This Is Our Love

This Is Our Love
Rumah Anjani



Keesokan paginya, selesai sarapan Bella langsung pamit untuk mengantar Anjani. Ken sudah pamit bahkan sebelum sarapan. Keluarga yang sudah paham tak banyak berdebat lagi. Bella hanya menatapnya datar tanpa sepatah katapun.


Rahayu yang sudah lengket dengan Arka, mengajukan diri untuk ikut mengantar, begitu juga dengan El, dan Silvia. Brian melirik Silvia dengan tatapan tidak suka. Silvia langsung diam, binar harap di matanya sirna. Silvia kembali dalam mode wajah datarnya.


Bella maupun Anjani sendiri tidak kuasa menolak. Maka jadilah Rahayu dan El ikut ke rumah Anjani. 


"Papa tidak bisa ikut. Ada meeting penting," ucap Surya.


"Siapa juga yang ngajak Papa," cetus El yang berhasil membuat darah Surya naik.


Surya hanya melirik kesal El, kemudian berdiri. Mengecup kening Rahayu kemudian pamit berangkat kerja. Disusul oleh Brian.


"Mas …." Silvia memanggil lirik. Brian menghentikan langkahnya, "pergilah," ucapnya tanpa berbalik, kembali melanjutkan langkahnya.


Senyum Silvia mengembang. 


"Jani kamu naik mobil samaku, okay," ucap El.


"Maaf Tuan Muda, saya sama Abel saja. Aka saja yang naik mobil," tolak Anjani.


"Yah kan enakan naik mobil. Nggak kena polusi, nggak kepanasan." El membujuk.


"Tapi saya lebih nyaman sama Abel, Tuan Muda," tegas Anjani.


"Abel saja yang ikut naik mobil. Kan muat," ucap El.


"Masalahnya aku nggak bisa naik mobil, Kak El," sahut Bella.


"Hah? Nggak bisa naik mobil? Zaman sekarang masih ada perempuan yang nggak bisa naik mobil? Astaga, kamu ini kayak orang udik saja, mabuk darat! Abel-Abel padahal kamu bertahun-tahun di luar negeri, ckckck," seru El berdecak heran. Matanya membulat membuat wajah El terlihat imut. 


"Hei bukan udik, Tuan Muda. Tapi trauma! Tidak tahu apapun jangan sembarangan mendikte!"sahut Anjani, kesal.


"Trauma?" Dahi El mengerut penasaran. 


"Sudah-sudah lanjut nanti saja. Ayo kita berangkat, hari semakin siang loh," potong Rahayu.


*


*


*


"Aka kamu sudah lama kenal sama Aunty Abel?"tanya El penasaran, menatap Arka yang tengah bercengkrama ria dengan Rahayu.


Arka menoleh pada El, "sejak Aka bisa mengingat, sejak itu Aka kenal sama Aunty Abel," jawab Arka.


"Wah sudah lama ya. Lalu apa Aka kenal sama keluarga Mama Aka?"tanya El lagi.


Arka menggeleng.


"Aka hanya kenal Nenek dari pihak Papa. Tapi Aka nggak suka sama nenek. Nenek kasar sama Mama. Mama juga nggak pernah bahas tentang keluarganya," jawab Arka jujur. El mengangguk mengerti. Rahayu dan Silvia menjadi pendengar yang baik. 


"Lantas apa Aka tahu kita mau ke mana?"tanya El lagi, memalingkan wajahnya melihat Bella dan Anjani yang memimpin jalan. Bella mengendarai motornya dengan kecepatan sedang agar mudah diikuti. 


"Tahu. Kata Mama akan pulang ke rumah lama Mama."


El ber-oh-ria.


El kemudian kembali menanyakan berbagai macam pertanyaan. Jiwa kekepoan El melonjak tinggi untuk Anjani dan Arka, juga Bella. Arka yang masih polos dan jujur sesuai dengan kata orang, anak kecil selalu jujur menjawab pertanyaan El dengan jujur. El tentu saja tersenyum senang, sungguh lebih mudah mendekati Arka daripada Anjani yang kadang sopan, namun ketus.


"El jangan katakan kamu ada rencana PDKT sana Anjani?!"


El tertawa dan mengangguk. Rahayu menyipitkan matanya, "jangan main-main dengan Anjani, El. Wanita yang pernah merasakan pahit dan gagalnya sebuah rumah tangga cenderung sulit untuk membuka hati lagi. Terlebih Anjani sudah punya anak dan anaknya membenci sosok seorang Papa. Juga Anjani adalah seorang Presdir, pasti anak adalah prioritas tertingginya," ungkap Rahayu, memberi nasehat juga peringatan untuk El. 


"Hehehe Bunda tenang saja. El nggak bakal main-main kok. Anjani itu berbeda dari wanita di luar sana, para kekasih El," jawab El, menunjukkan deretan gigi putihnya.


Rahayu mendengus senyum.


"Tinggalkan para wanita itu, El. Mereka hanya mau hartamu. Berubahlah, El. Tinggalkan pergaulan dan kebiasaan burukmu. Semua itu ladang dosa, El," tutur Rahayu. 


El hanya tersenyum tanpa menjawab. 


*


*


*


"Hei Jani, kau masih ingatkan letak rumahmu?"tanya Bella.


"Tentu. Sebentar lagi, Bel. Rumahku paling ujung. Di depan gerbangnya ada patung berlian," jawab Anjani.


"Ya."


Benar, saat sudah hampir di ujung kompleks perumahan, ada sebuah rumah yang gerbangnya berwarna biru muda dengan patung berlian berwarna senada yang bertengger di dua ujung gerbang. 


Bella menghentikan motornya, Anjani turun dan membunyikan bel pintu gerbang.


"Siapa?"


"Pemilik rumah ini!"


"Hah? Apa yang Anda katakan, Nona?" 


"Apa Mbok Santi masih kerja di sini?"tanya Anjani.


"Anda kenal dengan Mbok Santi? Anda siapanya?" Penjaga gerbang itu dan pelayan di rumah ini agaknya belum tahu kabar bahwa majikan lama mereka telah mendekam di dalam jeruji besi.


"Katakan padanya Anjani ingin bertemu!" Walau ragu, penjaga gerbang itu bergegas memanggil nama yang Anjani sebutkan.


Tak lama gerbang terbuka, seorang wanita yang masih mengenakan apron dengan wajah yang tampak rumit, antara senang, bingung, juga khawatir berdiri tak jauh dari Anjani.


"Nona besar?" Ia bergumam dengan mata berkaca-kaca.


"Mbok, Jani pulang," ucap Anjani dengan maya berkaca-kaca pula. 


Wajah Mbok Santi berubah menjadi cemas, ia memegang pundak Anjani dengan mata berharap Anjani menurutinya.


Mata Mbok Santi melirik kanan kiri dengan awas, waspada jika sang majikan pulang. Anjani tersenyum, membalas pegangan pundak Mbok Santi.


"Mbok nggak perlu takut. Nggak akan ada lagi yang akan menyakiti Jani."


Mata Mbok Santi menatap bingung dan tidak percaya dengan ucapan Anjani.


"Nona Besar, jangan bercanda. Selama mereka masih ada, Anda tidak akan pernah aman jika terlihat oleh mereka. Cepatlah pergi selagi mereka masih belum pulang," ujar Mbok Santi. Anjani menggeleng, tersenyum lembut.


"Mereka nggak akan pulang lagi, Mbok. Mereka sudah Jani penjarakan! Sekarang semua milik Mama yang pernah mereka ambil telah kembali ke tangan Jani. Jadi hari ini, rumah ini telah kembali kepada pemilik aslinya. Mbok nggak perlu cemas lagi," beritahu Anjani. Mbok Santi melebarkan matanya. Ia masih tidak percaya. Anjani yang dulu lemah, penakut, juga bodoh memenjarakan keluarga tirinya? Apakah ini alasan bahwa majikannya tidak pulang sejak kemarin siang?


"Jani aku haus," ucap Bella yang mulai jengah sembari menunjuk tenggorokannya.


"Ah aku lupa, Bel. Ayo masuk."


Bella langsung melajukan motornya masuk. Diikuti oleh mobil yang membawa keluarga Mahendra.


"Mama … ini rumah Mama?" Aka langsung berlari mendekati Anjani yang masih sibuk berbicara dengan Mbok Santi.


"Nona Besar ini?"


"Dia anakku, Mbok. Arkano Pramuji," ujar Anjani.


"Ma ini rumah Mama?" Arka kembali menanyakan hal yang sama.


"Bukan, ini rumah Nenek, Sayang," jawab Anjani.


"Nenek?"


"Iya, tapi Nenek sudah tidak ada jauh sebelum Aka lahir," jelas Anjani.


Arka mengangguk mengerti.


"Wah Jani, rumahmu besar juga ya," puji El. 


Anjani hanya tertawa ringan, kemudian mengajak semua masuk.


Rumah berlantai dua yang sudah mengalami renovasi. Bercat gradasi biru dan putih. Pilar rumah yang bergaya Eropa dengan lantai bercorak abstrak. 


"Rumah ini sangat berbeda," ucap Anjani yang tak menemukan jejak Mamanya juga dirinya sejak memasuki rumah. 


"Maaf Non. Mbok nggak bisa melawan perintah mereka. Bibi diancam oleh mereka, Non. Tapi Non tenang saja, semua foto Nyonya juga Non masih Mbok simpan," ucap Mbok Santi.


"Singkirkan semua barang mereka!"ucap Anjani yang segera diangguki oleh Mbok Santi. Mbok Santi sebagai pelayan senior kemudian mengumpulkan semua pelayan, memberitahu apa yang terjadi pada majikan lama mereka dan mengenalkan Anjani sebagai majikan baru. Semua tampaknya terkejut juga bernafas lega. Majikan lama mereka tidak mereka sukai. Kasar dan suka marah-marah. 


Mereka juga kaget mengetahui bahwa Anjanilah yang sesungguhnya majikan mereka. Mereka kemudian membungkuk hormat pada Anjani, termasuk penjaga gerbang yang tampak takut atas sikapnya tadi.


"Tidak perlu merasa bersalah, Pak. Wajar Anda bersikap seperti tadi," ucap Anjani yang membuat penjaga gerbang itu menghela nafas lega.


"Terima kasih, Nona," ucapnya.


Setelah perkenalan singkat itu, Anjani, Bella, dan keluarga Mahendra kembali berbincang. Arka yang tampan langsung menjadi primadona para pelayan. Mereka mengerubungi Arka dan mengajaknya berkeliling rumah ini, sekaligus menyingkirkan semua jejak keluarga tiri Anjani. 


"Hm Jani perusahaanmu bergerak di bidang perhiasan bukan?"tanya El serius.


"Ya benar," jawab Anjani singkat.


"Sebagai Presdir baru, bukankah ada target yang harus dicapai?"tanya El lagi yang diangguki Anjani.


"Bagaimana jika kita bekerja sama? Aku akan meminta perusahaan untuk mengajukan kerja sama dengan perusahaanmu. Jadi perhiasanmu bisa di promosikan di dalam film-film PH kami, termasuk dalam filmku," tawar El. Anjani menatap Bella yang menyimak tawaran El seraya menikmati secangkir teh.


"Jika di film yang Kakak disutradarai, aku agak ragu, Kak El. Aku sudah selesai mencari tahu semua film atau drama yang kakak sutradarai, dan kesimpulannya semua yang kakak sutradarai, memiliki rating yang rendah juga penonton yang sedikit. Singkatnya film kakak tidak laku di pasaran," ucap Bella kritis yang membuat El tersedak dan menatap protes Bella.


"Tidak seburuk itu juga, adik ipar."


"Tapi itu nyatanya."


El terdiam dengan bibir tersenyum simpul. 


"Jadi bagaimana, Bel?" Anjani memecah suasana.


"Dengan PH aku tidak masalah."


"Jadi kau setuju, adik ipar?" El kembali bersuara dengan mata berbinar. 


"Bukan tawaran yang buruk."


"Yes!" El melonjak senang.


Baguslah, El mulai berubah, batin Rahayu.


"Eh iya, kakak ipar apa kau sudah mendapat izin kak Brian untuk bekerja di perusahaan?"tanya El penasaran. Silvia menggeleng.


"Belum dapat."


"Yah harus berusaha lebih keras lagi, kakak ipar," ucap El.


"Loh kamu mau kerja Via?"tanya Rahayu heran.


"Iya Bun, rencananya. Sayang ijazah Via nggak digunakan," jawab Silvia.


"Oh tapi nanti kalau kamu kerja, Bunda nggak ada temannya dong di rumah," ucap Rahayu, dengan mata tidak rela.


Silvia langsung merasa tidak enak, "masih rencana kok, Bun. Lagipula Mas Brian belum ngasih izin," ucap Silvia menenangkan Rahayu.


"Kalau sudah dikasih nanti?"tanya balik Rahayu. Silvia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, serba salah. 


"Tapi kalau Bunda sudah punya cucu nanti, Bunda nggak bakal kesepian sekalipun kalian semua bekerja." Mata Rahayu langsung berbinar membayangkan ia meminang cucu. Kali ini, Bella dan Silvia saling lirik.


Boro-boro punya anak, wong tutup botolnya saja belum dibuka, batin Bella.


Gimana mau punya anak, Bun? Bunda kan nggak tahu hubunganku yang sebenarnya dengan Mas Brian, batin Silvia.