This Is Our Love

This Is Our Love
Taruhan dan Kemenangan



Setibanya di kamarnya, Evalia langsuny membongkar seluruh isi lemari yang ada di dekat lemari pakaian. Itu adalah lemari yang menyimpan semua desainnya selama ini.


Evalia memilah. Ia begitu bersemangat. "Aku akan meraih impianku!" Melihat Lucia yang naik, Evalia pun tak mau kalah. Hanya saja, ia mau naik tanpa menjatuhkan orang lain. Semua punya bakat dan bidangnya masing-masing. Dan Evalia hanya ingin mengembangkan hal itu.


Setelah memilah desain-desain itu, Evalia duduk di mejanya. Di atas mejanya, penuh dengan alat gambar. Mulai dari pensil aneka ketebalan, juga pena, penghapus, penggaris, kertas gambar, juga pensil warna.


Evalia kemudian membuka komputernya. Ia bersiap untuk mengajukan permintaan tertulis pada Desya. Ya, ini untuk formalnya.


*


*


*


Pagi dengan semangat membara menyambut Bella. Selesai subuh, ia langsung bersiap untuk ke lapangan panah, menerima tantangan surat kemarin. 


Di depan jendela kamarnya, Bella melakukan peregangan guna melemaskan otot-ototnya. Cahaya pagi dengan sedikit hawa dingin menyapanya, menerpa wajahnya. 


Ia sudah siap. Dengan pakaian training, Bella sangat siap. Tinggal menunggu sarapan, Bella akan langsung menuju lapangan panah.


Sekitar pukul 08.30, Bella meninggalkan kamarnya. Tubuhnya sangat berenergi. 


Tiba-tiba, sekitar lima langkah dari kamarnya, Bella menghentikan langkahnya. Ia lantas mengerutkan dahinya. Wajahnya menunjukkan kecurigaan. 


Tantangan ini … adalah tantangan terbuka. Dia berani menantangku artinya dia punya kemampuan. Dan aku sedikit ragu kalau nanti akan bersih. Aku harus cek alat-alat yang aku gunakan!


Bella mengangguk pelan. "Mari kita lihat kemampuan dan trik mereka!" Bella kembali melangkah dengan langkah berwibawa, membuat siapapun yang berpapasan dengannya memberi hormat atau sapaan. 


Setelah berjalan sekitar 10 menit menuju lapangan panah, Bella sedikit terkejut mendapati Desya, Dimitri, dan Aleandra berada di sana. Selain ketiga orang itu, juga ada Irene, Lucia, dan Evalia. Juga Andry dan beberapa anggota Black Rose lainnya. 


Sepertinya ini benar-benar menjadi sebuah pertunjukkan!


Dan hasil dari tantangan ini, pasti akan memiliki dampak cukup besar. 


Bella semakin merasakan keseriusan. Ia tidak bisa menganggap enteng hal ini. 


Tapi, sebenarnya siapa yang menantangnya? 


Bella menolehkan wajah pada Andry. Pria itu mengenakan seragam berwarna hitam, yang Bella ketahui sebagai seragam Black Rose. Tidak menggunakan satupun peralatan panahan. Setidaknya sarung tangan sudah terpasang. 


Irene melirik Tuannya. Dilihat dari ekspresinya, Desya tidak suka Bella menatap Andry cukup lama. Apalagi Andry membalas dengan tersenyum. 


Tangannya mengepal. Irene mencium aroma kecemburuan. Dimitri dan Aleandra, mereka juga merasakan apa yang Irene rasakan. 


"Ehem." Dimitri berdehem. "Desya, menurutmu siapa yang akan menang? Istrimu atau wanita yang kau bawa itu?"tanya Dimitri dengan berbisik pada Desya. 


"Melihat kata-kata Ayah, aku rasa Ayah dapat menentukan peluangnya." Sebagai pemimpin dari Green Place ini, Desya tentu sudah mendengar Bella yang datang ke lapangan panah dan berlatih bersama dengan tim panah yang dipimpin oleh Andry. Dan lapangan panah ini, bisa dilihat dari kamar Dimitri dan Aleandra dengan bantuan teleskop. 


"Ariel dijuluki pemanah terbaik. Namun, kemampuan Bella juga tidak buruk. Ibu rasa sulit menentukan siapa yang akan menang. Desya, apa kau tidak khawatir sama sekali jika seandainya Ariel yang menenangkan tantangan ini?"tanya Aleandra. 


Desya menatap sang ibu sekilas. "Aku yakin dia tahu arti tantangan ini. Dia akan melakukan yang terbaik!"jawab Desya. Aleandra menangkapnya. Meskipun Desya khawatir Bella kalah. Namun, Desya lebih percaya bahwa Bella akan menang. Dan senyum Desya itu, membuat Aleandra semakin yakin bahwa Desya berada di pihak Bella. 


"Aku penasaran, apa taruhannya nanti." Dimitri merasa kepulangannya ini begitu menarik. Hadirnya Bella, memberi warna lain di Green Palace ini. 


Menarik. 


Bella mengalihkan pandangnya ke arah keluarga Desya. Pada Dimitri dan Aleandra, Bella menunduk kecil sebagai bentuk hormat, yang dibalas dengan anggukan kecil kedua orang tua itu.


Pada Lucia dan Evalia, Bella tersenyum. Yang dibalas senyuman pula. Dan pada Desya, Bella menunjukkan raut wajah datarnya kemudian melangkah menuju rak panah. 


"Apa-apaan dia?" Desya kesal dan merasa tidak adil. "CK!" Ia berdecak. "Menyebalkan!" Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. 


Macam-macam kau, awas masa depanmu! Ancaman Bella masih terngiang-ngiang dalam kepala Desya. Bahkan, efek dari tendangan kemarin masih terasa.


"Tuan, Anda kenapa gemetar?" Irene menatap cemas Desya. Hal itu tentu saja membuat Dimitri dan Aleandra menoleh padanya. 


"Ah? Aku gemetar? Tidak ada." Ia berkilah. Tanpa sadar ia gemetar. 


"Aku baik-baik saja!"tandas Desya. 


"Okay."


Di lain sisi, Bella sudah memilih busur panahnya. Sebuah busur dengan ukuran sedang, berwarna coklat kayu. Bella sudah menguji keketatan tali busurnya. Dan itu sesuai dengan keinginannya. 


Anak panah dengan pangkal warna biru menjadi pilihannya. Saat Bella memasang sarung tangan, barulah Ariel muncul dengan menggunakan celana training dan kaos hitam lengan pendek. Rambutnya dikuncir kuda. 


Ariel, wanita itu memang cantik. Tubuhnya bak model papan atas. Begitu memasuki lapangan, Ariel melempar tatapan bermusuhan pada Bella.


Ternyata dia, batin Bella, telah selesai memakai sarung tangannya. 


Seperti yang Bella lakukan tadi, Ariel menyapa keluarga Desya. 


Ada sesuatu? Bella bertanya-tanya dalam hati saat Ariel melempar pandang pada Andry. 


"Terima kasih, telah datang memenuhi undanganku," ucap Ariel, sembari mengedarkan pandangnya. 


"Cara menyampaikan undangan yang unik," kekeh Dimitri. Sama seperti surat tantangan untuk Bella yang disampaikan melalui panah, surat undangan untuk semua orang di sini juga disampaikan melalui panah. 


"Maaf untuk itu, Ayah," ucap Ariel. Dimitri mengangkat tangannya, mengatakan tidak apa-apa. 


"Ah aku kira kau mau membunuhku dengan panah itu," celetuk Bella, yang membuat Ariel menoleh pada Bella.


"Aku akui keberanianmu, Nona Bella. Aku harap kau sportif." Bella terkekeh pelan mendengarnya.


"Aku lebih berharap pada Anda, Nyonya Ariel."


Aku tidak akan curang! Tatapan Bella mengartikan kata-kata itu. 


"Aku juga bukan orang rendahan, Nona Bella!"ucap Ariel.


Bella menyunggingkan senyum. "Aku harap, Anda konsisten dengan ucapan Anda!"


"Lalu, apa maksud tantangan itu?"tanya Bella. 


Tantangan. Pasti ada taruhannya, bukan?


"Tentu saja. Tantangan ini ada taruhannya. Jika kau menang, kau bisa meminta apapun dariku. Jika kau kalah, kau harus menurutiku!" 


Wow!


 Ariel begitu berterus terang. Dan apa yang Ariel tawarkan setara.


Bella menimang. Dengan taruhan itu Ariel pasti yakin dia akan menang. 


"Kau ragu? Jika benar berarti kau mengaku kalah!"


"Maaf, Nyonya! Saya tidak menerima kekalahan tanpa berusaha!" Sekalipun peluangnya kecil Bella tidak akan pernah melepaskannya. 


"Lalu apa yang kau tawarkan?"


"Jika kau kalah, cukup satu hal saja. Jangan ganggu dan usik aku!" 


Ketenangan. Itulah yang Bella minta. Jangan ganggu pekerjaan atau harinya dengan hal menyebalkan. Terserah Ariel mau melakukan apapun, yang penting tidak merugikan dirinya. 


Ariel tampaknya terkejut. Tidak menduga keinginan Bella sesimpel itu. Padahal, jika memang Bella bisa melakukan apapun.


"Bagaimana, Tuan? Apa Anda menyetujui taruhan kami?" Ariel bertanya pada Desya. 


"Taruhannya tidak seimbang. Kau meminta tak terbatas dibandingkan dia yang meminta satu hal." Melakukan apapun dibandingkan satu hal, tentu itu tidak sebanding. 


"Lantas?"


"Maka harus setara!"


"T-Tuan?!" Ariel tidak terima. 


Ariel menggigit bibir bawahnya. Menurutnya ini tidak adil dan kesannya Desya membela Bella. 


"Tidak apa. Jika satu tidak puas, bagaimana? Aku kita setarakan saja. Masing-masing tiga hal?"saran Bella. 


"Itu ide yang bagus!" Dimitri setuju. Dan diangguki oleh yang lainnya. 


"Okay!" 


Karena taruhan sudah ditentukan maka Desya membuka tantangan tersebut. Bella dan Ariel mengambil tempat. 


Keduanya sudah mengenakan peralatan lengkap. Andry menjadi wasit. 


Andry memberi aba-aba. Mulai dari set up sampai dengan release. 


Jarak target adalah 60 meter. Dan ada dua babak. Satu dengan target diam dan babak kedua dengan target bergerak. 


Bella dan Ariel, keduanya menarik dan memanah dengan baik. 


Dan di babak pertama, mereka seri. Tentu saja itu membuat perasaan penonton tegang. Keduanya sama-sama berkemampuan. Setiap anak panah yang dilepaskan, selalu mengenai target. 


Dan ini adalah sesi istirahat. "Kau hebat!" 


Bella hampir tersedak minum saat Ariel tiba-tiba menghampiri dan memujinya. "Hah?"


"Aku serius."


"Ah terima kasih, kau juga!"


"Jangan senang dulu. Aku pasti akan mengalahkanmu di babak kedua!" Setelah mengatakan itu Ariel melangkah pergi. 


Bella mengerjap. "Dia kembali menyebalkan!"


"Tanganmu sakit?" Bella lagi-lagi terkejut, Desya menghampiri dirinya. 


"Tidak!"


"Kau lelah?"tanya Desya lagi. 


"Sedikit."


"Setelah ini istirahatlah. Aku tidak akan mengganggumu hari ini." Astaga! Benar-benar lembut. Bella jadi takut sendiri. 


"Ya."


"Jangan takut. Meskipun kau kalah, aku akan ada di sisimu."


"Kau mengira aku akan kalah?" Bella tidak suka itu. 


"Tidak. Kau pasti akan menang."


"Kau mendukungku, tidak takut istrimu semakin membenciku?"tanya Bella, menoleh sekilas ke arah tiga istri Desya. 


"Toh kau akan menjadi istriku."


"WHAT?" Sebelum Bella bereaksi lebih jauh, Desya melangkah pergi. 


Astaga! Ya Tuhan aku ingin segera pergi dari sini!


Dan tiba saatnya memasuki babak kedua. Target bergerak dengan gerakan melingkar. Seperti rel kereta api mainan. Cara penentuan pemenang adalah yang mendapat poin terbanyak. 


Kedua pemanah bersiap dan Andry kembali memberi aba-aba. 


Release!


Panah yang ditembakkan oleh Ariel melesat dan menancap pandang lingkaran pusat. 


10 poin. Sang pemanah tersenyum lebar. Ia melirik Bella yang tenang melihat hal itu. 


Giliran Bella. Ia mengangkat busurnya. Menarik anak panah. 


Release!


Melepaskan anak panah tersebut. Melesat cepat dan tap!


Terhenyak. Dua pemanah dengan satu target. Panah yang Bella tembakkan membelah anak panah yang Ariel tembakkan tadi. 


Bella menarik senyum. "Giliranmu." Masing-masing memiliki kesempatan 10 kali memanah. Jika seri, maka ada dilakukan 2 kali memanah lagi. Jika masih seri juga, akan diadakan 2 kali lagi. Jika masih seri lagi, maka keputusan ada di tangan Desya. 


Ariel berusaha tenang. Kali ini benar-benar serius. Kembali, Ariel melepaskan anak panahnya. Di posisi pusat namun tidak membelah panah yang Bella lepaskan tadi. 


Ia kemudian menghela nafas pelan. "Giliranmu!"


Begitu seterusnya. Dan mereka memanglah pemanah yang handal. 


Pandangan Bella terhadap Ariel sedikit berubah. Wanita itu, ia tetap sportif. Berusaha tenang dan melakukan yang terbaik. Ariel memang punya kemampuan!


"Hasilnya seri!" Andry mengumumkan hasil babak kedua. 


Maka dari itu, diadakan babak tambahan. Nafas Bella sedikit terengah. 


Ia sudah lelah. Hal itu didorong oleh kehamilannya. 


Sebelum melakukan babak tambahan, mereka diberi waktu lima menit untuk istirahat. 


"Aku harus memang!"gumam Ariel pada dirinya sendiri. Meskipun ia takut kalah. Namun, ia senang mendapat lawan yang sepadan. 


Sengit. Baru kali ini Ariel merasakan sensasi semangat yang membara saat memanah. Darahnya seakan mendidih, bergejolak, menginginkan kemenangan.


"Seri? Tapi, hanya akan satu pemenang!" Mata Bella berkilat tajam sebelum kembali melangkah masuk ke dalam lapangan. 


"Kali ini targetnya bukan itu lagi, melainkan target yang dilemparkan ke udara. Ada dua puluh target yang akan dilepaskan. Yang paling banyak mengenai target adalah pemenangnya," ucap Andry. 


Bella dan Ariel saling pandang. Kemudian menoleh pada Desya.


Jadi, itu mengapa Desya memanggil Andry. 


Panah untuk Bella adalah biru sementara untuk Ariel adalah merah. 


Ini jauh lebih menantang. 


Bella dan Ariel, melongo melihat apa yang dilemparkan. Itu bola. Bola yang akan dilemparkan dalam jangka waktu yang sama. Waktu pertama adalah dua bola. Tidak dilempar secara bersamaan. 


Selain ketelitian, kecermatan, dan ketepatan, dibutuhkan kecepatan. Karena setelah dilemparkan, bola akan segera jatuh ke tanah. 


Bella menghembuskan nafasnya. "Aku siap!"


"Aku juga!" Ariel menimpali. Keduanya siap untuk babak tambahan.


Penonton diminta menjauh dari lapangan karena akan sangat berbahaya. 


"****!" Ariel mendengus. 


Ia sudah kalah satu poin dari Bella. 


Ketegangan dan persaingan ketat terjadi. 


Dan babak tambahan tersebut selesai. 


Ekspresi Ariel kurang bagus. Sementara Bella menghela nafasnya, lega. 


"Senang berkompetisi denganmu!"ucap Bella.


Ya, Bella keluar sebagai pemenang. Taruhan tadi harus dipatuhi oleh Ariel. Jangan mengganggu dan mengusik dirinya.