi. Berani mengaku dan berhenti menjadi pengecut.
"Lantas …." Nesya mengangkat wajahnya. Matanya memerah.
"Lantas kalau aku memukulmu, memarahimu, apa Kakakku akan langsung ada di hadapanku?"tanya Nesya dengan dinginnya.
"Tidak, bukan?"
"Nesya," panggil Dylan cemas. Mereka kira Nesya akan melayangkan pukulan pada Ken. Memarahi dan memaki Ken karena dianggap tidak becus menjaga Bella.
Baik Ken, Rahayu, maupun Dylan mengernyit. Pikiran mereka tertuju pada satu kalimat, "aku rasa ini sudah kesekian kalinya." Apa maksudnya itu?
"Ah aku rasa Kakak tidak mengatakannya pada kalian. Dylan, kau juga melupakannya?" Nesya menatap Dylan dengan kembali memicingkan matanya.
Dylan menelaah kata-kata Nesya. Ini sudah kesekiannya. Artinya sudah pernah terjadi. Apakah ia melupakannya? Artinya ia tahu kejadiannya. Berdasarkan usia ingatannya, itu di usia tiga belas tahun. Dan Bella, setidaknya sudah 17 tahunan. Dylan berusaha mengingatnya. Ingatan itu pasti masih fresh.
Nesya menghela nafas. "Jangan terlalu dipaksakan. Aku tidak menyalahkanmu karena lupa," ujar Nesya.
"Sebelum kakak pergi keluar negri dulu, saat keluarga kami masih lengkap maupun setelah kakek wafat, Kakak sering mengalami penculikan. Motifnya beragam. Dulu, keluarga Chandra adalah keluarga yang sangat berkecukupan dan sangat bahagia. Entah itu karena uang, entah karena saingan bisnis, maupun karena kecerdasannya. Oleh karena, sejak kecil kakak belajar bela diri. Dulu, aku tidak terlalu takut. Kakak selalu kembali dengan selamat. Entah itu diselamatkan ataupun kembali sendiri. Dia seperti sudah terbiasa dan aku masih ingat jelas ia tersenyum. Begitu semangat menceritakan apa yang dialami saat diculik. Seakan tidak takut dan trauma. Di luar negeri pun, aku rasa ia juga pernah mengalaminya. Namun, dia tidak pernah menceritakannya," cerita Nesya.
Ken dan Rahayu saling tatap. Artinya sejak kecil, Bella sering berhadapan dengan hal berbahaya. Pantas saja saat sudah dewasa seperti itu.
Dylan mengangguk. Ia sudah ingat.
"Aku yakin Kakak akan kembali. Cepat atau lambat dengan selamat. Hanya saja, rasanya sangat berat menunggu hari itu tiba. Dulu, aku tidak sendiri. Sekarang? Kalian tahu aku di penjara. Aku hanya punya kakak. Kalian memberitahuku hal ini, aku tidak bisa berbuat apapun selain mendoakan agar kakak segera pulang. Aku berharap, kalian segera menyelamatkan kakak." Jauh dari dugaan mereka.
Mereka kira Nesya akan sangat emosional. Nyatanya, mereka malah mendapat informasi penting.
"Pasti! Secepatnya, kita akan berkumpul kembali!"jawab Ken.
"Tapi, kali ini siapa yang menculik kakakku?"tanya Nesya ingin tahu.
"Mafia," jawab Ken.
"Mafia?" Mendengarnya Nesya tidak takut. Malah tersenyum.
"Itu tidak akan terlalu sulit," ujar Nesya. Ya, sedikit terbalik. Malah seperti Ken yang ditenangkan oleh Nesya.
*
*
*
"Hm?" Desya yang sedang memeriksa lembaran kertas di tangannya menoleh pada Irene kala Irene menyampaikan permintaan Bella.
"Dia meminta hal itu?"tanya Desya, memastikan. Irene mengangguk.
"Seberapa penting?"tanya Desya lagi.
"Sangat penting sehingga dapat mempengaruhi perusahaan. Tidak ada yang memiliki salinan datanya," terang Irene.
"Mengapa tidak kau berikan?"tanya Desya lagi.
"Tuan, saya tidak bisa sembarang bertindak. Jika saya memberikan laptopnya dan Nona mengakses internet, maka ada kemungkinan lokasi kita akan terlacak. Meskipun kecil, tetap tidak boleh membuat kesalahan," jelas Irene. Desya tersenyum tipis.
"Aku kira kau sudah begitu berpihak padanya."
"Ah tidak, Tuan!" Irene menunduk.
"Anda adalah Tuan saya. Saya hanya tunduk dan memihak pada Anda," tegas Irene.
"I know," balas Desya. Desya kemudian berdiri dan memakai mantelnya.
"Aku akan berbicara dengannya." Desya kemudian melangkah meninggalkan ruang kerjanya diikuti oleh Irene.
Menjelang sore, udara semakin dingin. Desya menghentikan langkahnya saat tiba di koridor istana tempat Bella tinggal.
"Ada apa, Tuan?"tanya Irene.
Pandangan Desya tertuju pada satu titik. Irene mengikuti arah pandang Tuannya.
Ternyata Bella. Yang berdiri di bawah pepohonan. Posisi Bella membelakangi mereka. Kedua tangan Bella berada di dalam mantel. Kepala sedikit mendongak menatap langit. Guguran daun membuat Bella menutup matanya.
"Cantik." Satu kata keluar dari bibir Desya.
Ah … aku kira aku tidak akan merasakan akhir musim gugur dan awal musim dingin. Nyatanya, aku masih merasakan dan melihatnya. Sayang, tidak ada Ken di sampingku.
Semakin dingin. Cukup untuk hari ini. Bella berbalik. Pas sekali Bella langsung beradu pandang dengan Desya.
Ah ada dia rupanya. Mungkin Irene sudah melapor.
Bella menarik senyum. Melangkah menghampiri Desya. "Hai. Kau mau bertemu denganku?"sapa Bella.
"Udara semakin dingin. Bukankah kau sedang hamil?"
"Ah aku merasa bosan. Dari jendela aku terus melihat daun berguguran. Akan lebih menyenangkan jika berdiri di bawahnya," jawab Bella.
"Bicara di dalam." Desya melangkah memimpin jalan. Irene mempersilahkan Bella untuk jalan kemudian barulah dirinya.
Mereka tidak bicara di kamar Bella. Desya mengajak Bella ke salah satu ruangan yang terdapat banyak buku. Sepertinya ini perpustakaan.
Di dalamnya juga terdapat sofa yang rangkanya terbuat dari kayu juga perapian.
"Bagaimana tempat ini?"tanya Desya.
"Bagus. Aku suka suasananya," jawab Bella.
"Maka ini akan jadi tempat kerjamu," sahut Desya.
"Oh." Bella tidak terlalu kaget.
"Lalu pekerjaanku?"tanya Bella.
"Nanti akan aku beri tahu. Sebelum itu, selesaikan dulu tanggung jawabmu di Mahendra Group."
Bella menatap Desya bingung. "Maksudnya?"
"Irene berikan laptop dan ponselnya. Aku mengizinkanmu mengirim data-data itu."
Bella sedikit terbelalak. Tak lama ia tersenyum, "thanks, Desya."
Irene segera melakukan apa yang Desya suruh. "Tuan, Anda yang berpihak pada Nona, bukan?"gumam Irene saat keluar ruangan.