
"Ken setelah ini kamu antar Abel pulang untuk mengemasi barang bawaan pindah ke rumah kita," ujar Surya setelah selesai sarapan.
"Ken nggak bisa, Pa. Ken harus jemput Cia untuk kemoterapi," tolak Ken langsung yang seketika membuat Surya kesal.
"Istrimu dulu utamakan! Baru Cia!"tegas Surya. Ken kembali menggeleng.
"Di hati dan hidup Ken, Cia adalah yang terutama!"balas Ken tegas. Brian mendengus kesal, ia meletakkan kasar alat makannya lalu pergi tanpa sepatah katapun. Silvia yang agaknya sudah terbiasa, memilih ikut dengan suaminya. Sedangkan El sendiri tampak acuh dengan hal itu. Ia dengan santai menikmati sarapannya.
Rahayu, menghela nafas panjang. Suami dan anaknya sering bertengkar sejak perjodohan tempo hari. Ia pun tidak banyak bicara.
Rahayu melirik Bella yang tampak tenang, mengelap bibirnya dengan tisu.
"Ken! Dahulukan tugasmu sebagai seorang suami! Ingat! Kalian sudah terikat dalam hubungan suami istri, ada kewajiban, hak, dan wewenang yang harus kalian patuhi! Lagipula tidak lah lama mengambil barang!"tegur Surya menahan amarah.
"Tidak! Bagiku Cia adalah kekasih hatiku, selamanya! Biarpun kak Billa isteriku, ia adalah istri di atas kertas! Aku menikah dengannya atas dasar keterpaksaan! Jadi jangan pernah paksa aku melakukan kewajiban ataupun apapun itu sebagai suami!"
Bella menaikkan alisnya mendengar ucapan Ken. Jujur saja, rasanya sangat kesal tapi kejujuran Ken membuat Bella menarik senyum. Surya mengepalkan tangannya, urat lehernya terlihat menegang. Ken jauh lebih sering membantah ucapannya belakangan ini. Anjani memberi tatapan tajam pada Ken. Ingin rasanya Anjani meremas dan mengarungi Ken lalu dibuang ke kali Ciliwung. Tapi kesesalan Anjani hanya bisa ia lampiaskan dalam hati.
"Ken jangan sopan santunmu! Mama nggak pernah ajari kamu begitu!"tegur Rahayu. Ken menatap Rahayu, tatapan yang sulit diterka. "Bukankah ini semua karena Mama dan Papa?"tanyanya lirik.
"Ken ini semua demi kebaikanmu sendiri!"tegas Rahayu. Ken kini diam, rasanya sungguh tidak nyaman di hati berdebat dan membantah ucapan surganya.
"Adik ipar? Apa hatimu begitu sakit hingga kau tersenyum menutupi tangismu?" El dengan wajah cemas menatap Bella. Semua tatapan tertuju pada Bella, kecuali Ken.
"Ah tidak. Bukan begitu. Aku tidak sedih hanya kagum dengan cinta Ken untuk Cia. Dan aku paham betul situasinya. Jadi jangan khawatirkan aku. I'm strong girl! Juga tidak perlu mengantarku, aku bisa sendiri. Lagipula pagi ini aku juga harus menjemput dan menemani adikku kemoterapi. Jadi tidak masalah jika Ken mau menjemput Cia," jelas Bella dengan nada tenangnya.
"Adik? Kau punya adik, Abel? Perempuan apa laki-laki? Dan juga kemoterapi? Adikmu sakit kanker?" Pertanyaan beruntun dari El yang kepo juga banyak bicara menurut Bella.
"Satu-satu tanyanya, El. Abel bingung mau jawab yang mana dulu," ujar Rahayu. El tertawa renyah, sedangkan Ken tidak peduli. Ia sibuk dengan ponselnya.
Bella tersenyum lembut, "adikku perempuan, kakak ipar. Namanya Nesya dan benar ia mengidap kanker," jelas Bella.
"Astaga! Kasihan sekali. Lantas di mana adikmu itu? Mengapa aku tidak melihat siapapun selain Anjani di sampingmu?" Bella diam sejenak memikirkan jawabannya. Tidak mungkin kan ia mengatakan bahwa Nesya berada di lapas. Surya yang melihat diamnya Bella langsung menyela.
"Sudah-sudah! Jangan tanya hal yang tidak penting lagi! Begini saja, Ken kau antar Abel menjemput adiknya lalu menjemput Cia. Karena jadwal yang sama lebih baik kalian pergi bersama-sama!"putus Surya.
Ken ingin membantah tapi Surya dengan cepat memberi peringatan, "satu bantahan lagi jangan salahkan aku jika menekan keluarga Utomo!"
Ken berdecak lidah, ia memilih pergi dulu.
"Abel bukankah sama saja kalian jalan terpisah?"bisik Anjani cemas.
"Kecuali dia naik motor bersama denganku," sahut Bella.
"Wah apa bocah angkuh itu mau mengalah?"
"Tidak mengalah juga tidak masalah."
"Abel lekaslah susul Ken. Kalian jangan terlalu tertutup. Harus banyak berinteraksi untuk mendekatkan hati yang tidak pernah mengenal. Ken itu orang yang penuh kasih sayang dan kelembutan, hanya saja situasi membuatnya bersikap seperti tadi," tutur Rahayu.
"Ya Abel mengerti, Ma. Ya sudah kalau begitu Abel berangkat dulu," jawab Abel, berdiri dan menyalami Rahayu dan Surya. Surya tersenyum, beruntung ia punya menantu seperti Bella.
"Abel bagaimana denganku? Aku takut berpergian sendiri," ujar Anjani takut. Bella menoleh ke arah Anjani.
"Biar aku yang mengantar atau … Anjani dan Arka ikut pulang dengan kami ke rumah. Jadi nggak takut bakal diganggu sama arwah gentayangan papanya Arka, bagaimana?"saran El.
"Itu pilihan yang baik," ujar Bella.
"Bagus!" El berseru senang. Bella langsung melangkah menyusul El. Di basement, Ken sudah berada di dalam mobilnya.
Ken mengeryitkan dahinya bingung melihat Bella yang menenteng helm dan memainkan kunci motor.
"Hei Ken, kau pergilah ke tujuanmu dan aku pergi ke tujuanku," ujar Bella.
"Masuklah. Kita pergi bersama-sama!"ucap Ken.
"Aku tidak bisa naik motor. Kecuali kau tidak keberatan jika mobilmu jadi ladang muntahku," sahut Bella, bersandar pada body mobil.
Ken langsung membulatkan matanya, ladang muntah? Tentu tidak!
"Lalu?"
"Ada dua pilihan. Yang satu yang tadi dan yang kedua kau naik motor denganku, kita ke rumah Cia dulu baru aku menjemput adikku. Kita bertemu lagi di rumah sakit, bagaimana?"
"Bukankah sama saja kita berpisah di tengah jalan?" Ken bingung dengan pola pikir Bella.
"Daripada kau kena amuk nanti?" Bella menaik-turunkan alisnya. Ken tampak menimbang dan setelah beberapa saat, Ken kembali menatap Bella dengan ragu.
"Tapi aku tidak bisa naik motor," ucapnya dengan nada datar padahal sangat malu dalam hati.
"Tidak bisa naik atau tidak bisa mengendarainya?"tanya Bella memastikan.
"Yang kedua," jawab Ken pelan.
"Ya sudah. Lagipula kau tidak punya Sim C bukan? Tunggu aku sebentar." Bella berlalu untuk mengambil motornya. Ken menunggu di dalam mobil. Ia memijat pelipisnya pelan.
Inilah namanya kehilangan harga diri di depan istri? Jika bukan ancaman Papa, mustahil aku mau dibonceng oleh perempuan!
Tak berapa lama terdengar suara motor mendekat, Ken keluar dari mobil. Terlihat Bella yang gagah mengendarai motornya. Jaket denim dengan helm hitam serta sorot mata tajam, membuat Ken terpesona sesaat.
"Naiklah." Ken tersadar dan merasa canggung sendiri. Ken naik dan duduk dengan tangan berada di atas paha. Bella tersenyum tipis di balik helmnya.
*
*
*
"Ahh pelan-pelan, Kak!" Ken berteriak takut. Bella yang memang mengejar waktu tidak menghiraukan Ken yang takut. Ia tetap melajukan motornya kencang, juga melihat situasi jalan. Ken yang takut takut tanpa pikir panjang langsung memeluk pinggang Bella. Bella terperanjat saat merasakan ada yang memeluknya dan bersandar di punggungnya. Dapat Bella rasakan bahwa Ken gemetar. Bella mendengus senyum, dasar bocah angkuh!
Bella sedikit memperlambat laju motornya. Ken yang ketakutan dan memejamkan matanya, tidak menyadari hal itu. "Kak Louis sepertinya sebentar lagi posisimu di hatiku akan tergeser. Ini memang yang aku inginkan tapi mengapa rasanya sakit?"gumam Bella dengan bahasa Jerman, merasa nyeri di dalam hatinya.
Apa kabarmu, Kak? Apa kau belum bangun atau kau merasakan sesuatu yang sangat tidak nyaman? Andai saja kita se iman, pasti sangat bahagia menikah dan menghabiskan masa denganmu. Tapi itu hanyalah harapan yang tidak akan pernah terwujud. Kak, aku sudah menikah, berusaha membunuh rasa cinta ini dengan perlahan. Rasanya memang berat. Terkadang aku memang menyembunyikan tangis di dalam senyum. Aku menutupi kerapuhan hati dengan ketegasan dan ketenangan hatiku.
Aku bertahan, menunjukkan bahwa aku mampu dan kuat juga karena cintaku padamu, Kak. Cintamu rasanya sudah cukup bagiku. Aku tidak mengharap cinta siapapun lagi. Cintamu dan kebersamaan kita dulu membuatku kuat menghadapi sikap bocah angkuh ini. Kakak … maaf. Ku harap kau menemukan seseorang yang kau cintai lagi dan kalian bisa bersatu.
Dan Ken … aku tidak tahu apakah kisah ini akan berakhir seperti novel yang aku baca ataukah akhir yang lain. Tapi yang pasti, apapun itu akan aku hadapi! Akan aku lalui karena ini semua adalah keputusan yang aku buat. Semangat Abel! Ini jalan hidupmu! Kau punya banyak tugas, harus tetap kuat!