
Selesai salat subuh, Bella langsung menuju walk in closet sedangkan Ken duduk di sofa berkutat dengan makalah dan laptopnya.
"Ken kau mau ikut tidak?"tanya Bella setelah keluar dari kamar ganti. Ken menaikkan pandangan ke arah Bella. Bella tampil cantik dengan pakaian sport hitam, handuk kecil putih melingkar di lehernya.
"Lari pagi?" Bella mengangguk.
"Baiklah. Tunggu aku aku ganti pakaian sebentar." Ken langsung meletakkan makalah dan menutup laptopnya. Tak ingin melewatkan momen lari lagi bersama.
Bella menunggu di depan pintu dengan bersandar pada dinding seraya memainkan ponselnya. Ada pesan dari Teresa, Louis, Key, Max, juga Helen. Satu persatu Bella membalas pesan mereka.
Ting.
Sebuah pesan kembali masuk, dari Anjani yang berisi ajakan makan siang bareng. Bella menimang. Beberapa saat kemudian membalas dengan menyetujuinya.
"Aru, ayo." Ken keluar dari kamar dengan celana sport panjang, kaos berwarna hitam, juga handuk jangan lupa. Sejenak keduanya saling tatap. Sungguh pandai melihat dan menciptakan suasana romantis. Keduanya lantas tersenyum dan bergandeng tangan.
Mentari pagi masih mengintip malu-malu di ufuk timur. Langit berwarna kuning keemasan sedikit demi sedikit mulai mengusir gelap langit ibukota. Di bawah pencahayaan lampu jalan kompleks perumahan yang masih menyala, sepasang insan itu berlari berdampingan dengan sesekali berbincang yang menimbulkan keduanya atau salah satu di antara tertawa. Bagai pasangan yang tengah kasmaran, beberapa keduanya tertangkap tersipu.
Hosh …
Hosh ….
Hosh ….
"Aru istirahat dulu, aku lelah," punya Ken terengah seraya memegang dada bagian jantung. Bella yang kini lari di tempat menatap Ken heran. "Lelah? Kita bahkan belum ada satu kilometer."
Ken kini membungkuk, kedua tangan bertumpu pada lututnya. Keringatnya mengalir begitu deras, wajahnya tak berbohong bahwa Ken sudah kelelahan.
"Berhenti dulu. Jantungku berdebar sangat cepat membuat kepalaku pusing," ucap Ken. Nafasnya masih terengah. Bella mengeryit, setahunya Ken tidak punya penyakit jantung atau sesak nafas. Tidak juga mengidap penyakit yang tidak membolehkan penderitanya kelelahan. Bella berhenti lari di tempat.
"Ya sudah. Ayo duduk dulu." Bella membersihkan tepi jalan, duduk dengan kaki diluruskan. Ken ikut duduk di samping Bella. Pria itu kini mengusap keringatnya dengan handuk.
"Minumlah dulu," ujar Bella menyodorkan cup minuman kemasan pada Ken.
Nafas Ken mulai normal setelah minum. Bella hanya minum sedikit kemudian menatap Ken dari samping. "Bukankah kau atlet renang? Lari seharusnya biasa dilakukan untuk pemanasan. Dan renang bukankah punya stamina dan pernafasan yang bagus?" Bella menanyakan apa yang ia herankan. Ken menatap Bella, netra coklat itu menatap netra hitam Bella dalam-dalam.
"Memang benar. Namun, aku sudah lama tidak latihan dan mengikuti lomba lagi, terhitung sudah hampir satu tahun," jawab Ken. Ada nada sedih di sana.
"Kenapa?" Ken menghela nafas kasar. Tatapannya beralih lurus ke depan. Pria itu seperti ragu untuk menjawab.
"Tidak mungkin tanpa alasan kuat kau meninggalkan renang. Apa kau sempat mengalami cidera hingga dilarang oleh Papa?" Bella mengutarakan tebakannya. Ken menggeleng, "bukan. Papa tidak pernah melarang aku melakukan apapun selagi tidak melarang norma. Aku berhenti renang karena saat itu aku sudah semester 7, ditambah dengan Cia yang sakit. Aku merasa asing dengan kolam renang tempatku biasa latihan, bahkan aku tidak fokus saat lomba karena aku terus berfikir bagaimana kondisi Cia saat aku tidak ada di sampingnya," jawab Ken, tidak berani menatap Bella. Ken menunduk, menatap ujung sepatunya.
Bella tersenyum simpul, Cia. Alasan yang sangat kuat. Suasana mendadak canggung dan kaku setelah menyinggung tentang masa lalu Ken dan Cia. Bella menghela nafas, kembali minum. Tatapannya terkunci pada ujung sepatunya. Wajah Bella terlihat tidak senang. Ia melirik Ken sekilas yang tampak seperti tengah memikirkan sesuatu yang berat, tampak tertekan.
Rasa cemburu menyelusup masuk ke hati Bella. Wajah muram itu diakibatkan saat membayangkan Ken mengenakan celana pendek khas renang, dengan telanjang dada. Belum lagi penutup kepala dan kacamata renang. Aliran air yang menetas dari kepala, mengalir turun, juga kibasan rambut, bukankah atlet renang begitu terbuka dan menggoda?
Terlebih dengan otot perut dan kulit yang bercahaya di bawah pantulan cahaya? Pasti akan membuat siapa saja menelan ludah, termasuk pada Ken. Bella mendengus sebal menerawang hal itu. Diam-diam Bella senang karena Ken tak jadi atlet renang lagi. Ya walaupun penyebabnya bukan dirinya.
"Aru … kau tak senang aku menyinggung tentang Cia? Maaf aku bukan bermaksud mengingatnya, tapi kau tahu kan aku tak jago berkilah," tanya Ken hati-hati saat melihat wajah muram Bella. Bella melirik tajam.
"Tidak!" Nadanya ketus. Jantung Ken kembali berdebar kencang. Menyinggung hal ini saja sudah membuat istrinya tidak senang, rasa takut akan Bella akan membenci dirinya menghampiri Ken. Dengan was-was Ken menggenggam jemari Bella.
"Aru … aku merasa jujur itu lebih baik oleh karena itu aku jujur padamu. Cia itu masa laluku dan kamu … kamu adalah istriku, pemilik hatiku sekarang." Bella menatap Ken. Sorot matanya masih tajam seolah mempertanyakan kesungguhan hati Ken.
"Aku hanya ingin kau tahu bahwa melupakan seseorang yang telah bertahta lama itu sangat sulit. Aku mungkin telah tidak mencintainya namun kenangan selama lima tahun itu, sulit untuk dihapus dan disembunyikan. Terkadang, saat malam aku memikirkan tentang Cia, di mana dan bagaimana kondisinya sekarang. Aru … aku tahu egois rasanya jika memintamu untuk mengerti namun aku hanya ingin kau tahu." Ken menunduk. Ia tampak sangat bersalah juga kalut. Bella sedikit mengerjap, pria ini bukannya membujuknya untuk tidak marah malah mengatakan hal yang cukup membuat hati Bella semakin kesal.
Bella berdecak sebal. Ken semakin takut mendengarnya. Lidahnya sekarang keluh tak tahu mau mengatakan hal apa lagi. Ken meruntuki dirinya yang tak bisa berkilah.
"A-Aru a-aku tahu kau kesal. Ku mohon jangan kesal terlalu lama padaku. Aku tahu apa yang aku katakan tadi membuat hatimu tidak senang. A-aku mengerti … lain kali aku tidak akan menyinggung tentang hubungan asmara masa laluku. Saat ini, percayalah aku hanya mencintaimu seorang. Hanya dirimu, Nabilla Arunika Chandra." Setelah berpikir keras, kata-kata itu berhasil Ken rangkai dan ucapkan.
Bella tetap diam. Ken semakin tidak tenang. Apalagi yang harus ia katakan? Ken menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bella mendongak, menatap langit yang telah sepenuhnya bersih dari awan gelap. Lampu penerangan juga sudah dimatikan. Aktivitas mulai terlihat dari beberapa gerbang rumah. Bella tersenyum, "lupakan saja. Aku mengerti apa yang kau rasakan." Ya karena mereka pernah berada di posisi yang sama tentang asmara.
"Sungguh?"
"Aku tidak marah hanya cemburu saat msmbayangkan tubuh suami kecilku ini dilihat oleh banyak orang." Ken masih ragu.
"Ah ya kau benar. Aku memang kesal tapi sudahlah lupa kan saja. Mereka hanya masa lalu dari hidup kita. Suasana pagi tak cocok membahas masa lalu dan merasa kesal. Ayo kembali, kita harus segera berangkat kerja," ujar Bella, berdiri dan menepuk bok*ngnya membersihkan debu yang barangkali menempel.
"Benarkah?" Ken menatap Bella untuk lebih memastikan. Wanita berumur hampir 28 tahun itu mendengus. "Jika kau terus bertanya aku akan marah sangat lama padamu."
Bella mengulurkan tangannya pada Ken. Ken yang takut langsung menerima dan berdiri.
"Ayo. Takutnya nanti jika kita kelamaan, kasihan yang lain menunggu kita untuk sarapan, terlebih Dylan. Ia tak tahan lapar." Bella berlari dengan menggandeng Ken. Ken mengikuti dan mensejajarkan langkahnya dengan Bella.
"Apa Dylan selamanya ikut denganmu?"tanya Ken.
"Ya setidaknya setelah jiwanya dewasa dan mampu hidup sendiri. Kau tahu sendiri kan jiwanya masih 13 tahun. Tega sekali jika aku menitipkannya di panti aku menyuruhnya hidup sendiri. Kini aku tempatnya bersandar. Apa kau keberatan?"
"Tidak. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin tahu. Lagipula aku tidak ada hak untuk melarang. Jika itu rumahku sendiri, kebutuhannya menjadi tanggunganku mungkin iya." Jawaban Ken sama dengan saat itu.
"Kalau begitu selesai bersiap kita sarapan di jalan?"tawar Ken.
"Lain kali saja. Tidak sopan rasanya jika tinggal di rumah mertua sarapan luar. Bahkan harusnya untuk menunjukkan bakti menantulah yang harus memasak untuk keluarga," ucap Bella.
"Ah tabunganku masih kurang untuk membeli rumah. Aru tunggulah sampai tabunganku cukup. Kita akan punya rumah sendiri," ujar Ken.
"Tuan Muda tidak perlu menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Simpanlah uangmu dengan baik. Dan andainya aku ingin pindah rumah, bukankah aku punya apartement?"tolak halus Bella.
"Tapi itu dua hal yang berbeda."
"Tidak ada yang berbeda!"tegas Bella. Ken hanya mengangguk pasrah. Percuma ia nantinya beli rumah jika istrinya tidak menyukainya.
Keduanya kini berjalan dengan bergandengan. Saat melewati gerbang rumah lain, di antaranya tak sedikit yang memberikan senyum atau menyapa seraya melayangkan godaan untuk pasangan itu.
Langkah yang ringan dengan suasana hati yang membaik. Keduanya sama-sama melemparkan senyum.
"Astaga! Hampir saja lupa!"seru Ken. Ia berhenti dan menepuk dahinya sendiri.
"Ada apa?"
"Aru hari ini aku sidang skripsi. Apa kau tak apa jika tak ada aku?" Bella akhirnya tahu apa yang Ken lakukan sepanjang malam. Ia menghafal dan memahami skripsi yang ia buat.
"Tidak apa. Semoga kamu lulus dan segera wisuda ya," ucap Bella.
"Sungguh?" Bella mengangguk.
"Aku pasti akan lulus!"ucap Ken yakin.
*
*
*
"Jadi Dylan apa rencanamu sekarang?" Surya bertanya setelah selesai sarapan. Masih ada cukup waktu sebelum berangkat ke perusahaan.
"Rencana?" Dylan menatap Bella. Ken balas menatap garang Dylan namun Dylan tidak goyah.
"Kenapa menatapku? Katakan saja apa yang kau pikirkan setelah keluar dari sana," ujar Bella lembut. Dylan mengangguk pelan.
"Aku berencana menyelesaikan pendidikanku sampai SMA," jawab Dylan yakin.
"Itu akan sangat lama. Di umur berapa kau akan tamat?" Brian yang pertama menanggapi jawaban Dylan.
"Satu tahun saja sudah cukup!" Kecuali Bella, yang lain terperangah dengan ucapan Dylan yang sangat yakin san mantap.
"Apa yang kau katakan, Dylan? 6 tahun disingkat jadi satu tahun?" Surya menatap penasaran Dylan.
"Jangan bercanda, bocah! Kapasitas jenius kak Brian saja lulus SMA umur 16 tahun, sedangkan kau apa mungkin lulus SMA umur 14 tahun?"ucap Ken.
"Nak, Bunda tahu kalau kau kehilangan banyak waktu. Akan tetapi waktu satu tahun itu sangat singkat loh. Dan materi pelajaran enam tahun itu bukan tipis." Rahayu ikut menimpali.
Apa dia begitu cerdas atau angkuh?batin Silvia. Dylan menunjukkan raut wajah tidak senangnya.
"Apa keluarga terpandang suka meremehkan kemampuan orang lain?!"cibir Dylan, tatapannya sinis. Bella juga ikut tersenyum sinis. Ia meletakkan kasar gelasnya. Semua tatapan tertuju pada Bella.
"Dylan bisa melakukan apa yang ia ucapkan." Dylan tersenyum mendengarnya.
"Dan masa pendidikan bukan enam tahun lagi tapi 3 tahun. Karena sebelum koma Dylan sudah menyelesaikan menengah pertamanya."
Tatapan yang didominasi terkejut atas pemaparan Bella. Kelima orang itu bergantian menatap Bella dan Dylan. "Sungguh?"
"Pernah dengan julukan Permata dari keluarga Buana?"tanya Bella. Surya mengeryit kemudian mengangguk diikuti oleh Dylan. "Dylan lah orangnya. Ya kebanyakan mengira itu anak sulung, tapi yang benar adalah anak bungsu."
"Sungguh tidak terduga. Ternyata kau jenius keluarga Buana. Aku yakin keluarga Buana akan kembali berdiri, segera." Surya memberikan tatapan lembut pada Dylan.
"Tidak. Aku masih bukan apa-apa jika dibandingkan dengan Kak Abel."
"Eh?" Bella tersentak sendiri saat Dylan menyeret namanya.
"Abel?"
"Di antara kami berempat, kak Abel-lah yang paling cerdas. Hanya saja kak Abel enggan untuk lompat kelas, malah memilih kenaikan kelas pada umumnya." Bella tersenyum simpul mendengar ucapan Dylan.
"Aku hanya ingin menikmati rasanya menjalani pendidikan seperti siswa pada umumnya," ujar Bella.
Ken menatap kagum, dalam hatinya sedikit merasa tak sebanding dengan Bella. Ia merasa insecure.
Sainganku sungguh berat, batin Brian, menatap datar Bella.