
Malam terakhir di Green Palace, hal yang ingin dilakukan Ken dan Bella sebelum kedatangan Desya, tidak dilanjutkan setelah mereka kembali ke kamar.
Bella membahas ulang beberapa hal yang dibahas bersama Desya tadi, terutama soal Desya yang ingin menitipkan Liev padanya, menjadi anak angkatnya.
Terkejut. Itulah yang Ken rasakan saat Bella memberitahunya. Ia terdiam cukup lama saat Bella mempertanyakan persetujuannya.
Ken, pria itu bukan berpikir kepada Liev nya, melainkan pada Desya yang memiliki kepercayaan besar pada Bella dan secara tak langsung juga pada keluarga. Satu hari dan satu malam yang penuh dengan kejutan.
Ken menyadarinya. Bella, meskipun telah meninggalkan istana ini, akan tetap berhubungan dengan Desya. Ya … mau bagaimana lagi? Sangat sulit untuk diputuskan. Dan semua terjalin bersama dengan waktu, tanpa mereka sadari.
"Ken? Are you agree?"tanya Bella, menantikan keputusan Ken yang masih bungkam dengan dahi mengernyit. Bella tidak menceritakan tentang pelukan itu. Bisa-bisa Ken cemburu besar dan menyebabkan hal yang tidak diinginkan.
"Jika kau setuju, mau bagaimana lagi? Rasa-rasanya ditolak pun tidak bisa," jawab Ken. Bella tersenyum mendengarnya.
"Ayo tidur," ajak Ken, sembari membaringkan tubuhnya di ranjang.
"Hm." Bella segera berbaring. Meminta Ken untuk memeluknya. Akhirnya, setelah sekian malam, mereka kembali tidur bersama.
*
*
*
Keluarga Bella merasa terkejut mendengar apa yang Bella sampaikan keesokan paginya.
Begitu juga dengan keluarga Volcov. Perkara menitipkan anak bukan perkara muda. Apalagi itu adalah Tuan Muda keluarga Volcov. Liev, yang nantinya akan menggantikan Desya memimpin Black Rose.
Sempat terjadi diskusi di antara mereka. Dimitri dan Aleandra, setidaknya mereka pernah terpikir akan hal ini. Namun, tidak menyangka Desya benar-benar melakukannya.
Desya menjelaskan apa yang menjadi alasannya. Kekhawatirannya dan benefit apa yang didapatkan jika Liev diasuh oleh Bella selama beberapa tahun ke depan.
Alasan itu bisa diterima oleh kedua belah pihak. Dan Tuan Muda keluarga Volcov itu terima-terima saja.
Dan untuk keyakinan Liev, Desya memutuskan untuk mengikut pada keyakinannya sekarang. Andai kata saat sudah dewasa kelak, saat Liev bisa mengambil keputusan sendiri, andai kata hendak berpindah keyakinan, Desya memberi keputusan mutlak pada Liev. Karena itu adalah haknya, itu adalah kebebasannya, dan Desya tidak akan membatasinya.
Dengan begitu, mereka Bella dan Liev segera berkemas. Ah … Liev akan membawa satu pengasuhnya dari pihak Desya. Tentu saja, orang-orang pihak Ariel sudah dibersihkan semuanya.
Bella membawa banyak pakaian, juga barang-barang lainnya. Ada juga beberapa cinderamata mata dari Desya. Tak lupa, Desya mengembalikan laptop dan ponsel Bella.
Liev sendiri juga bukan tidak dibekali dengan finansial. Desya, ayahnya itu memberikannya black card.
Bella menatap sejenak kamar yang dihuni selama kurang lebih dua bulan itu. "Ayo, Aru," ajak Ken, dengan merangkul pundak Bella.
Sebelum Bella dan keluarga pulang, mereka lebih dulu sarapan. Meja makan yang kemarin digunakan untuk makan siang dan makan malam penuh dengan menu sarapan. Roti, nasi goreng, nasi putih serta antek-anteknya terhidang, begitu menggugah selera dengan beberapa jenis minum, teh, kopi, susu, jus, dan air mineral.
Hari yang membahagiakan itu, hari yang Bella tunggu akhirnya tiba. Tidak lama lagi, hanya hitungan menit, selesai sarapan ini, ia akan meninggalkan istana ini. Namun, tetap saja terbesit rasa sedih di hatinya. Terutama saat melihat Liev yang duduk dalam pangkuan sang ayah. Dapat Bella lihat rasa sedih Liev. Jelas, ia akan berpisah dengan keluarganya dan tinggal dengan keluarga baru beberapa tahun ke depan.
Sebelum berangkat, Bella berpamitan dengan keluarga Volcov, begitu juga dengan Liev dan keluarga Bella. Barang-barang mereka sudah berada di mobil. Bella berjabat tangan dengan Desya dan Dimitri. Berpelukan dengan Evalia, Aleandra, juga Irene, meskipun pengawal pribadi Desya itu canggung dan kaku.
Liev masih dalam gendongan Desya. Masih dalam gendongan sang ayah sebelum akhirnya beralih dalam gendongan Ken di bandara nanti, yang akan menjadi ayah angkatnya. Desya ikut mengantar sampai bandara.
"Semuanya, aku pamit," ujar Bella dengan melambaikan tangannya pada keluarga Volcov, juga kepada anggota Black Rose yang ikut mengantarnya.
"Sampai jumpa."
"Ya, sampai jumpa," balas Bella sebelum masuk ke dalam mobil. Disusul oleh Ken. Desya juga masuk ke dalam mobil. Irene yang mengemudi.
Rombongan itu meninggalkan Green Palace sekitar pukul 10.00. Iringan mobil berkelas itu membelah jalan, menuju bandara.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, mobil-mobil berkelas itu berhenti di parkiran pesawat, di mana di sana sudah menunggu gagah tiga pesawat pribadi.
Mereka kembali bercakap-cakap seraya menunggu mobil masuk ke pesawat masing-masing.
Desya juga melakukan perpisahan dengan Liev. Dicium dan dipeluknya anaknya itu dengan sayang. "Baik-baik di sana. Ikuti kata-kata dari Auntymu. Jika ada waktu, Ayah pasti akan menjengukmu," ucap Desya, seraya mengusap rambut Liev. Bocah itu mengangguk patuh.
Desya tersenyum. Sekali lagi, dipeluknya Liev. "Maaf, Ayah harus membuatmu jauh untuk sementara waktu. Tapi, tidak akan lama. Ayah harap kau nyaman di sana," ujar Desya, melirik keluarga Bella yang masih berbincang satu sama lain. Dari yang ia mengerti, keluarga Kalendra dan Tuan Adam tidak langsung kembali ke negara masing-masing, melainkan ke kediaman Mahendra dulu.
"Mobil sudah masuk semua. Ayo kita berangkat," ucap Tuan Adam setelah memastikan semua mobil masuk. Yang dijawab dengan anggukan.
"Liev tidak akan mengecewakanmu, Ayah!" Liev menatap Desya dengan penuh keyakinan. Desya mengangguk singkat kemudian kembali menggendong Liev. Bella dan Ken mendekat padanya, hendak kembali berpamitan.
"Jaga anakku, okay?!"ucap Desya saat memindahkan Liev dari gendongannya ke gendongan Ken.
"Sure," jawab Ken.
"Kami pamit, Desya," ucap Bella.
"Semoga perjalanan kalian menyenangkan." Ken dan Bella mengangguk pelan. Mereka berbalik, naik ke dalam pesawat.
Liev melihat ke belakang. Melihat ayahnya yang terpaku diam melepas kepulangan Bella dan kepergiannya. Liev melambaikan tangannya, "dadah, Ayah."
Refleks, Desya membalas lambaian tangan itu. "See you next time, Boy."
Sekitar lima menit kemudian, pesawat mulai bergerak dan take off. Ada jeda waktu untuk ketiga pesawat itu mengudara semuanya. Desya masih terpaku di tempatnya dengan kedua tangan berada di saku mantel. Pesawat terakhir yakni pesawat Tuan Adam sudah sangat jauh dari pelupuk matanya. "Tuan, ada hebat!"gumam Irene.
Tiga jam, itu yang dibutuhkan juga dengan kecepatan di atas rata-rata. Ya, maklum saja. Lokasi Green Palace tersembunyi, melewati hutan dan juga laut. Namanya juga markas mafia.
Di dalam mobil, selama perjalanan pulang, Desya bergelut dengan laptop dan tabletnya. Ia bersiap untuk melakukan perombakan!
Tiba di Green Palace, hari sudah menjelang magrib. Desya berdiri sejenak menghadap istana yang Bella tinggali kemarin. "Rasanya berbeda. Inikah arti kehilangan? Namun, aku tidak terlalu kehilangan. Ada yang pergi dan ada yang hadir. Kebahagian? Tanpa sadar aku sudah menemukannya. Waktu bersamamu. Waktu bersama dengan keluargaku. Melihat anggotaku tertawa. Hal-hal yang membuatku senang. Duniaku ternyata tidak gelap pekat. Ada cahaya benderang di sana. Kebahagian tidak selalu tentang yang bisa dilihat tapi dirasakan. Sama seperti Tuhan. Itu adalah yang terpenting. Aku sudah menemukannya. Dia tidak jauh. Dia tidak kemana-mana. Dia, kebahagian itu ada di dalam hatiku."
Desya mendongak. Butiran salju menerpa wajahnya. Hatinya yang dingin menghangat. Sama seperti suhu yang mulai menghangat menjelang musim panas. Namun, hatinya tidak akan kembali dingin lagi. Akan selalu hangat, seperti musim semi.
"Tuan." Itu Evalia. "Anda masih sedih?"tanyanya. Desya tersenyum. Tangannya mengintruksikan Evalia mendekat padanya.
Desya memeluk wanita yang tengah hamil anak ketiganya itu. "Tetaplah di sisiku. Aku akan selalu menyayangimu," ucap Desya lembut, mendaratkan kecupan pada dahi Evalia.
"T-Tuan?" Merasa terkejut. Evalia mengerjap. "Aku serius, Evalia." Desya menatap dalam manik mata Evalia.
"Saya akan selalu di sisiku Tuan." Evalia mengatakannya dengan tersipu sebelum bibir Desya memanggut lembut bibirnya.
*
*
*
Waktu penerbangan pulang yang panjang, 12 jam. Itu waktu yang singkat. Istirahat? Bella tidak menghabiskan waktunya full untuk istirahat. Melainkan berdiskusi dan membuat jadwal apa yang akan ia lakukan. Pertama, memberi konfirmasi lebih dulu ke Mahendra Group atas pengunduran dirinya yang tiba-tiba.
Juga mendengarkan situasi juga sudah berapa jauh jalannya proyek yang berada dalam masa kepemimpinannya yang singkat.
Sementara itu, yang lainnya duduk santai, kadang juga mendengarkan. Biar bagaimanapun itu adalah sebuah pembelajaran. Liev dan Key. Ah Key, dia ikut di pesawat Mahendra. Kedua bocah itu tidur di kamar setelah kelelahan bermain.
"Jadi, bagaimana dengan kalian? Apa rencana kalian ke depannya?"tanya Bella pada Dylan dan Nesya selesai berdiskusi.
"Apalagi kalau bukan menikah, lanjut kuliah, dan membantu kakak membangun kembali perusahaan," jawab Nesya yang diangguki oleh Dylan.
"Kalian sungguh-sungguh ingin menikah dalam waktu dekat?"tanya Bella, memastikan dan meyakinkan.
Keduanya mengangguk. Ya, mereka sudah cukup umur untuk menikah. "Sudah memikirkan segalanya? Maksud Kakak kehidupan kalian ke depannya setelah menikah?"
"Aku punya bakat jualan, Kak. Jadi, nanti sembari kuliah aku bisa jualan online," ujar Nesya.
"Kau, Dylan?" Sudah memutuskan untuk menikah, maka harus sudah siap lahir dan batin. Bella tidak akan menanggung beban hidup keduanya. Okelah makan dan tempat tinggal ditanggung, bagaimana dengan kebutuhan lainnya?
"Kakak, aku akan membantumu membangun perusahaan. Jadi, tidak perlu cemas dengan finansial kami ke depannya. Kami janji tidak akan tergantung pada kakak ataupun lainnya," imbuh Dylan. Ya, sepertinya mereka berdua sudah membahas hal ini dengan mendalam.
"Kalau Abel tidak menerimamu, Mahendra Group akan menerimamu," celetuk Surya dengan kekehan.
"No! Aku mau membangun perusahaan!"tolak Dylan tegas.
"Ngomong-ngomong soal membangun perusahaan, kalian tahu itu tidak semudah yang dikira, bukan?" Brian ikut menimbrung.
Bella gantian terkekeh, "memangnya aku ada bilang itu hal yang mudah, Kak?"
"Mas ini, Abel kan bukan amatiran!"cetus Silvia. Brian meringis pelan.
"Baiklah. Kakak setuju kalian menikah. Waktunya sudah ditentukan?"tanya Bella. Ia juga harus membuat persiapan, bukan?
"Kurang lebih dua bulan lagi," jawab Dylan. "Setelah Kak El dan Kak Jani menikah," tambahnya.
"Itu waktu yang tepat." Dua bulan lagi, pasti Nesya sudah pulih total.
"Oh iya, Kak El kapan kembali?"
"Mungkin dia sudah di rumah," balas Ken.
"Hm?" Semua tatapan tertuju pada Ken. "Kau memberitahunya?"tanya Surya. Ken mengangguk. "Kapan?"
"Kemarin malam. Awalnya Kak El mau menyusul. Namun, ku katakan besok pagi kita pulang. Jadi, kemungkinan besar ia sudah di rumah. Dengan Kak Jani juga, maybe," terang Ken.
"Ah … kau ini!" Sedikit menggerutu. Tapi, ya sudahlah.
"Fajar? Bagaimana dengan dirimu?"tanya Bella. Adik Silvia itu sedari tadi mendengarnya.
"Aku sedang persiapan mendaftar kuliah, Kak," jawab Fajar. Beberapa waktu lalu, Fajar baru saja mendapatkan ijazah sekolah menengah atasnya melalui ujian setara yang diadakan oleh instansi pendidikan.
"Mau mendaftar jurusan apa?"tanya Bella, penasaran.
"Kimia industri," jawab Fajar.
"Semoga hasilnya memuaskan," harap Bella yang diangguki oleh Fajar.
...************************...
...************************...
...************************...