This Is Our Love

This Is Our Love
Membatalkan Niat



Kini Bella dan Nesya berada di dalam ruangan dokter, tengah melakukan diskusi dan meminta saran dari dokter. Dokter yang masih berusia muda itu dengan sabar dan lugas menjelaskan tentang ibu hamil dan leukemia. Cukup lama dokter bernama Ganesha yang biasa disapa dokter Gane itu menjelaskan dengan rinci.


"Jika memang itu keputusan Anda, saya sebagai dokter tidak bisa melarangnya," ucap dokter Gane. 


"Dokter … kata Anda resiko itu sudah pasti tapi yang menentukan hidup atau mati bukanlah kita, kita hanya bisa berusaha untuk sembuh. Dan kata Anda masih banyak cara pengobatan Leukemia tanpa menggugurkan kandungan, apakah saya bisa menjalani pengobatan semacam itu?"


Bella terkejut dengan ucapan Neysa sedangkan dokter Gane sedikit membulatkan mata kemudian tersenyum simpul, "tentu saja. Kami para dokter akan selalu melakukan yang terbaik untuk pasien. Apapun keputusan Anda, kami akan melakukan yang terbaik," jawab dokter Gane.


"Nesya?" Nesya menoleh pada Bella, manik mata coklatnya menatap sendu Bella. Ia tersenyum, melihat Bella yang tampak bingung.


"Kakak … aku mengubah keputusanku," ujar Nesya, lembut.


"Maksudmu?" Nesya mengangguk.


"Aku akan pertahanan janin ini. Aku ingin menjadi seorang wanita yang tangguh, ibu yang baik untuk anakku. Biarlah aku menanggung kesakitan lebih, daripada menanggung rasa bersalah  yang lebih dalam lagi. Kakak kau mendukung keputusanku bukan?"


Sejak Nesya tahu tentang penyakitnya, tadi sepanjang jalan menuju rumah sakit setelah berhenti di taman, Nesya tenggelam dalam pemikirannya. Jujur saja, akalnya memang menginginkan anak ini gugur, sedangkan hatinya berteriak tidak tega, tidak ingin. Secara tak langsung ia akan membunuh anaknya sendiri. Tidak! Sudah tercipta hubungan batin antara anak dan ibu. Tanpa disadari rasa kasih dan sayang telah tumbuh. Ia yang menghadirkan anak ini, penyakit ini juga akibat perilaku buruknya, tidak adil jika sang anak yang harus menanggungnya. 


Bella masih tertegun dengan keputusan Nesya. Adiknya ini telah mengambil sebuah keputusan yang sulit dan penuh keyakinan akan melewatinya. 


Nesya … sudah dewasa. 


"Kakak aku yakin, aku akan mempu melewati semuanya. Ajal adalah sesuatu yang telah ditentukan sejak kita dalam kandungan." ujar Nesya lagi yang melihat Bella terdiam melamun. Bella tersadar, tersenyum lembut kemudian menepuk pelan pipi Bella. "Aku mendukung apapun keputusanmu!"


"Terima kasih, Kakak." Keduanya berpelukan. Dokter Gane melihat semua itu sembari melepas kacamata, menyentuh sudut mata yang basah. 


"Jadi bisa kita mulai kemoterapi Anda, Nona?"tanya Dokter Gane.


"Bisa," jawab Neysa mantap. Bella merangkul Nesya, "lakukan yang terbaik untuk adik saya, dokter."


"Pasti, Nona." Dokter Gane kemudian memanggil suster, memintanya untuk mengantar Bella dan Nesya ke ruang kemoterapi. 


***


Dokter Gane masuk diikuti oleh suster yang membawa nampan, di atasnya terdapat jarum suntik dan botol obat cair. 


"Maaf ya Nona," ucap dokter Gane yang meminta izin menggulung lengan baju Nesya. Nesya mengangguk mengizinkan. Bella mengamati proses kemoterapi ini. Jarum yang sudah berisi cairan obat kemudian disuntikkan pada lengan Neysa, Neysa meringis, Bella dengan cepat memeluk sang adik. Setelah semua cairan obat masuk ke dalam tubuh, dokter Gane mencabut suntik dan mengoleskan alkohol pada besar suntikan tadi.


"Silakan beristirahat dulu di sini. Saya akan memantau efek samping dari obat tadi pada Anda."


"Efek samping?"


"Benar."


"Baiklah." Dokter Gane tersenyum, kemudian keluar. Sebelum menutup rapat pintu, dokter Gane tersenyum dengan lembut pada Nesya, hanya sekilas. Senyuman itu tidak disadari oleh Neysa maupun Bella.


Tak berselang lama kemudian, Bella keluar untuk menemui dua petugas lapas yang masih setia menunggui mereka. Nesya sendiri sudah tidur. 


"Gimana Mbak? Sudah selesai?"tanya salah seorang dari mereka.


"Sudah Pak. Tapi Nesya harus tinggal beberapa jam lagi di sini. Untuk melihat apakah ada efek sampingnya atau tidak."


"Begitu ya Mbak. Tapi itu lama sekali."


"Maka itu, Bapak berdua bisa kembali lebih dulu. Nesya akan saya antar ke lapas lagi setelah selesai. Tenang saja, saya jamin Nesya kembali dengan aman."


Kedua petugas lapas itu agak ragu. 


"Kami nggak berani meninggalkan tugas, Mbak."


Ah benar juga. Bella memikirkan caranya. Tak lama sebuah cara muncul. "Saya akan hubungi atasan Bapak berdua, sebentar ya Pak."


"Baik, Mbak."


Bella dengan sedikit enggan membuka blokiran nomor Gio, kemudian menghubungi pria itu.


Tak berselang lama, panggilan dijawab.


"Assalamualaikum, Pak," sapa Bella datar.


"Hm. Ada yang saya sampaikan."


"Katakan saja. Dan jangan gunakan nada formal padaku. Santai saja, Bella."


"Maaf ini bukan urusan pribadi. Saya hanya ingin Anda mengizinkan petugas yang menunggu kami di rumah sakit kembali ke lapas. Kami masih lama, rasanya kasihan melihat mereka menunggu bosan."


"Oh itu, errr sebenarnya aku sudah pindah tugas di luar kota. Aku tidak punya wewenang lagi untuk menyuruh mereka. Maaf ya, Bella."


Bella mendengus, menatap petugas lapas yang tampak menanti keputusan.


"Baiklah. Terima kasih atas jawaban Anda. Assalamualaikum." Bella menutup panggilan sepihak.


"Silakan Bapak hubungi atasan Bapak, biar saya yang berbicara," ucap Bella datar.


Setelah mendapat izin, kedua petugas lapas itu kembali. 


Selagi Neysa masih tidur, lebih baik aku cari makan siang dulu.


*


*


*


Selesai Zuhur, Neysa merasakan mual dan muntah diikuti dengan nyeri. Hati panggang ia santap tadi ia keluarkan habis. Bella menatap cemas Nesya yang tengah diperiksa oleh dokter Gane. Kini Neysa terbaring lemas di ranjang. Dokter Gane sudah memberikan obat pereda nyeri serta mual dan muntah. 


"Pukul 04.00 nanti, Anda sudah boleh pulang, Nona. Obat nyeri ini dapat Anda minum saat Anda kembali nyeri. Jaga kesehatan Anda, Nona. Jalan Anda masih panjang. Jangan menyerah, fighting!"ucap dokter Gane menyemangati. Nesya tersenyum lembut, mengangguk pelan, "Aku mengerti."


"Kakak, aku ingin tidur," ucap Nesya menatap Bella.


"Tidurlah."


*


*


*


Setelah membayar semua biaya pengobatan hari ini, Bella dengan merangkul Neysa berjalan menyusuri lorong rumah sakit, menuju pintu keluar. Bella yang dengan hati-hati merangkul Nesya, tanpa sengaja menabrak seseorang.


"Woi jalan pakai mata dong!"marah seseorang.


"Kakak!"pekik Nesya pelan, terkejut saat tubuhnya terpelanting pelan. 


"Tidak apa." Bella menatap orang yang ia tabrak tadi. Ternyata seorang pria yang tampan bak dewa Yunani dengan sorot mata tajam, alis tebal, dan bibir yang sempurna. Tangannya berada di dorongan kursi roda yang mana duduk seorang wanita berwajah pucat yang tampak sedang menenangkan sang pria.


"Maaf," ucap Bella menyesal.


"Maaf-maaf. Kalau tunangan saja jatuh gimana tadi? Bisa tanggung jawab rupanya kamu hah?!"


"Saya minta maaf. Saya benar-benar tidak sengaja!"jawab Bella tegas.


"Sudahlah, Ken. Dia tidak sengaja kok. Mbak ini juga kesusahan tadi. Kelihatannya yang dirangkuk Mbak ini sedang sakit," tutur wanita itu lembut.


"Tapi, Cia dia hampir saja buat kamu jatuh!"


"Tapi kan aku nggak jatuh. Ada kamu yang selalu melindungi aku."


Bella tersenyum lembut.


"Sekali lagi saya minta maaf ya, Mbak," ucap Bella.


"Iya Mbak. Nggak papa kok." Wanita yang dipanggil Cia juga tersenyum lembut pada Bella kemudian mengajak pria yang masih tampak kesal itu pergi. 


"Arogan!"gumam Nesya.


"Sudahlah. Ini salah Kakak kok," ujar Bella.