This Is Our Love

This Is Our Love
Siapa Sebenarnya?



"Jadi salah satu alasan kau menolak kembali bekerja di perusahaan adalah ini? Adikmu terkena kasus narkoba?" Bella mengangguk menjawab pertanyaan Louis itu.


Max duduk gusar di samping Bella. Leo menggeleng pelan, prihatin dengan kondisi Bella dan Nesya. Louis mengusap wajahnya kasar. Pantas saja Bella selalu menolak untuk kembali ke Kalendra Group. 


"Aku gagal menjadi seorang Kakak," ucap pelan nan getir Bella.


"Tidak. Kau tidak gagal. Ini bukan salahmu. Hanya kondisi saja yang tidak mendukung. Abel jangan salahkan dirimu sendiri," sergah Surya, membantah ucapan Bella yang menyalahkan diri sendiri.


"Bahkan sampai sekarang aku belum menemuka b*ajingan itu!" Nadanya menjadi geram, sorot matanya dingin. Kedua tangan Bella mengepal, amarah kepada ayah janin Nesya yang telah gugur menguasai hatinya. 


"Hentikan, Abel! Jangan sakiti dirimu sendiri!"ucap Leo yang melihat darah Bella berbalik dan naik ke selang infus. Louis langsung bersimpuh di depan Bella. Ia menyentuh lembut tangan Bella yang diinfus. 


"Tenanglah. Jangan takut. Sepupu Nesya pasti akan baik-baik saja," tuturnya lembut. Surya tersentak pelan saat Louis mengatakan bahwa Nesya adalah sepupunya, artinya Bella juga sepupu Louis. 


Jadi Bella benar-benar keturunan keluarga Kalendra?gumam Surya dalam hati. 


"Louis apa kau belum mengerti apa yang aku khawatirkan?"tanya Bella.


"Adikku terbaring di dalam sana dengan kondisi kritis! Adikku menderita Leukemia! Ia juga keguguran! Dan aku yakin kau tahu dampak operasi pada penderita Leukemia!"


Nada Bella naik satu oktaf, ia menunjuk ke arah pintu ruangan Nesya dengan sorot mata dingin pada Louis. Max menyentuh dadanya yang terasa nyeri, sebegitu buruk kah nasib keponakannya itu? 


Leo mengusap wajahnya kasar. Ternyata di belakang hidup mewah nan bahagia keluarga Kalendra, ada anggota keluarga lain yang menderita. Mereka bahkan tidak tahu sama sekali tentang hal ini namun, apa daya, semua terbongkar ketika hal itu sudah terjadi. 


"Apa kau bisa mengerti apa yang aku rasakan, hah?!" Amarah menguasai Bella. Pikirannya kalut, ia sangat takut kehilangan satu-satunya adik yang  sangat ia sayangi dan kasihi. 


"Abel … bukan itu maksudku." Louis kembali berkata setelah mencerna ucapan Bella. Hatinya ikut pedih merasakan apa yang Bella katakan. Bahkan matanya mulai berkaca-kaca. 


Teringat kembali alasan Bella kembali yakni Nenek Marissa dan Nesya. Baru kembali sudah disambut duka, ditambah lagi tentang adiknya yang menambah luka bagai menabur luka di atas luka. Hidup Bella memang terlihat sederhana, santai dan tenang dalam menghadapi apapun. Namun … ada banyak luka yang ia rasakan dan simpan. 


"Kita pernah saling mencintai, aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi Abel … percayalah, apapun yang terjadi adalah suratan takdir yang telah ditentukan. Tuhan lebih tahu apa yang terbaik untuk umatnya. Bukankah itu yang pernah kau katakan padaku?" Bella dan Louis tetap berpandangan.


"Bersabarlah. Papa akan melakukan yang terbaik untuk keselamatan adikmu. Berdoalah, percayalah, dia akan baik-baik saja," tutur Surya lembut. Menantunya ini butuh dukungan besar agar tidak rapuh. 


Dering ponsel Surya membubarkan suasana hening yang tercipta sejenak. 


"Assalamualaikum, Sayang. Ada apa?"


"Ken sudah sadar?!"


Bella yang bergeming menatap Louis, seketika menoleh ke arah Surya.


"Baik. Papa dan yang lain akan segera ke sana!"


"Syukurlah. Alhamdulillah. Abel suamimu sudah siuman," beritahu Surya. Senyum Bella mengembang. Setidaknya satu kekhawatiran telah sirna. 


"Aku gendong kau ke sana!" Louis langsung menggendong Bella dengan hati-hati. Bella tidak menolak, kabar Ken yang sudah sadar membuatnya lupa akan kesedihannya. 


*


*


*


"K-kalian?" Ken yang kini duduk lemah dengan bersandar pada kepala ranjang menunjuk Louis yang menggendong Bella dengan terbelalak. 


Louis acuh, ia mendudukkan Bella di kursi sebelah ranjang. Bella langsung meriah kemari Ken.


"Bagaimana perasaanmu?"tanya Bella harap-harap cemas.


"Buruk!"jawabnya ketus. Ia memalingkan wajahnya ke arah Rahayu. Suasana Ken menjadi buruk melihat Bella dan Louis yang dianggapnya tengah bermesraan. Ya namanya juga baru bangun setelah 2 hari tidur, pasti bakal linglung.


"He is jealous," bisik Louis, menyeringai menatap Ken. Kedua tangan Louis berada di bahu Bella. 


"Jealous?"gumam Bella, ia menoleh ke belakang dan mendongak menatap Louis. 


"Lihat ke depan, lehermu akan sakit jika begitu." Bella kembali berpaling melihat Ken yang masih memalingkan wajah darinya.


"Oh aku mengerti. Kau marah padaku karena Louis menggendongku?"


Ken menggumam sebagai jawaban. "Dia hanya membantuku. Aku juga terkena tusukan. Mendengar kau sadar, lama rasanya mengambil kursi roda lagi. Aku sangat mencemaskan dirimu. Apakah sikapmu ini balasan yang baik untukku?"jelas Bella, mengeluhkan sikap Ken. 


"Kau juga terluka?" Seketika Ken melihat Bella. Bella sedikit mengangkat baju pasiennya, menunjukkan perban yang menutupi luka tusukan yang dialaminya. Raut wajahnya rumit dan berangsur-angsur menjadi cemas. 


"L-lukamu … bagaimana lukamu? Baik-baik saja kan, Aru?" Dengan sedikit meringis Ken meraih jemari Bella. Hilang sudah rasa kesal dan marah melihat Bella yang digendong Louis tadi.


"Hem. Aku aman. Justru kau sendiri yang butuh waktu lama untuk sadar."


"Maaf." Satu kata penuh sesal meluncur dari bibir Ken.


"Untuk apa?"tanya Bella. 


"Maaf karena aku yang lemah, kau jadi terluka. Maaf andai saja aku tidak mementingkan keinginan hatiku, sampai tertinggal jauh dari bus pasti kau dan aku tidak akan terluka seperti ini. Aku sangat lemah, bahkan melindungi diri sendiri tidak bisa."


Suami berondong Bella itu tergugu, ia menunduk, kembali merasa tak berguna menjadi seorang suami. Bella menghela nafas, tersenyum lembut. 


Louis sendiri mengulum senyumnya. Andai masih jadi pacar pasti Louis akan menyuruh Bella meninggalkan Ken. Namun, sudah jadi suami. Ia tahu prinsip Bella. Terlebih melihat kepedulian Bella yang besar pada Ken.


"Sudahlah. Sudah terjadi untuk apa disesalkan? Toh aku dan kau baik-baik saja," tutur Bella lembut. 


*


*


*


Ken telah sadar dan kondisinya juga stabil, tinggal masa pemulihan saja. Keluarga Kalendra sudah mau kembali ke Jerman dan kini berpamitan dengan Bella dan keluarga Mahendra. 


"Abel baik-baiklah kau di sini. Jangan sampai terluka lagi. Jangan ceroboh dan terlalu memaksakan diri. Ingat golongan darahmu itu super langka. Setelah sehat nanti jangan lupa untuk menyetok kantong darahmu," pesan Max. Ia memeluk keponakan tersayangnya ini. 


"Alright, Dad." Walau sudah tahu bahwa Max adalah pamannya, namun karena kebiasaan Bella tetap memanggil Max dengan Daddy.


"Abel saat lenggang nanti dan kalau Nesya sudah sehat dan bebas, pulanglah ke rumah kita," ujar Rose, bergantian memeluk Bella.


"Akan aku usahakan," jawab Bella seadanya. Jujur ia memang belum ada plan untuk ke Jerman lagi. 


"Abel semoga kau bahagia bersamanya." Louis gantian memeluk Bella.


Louis tidak menjawab. Ia hanya mengulum senyumnya. 


*


*


*


"Semoga kita akan ada kesempatan untuk bekerja sama."


"Kesempatan itu pasti akan datang!"


Max dan Surya saling berjabat tangan. Rose dan Rahayu saling berpelukan. 


"Kalau begitu kami pamit."


"Sampai jumpa lagi!"


"Ya see you next time!"


Surya dan Rahayu memang mengantarkan keluarga Kalendra sampai di depan rumah sakit. Keduanya menatap kepergian Keluarga Kalendra dengan perasaan lega. Setidaknya keluarga Bella juga kerabat mereka bukan? 


*


*


*


"Jadi dugaanku waktu itu benar? Kau memang ada hubungan darah dengan keluarga Kalendra?"


Bella mengangguk membenarkan.


"Ini benar-benar sulit diterima. Tapi aku lega mendengarnya." Ken mengembangkan senyum.


"Kenapa? Karena Louis sepupuku?"


"Tentu!"


"Oh iya Aru orang-orang yang menyerang kita kemarin …."


"Sudah tewas semua. Sudah jangan kau pikirkan hal itu. Anggap saja tidak pernah terjadi! Selain itu sepertinya kau harus belajar bela diri untuk melindungi dirimu sendiri." Biarpun menggunakan pengawal pribadi, tetap saja tidak bisa menjamin tidak akan diserang.


"Baik, Guru!"


"Guru? Mengapa kau memanggilku guru?"tanya Bella heran.


"Karena kau yang akan jadi guruku. Isteriku guruku, bukankah saat membina hubungan kita juga seperti guru dan murid lalu berkembang ke atasan dan bawahan lalu benar-benar hubungan antara suami dan istri?"jelas Ken.


Ekspresinya wajahnya sungguh berbinar. Bella mengerjap singkat mendengar penjelasan Ken, benar juga!


"Baik. Aku akan jadi gurumu. Baiklah muridku yang patuh kita akan mulai belajar saat luka kita berdua sudah sembuh, okay?"


"Murid kecil ini ikut pengaturan Guru saja. Apapun yang Guru katakan pasti akan Murid lakukan," sahut Ken.


Ia menunduk layaknya sedang memberi hormat pada Bella. Bella terkekeh geli sendiri mendengar dan melihat Ken bertingkah seperti ini. Ken sungguh menggemaskan! 


"Kalau begitu kau kembalilah tidur. Gurumu ini ada urusan sebentar," ucap Bella.


"Eh kau kau kemana? Aru kau masih sakit, kemarilah. Naik ke ranjang, kita tidur bersama." 


Ranjang memang muat untuk dua orang. Fasilitas VVIP memang berbeda. 


"Lukaku sudah baik-baik saja. Lihat aku sudah lepas infus bukan? Aku hanya sebentar, tidak akan lama," ujar Bella. 


"Kemana? Berapa lama?"


"Melihat Nesya," jawab Bella. Ken langsung ingat bahwa ini hari Kamis dan waktunya Nesya kemoterapi. 


"Ya sudah. Hati-hati. Sampaikan salam dari kakak iparnya ini."


"Baiklah."


*


*


*


Di ruangan rawatnya, Nesya masih terbaring dalam kondisi yang rawan. Bahkan untuk menjenguknya diharuskan memakai pakaian khusus. Bella duduk sembari menggenggam jemari Nesya.


Tubuhnya dipenuhi alat penunjang kehidupan. Detak jantung yang lemah terlihat dari layar pemantau. Tubuh kurus Nesya kontras dengan wajah tirus nan pucatnya. Perut yang kemarin sudah menunjukan tonjolan kini kembali datar. Bella membawa tangan sang adik menyentuh pipinya. Air mata menetes tanpa diminta.


Teringat kembali bayangan saat dokter mengatakan detak jantung Nesya sempat berhenti namun syukurlah, belum waktunya ia berpulang ke sisi Yang Maha Kuasa.


Merasa cukup, Bella keluar setelah sebelumnya menyeka air matanya. Di luar ternyata ia sudah ditunggu oleh pihak kepolisian yang menangani kasus Nesya.


Bella kembali duduk di bangku tunggu. Wajahnya sungguh serius. Di sel adiknya, semua termasuk baik dan segan pada Nesya. Bagaimana tiba-tiba bisa rusuh dengan teman se sel? 


Rupanya napi yang bertengkar dengan Nesya adalah napi baru. Namun, bagaimana bisa mereka bertengkar? 


"Jadi apa sekarang napi itu ada di penjara?"tanya Bella memastikan.


Sayangnya jawabannya yang diterimanya adalah gelengan pelan.


"Napi tersebut sudah tewas, bunuh diri karena menelan racun yang tersimpan di rongga mulutnya."


"Bunuh diri?" Bella langsung memijat pelipisnya. 


"Dapat disimpulkan bahwa kasus ini tidak sesederhana yang terlihat. Kami menduga ada orang di luar sana yang ingin mencelakakan adik Anda melalui Napi tersebut."


Siapa? Siapa sebenarnya yang mengincar nyawaku dan Nesya? Apa benar mereka? 


"Bisa berikan padaku data tentang Napi tersebut?"


Bella penasaran dengan Napi yang diduga hanya sebagai pesuruh itu. Ia harus segera menemukan siapa sebenarnya yang mengincar nyawanya dan Nesya.