This Is Our Love

This Is Our Love
Prewedding, Lagi?



Flashback sebelum Bella tiba di auditorium universitas Ken. Di tengah perjalanan, Bella merasa dirinya diikuti. Firasatnya mengatakan bahwa ada hal yang tidak baik sedang mengikuti dirinya. Lebih lagi jalanan cukup lenggang. Dari kaca spionnya, Bella melihat ada sebuah mobil yang terus mengikuti kemana ia melaju. Walau meyakinkan dirinya jika mobil itu mungkin memang searah dengannya.


Namun, saat memasuki sebuah gang yang jelas-jelas pas-pasan dengan lebar mobil, mobil itu tetap mengikutinya. Bella mengeryit, apa mereka itu dungu? Atau memang berpegang pada perintah? 


Resah, jika tidak langsung diselesaikan, pasti akan lebih dalam urusannya. Bella ingin tahu siapa yang menargetkan dirinya kali ini.


Apakah orang yang sama atau ada lawan lain? Ralat, orang yang dendam atau menaruh kebencian padanya. Karena musuh sudah pasti lawan, lawan belum tentu musuh. 


Pada akhirnya Bella memilih untuk menghadapi mereka. 


CITT ….


Bunyi rem motor Bella saat ia menarik rem depan dan membuat bagian belakang motornya terangkat, dalam sekejap Bella memutar motornya menjadi menghadang mobil putih yang terus mengikutinya. 


Mobil putih itu langsung berhenti begitu Bella turun dari motornya dan melepas helm. Empat pria, berbadan kekar dengan penampilan sangar. Bella tidak merasa gentar. Wajahnya dingin, sejurus dengan tatapannya. 


"Katakan siapa yang menyuruh kalian lalu pergilah sebelum terlambat!!"ucap Bella dingin, memberi peringatan agar mereka mundur. Ia tak ingin tangannya berlumuran darah saat menghadiri acara wisuda Ken. Jujur saja, ia memakai jaket untuk menjaga kerapian pakaiannya. 


Sayang, mereka tidak bisa diajak kompromi. Tanpa sepatah kata mereka menyerang Bella. Bella berdecak. Dalam benaknya sudah tertera kalimat ia akan terlambat. 


Dan adegan perkelahian tak dapat dielakkan. Empat lawan satu, wanita pula, agaknya musuhnya sudah mengukur kemampuan bela diri Bella dilihat dari penampilan dan cara bicara. 


Singkat saja. Kemampuan empat pria itu masih di bawah kemampuan enam pria yang menyergapnya sewaktu di Bali. Namun, Bella juga tak luput dari terkena tendangan, tinju, maupun pukulan.


Pakaiannya berantakan, sudut bibirnya berdarah dan ada lebam di pelipis serta sakit di beberapa bagian tubuh bagian dalam tentu terasa jelas oleh Bella. Bella  menepuk-nepuk bahunya, membersihkan barangkali ada debu yang mengotori jasnya.


Tatapannya dingin lokasi perkelahian tadi, yang mana ke empat pria berbadan kekar itu yang merasa tak bisa menundukkan Bella sudah kabur tanpa mobil mereka. 


"Cih! Dasar pengganggu!"decihnya, melangkah lebar kembali ke motor dan melihat wajahnya. Bella mendengus, wajahnya terdapat lebam dan sudut bibirnya berdarah. Kotak obat dan alat makeup nya tinggal di kantor. 


Bella memutuskan untuk meninggalkan lokasi, mencari apotek lalu singgah ke SPBU untuk memperbaiki penampilannya. Luka lebam di pelipis sudah teratasi, Bella mengobati sudut bibirnya dan mengoleskan obat di bagian tubuhnya yang sakit.


Sejujurnya Bella butuh istirahat sejenak. Namun, ini sudah terlalu lama. Ia sungguh terlambat. Segera setelah memperbaiki penampilannya, Bella melanjutkan perjalanan menuju universitas Ken. 


Dalam waktu lima belas menit, Bella sudah memasuki gerbang universitas dan menuju auditorium. Dengan cepat, Bella berlari masuk ke ruang auditorium. Dan kejadian selanjutnya ada di bab sebelumnya. 


*


*


*


Acara Wisuda yang menyambi sebagai acara seminar singkat oleh Bella yang memberi sedikit prakata untuk fresh graduate yang setelah ini diharapkan mampu mendapatkan dan menerapkan ilmu yang mereka timba di masa kuliah dalam dunia pekerjaan. 


Pendidikan, guru bukanlah satu-satunya profesi pekerjaannya. Masih banyak pekerjaan lain yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Ya, walaupun yang utama adalah menjadi tenaga pengajar dan pendidik. 


Di akhir acara wisuda, Bella berbincang sejenak rektor yang mana mereka mengundang Bella dan Brian untuk menjadi pembicaraan dalam acara seminar fakultas ekonomi universitas ini, dalam waktu yang masih belum ditentukan karena ini barulah wacana yang tercetus saat Bella menyampaikan prakata. 


Pembicaraan under 30 tahun, pasti lebih mudah memberikan materi dan pemahaman kepada mahasiswa fakultas ekonomi.


Baik Brian ataupun Bella masih menjawab akan mempertimbangkan undangan itu, mengingat jadwal mereka yang begitu padat, terlebih akan segera digarapnya proyek pembangunan apartemen. 


Pukul 14.00, acara resmi berakhir namun gedung auditorium masih ramai dengan wisudawan dan keluarga. Mereka sibuk mengambil foto wisuda dengan keluarga, teman, ataupun kekasih mereka. Tak terkecuali juga pada Ken.


Hanya saja, ia dan Bella masih jadi narasumber mengenai pernikahan Ken dan Bella yang tak terdengar oleh media. Pewawancaranya tak lain adalah orang-orang yang cukup dekat dengan Ken, yang tahu hubungan Ken dan Cia sejak lama. 


"Siapa yang datang lebih awal, siapa yang pertama bagi suami saya, tidak menjamin bahwa dia adalah yang pertama dan terakhir. Cinta bukan tentang siapa yang lebih dulu. Tidak ada yang menjamin siapa yang pertama maka akan jadi yang terakhir. Takdir tidak ada yang tahu!"tegas Bella.


"Aku dan Cia pada akhirnya  sama-sama menyadari jika kami memiliki perbedaan yang sangat jauh. Hubungan kami stuck di tempat dan kami tidak punya solusi. Kami berpisah dengan cara baik-baik. Aku harap kalian tidak lagi mempertanyakan tentang mengapa aku putus dengan Cia dan menikah dengan istriku. Masa lalu, biarlah berlaku. Jangan kalian ungkit-ungkit lagi!"timpal Ken.


Walau apa yang Ken katakan tidak sepenuhnya benar. Tapi, itulah alasan Ken menyembunyikan yang sesungguhnya. Ia tak mau nama ada yang terluka lebih dalam.


"Jadi, apa kau tahu di mana Cia sekarang, Ken?"


"Dan apa kau tidak insecure atau ilfeel punya istri lebih tua darimu? Secara kau ini kan Tuan Muda Kesayangan Mahendra?" Pertanyaan itu berbisik pada Ken namun Bella dapat mendengarnya. 


"Untuk apa infeel? Untuk apa insecure?"tanya balik Ken. 


Ken dan Bella semakin mengeratkan gandengan jemari keduanya. Pasangan itu semakin kompak dari hari ke hari.


"Daripada memikirkan kami, lebih baik kalian mengurus masa depan kalian. Jangan biarkan kerja keras kalian selama semester kuliah sia-sia. Dan terima kasih atas perhatian kalian. Saya sungguh merasa terhormat bisa mendapatkan perhatian dari fresh graduate seperti kalian," saran Bella dengan tersenyum lebar. Kata-katanya sebuah sindiran dalam bentuk saran dan nasihat.


Dan tak lama kemudian mereka bubar dengan sebelumnya mengatakan maaf dan terima kasih pada Bella dan Ken. Setelah teman-teman Ken meninggalkan keduanya, barulah Surya dan lainnya mendekati mereka untuk melakukan sesi foto. Surya sudah menyewa fotografer khusus hari ini. 


Jadwal Bella setelah jam makan siang dibatalkan semua. Mengingat acara berakhir lebih lama dari waktu yang Bella perkirakan dan lagi insiden tak terduga yang menimpa dirinya tadi dan Bella belum memberitahu apa yang terjadi walau Ken, Surya, maupun Brian telah menanyakannya. 


"Janganlah insiden kecil menjadi perhatian besar. Sudah selesai, tidak perlu dibahas. Namun, jika kalian memaksa nanti malam akan aku katakan," jawab Bella kala didesak untuk menjawab.


"Eh ini apa?"heran Bella saat melihat beberapa orang seperti fotografer yang sepertinya adalah bagian dari WO, sebab ada bagian pengaturan cahaya. 


"Untuk foto wisuda, sekalian foto prewedding, Aru," jawab Ken.


"Prewedding? Are you seriously? Kita sudah prewedding sebelumnya, bukan?"bingung Bella. 


"Lalu pakaianku? Ini pakaian kerja loh, dan kusut." Wajah Bella menunjukkan penolakan. Ia merasa tidak cocok melakukan prewedding dengan penampilannya.


"What happened, Aru? Nanti kan bisa diedit. Lagipula ini moment pertama wisudaku, apa kau tidak mau Aru?" Ken menunjukkan wajah sedihnya. Bella merenung sesaat. 


Surya, Rahayu, Brian, Silvia, dan Dylan mendengar dan menjadi penonton perdebatan pasangan itu. 


Ingatan Bella melayang ke masa lalu. Kala ia wisuda, baik wisuda yang manapun, tidak ditemani oleh nenek ataupun Nesya secara langsung melainkan via ponsel. Bukan tak ada biaya, tapi kondisi nenek Marissa kala itu tidak memungkinkan, dan Nesya kala itu juga sibuk dengan ujian dan kuliahnya. 


Rasanya sedih tidak ditemani secara langsung. Dan Ken, bukankah ini termasuk sebuah surprise? Dan pakaian, bisa diganti, bukan? Di depan universitas banyak toko pakaian berjajar. Dan tentu ini konsep yang cukup unik. 


Bella menatap Ken yang menatapnya penuh harap. Bella tersenyum dan mengganggukan kepalanya. "Sudah ku duga," gumam Brian. 


"Mas," panggil Silvia. Begitu Brian menoleh pada Silvia, Brian mengerjap karena Silvia mengambil selfie dengannya.


"Mas, tanpa ekspresipun kau perfect!"puji Silvia yang langsung mengupload foto tersebut ke story instagramnya. 


"Foto seperti mereka juga?"tanya Brian menawarkan dengan nada datarnya. 


"Mas mau?"


"Kau mau apa tidak?"


Silvia terhenyak sesaat. Artinya keputusan Brian tergantung kemauannya. "Kalau dengan gaya kantoran? Bos dan sekretaris?"tanya Silvia memastikan. 


"Why not?"tanya balik Brian. 


Silvia mengembangkan senyumnya. Terlebih pakaian mereka berwarna senada. Brian dengan jas hitam dan Silvia sendiri mengenakan setelan blazer berwarna hitam pula. 


"Thank you, Mas!" Silvia memeluk lengan Brian yang membuat Brian mengembangkan senyum melihat wajah bahagia sang istri. Ya begitulah hubungan Brian dan Silvia. Brian melakukan hal romantis, walau sering secara tiba-tiba. Hubungan mereka yang semula dingin, mulai menghangat. Ibarat kata cinta yang hampir pudar, layaknya daun yang berguguran pada musim gugur, kembali mengembang dan bersemi layaknya daun dan bunga pada musim semi. 


Surya dan Rahayu berpelukan, akhirnya anak dan menantu mereka harmonis. Kerenggangan yang pernah tercipta perlahan tertutupi dan hal itu menjadi perbincangan hangat di kalangan mitra bisnis Mahendra Group. Bersaing itu di luar rumah, di dalam rumah adalah satu. Dan tak berapa lama lagi, keluarga Mahendra akan genap berkumpul dalam satu atap. 


Sementara Dylan, dialah yang paling menyedihkan karena tidak tahu harus memeluk siapa. Dylan duduk di tepi trotoar dengan menulis, menggambar abstrak di jalanan beraspal. Sejujurnya pria tampan itu juga menjadi pusat perhatian selain anak dan menantu keluarga Mahendra. Hanya saja, Dylan acuh dengan semua tatapan yang tertuju padanya.


Saat melihat acara wisuda Ken, Dylan membayangkan sebentar lagi ia akan berdiri di sana, menerima sertifikat penghargaan dan menyampaikan prakata. Dan saat melihat Ken dan Bella yang sedang foto ala prewedding, Dylan membayangkan dan melamunkan kapan ia dan Nesya melakukan prewedding. Ingatan boleh anak umur 14 tahun.


Tapi, tak bisa dipungkiri jika Dylan adalah pria yang sudah dewasa dari segi umur dan pengetahuan. Hanya belum menghilangkan sifat kekanakannya. Dan sebenarnya sifat kekanakan itu tidak bisa dihilangkan dari seseorang yang diberi label dewasa. Seorang yang dingin, sangat bahkan kejam pasti mempunyai sisi kekanak-kenakan.


Dengan arahan dan kepiawaian Ken dan Bella, serta Brian dan Silvia, proses pemotretan berakhir dengan singkat namun hasil yang memuaskan. Bahkan fotografer saja berdecak kagum, jika jadi model, niscaya akan menjadi model papan atas dengan segudang prestasi. Sungguh, paket yang sempurna. Baik dari rupa walaupun wawasan. Sebut saja mereka like a diamond, bukan lagi serbuk berliannya.


Dan waktu menunjukkan pukul 15.30, sudah mendekati ashar. Keluarga Mahendra bersiap untuk meninggalkan area gedung auditorium menuju masjid universitas.


Saat hendak masuk ke dalam mobil dengan Ken dan Bella yang sudah duduk di motor sedang mobil Ken dibawa oleh sopir Surya dengan Surya menyetir mobil sendiri, sebuah mobil berwarna hijau berhenti di depan mobil Ken. Saat penghuni mobil itu keluar, keluarga Mahendra kecuali Dylan terkejut. Ah tidak, Bella dan Brian menunjukkan rasa terkejut mereka dengan menaikkan satu alis mereka. 


"Ken bercerailah dengannya, menikahlah denganku!"ucap seorang wanita yang baru saja turun dari mobil itu.


"WTF?!!"seru Dylan, terkejut dan marah. Siapa wanita itu? Terlihat lemah tapi berani mengatakan hal itu.