
Sekitar pukul 07.45, Bella sudah tiba di basement Diamond Corp. Dilepaskan helm hitam dari kepalanya, sedikit berkaca merapikan hijab kemudian turun dari motor. Bella mengedarkan pandang sejenak, terlihat mobil Anjani sudah berada di tempat biasanya.
Bella melangkah menuju lift. Baru saja kakinya ingin melangkah masuk lift, ponsel Bella berdering. Dengan rasa penasaran, Bella mengambil ponsel yang disimpan di dalam ransel.
"Louis?"gumam Bella heran.
Sejenak dahinya mengerut. Perbedaan waktu Indonesia dan Jerman kan sekitar 4 jam-am. Ini hampir pukul delapan artinya di sana masih pukul 04.00.
Pagi sekali dia bangun?batin Bella, tetap memandang layar ponselnya tanpa ada gerakan menggeser ikon telepon ke warna hijau.
Dering ponsel berhenti, tak lama kemudian kembali berdering. Bella yang terkesiap langsung menjawab panggilan kedua dari Louis itu.
"Ya hallo, Bruder," jawab Bella.
"Akhirnya kau angkat juga. Sedang apa kau rupanya?"tanya Louis penasaran.
"Ya tadi baru masuk basement makanya nggak sempat terjawab," jelas Bella, ia tidak jadi naik lift melainkan berdiri bersandar pada dinding.
"Basement?"
"Ya basement perusahaan tempatku bekerja," jawab Bella.
Ia memang belum memberitahu pada keluarga Kalendra bahwa ia bekerja di Diamond Corp.
"Perusahaan mana? Jadi apa?"tanya Louis lagi.
"Em Diamond Corp, aku jadi sekretaris Presdirnya."
Tidak lebih tepatnya Presdir bayangan, batin Bella tersenyum tipis.
"Pria atau wanita?"
Bella terkekeh pelan mendengar nada cemburu Louis.
Louis-Loius, begini saja sudah cemburu bagaimana jika kau tahu bahwa aku sudah menikah?
"Wanita, dia teman SMA-ku. Kau cemburu, Kak?"goda Bella.
"Iya. Aku cemburu jika kau menjadi sekretaris seorang pria. Aku tak rela jika seandainya atasanmu seorang pria," tutur Louis jujur.
Bella kembali terkekeh. Hanya sesaat, wajahnya kemudian menjadi sendu.
"Kemana saja Kakak seminggu ini? Mengapa tak memberi kabar? Tahu kan Kakak bahwa aku merindukanmu? Saat senja tiba, kenangan tentang kita langsung memenuhi hatiku. Apa Kakak merasakan hal yang sama?"tanya beruntun Bella, dengan nada lirih.
"Maaf … Abel. Aku membuatmu cemas. Seminggu ini aku sangat sibuk mempersiapkan tender. Dan apa kau tahu bahwa aku merasakan hal sama denganmu? Aku sangat - sangat merindukanmu, My Abel. Rasanya sesak, terlebih mengingat kau di sana yang jauh dariku. Kadang kala rasa cemburu dan curiga akan kau berpaling dariku, merasuk dan mengusik diriku. Kapan urusanmu di sana selesai? Cepatlah kembali ke Jerman."
Permintaan yang kini rasanya mustahil untuk Bella kabulkan. Kini ia sudah mulai berpaling. Ia Bella juga merasakan hal yang sama, mereka berdua juga tersisa dengan hubungan tanpa status yang tidak direstui oleh Tuhan.
Sulit, sangat sulit untuk melepas cinta satu sama lain. Butuh waktu yang lama, terlebih nanti, jika Louis mengetahui bahwa Bella sudah menikah, luka menganga pasti akan terjadi padanya. Entah apa nanti akhirnya, akankah ia rela atau tidak.
"Aku juga tidak tahu, Kak. Urusanku di sini semakin rumit. Rasanya sulit untuk kembali ke Jerman lagi," jawab Bella.
"Aku akan membantumu!"tegas Louis.
Bella menggeleng pelan, "tidak, Kakak. Biarkan aku meyelesaikan masalahku sendiri. Aku tidak ingin keluarga Kalendra itu terlibat dalam masalah yang aku sendiri belum aku akarnya," tolak Bella, lembut tapi tegas.
Terdengar helaan nafas berat di sana.
"Baiklah. Tapi jika kau berubah pikiran aku siap untuk melakukan apa saja. Ah ya apa kau sangat merindukanku?"
Nada bicara yang kecewa berubah menjadi penuh harap. Bella tersenyum.
"Sangat!"
"Sebanyak apa?"
"Sama seperti yang Kakak rasakan."
"Aahh manisnya bibirmu, tapi aku menyukainya. Abel, apa kau percaya keajaiban?"tanya Louis serius.
"Ya."
"Jika begitu apa yang kau inginkan jika keajaiban itu ada?"
"Kakak berdiri di hadapanku. Aku aku memelukmu melepaskan rindu yang menggunung ini," jawab Bella yang disambut tawa riang Louis.
"Aku juga berharap begitu."
Bella merasa sedikit heran dengan pertanyaan Louis mengenai keajaiban. Tapi segera ia abaikan saat tahu jam masuk kerja sudah lewat beberapa menit dan sebentar lagi ada meeting dengan direksi.
"Em Kak, kita sambung nanti ya. Lima menit lagi aku ada meeting," ucap Bella, ada ketidakrelaan di hatinya.
"Ya, baiklah. See you," jawab Louis dengan nada tak rela pula.
"Hm."
Bella tersenyum lebar saat masuk ke dalam lift. Setidaknya rasa rindunya pada Louis sedikit terobati. Bella tak merasa bersalah karena masih menyimpan cinta dam perasaan untuk Louis. Walaupun sudah ada komitmen untuk saling mencintai, sepertinya itu belum benar-benar terjadi dengan baik.
Dan untuk apa merasa bersalah? Toh Ken saja masih menahtahkan Cia di hatinya. Enak saja jika hanya ia yang harus melepas cinta. Bella juga tidak bodoh berkorban paling besar demi Ken yang jelas-jelas masih sangat-sangat mencintai Cia. Huh jiwa bisnisnya meronta jika ia ditargetkan mengalami kerugian besar.
Akhirnya belum ada yang tahu, bisa tidaknya Bella dan Ken saling mencintai juga belum diputuskan. Tapi ikuti saja alurnya tapi jangan terlalu terbawa arus. Jangan pasrah tanpa berusaha, di benak terdalam Bella, percaya bahwa di balik semua ini adalah sebuah akhir bahagia yang telah ditetapkan oleh Yang Kuasa.
Di sebuah ruangan, Louis duduk dengan senyum mengembang penuh arti. Ia menatap foto dirinya dan Bella saat musim dingin, dengan background salju juga boneka salju.
"Tuan Muda, apa Anda sudah tahu di mana Nona Bella berada?"tanya Carl duduk tak jauh dari Louis, tepatnya di sisi kanan Louis.
"Of course," jawab Louis tanpa menatap lawan bicaranya.
"Mana coklat dan bunganya?"tanya Louis, kali ini menatap Carl.
"Ah sebentar, Tuan Muda."
Carl bergegas mengambil apa yang Louis minta. Sekotak coklat berbentuk hati lengkap dengan pita berwarna merah serta sebucket bunga kini Carl serahkan pada Louis.
"Kau tunggu di sini. Aku akan pergi sendiri," ucap Louis berdiri.
"Baik, Tuan Muda. Tapi ingatlah jangan terlalu lama. Kita harus mengejar meeting penting lainnya," pesan Carl cemas akan nantinya Louis lupa waktu.
Louis tersenyum, kemudian melangkah pergi.
Tuan-Tuan, mengapa Anda menjadi budak cinta walau dari awal sudah tahu bahwa kalian mustahil bersatu?batin Carl, turut sedih dengan kisah cinta Louis.
Sekali serius malah tidak ditakdirkan untuk tidak pernah bersatu. Ya cinta itu kadang mudah, kadang juga rumit. Kadang penuh warna, kadang juga penuh dengan perjuangan yang menyebabkan tangan berlumur dosa.
Ah Abel, harapanmu akan segera terwujud.
Sepasang kaki jenjang turun dari sebuah mobil, sebuah taksi bandara. Pria yang mengenakan setelan jas berwarna coklat, membawa kotak coklat dan bunga, menatap nama gedung bertingkat di depannya.
Diamond Corp. Senyum Pria itu terus mengembang. Matanya yang ditutupi oleh kacamata hitam seakan tak bisa menyembunyikan binar bahagia darinya.
Langkahnya tegas, mulai memasuki lobby, seketika menarik perhatian semua orang berada di lobby. Wajah mereka tampak terpesona dengan pria tinggi itu. Postur tubuh yang ideal lagi pembawaannya yang romantis, belum lagi senyum tipis yang tersungging di sana, sontak langsung membuat bisik-bisik kagum dari semua orang. Pria itu tampak acuh, dan kini berhenti di meja resepsionis.
Bahkan beberapa yang benar-benar terpesona, tidak memperhatikan langkah alhasil saling bertabrakan satu sama lain dan berakhir timpah-timpahan di lantai. Pria itu terkekeh pelan melihatnya. Resepsionis itu pun terbelalak dengan kekehan itu. Sungguh membekas di hati. Selama ini, belum pernah ia melihat pria setampan ini.
Pria itu melepas kacamatanya, mata emerald itu langsung memancarkan sejuta pesona. Resepsionis itu bahkan hampir mimisan.
"Excuse me," sapa pria itu dengan nada barito nya.
Deg.
Jika tidak ditahan oleh rekannya, Resepsionis itu pasti sudah jatuh ke lantai karena lututnya lemas. Ah pesona pria ini benar-benar hebat!
"Yes. Ada yang bisa saya bantu, Sir?" Dengan terbata Resepsionis itu bertanya. Berusaha bersikap profesional.
"Saya ingin bertemu dengan Nona Bella," jawabnya.
"Nona Bella?"tanya Resepsionis memastikan.
Pria itu mengangguk dan Resepsionis itu tampak tertegun.
Ia kini menilik lekat pria itu. Wajah, body, dan logat yang ia yakini sebagai orang luar negeri, benua Eropa. Seketika ia ingat bahwa Bella lulusan dan mantan GM di luar negeri. Tapi, siapa pria ini gerangan?
"M-maaf sebelumnya dengan siapa ya?"
"Berikan coklat dan bunga ini padanya, dia akan tahu siapa saya."
Sok misterius sekali? Apakah dia seorang yang spesial? Kalau iya, wah beruntung sekali Nona Bella.
"Baiklah. Tapi mohon tunggu sebentar karena Nona Bella masih ada meeting. Nanti saat sudah selesai akan segera saya sampaikan kepada beliau." Pria itu mengangguk.
Resepsionis itu kemudian memanggil seseorang untuk mengantar coklat dan bunga itu pada Bella. Sementara pria itu diarahkan untuk menunggu di ruang tunggu VIP. Bisa gawat kalau disuruh menunggu di ruang tunggu lobby.
Pukul 10.15, akhirnya meeting dengan direksi selesai. Para direksi puas dengan kinerja Anjani dan Bella, mereka mengucapkan selamat atas peningkatan yang terjadi. Yang terakhir keluar adalah Anjani dan Bella yang tersenyum lega.
"Maaf, Nona Bella. Ada titipan untuk Anda." Seseorang menyerahkan coklat dan bunga pada Bella. Bella terkejut, begitu juga Anjani.
"Wah Abel, apa Ken yang mengirimnya?"terka Anjani.
Bella menggeleng setelah melihat label pada kotak coklat yang membuat hatinya berdebar, juga bunga itu, edelweis.
"Di mana orangnya sekarang?"tanya Bella tak sabar.
"Di ruang tunggu, Nona."
Bella langsung menyerahkan coklat dan bunga pada Anjani. Setelah itu Bella langsung berlari masuk ke dalam lift. Anjani terheran, siapa gerangan yang datang hingga membuat Bella seperti itu? Jika bukan Ken lalu siapa? Apa dari penganggum rahasia Abel?
Anjani ikut mengejar Bella, meninggalkan kurir yang terheran sendiri dengan coklat dan bunga di tangannya.
Bella tiba di lobby dan langsung menuju ruang tunggu VIP. Ia berhenti kaku di ambang pintu. Punggung yang familiar, yang membuat matanya berkaca-kaca. Jantungnya kian berdetak semakin kencang. Rasa rindu yang bersembunyi kini membuncah keluar.
"Kakak," panggilnya lirih.
Pemilik punggung itu berbalik.
"Abel," jawabnya penuh rindu.
Sejenak keduanya saling tatap, dan sesaat kemudian Bella langsung berlari dan masuk dalam pelukan pria itu. Keduanya berpelukan erat, melepas rindu yang selama ini terkumpul. Yap, pria adalah Louis. Saat menelpon Bella ia sudah berada di bandara Soekarno-Hatta.
Anjani tertegun melihat sepasang insan yang berpelukan erat, terdengar isak tangis di sana.
Apakah dia kekasih Abel?
Pria itu dengan lembut membelai kepala Bella yang tertutup hijab.
Cukup lama mereka berpelukan dan akhirnya lepas saat Anjani batuk-batuk tak jelas, tentu saja mengusik dua insan itu.
"Abel, she is?"
"She is my boss and my bestie, Anjani," ucap Bella. Anjani tersenyum, menyapa pria itu.
"Anjani."
"Louis," jawab Louis tanpa membalas uluran tangan Anjani. Anjani canggung sendiri, ia melirik Bella meminta penjelasan.
"Kekasihmu?"
"Bukan."
"Mantan terindah?"
"No."
"Teman tapi mesra?"
"Not Anjani."
"Lalu?"
"Mantan bos."
Anjani mengangguk mengerti.
"Hm Nona Anjani, apakah bisa hari ini Abel cuti?"tanya Louis dengan bahasa inggris.
Melihat Bella dan 'mantan bosnya' yang sangat dekat, bahkan Anjani curigai ada hubungan spesial, menyetujuinya.
Dengan cepat, Louis menarik Bella keluar dari ruang tunggu, meninggalkan Abel yang terkesiap.
Wah pantas saja Abel tidak terpesona dengan Ken. Gebetannya lebih tampan oi.