
"Eh-eh hal menyenangkan apa yang membuatmu begitu tenggelam, Anjani?"
"Abel? Kau di sini?" Anjani sontak memalingkan wajahnya dari layar ponsel ke arah pintu, di mana Bella berdiri tak jauh dari mejanya, menatap dirinya dengan mengangkat satu alis kemudian berganti menjadi tersenyum lebar.
"Bukankah hari ini ada jadwal meeting denganku?"jawab Bella, santai dan melangkah mengambil tempat duduk di depan Anjani.
Anjani langsung melihat jam tangannya, "lima belas menit laginya. Mengapa tak menunggu di ruang meeting saja? Ken mana?" Bella berdecak, memutar bola matanya malas. Sepertinya hendak mengalihkan pembicaraan.
"Kebiasaan selama bekerja di sini, lagipula ruangan ini pernah jadi ruanganku, tidak salah kan mengunjunginya? Sedangkan Ken, dia masih mengerjakan tugas yang aku suruh." Anjani ber-oh-ria. Ia menyimpan ponselnya.
"Sekarang jawab pertanyaanku, sedang lihat apa tadi ? Sampai salamku tidak dijawab," selidik Bella.
"Waalaikumsalam!" Anjani refleks menjawab. Membuat Bella terkikik geli, "ayo katakan padaku … apa kau sudah menemukan gebetan lain selain El?"
Uhuk!
"Kau kira aku ini mudah untuk berpaling apa? Aku memang janda, tapi aku bukan wanita murahan!"sungut Anjani seraya membersihkan bibirnya dengan tisu.
"Hm-hm. Baik- baik. Aku percaya bukan gebetan karena aku tahu hatimu sudah diberikan pada El. Emm biar ku tebak lagi." Bella memegang dagunya berpikir.
"Dari Aka juga tidak seperti tadi juga. Dari mantan suami, lebih mustahil. El rasanya juga …." Bella menatap reaksi Anjani. Kedua alis Anjani sedikit terangkat, matanya sedikit membulat.
"Jangan katakan kalau …." Bella memainkan jari telunjuknya di depan Anjani.
"Al right," jawab singkat Anjani. Bella sontak membulatkan matanya.
"Seriously? Bagaimana caranya?!"
"Aku juga tidak tahu," jawab Anjani, mengendikkan bahunya.
Bella masih terperangah, "aku penasaran bagaimana caranya ia bisa mengirim pesan padamu. Kira-kira El meminjam atau mencuri kesempatan ya?" Bella kembali berpikir, Anjani juga mengikut. Keduanya saling tukar pandang serius, pelan senyum terukir pada wajah keduanya.
"Bukan hal aneh!"ucap keduanya bersamaan, kemudian tertawa lepas.
*
*
*
"Makan siang di sini, okay?!"tanya Anjani menawarkan dengan nada menekan. Mereka baru saja selesai meeting dan sebentar lagi jam makan siang. Bella melirik Ken. Ken yang ikut melirik Bella langsung melihat jam tangan dan jadwal Bella. "Terima kasih atas tawaran Anda, Presdir Anjani. Tapi kami ada meeting penting setelah ini," jawab Ken.
"I'm sorry," ucap Bella melihat wajah kecewa Anjani.
"Hm saat ini pekerjaan lebih penting. Pergilah," jawab Anjani lesu.
"Aku pergi, assalamualaikum," pamit Bella.
"Waalaikumsalam." Sebelum keluar, Bella menepuk lembut punggung Anjani. "See you next time."
"Hm see you too," sahut Anjani dengan bergumam.
Padahal ingin cerita tapi sudahlah pulang kerja saja nanti chatting dengan Abel, batin Anjani, kembali ke ruangannya.
*
*
*
Setibanya di perusahaan, Ken dan Bella langsung menuju ruangan mereka. Makan siang berdua dengan cepat tanpa membuang waktu. Ada waktu tiga puluh menit lagi sebelum meeting. Bella kembali mengecek berkas begitu juga dengan Ken. Sekarang sisa waktunya tinggal setengahnya. Bella menghela nafas pelan, semua sudah sangat sesuai.
"Aru." Bella langsung menoleh saat Ken memanggilnya.
"Apa kau sudah membuat rencana bulan madu kita? Maksudku tempat mana saja yang akan kita kunjungi, makanan apa saja yang akan kita coba, apa saja yang akan kita lakukan?"tanya Ken rinci. Bella mengeryit sesaat, ia lantas menggeleng.
"Ikuti saja alurnya nanti." Ken menghela nafas kasar. Istrinya ini, dia yang mengajukan cuti untuk bulan madu, namun hal apa yang akan mereka lakukan tidak ada direncanakan!
"Oh ku kira sudah ada, blur misalnya."
"Sama sekali tidak terpikir."
"Aku juga tidak tahu apa yang harus aku rencanakan, makan, ini, itu aku rasa bisa ditentukan saat tiba di sana," lanjut Bella, meringis pelan melihat wajah kusut Ken. "Lagian itu kan harusnya tugas suami. Aku sudah maju untuk mengajukan cuti, jika aku lagi yang memikirkan rencana, maka aku merasa kita bertukar peran," tambah Bella, ia kembali meringis mengamati ekspresi horor Ken.
Ken jelas merasa tersindir. Selama ini bisa dikatakan ia hanya sedikit menanggung beban kebutuhan Bella, baik materi ataupun batin. Malah sebaliknya, walaupun Ken tidak meminta dan cenderung menolak, Bella selalu memberikannya uang sekadar untuk uang jajan.
Ken melirik, mencuri pandang ke arah Bella yang menatapnya lurus. Ada rasa bersalah yang hinggap di wajah tenang itu.
"Hm … bahas nanti saja. Ayo," ucap Bella setelah melihat jam tangannya sekilas. Bella berdiri dan merapikan pakaiannya. Ken diam sebentar sebelum akhirnya mengikut setelah Bella tiba di ambang pintu.
Meeting berlangsung selama dua jam. Selama dua jam itu pula Ken tidak fokus pada meeting. Berulang kali Bella menegurnya untuk fokus dan mencatat poin penting pembahasan. Bella keluar dari ruang meeting dengan wajah andalannya, datar, tenang, segera kembali ke ruangannya.
"Aru … maaf." Entah maaf untuk perbincangan sebelum meeting tadi atau saat meeting tadi, Bella hanya melirik sekilas.
"Aku tahu aku belum sepenuhnya menjalankan tugas seorang suami. Aku tahu aku keliru menganggap semua urusan rumah tangga termasuk bulan madu kau yang menangani. Aku tahu aku ini memang tidak berguna jadi suamimu," ucap Ken dengan nada seperti ini menangis. Ia berdiri di depan meja Bella dengan pandangan menunduk, bak sedang melakukan sikap mengheningkan cipta. Bella meletakkan kasar berkas yang tengah ia buat.
"Lantas apa kau ingin semakin ku pandang rendah dengan menunduk di hadapanku?"tanya Bella datar. Menatap dalam Ken. Ken mendongak perlahan. Matanya sudah berkaca-kaca, semudah itu membuat Ken menangis?
"Aku akan melakukan apapun demi mendapat maafmu!"ucap Ken bergetar namun terdengar begitu yakin.
Bella memijat pelipisnya. Apa suaminya ini serius?
"Sudahlah lupakan saja masalah tadi. Aku tidak marah padamu kok," tukas Bella. "Masalah rencana apa saja yang akan kita lakukan saat bulan madu lihat saja situasi dan kondisi di sana," tambah Bella. Ken tidak menjawab dengan kata, pria itu mengangguk kemudian melangkah untuk memeluk Bella.
Bayi besar yang sensitif!batin Bella, terkekeh geli sendiri dengan tingkat polah sang suami.
*
*
*
Nizam menggeleng pelan melihat El yang sibuk mengeluh saat mengerjakan kuis darinya.
"Ck aku baru berapa hari masuk sudah kau berondong dengan kuis-kuis mengesalkan ini! Kenapa kau doyan sekali membuatku kesulitan hah?!" Nizam menulikan El pendengarannya.
"Setelah ini apa? Memukul jariku karena banyak yang salah? Zaman apa memangnya ini? Apa di sana kau diajar menghukum begitu?"cerca El, ia terus mengoceh dan Nizam hanya menatap dirinya datar.
"Hei Nizam katakan padaku nomor ini apa jawabannya?"
"Aku tidak ingat!"jawab El, tegas. Nizam tidak bisa berkata menanggapi hal itu. Mengapa ingatan El lemah sekali?
"Waktunya tinggal lima menit!"ucap Nizam.
"What?!"pekik El. Mata El terbelalak, ia mengoceh kesal dengan tangan sibuk menulis, apa saja yang ada di pikirannya. Asalkan tidak kosong pasti tidak terlalu masalah.
"Finish!" Nizam langsung mengambil buku kuis El dan menilainya. El memejamkan matanya kesal, bayangan hukuman sudah menanti di pelupuk matanya. "Ck!"
"Selamat, Tuan Muda. Ada kemajuan!"ujar Nizam setelah selesai menilai. El membuka matanya dan menilai nilai yang ia dapat. Salah dan benar imbang, lumayan.
"Tidak ada hukuman bukan?"tanya El cemas.
"Hukuman sudah kebal terhadap Anda. Tugas Anda sekarang adalah menjawab soal yang salah lalu menghafal semua jawaban. Setelah makan siang, itu tugas satu-satunya Anda. Besok pagi selesai subuh akan saya uji!"jawab Nizam.
El bernafas lega. Tak lama ia menatap curiga Nizam, "kau … mau ke mana??"tanya El.
"Apa seterlihat itu?"
"Hm …."
"Ke Jakarta."
"Serius? Jakarta mana?"
"Pusat."
"Good! Boleh aku titip surat untuk seseorang?"
"Surat? Untuk kekasih?" Nizam sedikit tergelak.
"Calon istri!"jawab El lantang.
Nizam terkesiap, kemarin katanya tidak ada kekasih, sekarang ada calon istri. El kadang sulit dimengerti, "akan aku usahakan. Atau jika aku tidak sempat akan aku kirim dari kantor pos. Tulis alamatnya lengkap ya."
"Yes!" El melompat senang kemudian memeluk Nizam. "T-Tuan Muda?"
"Thank you. Aku akan menulis suratnya dulu." El berlalu dengan langkah riangnya. Meninggalkan Nizam yang masih mengerjap.
*
*
*
"Nona ada seseorang yang ingin bertemu dengan Anda," ucap pelayan pada Anjani yang tengah makan malam di rumah bersama dengan Arka, Bella, dan Ken.
"Siapa?"tanya Anjani.
Pelayan itu menggeleng tidak kenal, "baiklah, suruh tunggu di ruang tamu," ucap Anjani.
Lima menit kemudian, selesai sudah mereka makan malam. Arka masih di meja makan menghabiskan susunya.
"Assalamualaikum," sapa pemuda tampan yang langsung berdiri saat Anjani, Bella, dan Ken tiba di ruang tamu.
"Waalaikumsalam."
"Dengan siapa ya?"tanya Anjani, ia merasa tidak pernah mengenal pemuda tampan ini.
"Saya Nizam. Boleh saya tahu siapa pemilik rumah ini?" Ya Dia Nizam yang baru saja pulang seminar. Langsung ke rumah Anjani untuk menyampaikan surat El.
Bella langsung menunjuk Anjani. Ia menelisik wajah Nizam. Ken yang melihatnya langsung berwajah masam, cemburu. Ken menggandeng lengan Bella, posesif. Bella melirik sebal, ia tetap menelisik wajah Nizam.
"Nona saya membawa titipan untuk Anda," ujar Nizam, menyerahkan sepucuk surat pada Anjani.
"Surat?" Anjani menilik penampilan Nizam. "Dari siapa?"
"Silakan dibaca saja, Nona. Karena suratnya sudah sampai, saya langsung pamit. Assalamualaikum," pamit Nizam. Penerbangannya pulang ke Bandung sebentar lagi.
"Eh minum dulu," tawar Anjani. Nizam menggeleng, "terima kasih atas tawarannya, Nona. Penerbangan saya sebentar lagi. Assalamualaikum."
"Baiklah. Tidak apa. Waalaikumsalam. Semoga penerbanganmu menyenangkan," sahut Anjani.
Nizam tersenyum dan melangkah keluar. "Eh sebentar!" Langkah Nizam terhenti. Ia berbalik, "ada apa, Nona?"
"Kamu … apa kamu pernah bekerja di institute penelitian di Berlin?"tanya Bella memastikan.
Pemuda tampan berjas putih itu tampak terkesiap. Ia mengerjap tak lama kemudian menggeleng pelan, "saya bahkan tidak pernah ke Jerman, Nona. Kalau di Kairo sih lama," jawab Nizam tersenyum.
"Sungguh?" Bella tampak tidak percaya.
"Umi saya tidak pernah mengajarkan saya berbohong. Bisa-bisa tercoreng nama baik pesantren Umi," jawab Nizam.
"Pesantren? Tunggu surat ini dari Kak El, kah?" Ken langsung merubah raut wajahnya.
"Benar. Kok tahu?" Nizam tampak bingung. Ken, Bella, dan Anjani tersenyum.
"Tentu saja aku tahu. Aku ini adiknya!"tegas Ken.
"Benarkah?" Nizam tampak terkejut. Ia tidak menduga bahwa akan bertemu dengan anak bungsu keluarga Mahendra. Itu artinya calon istri yang dikatakan oleh El ini sudah mendapat restu keluarga sampai calon adik ipar bersedia makan malam bersama.
"Ah maaf saya sungguh tidak tahu. Salam kenal dariku, Tuan Muda. Saya anak dari pemilik pesantren tempat Tuan Muda El belajar, Nizam." Nizam mengulurkan tangannya berjabat tangan dengan Ken.
"Bagaimana kakakku sekarang?"
"Alhamdulilah, ada peningkatan," jawab Nizam sekenanya. Nizam kemudian melihat jam tangannya. Ia langsung sekali lagi berpamitan. Ken tidak bisa mencegah walau ia masih ingin bertanya lebih banyak.
"Cie dapat surat cinta dari calon iman nih," goda Bella, merangkul Anjani yang senyum-senyum sendiri menatap surat dari El.
"Ada yang tengah kasmaran. Aru lebih baik kita segera pulang."
"Baiklah. Kami pamit ya, Jani. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Selepas Bella dan Ken pulang, Anjani langsung lari ke kamarnya.