
Teresa yang baru selesai berbincang dengan Bella via telepon, menatap ponselnya dengan tatapan aneh. Rasa senang karena memenangkan tender digantikan dengan rasa penasaran.
Suara siapa tadi? Seperti suara laki-laki, nadanya posesif dan Abel seperti menutupinya. Apa hubungannya dengan Abel? Rekan kerja, tapi nadanya tidak begitu juga bukan? Kekasih? Secepat itu Abel melupakan Tuan Louis? Oh my Abel apa yang kau rahasiakan dariku?batin Teresa bertanya-tanya.
"Hei apa yang kau lamunkan?!"sentak Louis dari belakang.
"Ah!!" Teresa terlonjak kaget dan hampir jatuh. Untung Louis cepat menahan lengan Teresa. Keduanya saling tatap. Louis dengan tatapan datarnya dan Teresa dengan mata mengerjap, jantungnya berdebar lebih kencang.
Perasaan asing itu datang lagi. Ini cinta atau sekadar rasa kagum?batin Teresa lagi.
"Hati-hati. Jangan melamun di tempat umum!"ucap dingin Louis, melepas cekalan tangan pada Teresa. Teresa berdiri dengan pandangan menunduk. Ia berusaha menetralkan debaran jantungnya.
"M-maaf, Tuan. Saya terlampau senang sampai sudah membayangkan liburan dengan Abel nanti," ucap Teresa, meyakinkan.
"Hm … Abel? Kau sudah memberitahunya?"tanya Louis, nadanya berubah datar.
"Sudah, Tuan!"
Louis bukannya senang malah mendengus, "kau mencuri bagianku! Bonusmu akan aku potong!"
Teresa menjatuhkan rahangnya.
"Tuan, Tuan Anda bercanda kan? Lagipula wajar jika saya memberitahu Abel. Saya juga tak berada di samping Anda tadi. Mana saya tahu Anda sudah atau belum memberitahu Abel kabar bahagia ini," pinta Teresa, ia menunjukkan wajah memelas. Bonusnya kan nanti untuk tabungan pendidikan adiknya juga untuk liburan dengan Bella, jika dipotong, apa yang akan ia gunakan nanti?
"Di sana sudah malam. Aku tak ingin menganggu Abel. Sudahlah kau yang menyetir!" Louis masuk ke dalam mobil.
"Tuan bonus saya tidak jadi dipotong, kan?"tanya Teresa memastikan.
Dijawab atau tidak jelas Teresa tidak mendengar. Teresa menepuk dahinya sendiri dan segera masuk ke dalam mobil.
"Tuan?" Sebelum menghidupkan mesin mobil, Teresa menoleh ke belakang. Terlihat Louis yang tengah tersenyum menatap layar ponselnya.
"Kembali ke perusahaan!"
"Bonus saya?"
"Menyetirlah dengan baik!"jawab Louis, tanpa menatap lawan bicaranya.
Teresa mengangguk lemah. Ia masih harap-harap cemas. Teresa menghidupkan mesin mobil dan segera berangkat menuju Kalendra Group.
Bonusku akan dipotong dan sekarang aku berubah menjadi sopirnya. Aahhh jika kau bukan atasanku aku akan menendangmu ke keluar dari mobil!gerutu Teresa dalam hati. Wajahnya kesal bercampur muram.
Louis mendongak saat hidungnya mencium bau asam. Matanya menyipit melihat wajah masam Teresa, "apa kata Abel tadi?"tanya Louis.
"Maksud Anda?" Enggan rasanya menanggapi tapi apa daya, status Louis jauh di atasnya. Ia hanya general manager seumur jagung, melawan salah satu bos perusahaan, Teresa masih sayang nyawa juga pekerjaannya.
"Ya apa saja yang Abel katakan padamu? Mengenai kemenanganmu dan darmawisata ke Bali? Apa dia mengatakan ingin dijemput atau jumpa di bandara atau menyusul?"cerca Louis. Jika sudah membahas Bella aura dingin Louis sirna. Teresa melirik sekilas ke belakang. Lihatlah wajah tak sabar menanti jawaban itu.
"Hebat!"jawab Teresa kemudian.
"Hanya itu?"
"Saya tidak menanyakan ia minta dijemput, jumpa di bandara, ataupun menyusul. Tapi yang pasti Abel akan ikut! Oh iya Tuan, apa Abel ada cerita ke Anda bahwa ia ganti pekerjaan?"
"Maksudmu Abel sudah tidak jadi sekretaris Presdir, begitu?"tanya Louis memastikan. Teresa mengangguk. Louis tampak mengeryit tipis, kemudian melempar tatapan tajam ke luar jendela.
"Aku takut mengganggu waktunya. Karena itu aku hanya mengirim pesan padanya. Jika ia ganti profesi lagi, bukan hal yang aneh juga. Apa dia mengatakan akan jadi apa?"jawab Louis setelah menghela nafas kasar.
"Wakil Presdir," jawab Teresa.
"Hm."
Wakil Presdir? Ia cocok dengan profesi itu, batin Louis tersenyum.
Tidak ada pembicaraan lagi. Teresa yang merasa canggung juga gugup, memilih menghidupkan radio.
"Matikan itu!" Belum ada sepuluh detik, Louis langsung melarang.
"B-baik."
Apa aku tanyakan saja ya? Hitung-hitung mengurangi situasi sepi ini. Tapi nanti kalau Tuan Louis tersinggung bagaimana?
Terasa gelisah. Tapi ia juga penasaran. Akhirnya setelah pertimbangan matang, Teresa memberanikan diri untuk bertanya.
"Tuan boleh saya bertanya?"tanya Terasa gugup.
"Hm."
"J-jika seandainya di sana Abel jatuh cinta dengan pria lain, bahkan lanjut ke jenjang yang serius, bagaimana tanggapan Anda?" Louis yang awalnya hanya fokus pada ponselnya, kembali mendongak. Matanya menatap tajam Teresa dari belakang. Dahinya mengeryit dengan raut wajah tidak suka. Teresa berkeringat dingin, "ah anggap saja saya tidak pernah menanyakan hal itu. Maaf, Tuan. Tolong maafkan saya."
Keberanian Teresa menciut. Lebih takut lagi saat bibir Louis terbuka, "mengapa menanyakan hal itu? Apa kau tahu sesuatu?"tanya dingin Louis.
"T-tidak. Saya hanya ingin tahu!"jawab Teresa, meyakinkan. Louis menyipitkan matanya kemudian menghela nafas kasar.
"Aku juga tidak tahu," jawab Louis, lirih. Ketenangan Louis terganggu. Rasa takut dan cemas mendominasi.
Duh Tuan Louis jadi melamun. Teresa mengapa kau begitu tidak sabar?
*
*
*
Melangkah mengambil mantel bulu dan melangkah keluar kamar. Bella menatap datar lorong rumah yang gelap lagi sepi. Semua penghuni rumah sudah tidur. Bella menghembuskan nafas pelan, kembali melangkah menuju lantai teratas kediaman yakni rooftoop.
Langit malam yang kelabu, dengan awan mendung dan bulan yang enggan muncul, menyambut Bella di rooftop. Bella menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan.
Udara dingin memberi rasa dingin pada pernafasan Bella. Matanya terpejam menerima terpaan semilir angin.
Huft.
Mengapa setelah kembali ke tanah air, banyak misteri yang muncul? Pertama kasus Ayah, kedua tentang kakek buyut, dan apakah rahasia keluarga ini juga menjadi urusanku?
Bella tidak terlalu gugup untuk pengangkatannya besok. Bella hanya merasa bahwa setelah ia masuk, halang dan rintang langsung menyapa.
Uhuk
Uhuk
Suara batuk yang sepertinya ditahan, Bella segera mengedarkan pandang. Tatapannya terkunci pada seseorang di sudut rooftop. Duduk dengan kaki menjuntai ke bawah. Bella mempertajam penglihatannya, "Brian?"gumam Bella. Langsung menghampiri sosok yang duduk itu.
Sosok yang tak lain adalah Brian itu tidak menyadari kehadiran Bella. Tatapannya lurus ke depan dan masih terbatuk beberapa kali. Bella melihat ada wine juga bungkus rokok. Di antara jari pria itu juga ada sebatang rokok yang sudah disulut.
"Katanya merokok bisa membantu meringankan pikiran? Aku sudah mencobanya malah dadaku yang terasa sakit." Brian bergumam.
"Karena lari bukan solusi dari sebuah masalah." Brian terperanjat dan langsung menoleh ke belakang.
"Abel? Sedang apa kau di sini?"tanyanya terlihat panik, ia hendak berdiri namun terhenti saat Bella duduk di sampingnya. Tentu saja dipisahkan oleh botol wine dan sebungkus rokok beserta koreknya itu.
"Mencari udara segar."
"Hal berat apa yang kau pikirkan? Ku kira kau orang yang selalu tenang dan datar, muka tembok kata adikmu, tapi melihat hal ini, apakah karena hari esok?"terka Bella. Brian menatap Bella sekilas dengan tatapan datarnya, kemudian menatap lurus ke depan. Ia tidak menjawab ucapan Bella.
"Ya aku sudah tahu. Besok aku akan resmi masuk Mahendra Group. Dan kau pasti mengira aku berpihak pada Ken. Jika kau cemas akan hal itu, wajar saja. Tapi aku beritahu padamu, tugasku hanya membimbing Ken, bukan menjadikannya Presdir karena itu tergantung pada kemampuan dan keputusan Pak Surya. Aku bertanggung jawab penuh pada perusahaan bukan pada Ken. Ya tapi itu juga tak menutupi bahwa kita akan menjadi rival. Hm namun bukankah hal ini sudah lama diberitahu bukan? Ku rasa ada penyebab lainnya. Hal apa yang lebih besar dari urusan rival kita, Tuan Muda Brian?"
Brian mengerutkan dahinya tipis mendengar ucapan panjang lebar Bella. Selama ini belum pernah mereka berbicara berdua dan Bella berkata sepanjang ini padanya.
"Kembalilah ke kamarmu. Aku tak ingin orang berprasangka buruk tentang kita. Kau adik iparku dan aku kakak iparmu!"ucap Brian dingin. Ia mematikan rokok yang tinggal setengah batang kemudian menenggak wine langsung dari botolnya.
"Aku juga tidak tahu kau ada di sini. Dan ku rasa kita tak perlu takut karena kita memang tak melakukan apapun. Bagus juga kau di sini, aku jadi ada teman bertukar pikiran," ujar Bella. Bella merapatkan mantelnya, mendongak menatap langit malam yang mulai cerah.
"Lupakan sejenak tentang persaingan kita di masa depan. Malam ini kita adalah teman," tambah Bella. Brian yang berniat untuk pergi, mengurungkan niatnya. Ya dia juga butuh teman bicara.
"Baiklah. Boleh aku tanyakan sesuatu padamu?"tanya Brian, sedikit ragu.
"Selagi aku bisa menjawab, akan aku jawab."
"Hm. Apa menurutmu Papa adil?"tanya Brian, matanya berubah sendu. Wajah tampan yang biasanya datar itu sedikit menunduk.
"Alasannya?"tanya Bella, masih menebak.
"Aku adalah anak pertama dan Ken adalah anak ketiga. Aku tahu Papa lebih condong ke Bunda dan Ken, tapi tidak seharusnya juga bukan Papa ingin memberikan tahta perusahaan pada Ken? Aku anak pertama dari istri pertama, harusnya itu mutlak hakku. Harusnya tidak ada lagi persaingan seperti ini. Toh dari awal Ken juga tidak berminat pada bisnis. Ia memilih untuk jadi guru. Tapi Papa, malah memaksa Ken untuk masuk ke perusahaan. Bukankah itu tidak adil lagi aneh?" Brian percaya bahwa Bella orang yang tepat janji dan mampu menjaga bicara.
Bella mengangguk paham.
"Aku juga sempat berpikir seperti itu. Dari yang ku tahu, kau sangat berkemampuan. Naik jabatan karena kemampuan dan prestasi, bukan karena jabatan Papa. Kau juga sudah menikah lebih dulu. Aku juga setuju padamu, harusnya kau yang naik jabatan menjadi Presdir tanpa ujian. Mengapa harus repot-repot memaksa Ken masuk perusahaan yang berujung pada pernikahan kami dan kepergian Cia. Ah sudah lama aku memikirkannya, dan aku hanya mendapat beberapa spekulasi," sahut Bella.
"Spekulasi? Apa saja?"tanya Brian, tertarik lebih dalam. Brian kira Bella acuh dan masa' bodoh tapi sekarang Brian tahu bahwa ia dan Bella satu pikiran.
"Pertama, karena kasih sayang Pak Surya yang memang condong ke Ken hingga ia tak ingin ada orang yang menggantikannya selain Ken."
Jangan tanyakan bagaimana dengan El, karena El memang tidak dimasukkan dalam daftar calon pewaris perusahaan. Hanya Brian dan Ken saja.
Brian tersenyum kecut, "Andai saja Mama masih hidup, pasti tidak perlu seperti ini."
"Ah benar, Mama Tiara. Hei Bri, besok setelah check up aku bolehkan berziarah ke makam beliau?"tanya Bella, berharap.
"Tentu."
"Yang kedua, apa?"tanya Brian.
"Yang kedua, pasti ada alasan kuat dibalik hal ini selain spekulasi pertama. Untuk apa repot dan capek-capek memaksa seseorang padahal ada yang sudah mampu untuk menggantikannya?"
"Yang ketiga?"
"Yang ketiga, hm mungkin masalahnya ada pada dirimu sendiri." Brian langsung terkesiap. Untung saja pencahayaan redup jadi Bella tidak melihat ekspresi kaget Brian.
"Maksudmu apa? Aku bermasalah begitu?"tanya Brian datar.
"Kan hanya spekulasi. Benar atau tidaknya hanya kau atau Pak Surya yang tahu. Kau langsung sensitif pada spekulasi ketiga, apa benar ini alasannya?"
Brian tercekat. Matanya bergerak panik, "t-tentu saja tidak. Jika aku bermasalah untuk apa ada persaingan lagi? Bukankah lebih simpel langsung mengangkat Ken jadi Presdir?"
"Ya benar juga. Sudahlah pasti nanti akan terbongkar juga. Tinggal menunggu waktu saja," sahut Bella, tersenyum tipis.