This Is Our Love

This Is Our Love
Alasan



Deg.


Semua karenaku?


Apa maksudnya?


Aku tidak mengerti.


Tatapan Nesya berubah, menatap Bella penuh amarah. Bella terhenyak sejenak, dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya datar.


Bella tidak bergeming kala Nesya melangkah mendekatinya.


Bruk!


Nesya mendorong Bella jatuh. 


Bella tidak mengatakan apapun, tetap diam, mendongak menatap wajah Bella yang memerah.


"Kenapa diam? Kau bingung? Hehehe biar aku jelaskan Kakakku tersayang!"


"Ingat saat kau pergi dulu?"tanya Nesya, dingin.


Ingatan Bella melalang buana ke saat itu.


Saat itu, usianya masihlah 17 tahun. Bella meninggalkan Indonesia ke Amerika saat usianya masih 17 tahun. 


"Kau lupa Kakak? Saat itu, kau pergi seminggu setelah ayah dan ibu mati. Kau meninggalkanku bersama dengan nenek dalam keadaan berantakan. Kau pergi di saat keluarga kita hancur dan aku butuh dukungan dan kasih sayang. Kau tetap pergi walaupun aku menangis merengek padamu," ucap Nesya yang membuat Bella terhenyak.


Memang benar. Beberapa tahun yang lalu sebelum ia pergi, keluarganya bangkrut dan terpaksa pindah dari lingkungan perumahan berkelas ke lingkungan pinggiran kota ini. Rumah sederhana dengan fasilitas tak memadai. 


Bella yang pada dasarnya seorang anak yang sederhana tentu saja tidak terlalu terkejut, berbeda dengan Nesya yang biasa dimanja dan hidup mewah serba kecukupan.


Beberapa bulan setelah keluarganya bangkrut, kedua orang tua mereka tewas kecelakaan. Harapan bisa bangkit seakan sirna. Nesya semakin drop kala itu. 


Beasiswa yang memang Bella dapatkan jauh sebelum keluarganya bangkrut, membuat Bella bertekad membuat keluarganya bangkit.


Sesungguhnya ia pun terpaksa. Dengan tekad pendidikan tinggi dan pekerjaan layak, Bella meninggalkan tanah air.


"Oh sepertinya kau sudah ingat. Kakak kau pergi tanpa mempedulikan kondisiku! Kau meninggalkanku dan nenek dalam kondisi terpuruk! Aku kekurangan kak! Uang dan kasih sayang! Aku juga harus menanggung hinaan dari teman-temanku. Aku juga harus membantu nenek jualan kue untuk tetap bisa sekolah."


"Aku kekurangan sedangkan Kakak hidup enak di sana. Aku harus mengurus nenek yang sakit-sakitan sedangkan Kakak hanya sibuk belajar-belajar dan belajar! Aku ingin mengeluh. Tapi tapi Nenek selalu melarangku mengeluh padamu! Dia menyuruhku untuk tetap tersenyum saat berbicara denganmu. Why? Kau boleh pergi sedangkan aku harus jadi anak rumahan yang mengerjakan pekerjaan kasar? Aku harus hemat. Ingin ini, ingin itu tidak bisa memilikinya!"


"Kau?!"


"Tapi apapun alasannya, tak mengubah kenyataan bahwa nenek sudah mati dan aku sudah terjerumus dalam kegelapan, kau lah penyebabnya!"'


Nesya berkata dengan nada lirik.


"Jadi semua salahku?"gumam Bella, hatinya berdebar tak karuan. 


"Ya."


Nesya berlutut di hadapan Bella.


"Salahku? Hahaha! Ini sangat menggelikan!"


"Aku pergi dengan niat membangun kembali keluarga Chandra, tapi- tapi nyatanya akulah yang menghancurkan keluargaku! Lucu. Bodoh! Palsu!"


Bella menatap nanar ke depan. 


"Aku ini bodoh!"


"Nenek aku minta maaf, Nek! Aku egois. Aku hanya melakukan apa yang aku pikir paling baik tapi itu hanya menambah beban nenek dan membuat adikku celaka. Akulah yang mendorongnya! Hiks-hiks …."


"Kakak kau langsung mengakuinya?"


"Aku salah! Aku salah Nenek! Maaf!" Bella memukul pipinya sendiri. Berkali-kali. Nesya tertegun. Kakaknya menyakiti dirinya sendiri? Tidak! Nesya juga tidak sekejam itu. Bella tinggalah keluarganya satu-satunya. 


"Kakak stop!" Nesya menahan kedua tangan Bella.


"Stop Kakak!"


Tenaga Bella yang besar membuat Nesya kembali tersungkur. Sayangnya, Nesya tidak kunjung bangkit.


"Kakak, sakit!"


Bella langsung sadar dan menatap Nesya yang merintih sakit dengan memeluk perutnya.


"Nesya?!"


"Nesya kau kenapa?"


"Kakak sakit."


"Bertahanlah!"