This Is Our Love

This Is Our Love
Anggap Saja Tidak Terjadi



"Benar-benar sulit dipercaya. Abel kau benar-benar penuh kejutan. Aku tidak tahu harus berkata apa selain you're amazing!" 


Bella mendengus mendengarnya. "Kau tidak merasa tersaingi?" Tipe dingin seperti Brian, yang sikap dingin dan angkuhnya sejalan dengan kemampuannya, biasanya akan timbul rasa tersaingi, timbul rasa tidak senang, timbul rasa ingin menyaingi. 


"Tersaingi? Ya, aku merasa demikian," balas Brian. 


Ken menatap Bella dan Brian bergantian. Pembicaraan kedua orang itu sulit ia mengerti. Ya tidak mengerti karena Bella dan Brian saling berterus terang dan blak-blakan. Pembicaraan yang cukup serius dengan sikap santai. 


"Lantas?" Bella ingin tahu apa yang akan Brian lakukan. 


"Tentu saja mengejar." Ya, benar-benar berterus terang. Namun, memang begitu semestinya. Hidup perlu ambisi, ambisi adalah hal penting. Ambisi, itu seperti pecut bagi diri sendiri dan akan mendapatkan hasil yang sesuai jika diiringi dengan tindakan jika arahnya kepada hal yang baik. 


Namun, jika mengarah ke hal negatif, maka ambisi itu adalah sebuah bumerang, diri akan diperalat oleh ambisi. Ambisi itu dapat melambungkan dan membutakan, dan tingkatan ambisi lebih dari keinginan. 


"Masih ingat apa percakapan kita di rooftop tempo hari?"tanya Bella. 


"Ambisi itu penting. Tapi, jangan sampai gelap mata dan termakan dengan ambisi," sahut Brian. 


Ken sudah tahu, makanya ia tidak terkejut. "Hm … tapi, boleh aku katakan satu hal?" 


"Ya, silakan," ujar Bella.


"Ambisiku adalah menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Untuk menyaingimu sampai ke tahap sekarang, aku rasa sampai aku mati nanti belum tentu bisa." Bukannya pesimis. Hanya saja perbedaan tingkat kekuasaan dan juga kemampuan cukup jauh. Bella tertawa mendengarnya. 


"Brian, harga yang paling berharga di diri adalah …." Bella menyentuh kepalanya dan menyentuh dada Ken. Mengartikan harta manusia yang paling berharga adalah hati dan pikiran atau brain. Karena jika kedua itu sudah rusak, kehidupannya juga akan rusak. Itu adalah dua komponen penting dalam diri dan hidup ini. 


"Ya, kau benar, Abel. Harta hanya titipan."


"Namun, tanpa harta, kita juga tidak bisa hidup. Harta dan hati atau iman, keduanya saling berhubungan. Namun, jika salah satunya lebih didahulukan, dan satunya diabaikan, maka itu juga sebuah kekeliruan. Jadi, harus seimbang. Benar begitu kan, Aru?" Ken mengungkapkan pendapatnya. Bella menganggukinya, begitu juga dengan Brian. Keduanya setuju.


"Aku menunjukkan hal ini pada kalian bukan untuk menyombongkan diriku. Aku tidak ingin karena hal ini membuat hubungan diantara kita renggang. Aku menunjukkan diriku sebagai ahli waris Tuan Williams adalah untuk menyelesaikan urusanku dengan keluarga Nero. Jadi apapun tanggapan kalian aku harap itu mengarah pada suatu hal yang sifatnya membangun dan mengarah pada hal yang baik," tukas Bella.


"Dan sepulangnya dari sini nanti anggap saja apa yang terjadi pada hari ini tidak berat terjadi aku lebih suka dikenal karena kemampuanku sendiri bukan karena tangan orang lain." Bella memberi penegasan.


"Baiklah." Walaupun begitu tidak mungkin keduanya melupakan identitas Bella ini. 


"Lantas apa kau akan memberitahu yang lain, Aru?"tanya Ken. Bella menggeleng. "Yang terjadi di sini tidak perlu dibawa pulang!"tegas Bella. 


Jika sampai terdengar oleh yang lain selain Ken dan Brian pasti akan menimbulkan sebuah kehebohan tersendiri. Dan itu bisa menciptakan sebuah kesenjangan karena biasanya orang yang lebih berkuasa walaupun dia lebih muda, akan menerima perlakuan formal dan Bella tidak menginginkan hal itu terjadi dalam lingkup keluarganya. 


"Eh iya bagaimana awal kesadaran adik istrimu?"tanya Bella penasaran. Rasanya sudah cukup mereka membahas tentang dirinya sekarang giliran membahas tentang adik Silvia, Fajar. Brian menatap lurus ke depan. Ia telah mengingat awal mula kesadaran Fajar.


"Dia sadar setelah Via menceritakan tentang kehamilannya. Mungkin kabar baik itu memberi rangsangan pada Fajar yang berada di alam bawah sadar. Kalau dari segi medis aku kurang tahu karena dokter pun mengatakan yang sebuah keajaiban," terang Brian. 


Ah Ken pernah mendengarnya. Ia ingat bahwa dokter pernah memvonis Fajar sulit atau kemungkinan untuk sadarnya kecil. Jadi, setelah dua tahun lebih terbaring koma dan sadar itu dianggap sebuah keajaiban.


Ken dan Bella saling tatap melihat jawaban dan ekspresi Brian. Keduanya yang sedikit banyaknya tahu bagaimana pernikahan Silvia dan Brian menggeleng pelan sebagai reaksi. Bella tidak mempertanyakan hal itu lagi.


"Kak, kalau tidak salah kemarin Papa menugaskan kau dan aku untuk melakukan sidak mendadak di perusahaan, bukan?"tanya Ken, mengalihkan pembicaraan Brian mengangguk. "Itu kan kita lakukan besok pagi," ucap Brian. 


"Kau mau ikut juga, Abel?" Brian menawarkan. 


"Tidak," jawab Bella langsung.


"Mengapa?"


"Urusanku dengan keluarga Nero belum selesai. Mungkin besok aku harus pergi ke pengadilan," papar Bella. 


"Baiklah. Berarti aku dan Ken saja yang pergi." Ya, Ken butuh belajar lebih banyak. Bella bisa menangani urusannya sendiri. 


Untuk Silvia, pasti akan tetap menemani Fajar di rumah sakit sampai hari kepulangan tiba. Itu menjadikan Brian dan Silvia menginap di rumah sakit. 


"Okay." 


Mereka kembali mengobrol di saat demikian ponsel Bella berbunyi. Bella menjawabnya. Dari Tuan Adam. Segera Bella menjawabnya.


"Ya, Paman," jawab Bella. Ken dan Brian menjadi pendengar yang baik. 


"Mereka masih menunggu?"


"Baiklah. Aku akan segera ke sana," jawab Bella sebelum menutup panggilan.


"Ada apa, Aru?"tanya Ken langsung.


"Ken aku ada urusan lagi di rumah. Jika kau ingin tetap di sini, aku akan meninggalkan mobil di sini. Tapi, jika kau ingin ikut pulang, ayo," terang Bella. 


Bella berdiri. Brian yang agaknya mengerti, tidak terlalu heran dengan itu. 


Ken? Tentu saja ia menjawab ikut dengan Bella. "Sampaikan salam kami pada Via dan adiknya. Besok pagi kami akan kesini lagi," ujar Bella pada Brian.


"Baiklah. Kalian juga hati-hati," balas Brian.


"Assalamualaikum." Bella dan Ken berpamitan.


"Waalaikumsalam," jawab Brian. Bella dan Ken kemudian melangkah keluar dari ruangan. 


Setelah Bella dan Ken menghilang dari panjangnya, wajah Brian menunjukkan kelegaan. Ia tersenyum. Mensyukuri akan keputusannya untuk tidak mencari masalah dan bermusuhan dengan Bella. Jika tidak, bukanlah ia akan mendapat pukulan telak?