
Bella menggunakan busur yang ia gunakan tempo hari, saat melawan Andry dan Ariel. Busur itu, terasa begitu nyaman untuknya. Ibarat jodoh, Bella berjodoh dengan busur itu.
Bella tak segan menantang atau menerima tantangan. Itu sudah bagian dari hidupnya!
Desya menggunakan busur yang biasa ia gunakan. Busur dan anak panahnya berbeda. Itu hanya dikhususkan untuk Desya.
Keduanya mulai mengangkat busur. Memperhitungkan dan bersiap untuk membidik. Dan kini saatnya melepas anak panah!
Tap!
Keduanya sama-sama melepas panah dan tepat pada sasaran, di pusat lingkaran.
Lagi, sampai babak pertama habis dan mereka seri.
"Kau tidak akan terima jika seri, bukan?"ucap Desya.
"Aku rasa kau lebih tidak akan terima," balas Bella.
"Lanjut babak kedua," lanjut Bella. Desya menganggukinya. Namun, sebelum itu Bella minum lebih dulu.
Setelah itu mereka lanjut babak kedua.
"Aku menang!"ucap Bella dengan tersenyum setelah menembakkan panah tambahan sebagai babak tambahan.
"****!" Desya mengumpat. Hanya beda satu poin. Dan ia kalah. "Kau kesal? Aku kira kau akan terima kalah."
"Siapa yang bisa menerima kekalahan? Kau bahkan juga tidak bisa, bukan?"balas Desya, melangkah menuju rak panah.
Bella tertegun mendengarnya. Ya, itu tidak bisa disalahkan. Bella memang sangat membenci kekalahan. Ia menganggap hal itu karena ia kurang maksimal. "Sepertinya aku harus lebih sering berlatih latih. Jujur saja, aku merasa kesal dan malu kalah darimu yang sedang hamil."
"Hah?" Bella mengangkat alisnya. "Entah kau memang terlalu hebat atau aku yang terlalu menganggap diriku hebat, kekalahan ini akan menjadi pelajaran yang berharga."
Tadi kesal. Namun, kini kata-katanya terdengar tulus. "Terima kasih untuk hari ini." Sebelum Bella membalasnya, Desya sudah melangkah pergi.
Aku rasa dia akan mencari kesempatan untuk membalas kekalahannya hari ini, batin Bella.
*
*
*
Dalam perjalanan kembali ke kamar, Bella berpapasan dengan Ariel yang berjalan bersama dengan Liev. Di belakang keduanya, berjalan pelayan Ariel dan pengasuh Liev.
Mereka saling tatap dengan datar. "Hidupmu tenang, ya?"sinis Ariel.
"Itu karena kau memegang janjimu, Nyonya," sahut Bella, datar dan tenang.
"Cih!" Ariel melangkah pergi setelah mendecih. Bella menggeleng pelan. Ia melanjutkan langkahnya.
"Sialan! Aku terjebak ucapanku sendiri!"runtuk Ariel. Jujur saja, membuat kesepakatan itu dengan Bella adalah sebuah penyesalan dan bencana untuk dirinya sendiri.
*
*
*
Tiga hari sudah sejak hari Bella dan Desya bertanding. Dan tiga hari sudah sejak hari Bela mengirim pesan pada Ken.
Seluruh keluarga Mahendra merasa sedikit lega membaca surat yang telah Ken videokan itu.
Tuan Adam yang sudah lama kembali ke New York juga diberi tahu. Pria itu memutuskan untuk menambah jumlah orang agar penyisiran bisa cepat menemukan hasil.
Begitu juga dengan reaksi keluarga Kalendra. Dan tak terkecuali keluarga Mahendra sendiri.
Namun, meskipun begitu, Ken menginstruksikan agar jika lokasi pasti sudah ditemukan, jangan melakukan tindakan apapun. Takutnya, jika tercium, Bella bisa terancam.
Meskipun Bella mengatakan dia memperlakukannya dengan baik. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa dia tetaplah seorang mafia. Seorang yang kejam yang bisa membunuh tanpa berkedip.
Ken memutuskan untuk menunggu pesan Bella selanjutnya.
Dan hari ini adalah hari di mana meeting akhir tahun dilangsungkan. Ini adalah hari terakhir kerja di Mahendra Group sebelum libur natal dan tahun baru.
Di rapat itu, dibahas pencapaian perusahaan. Juga program kerja yang tercapai. Juga mengevaluasi kekurangan yang ada. Di rapat itu, juga dibahas tentang agenda perusahaan di tahun yang baru.
Meeting itu berlangsung cukup lama. Empat jam, dan itu masih belum berakhir. Ya, meeting akhir tahun memang yang paling lama. Karena setiap kepala departemen dan kepala tim mempresentasikan hasil kerja dalam jangka satu tahun.
Dan ini sudah pukul 17.00, meeting akhir itu akhirnya selesai. Mereka satu harian dan hanya berhenti saat jam makan siang sekaligus shalat Dzuhur bagi yang muslim dan pada saat waktu ashar.
Ken merenggangkan tubuhnya. Lehernya terasa begitu tegang dan lelah. Tubuhnya juga. Rasanya membosankan. Harus duduk dan mendengarkan presentasi satu demi satu. Jika bukan karena posisinya, Ken mungkin tidak akan mengikutinya. Dan saat bosan datang, maka kantuk akan menyerang. Oleh karenanya, staff office menyediakan kopi sebagai penahan kantuk.
"Bagaimana, Ken? Enak bukan meeting akhir tahun?" Brian bertanya dengan senyum menyebalkan menurut Ken.
"Melelahkan dan membosankan," sahut Ken dengan mendengus.
"Dan ini akan jadi agenda rutin akhir tahunmu sebelum libur," balas Brian.
"Ah … mengingatnya membuatku kesal!"gerutu Ken. Penampilannya sudah tidak setampan tadi pagi. Wajahnya tampak kusam dan tatanan rambut yang berantakan. Namun, itu tidak mengurangi kadar ketampanannya.
"Ya begitulah, Ken. Menjadi pemimpin atau dipimpin pun banyak susah senangnya. Jadi, kau harus banyak-banyak bersabar dan juga banyak pengalaman!"tutur Surya. Ken mengangguk mengiyakan.
"Aku ingin pulang," ucap Ken.
"Ayo," ajak Surya. Keluarga itu meninggalkan perusahaan kembali ke kediaman Mahendra untuk memulai libur akhir tahun mereka.
Sebenarnya mereka tidak benar-benar libur. Karena meskipun libur, mereka tetap memantau perusahaan. Apalagi Brian yang menempati posisi sentral, keuangan.
Begitu juga dengan Ken. Ia tetap memantau jalannya beberapa proyek. Selain itu, ini bisa dijadikan momen untuk fokus mencari sang isteri. Dan bagi Surya, ini adalah saat ia bisa istirahat lebih lama.
*
*
*
Tok.
Tok.
Desya mengalihkan wajahnya dari buku ke arah pintu. Irene tidak sedang bersama dengannya. Ia menyuruhnya untuk menyampaikan beberapa pekerjaan pada Bella.
"Siapa?"tanya Desya dengan suara beratnya.
"Saya, Tuan. Evalia," jawabnya.
"Oh. Masuklah!"titah Desya. Desya menutup bukunya.
"Tuan," sapa Evalia. Ia masuk dengan menggunakan mantel dan membawa sebuah paper bag. Mata Desya tertuju pada paper bag tersebut.
"Kau membuatku pakaian musim rajut lagi?"tanya Desya. Evalia mengangguk.
"Semoga Tuan menyukainya," ucap Evalia dengan menyodorkan paper bag tersebut. Desya menerimanya. "Duduklah!"titah Desya. Evalia menurutinya.
Desya mengeluarkan isi paper bag tersebut. Sebuah sweater rajutan dengan motif pohon cemara. Sweater itu berwarna putih dan list biru pada bagian tengahnya. Ada dua Cemara kecil dekat dengan kerah. Di bawah list biru dan di dekat dengan ujung pergelangan tangan juga dibuat motif serupa, yakni cemara. Itu anggap melambangkan kekuatan dan keabadian.
"Mengapa cemara?"tanya Desya sembari mengusap motif tersebut.
"Warna putih itu melambangkan salju. Dan mengapa cemara karena itu khas dengan hari natal dan musim dingin. Saya mohon maaf jika saya menggunakan motif dari sisi keyakinan saya." Keyakinan Evalia adalah Kristen.
"Selain itu, saya berharap Tuan selalu kuat dan nama Tuan akan abadi," tambah Evalia.
"Syukurlah." Senyumnya begitu lebar.
Desya memasukkan dan menyimpan paper bag tersebut. Desya sedikit mengerutkan dahinya melihat Evalia yang masih duduk. Biasanya Evalia akan segera unduh diri.
Duduk dengan bahu tegak namun pandangan menunduk, sembari memainkan jarinya. Seperti ada satu hal yang hendak disampaikan. Namun, ragu untuk menyampaikan.
"Ada lagi yang ingin kau sampaikan?"tanya Desya.
"Eh … ah!" Evalia seperti tersentak. Matanya bergerak, seperti mengumpulkan keyakinan.
"Tuan …." Dia memanggil lirih. Perasaan Desya menjadi sedikit terganggu.
"S-saya hamil!"ucap Evalia dengan cepat. Ekspresinya takut seakan ia telah melakukan kesalahan.
Lain halnya dengan Desya yang sedikit tersentak. Bibirnya sedikit terbuka. Pria itu shock!
Dan tak lama, ia malah tertawa. Evalia mengkerut takut. Ia merasa seolah-olah dirinya melakukan sebuah kesalahan.
Ada untungnya juga aku tidak sering membuang bibit percuma.
Sekali langsung jadi. Desya sedikit bangga pada dirinya sendiri.
"Usianya masih dua minggu. Dia masih sangat kecil," ucap Evalia sembari mengusap perutnya.
Desya menganggukinya. Pria itu tampaknya sangat senang. Ia akan menjadi ayah dari tiga orang anak. "Katakan saja jika ada yang kau butuhkan," ucap Desya.
"Tuan."
"Hm?"
"Bolehkan saya membuat usaha?"
Desya mengernyit mendengarnya. Bukankah biasanya jika wanita hamil akan meminta tambah disayang oleh suami? Mengapa Evalia malah ingin membuat sebuah usaha.
"Maksudmu bisnis?"tanya Desya memperjelasnya. Evalia mengangguk. "Katakanlah!" Mana tahu idenya bagus. Desya akan mendukungnya.
Evalia menghela nagas untuk beberapa saat. Dan tatapannya berubah. "Tuan seperti yang Anda tahu bahwa saya memiliki bakat dalam menyulam atau fashion."
"Lantas?"
"Saya merasa bakat saya tersebut akan sia-sia jika tidak disalurkan dengan maksimal! Begitu juga dengan kemampuan anak didik saya. Jadi, saya ingin meminta bantuan Tuan. Saya ingin membangun sebuah butik!" Evalia berkata dengan yakin. Ia sedang menjadi sponsor dan bantuan.
"Butik?" Desya bergumam.
"Benar, Tuan! Jadi, hasil rancangan dan karya kami bisa tersalurkan dan dinikmati banyak orang. Selain itu, Tuan nantinya bisa menjalin kerjasama dengan pesohor di dunia fashion. Black Rose akan semakin berkembang pesat!"ucap Evalia. Ia sudah memikirkannya.
Evalia sendiri. Meskipun tidak mengurus rumah tangga, ia memiliki aktivitas yang sibuk. Bakat dan hobinya mendorongnya untuk mendirikan sebuah komunitas yang bernama seni rajut.
Dan itu sudah memiliki banyak anggota. Namun, hasil rancangan tidak pernah dipasarkan atau dipamerkan di luar. Digunakan untuk orang sendiri.
Semula, Evalia tidak berpikir untuk meminta hal itu pada Desya. Namun, setelah melihat Lucia diberikan tanggung jawab, Evalia merasa dirinya juga harus keluar dari zona nyamannya.
Apalagi dengan kehamilannya dan dengan fakta-fakta perebutan pewaris. Evalia harus melindungi calon anaknya, kini dan ke depannya!
"Akan aku pertimbangkan!"ucap Desya.
"Terima kasih, Tuan! Terima kasih banyak!" Rasa senang terpancar jelas dari Evalia.
"Saya akan menyampaikan kabar gembira ini pada yang lain!"ucap Evalia kemudian undur diri setelah Desya melambaikan tangannya.
"Aku jauh dengan putriku. Namun, hadir satu anak lagi. Takdir memang aneh," gumam Desya, sendu.
Desya berdiri. Melangkah menuju kulkas dan mengambil sekaleng bir.
"Tuan."
Desya berbalik. Itu Irene yang sudah kembali dari tugasnya.
"Tambah fasilitas Evalia!"ucap Desya.
Irene sedikit mengeryit.
Dengan alasan apa?
"Dia akan jadi seorang ibu!" Mata Irene sedikit membola.
Desya tersenyum. "Laksanakan, Tuan!"jawab Irene dengan kemudian undur diri.
Desya juga meninggalkan kamarnya. Melangkah dengan perasaan senang yang ditutupin dengan wajah datarnya.
Kamar Bella.
Dia kini berada di depan kamar itu. Tanpa mengetuk pintu, karena merasa seluruh istana ini miliknya dan ia bebas mau di mana saja.
"Kau! Mengapa tidak mengetuk pintu dulu!"cerca Bella dengan berteriak kesal.
Bella buru-buru memakaikan hijabnya. Sementara Desya terpaku di tempatnya. "Ini istanaku!"
Bella melotot kesal mendengar jawaban itu!
"Okay! Okay! Katakan apa maumu!"tandas Bella.
Diladeni aku akan tambah kesal.
"Tebaklah."
Wajah Bella semakin muram.
"Tidak ada waktu. Katakan saja!"tegas Bella.
"Ayolah!" Desya merengut.
"Katakan atau aku akan menendangmu!"ancam Bella.
Huh!
Mendengus kesal. "Aku akan jadi seorang ayah."
"Bukankah kau memang seorang ayah?"balas Bella.
"Lagi," tambah Bella.
Bella terkesiap.
"Lagi?"
"Makanya dengarkan hingga selesai."
"Apa?"
"Evalia hamil."
"Wah. Selamat!" Itu kabar gembira. Namun, Bella hanya menanggapinya dengan datar.
"Kau senang?"
"Tentu saja!"