This Is Our Love

This Is Our Love
Anjani Tahu



"Bagaimana?"tanya Louis saat Azzura menghentikan ketikannya pada laptop. 


Azzura menghela nafas. Menatap satu persatu anggota keluarga yang ada di ruang tengah. 


"Pengirimnya benar Kak Bella. Jika tidak ada yang menghalanginya, aku pasti mendapatkan lokasinya."


"Artinya kau gagal mendapatkan lokasinya?"


"Jika hal ini mudah, kalian tidak akan kesulitan, bukan?"balas Azzura. Louis tercekat.


"Diamlah!"ucap Teresa. Louis ingin meremehkan malah ia yang diserang balik. 


Yang lain menggeleng pelan seraya tersenyum tipis. "Tapi, menghalanginya, apa itu semacam pengacau jaringan?"tanya Tuan Adam.


"Ya bisa dikatakan seperti itu," jawab Azzura.


"Aku yakin. Saat Kak Bella mengirim data ini, ada seseorang berada di sampingnya untuk menjaga agar alamat pengirim tidak terdeteksi. Atau putus di tengah jalan. Begini, akan aku analogikan seperti ini. Jika kita berjalan di keramaian dan ada yang memanggil kita sekali, kita pasti akan mencari siapa yang memanggil kita, bukan?"lanjut Azzura menerangkan. 


Semua mengangguk. 


"Dan jika yang memanggil tadi tidak memanggil lagi, kita tidak akan pernah tahu siapa dia. Dan mungkin juga kita akan menganggapnya sebagai perasaan saja. Nah itu berlaku pada hal ini juga. Dan petunjuknya putus di tengah jalan. Seseorang di samping Kak Bella, membuat sinyal kacau, dan akhirnya tidak terdeteksi," tambah Azzura.


"Jadi, apa yang harus kita lakukan akan petunjuknya tuntas?"tanya Surya, ingin mendengar jawaban Azzura. Azzura berpikir.


"Keamanannya benar-benar ketat. Apa kita harus menyewa agen FBI?"saran Leo. 


"Agaknya mereka juga tidak bisa berbuat banyak," ucap Tuan Adam. Kecuali Azzura, semua menatap Tuan Adam.


"Sebelumnya aku pernah berpikir seperti itu. Namun, aku mengurungkannya karena temanku yang bekerja di FBI menyatakan ketidaksanggupannya. Black Rose adalah mafia yang sangat berpengaruh. Mereka ada hubungan kekerabatan dengan keluarga kerajaan. Bahkan pemerintah ataupun FBI sendiri tidak berani mengusik mereka. Selain itu, lokasi markas mereka benar-benar rahasia. Mereka sama sekali tidak bisa melacaknya," jelas Tuan Adam. 


Sebagai seorang yang berpengaruh di negaranya, tidak heran jika Tuan Adam memiliki teman atau relasi di banyak bidang ataupun organisasi. 


Akan tetapi, hilangnya Bella merupakan hal yang urgent. Akan terjadi keributan jika sampai tersebar luas. Oleh karenanya, masalah ini hanya diketahui oleh lingkup keluarga yang bisa dipercaya. 


"Ah, mengapa kita harus berurusan dengan orang seperti itu?"gumam Rose, memejamkan matanya. Max mengusap wajahnya kasar. Bahkan FBI saja tidak berani. 


"Namun, bukan berarti kita tidak ada celah, bukan? Tidak ada kesempatan, bukan? Di dunia ini, banyak orang hebat yang menyembunyikan dirinya. Selagi masih berdiri di muka bumi ini, pasti bisa ditemukan. Seketat apapun pertahanannya, pasti bisa ditembus karena kita memiliki ini. Jangan merasa kehilangan harapan, atau jika kalian ingin menyerah, silahkan. Aku tidak akan menahan kalian," tukas Ken, memberikan dorongan, sekaligus juga ultimatum. Ya lawan mereka bukan lawan yang mudah. Akan tetapi, mereka juga bukan orang bod*h dan mudah menyerah. 


"Hei, siapa yang mau mundur?"sentak Leo, menatap tajam Ken. 


"Ya aku hanya mengatakannya," sahut Ken, dengan mengedikkan bahunya. "Aku kan tidak menyebutkan nama," lanjut Ken.


"Menyebalkan!"ketus Louis. 


"Bocah, kau benar-benar!" El yang juga kesal mencekik leher Ken dengan lengannya. Ken terkekeh. 


"Benar. Bukan tidak ada cara. Meskipun terputus, ini tetaplah sebuah petunjuk. Jika boleh tahu, di negara mana Black Rose itu?" Azzura angkat bicara setelah selesai berpikir. Agaknya ia sudah menemukan cara. 


"Rusia," jawab Surya. 


"Rusia. Negara yang paling luas. Hm … tidak masalah. Kita bisa sisir setiap jengkal tanah negara itu. Ya, meskipun akan memakan waktu yang lama," ucap Azzura. 


"Menyisir setiap jengkal?"


"Benar." Azzura tersenyum. 


"Ya, benar. Rasanya memang membuang waktu dengan hasil yang belum tentu terjamin. Akan tetapi, itu adalah usaha. Sekalipun kemungkinannya kecil, tetap harus dicoba, bukan?"papar Azzura. 


"Kita bisa mengutus beberapa orang ke sana. Hanya beberapa orang yang handal dalam melacak. Sementara aku, dan tim yang nantinya akan aku pilih akan melacak dari sini. Aku bukannya menggurui. Namun, sekarang adalah era IPTEK. Dan seperti kata Tuan Ken tadi, seketat apapun keamanannya pasti akan bisa ditembus. Kita punya ini, harta yang tidak pernah ternilai harganya!"tegas Azzura dengan menyentuh kepalanya dengan telunjuk.  


"That's right!" El yang pertama menganggapinya. 


"Aku setuju. Kita tidak kekurangan orang. Kita hanya perlu menyatukan ini. Bekerja sama bukan kubu berkubu!"imbuh El. 


Ken tersenyum lebar. Menganggukinya. Penilaian Aruku tidak pernah salah. 


"Ghosh!" Surya dan Max sama-sama mengucapkannya, mereka kemudian tertawa.


"Kami malah tercerahkan oleh anak. Thank you, Azzura. Benar-benar orang pilihan Abel," ujar Max. 


Azzura tersenyum, "sebuah kehormatan saya dipandang oleh Anda sekalian."


"Ya, ayo mulai membagi tim," ucap Louis. 


"Kalau begitu aku terima hasilnya saja. Tidak masalah aku ditempatkan di tim mana saja. Aku bisa menyesuaikan diri," ucap El. Ia berdiri.


"Kau kau ke mana, El?"tanya Rahayu. 


"Menjalankan tugasku tadi pagi," jawab El, kemudian menyalami Surya dan Rahayu. 


"Aku pergi, assalamualaikum," pamit El, melangkahkan kakinya keluar dari rumah. 


"Papa pinjam mobilnya," ucap El saat berada di ambang pintu. 


Surya mengerjap sekali. Tak lama menghela nafas. "Anak itu," gumamnya gemas. 


"Menemui kekasihnya, kah?"tanya Helena yang diangguki oleh keluarga Mahendra. .


*


*


*


Dengan menggandeng lengan Arka, Anjani keluar dari gedung perusahaan Diamond Corp. Di belakangnya mengikut sekretaris serta pengasuh Arka yang tidak lain adalah pengasuh Anjani dulu, Mbok Santi. 


Di depan lobby, sudah menunggu El dengan bersandar pada body mobil milik Surya. Apalagi kalau bukan lamborghini. Bukannya El tidak punya mobil sendiri dan bermerek. Hanya saja, El menyukai mobil ini hingga tiap kali akan bertemu dengan Anjani, mau itu weekend ataupun dinner, El selalu menggunakan mobil ini.


"Assalamualaikum, Calon Bidadari Surgaku," sapa El dengan menyodorkan bucket bunga tulip pada pujaan hatinya. 


"Waalaikumsalam, El," jawab Anjani, jelas tersipu dan tanpa melepaskan pegangan tangannya pada Arka, Anjani menerima bucket itu.


"Cantik sekali, terima kasih," ujar Anjani dengan mencium aroma bunga tulip tersebut. 


"Uncle, bagaimana denganku?" Arka bertanya dengan nada menuntut. 


"Come here." El membungkuk untuk menggapai dan menbawa Arka dalam gendongannya. 


"Uh, kau semakin berat ya?"keluh El dengan mencubit gemas pipi Arka.


"Namanya aku tumbuh dengan baik, Uncle." 


"Sepertinya kau akan semakin gendut jika sudah masuk ke keluarga Mahendra," ujar Arka. 


"Ya karena Uncle rajin olahraga."


"Aka juga begitu."


Anjani tertawa. El dan Anjani memang sudah merencanakan pernikahan mereka. Rencananya setelah film yang sedang El garap ini selesai syuting dan tayang perdana di bioskop, maka mereka akan segera melangsungkan pernikahan. Meskipun begitu, panggilan Arka pada El masihkan Uncle. Sebenarnya El sudah meminta agar Arka memanggilnya Papa atau Daddy. Namun, Anjani meminta agar itu diaplikasikan setelah mereka menikah. Menurut Anjani, dengan kedekatan El dan Anjani, tidak akan sulit untuk mengubah panggilan Arka pada El. 


"Kalau begitu, ayo kita berangkat," ajak El, berjalan memutar untuk membukakan pintu untuk Anjani. 


"Tari, mbok, kalian pulang dengan mobilku, ya," ujar Anjani pada sekretarisnya dan mbok Santi. Kedua orang itu mengangguk. 


"Hati-hati, Nona."


Anjani melangkah dan masuk ke dalam mobil. El menurunkan Arka dalam pangkuan Anjani kemudian menutup pintu mobil. Kembali berjalan memutar dan masuk ke dalam mobil. 


Lamborghini hitam itu kemudian melaju meninggalkan Diamond Corp.


"Ingin makan apa?"tanya El dalam perjalanan. 


"Ramen sepertinya enak," jawab Anjani.


"Apapun asal dengan Mama dan Uncle El," jawab Arka. 


El tersenyum. "Baiklah. Kita makan ramen."


Sekitar lima belas menit kemudian, El memarkirkan mobil di parkiran sebuah restoran khas Jepang. Dari banner yang terdapat di depan restoran, terdapat banyak menu khas Jepang yang pastinya halal, salah satunya adalah ramen dan juga sushi.


Keduanya masuk dengan El menggendong Arka. Mereka memilih meja. Pengunjungnya ramai, namun stok meja selalu ada. 


Tepatnya luas, bersih, dengan dengan nuansa khas Jepang. Dindingnya dilukis dengan bunga sakura yang bermekaran. Juga gerbang berwarna merah. Di langit-langitnya digantung lampion berbentuk seperti kapsul, berwarna merah, dan ada tulisan Jepangnya. 


Tiga porsi ramen spesial, norimaki sushi, takoyaki, dan mochi sebagai menu penutup. Serta jus alpukat sebagai minumnya telah dipesan. Mereka menunggu sembari menikmati suasana restoran juga tak lupa bersua foto untuk dijadikan instagram story. Publik memang sudah tahu hubungan mereka. 


Setelah menunggu, pesanan mereka tiba. Setelah berdoa, Arka langsung menyantap ramennya. 


"Eh, bagaimana jika kuah ramen diganti dengan kuah mie rebus?"tanya El, sembari mengaduk ramen bagiannya.


"Aku rasa kurang cocok," sahut Anjani, yang baru saja membuka sumpit dari pembungkusnya. 


"Sama seperti aku yang klop denganmu. Tidak akan tergantikan dan cocok dengan siapapun selain kau, Jani," balas El. 


Anjani terperangah. Ia tersipu. 


"Jangan menggodaku. Aku tidak bisa makan nanti." El tertawa renyah.


"Baiklah. Ayo makan."


Mereka makan, ya meskipun El masih melemparkan candaan dan godaan, nyatanya Anjani tetap makan dan menghabiskan porsinya. Ramen Anjani habis lebih dulu. Entah karena lapar atau semakin tersipu dengan gombalan El padanya. 


Arka diam saja, menghabiskan porsinya. 


"Aku benar-benar beruntung mendapatkan calon secantik dirimu. Malah bonus satu lagi. Ah, aku pria paling beruntung di dunia ini, bukan?"


"Berhentilah terus memujiku, El. Itu berlebihan."


"No! It's really!"sergah El. 


"Mama sangat cantik. Aka juga sangat beruntung memiliki Ibu seperti Mama. Juga Uncle seperti Uncle El," imbuh Arka.


"Nah, dengar itu. Anak kecil saja tahu." El dan Arka melakukan tos. 


Anjani mendengus senyum. "Akulah yang beruntung, El."


"Call me Tuan Muda, seperti kau memanggilku dulu," ucap El tiba-tiba yang membuat Anjani mengeryit. 


"Tapi, mengapa?"


"Panggil saja. Come on," sahut El dengan wajah datar.


"Kau demam?" Anjani menyentuh dahi El. El tidak menghindar. 


"Tidak panas. Tapi, kok sepertinya agak konslet?"gumam Anjani. 


"Ayo." Mendesak. 


"Harus?" 


"Yes!"


"Okay, Tuan Muda." Agak canggung. Sudah lama Anjani tidak memanggil El dengan sebutan Tuan Muda.


"Ah, tiba-tiba saja aku merindukan panggilan itu. Tapi, terdengar tidak enak. Tetap panggil El, okay."


Anjani mengerjap. Sepertinya tadi agak geser, batin Anjani. 


"Baiklah, El." El tersenyum lebar.


"Eh iya, apa kau tahu kabar Abel dan Ken? Abel tidak bisa dihubungi beberapa hari belakangan ini. Apa mereka sangat sibuk?"


Deg. 


Pertanyaan yang dinanti El akhirnya keluar. El menghela nafas. Ia sudah siap. 


"Sebenarnya ada masalah dengan mereka."


"Problem? What's problem?"tanya Aniani, terkejut. 


"Ya, masalahnya cukup besar dan sulit. Dan ini pasti akan mengejutkanmu," ujar El. 


"Katakan dengan jelas, El!" Kegelisahan menyelimuti Anjani. 


"Apa yang terjadi pada mereka?"desak Anjani, cemas begitu terpancar darinya.


"Abel, your bestie, diculik," beritahu El dengan berbisik..


Mata Anjani membulat. Sebelum Anjani sempat berteriak, El sudah membekap mulut Anjani.


"I know. Kau pasti terkejut dan sedih. Mungkin kau juga mengira aku berbohong. Tapi, ini serius. Untuk detailnya akan aku ceritakan di mobil. Ayo," ujar El.


Anjani yang bak orang linglung kini diam saja saat El menarik tangannya meninggalkan restoran. El menggendong Arka. Mereka meninggalkan restoran dengan gerimis yang semakin deras membasahi bumi.