This Is Our Love

This Is Our Love
Quality Time



"Nona Bella, selamat berjuang di perusahaan baru Anda! Kami Diamond Corp akan selalu menjadi pendukung Anda!"ucap Pak Bram.


"Benar-benar. Diamond Corp berhutang budi pada Anda. Jika Anda dalam masalah beritahu kami, kami akan berusaha untuk membantu Anda," timpal anggota direksi lain.


"Saya yakin dengan kemampuan Anda, pasti bukan hal sulit bagi Anda untuk mematenkan kedudukan di Mahendra Group," tambah salah seorang lagi. 


"Nona sungguh memiliki kemampuan! Kemanapun Anda pergi pasti akan berhasil. Nona, walaupun hari ini hari terakhir Anda di sini, saya sebagai salah satu direksi berharap kita akan menjaga hubungan baik sesama rekan kerja. Nona masih tetaplah bagian dari kami." 


Bella tersenyum mendengarnya semua ucapan itu. Pujian yang sudah biasa ia dengar. Bella mengangguk pasti, kemudian mengangkat cangkir teh nya.


"Ya selamanya kita adalah rekan. Saya harap ke depannya Diamond Corp semakin sukses dan berjaya. Presdir Anjani, semuanya saya bersulang untuk Anda sekalian. Terima kasih atas kerja samanya!" 


"Hahaha terima kasih, Nona Bella."


"Abel terima kasih atas semua bantuan dan kerja kerasmu untuk Diamond Corp. Benar kata dewan direksi sekalian juga karyawan Diamond Corp, sahabatku, saudaraku selamanya kita adalah keluarga!"


"Terima kasih, Anjani. Semuanya, sukses selalu!"


"Sukses selalu!"


Acara perpisahan diadakan di lobby perusahaan. Bella menghabiskan secangkir kecil teh dalam sekali tengguk, begitu juga dengan Anjani. Sementara yang lain ada yang minum teh, jus, atau kopi. Minuman alkohol tidak ada dalam acara ini.


Hanya acara sederhana juga singkat. Meeting terakhir Bella di Diamond Corp hanya berlangsung sampai pukul 10.00. Sekarang pukul 11.30, acara perpisahan sudah berakhir. Karyawan kembali bekerja, dewan direksi juga sudah meninggalkan tempat.


"Abel kau langsung pulang?"tanya Anjani, melangkah berdampingan dengan Bella keluar dari lobby.


"Ya."


"Tapi, Ken belum datang, lebih baik kita ke ruanganku dulu," ajak Anjani.


 Bella melihat jam tangannya, "sebentar lagi akan datang," jawab Bella.


"Dari mana kau tahu?"


Bella tersenyum menanggapi pertanyaan Anjani. Anjani berdecak sebal, "mentang-mentang sudah saling mencintai akibatnya kontak batin pun tercipta. Kau benar-benar sudah jatuh cinta pada bocah tengil itu!"sungut Anjani.


"Bocah juga akan berubah menjadi pria dewasa, Jani," sahut Bella.


Anjani sedikit membulatkan matanya kemudian kembali berdecak lidah.


"Lihatlah kau membelanya! Ahh kira-kira siapa yang akan bucin lebih dulu di antara kalian?"


Pose Anjani menjadi menerawang masa depan. Bella terkekeh pelan, "siapapun yang bucin nanti, bukan masalah bagiku."


"Yayaya buatmu memang bukan masalah, dasar ice queen!"gerutu Anjani. 


"Hahaha ice queen, sudah lama aku tidak mendengar julukan itu. Ah Anjani kapan reuni SMA diadakan?"tanya Bella.


"Reuni? Hm belum ada pembicaraan. Grup sangat sepi. Oh iya apa kau mau masuk grup?"tawar Anjani. Bella langsung menggeleng.


"Kau kan perwakilanku."


"Ya kau tidak berubah. Kau sangat berbakat dalam hal negosiasi dan pembicaraan bisnis namun dalam sosialiasi kau masih kurang," sindir Anjani. Bella tertawa menanggapinya. 


Tercatat Bella hanya memiliki beberapa teman dekat, di antaranya iyalah Anjani, Teresa, dan teman pena dari Semarang.


"Tuh suamimu datang!"tunjuk Anjani ke arah gerbang. 


"Kalau begitu aku pamit," ucap Bella seraya mengenakan helmnya.


"Ya selamat bermesraan!"goda Anjani dengan nada ketusnya.


"Tunggulah El kembali."


Blush!


Anjani langsung tersipu. Ia menatap kesal Bella.


"Assalamualaikum, Aru, Kak Jani," sapa Ken. Ia menghentikan motornya di depan Bella, mematikan mesin motor kemudian mengulurkan tangan kanannya pada Bella.


"Waalaikumsalam," jawab serentak Bella dan Anjani. Bella menerima uluran tangan itu dan mencium punggung tangan Ken.


"Sudah selesai?"


"Jika belum untuk apa berdiri di sini?" Bukan Bella yang menjawab melainkan Anjani, datar.


"Hahaha …." Ken tertawa pelan. 


"Ya sudah. Aku pamit, Assalamualaikum, Jani!"ucap Bella, naik ke atas motor.


"Waalaikumsalam. Hati-hati bawa motornya kau bocah tengil! Awas saja jika dibonceng olehmu Abelku terluka. Aku pastikan aku sendiri yang akan menendangmu ke Pantai Selatan!"ancam Anjani, mengacungkan telunjuknya memperingati Ken. Ken mengangguk pasti.


"Aku akan menjaga isteriku dengan baik, Kak Jani. Tenanglah."


"Huh tenang?! Aku belum memberimu pelajaran karena kecerobohanmu kemarin!"ketus Anjani.


"Ah Aru …."


"Sudah-sudah. Hal yang sudah berlalu jangan dibahas lagi. Toh aku baik-baik saja, ayo Ken."


"Hmhp!" Anjani mencembikkan bibirnya. Ia merubah ekspresinya saat Bella dan Ken tidak terlihat lagi olehnya.


"Ken kau harus memenuhi janjimu, menjaga Abel dengan baik. Semoga setelah ini tidak ada masalah lagi," harap Anjani. Setelah berucap, Anjani mengeryit tipis.


"Ahh ada yang belum selesai. Louis dan Abel. Abel-Abel bagaimana bisa kau begitu tenang padahal masalah besar menantimu. Aku saja pusing. Tapi, sudahlah aku yakin kau bisa mengatasinya!"


*


*


*


"Aru kau lapar? Kita makan siang dulu ya," ucap Ken. Ia mengemudi dengan kecepatan pelan. 


"Tadi di perusahaan aku cukup banyak makan kue. Makan siang di rumah saja, aku yang masak. Kau tak terlalu lapar kan?"


"Kau yang masak? Baiklah!" Sebenarnya Ken sudah lapar. Tapi, mendengar Bella akan memasak makan siang, Ken menahan dulu rasa laparnya. Ia menambah kecepatan motornya. Bella yang tertegun  langsung saja memeluk Ken.


*


*


*


"Aru kau mau masak apa?" Setelah tiba di di kediaman Mahendra, Bella dan Ken langsung menuju dapur. Barang bawaan mereka serahkan pada pelayan. 


"Makanan favoritmu," jawab Bella seraya mengenakan apronnya.


"Ayam kecap?" Ken menatap bingung apron yang berada di tangannya. Baru saja diberikan Bella.


"Dan udang asam manis," timpal Bella tersenyum.


"Hem. Tapi, bagaimana cara memakai ini?"tanya Ken. 


"Kau tak tahu?" Ken menggeleng. Bella tersenyum lebar dan mengambil alih apron di tangan Ken. 


"Ini sangat gampang digunakan. Kau ini pura-pura tak tahu apa modus?"


"Keduanya!" Mata Ken dan Bella bertemu pandang. Ken tersenyum penuh arti, mencuri kesempatan mengecup bibir Bella sekilas.


"Ken?" Mata Bella membulat, langsung saja Ken meringis sakit saat Bella mencubit pinggangnya.


"Biarkan saja," sahut acuh Ken. 


Bella memalingkan wajahnya, ia segera menyibukkan diri dengan mengambil bahan-bahan masak dari kulkas. Ken mengikut dan melaksanakan apa yang disuruh oleh Bella.


"Hm udang asam manis ini pasti sangat enak." Ken yang sudah selesai dengan tugasnya, memeluk Bella dari belakang dengan satu tangan. Sedangkan satu tangan lagi berada di atas tangan Bella yang tengah sibuk menumis. 


"Hei apa yang kau lakukan?!" Bella menoleh ke samping.


"Masak bersama." Ken masih sempat memberikan ciuman pada pipi Bella.


"Aih jangan begini. Lihatlah para pelayan semakin banyak mengintip kita!"ucap Bella merasa risih jadi pusat perhatian.


"Biarkan saja!" Jawaban yang sama seperti tadi. Bella menghela nafas kasar. 


*


*


*


Selesai sudah menu makan siang buatan Bella dibantu oleh Ken. Ayam kecap, udang asam manis, dan sayur pelengkap, ditambah dengan nasi hangat serta jus telah tersaji di atas meja makan. Aroma wangi merebak mengundang yang menciumnya untuk mendekat. Namun, para pelayan yang bisa mengintip. Mereka sadar akan status di mana mereka pelayan sedangkan Ken dan Bella majikan. 


"Paman, Bibi kemarilah. Jangan mengintip terus di sana!"panggil Bella cukup keras.


"Aru?" Ken memberikan wajah bingung dan protes. Ingin makan berdua tanpa gangguan orang lain kok malah memanggil pelayan mendekat.


"Ayo kemari, jangan takut. Tuan Muda Ketiga kalian tidak makan orang kok!"panggil Bella, melirik Ken yang mendengus.


Mau tak mau para pelayan mendekat, ada lima orang. Kelimanya datang memberi hormat dan menunduk tak berani menatap kedua majikan.


"Sudah pada makan siang?"


"Aru?!"


"Diamlah dulu. Aku tahu maksudmu kok!"jawab Bella.


Bella kembali menatap lima pelayan tersebut.


"S-sudah, Nona." Satu jawaban yang diangguki oleh empat lainnya.


"Serius?"selidik Bella.


"I-iya, Nona. Kami sudah makan hanya saja mencium aroma masakan Anda, perut kami kembali meronta lapar," jawab perwakilan pelayan. Ia langsung menunduk dalam saat Ken memberikan tatapan tajamnya.


"Hahaha begitu rupanya. Di dapur masih ada masakan saya kok. Silahkan dimakan," ujar Bella.


Para pelayan itu saling tatap ragu. Ken sudah lapar dan tak ingin ada siapapun di ruang makan kecuali ia dan Bella, "cepatlah! Untuk apa bengong lagi?!"sentak Ken.


"Baik. Terima kasih, Nona, Tuan Muda Ketiga," jawab mereka bersamaan. Segera menuju dapur.


"Ayo makan. Perutmu sudah berulang kali berbunyi!"ajak Bella. 


"Suapi!"pinta Ken dengan datar.


"Suapi? Terus fungsi tangan kamu itu apa?"


"Meluk Aru!"


"Ck kau mendadak manja begini membuatku merasa aneh!"gerutu Bella, mulai memyendokkan nasi dan lauk lalu menyuapi Ken.


"Salahkan jika suami manja?"sahut Ken setelah makanannya ia telan.


"Kau hanya boleh manja padaku, tidak pada perempuan lain!"tegas Bella.


"Mama?"


"Dia kan ibumu!"


"Baik-baik."


*


*


*


Selesai makan siang, Ken menjalankan salat zuhur. Setelah itu keduanya menghabiskan waktu menonton televisi. Ya hari tenang sebelum kembali berperang dengan pekerjaan.


"Hm Aru sejak kita menikah aku belum pernah berkunjung ke makam nenekmu. Apa kau juga belum siap mengenalkanku pada nenek?"tanya Ken. Ken teringat hal itu saat melihat adegan pemakaman di televisi.


"Astaga! Aku benar-benar lupa." Bella langsung duduk tegak. Wajahnya menunjukkan rasa bersalah pada Ken.


"Bagaimana jika hari ini?"tawar Bella.


"Okay!" Secepat kilat Ken masuk ke ruang ganti dan kelaut dengan menggunakan celana panjang juga kemeja lengan panjang. Ia juga membawa kopiah yang Ken masukkan pada tas selempang Bella.


"Ayo." Bella yang belum bersiap mengerjap pelan. Ia bangkit dan segera memberikan sedikit polesan pada wajahnya. 


"Ayo!"


*


*


*


"Jadi nama nenek adalah Marissa?"tanya Ken setelah menatap nisan nenek Marissa.


"Benar. Marissa yang berarti lautan atau dalam bahasa karakteristik artinya sabar. Ya nama yang sangat cocok untuk Nenek," ujar Bella, berjongkok dan mengusap papan nisan sang nenek.


"Walau aku tak mengenalnya, aku yakin nenek benar-benar seperti yang kau katakan," ucap Ken, ia ikut berjongkok.


"Ya nenek adalah wanita yang sangat sabar dan penuh dengan kelapangan dada."


Ken tersenyum, kemudian menatap lekat pusaran makam nenek Marissa. Tatapannya berubah sendu.


"Assalamualaikum, Nenek. Nek perkenalan saya Ken, suami dari Aru, cucu nenek. Ken berharap dan berdoa Nenek tenang dan bahagia di sana ya. Harus! Nenek tidak perlu khawatir lagi tentang Aru dan Nesya. Saya akan menjaga Aru dengan segenap jiwa dan raga saya. Saya juga akan menerima Nesya dengan baik sebagai adik!"


Bella tersenyum lembut menanggapi ucapan Ken itu. 


Nenek maaf baru membawa cucu menantumu mengunjungimu. Nenek aku mencintainya. Ku harap Nenek bisa tenang dan bahagia di sana. Nesya, Nesya sudah berubah Nek. Aku akan menjaganya dengan baik. Maaf atas semua keegoisanku yang membuat Nenek menderita, batin Bella, menutup matanya.


Setelah itu mereka berdua memanjatkan doa. Sebelum meninggalkan makam, mata Ken menyipit melihat nama ayah dari nenek Marissa.


"Aru apa kepanjangan dari K itu?"tanya Ken penasaran. Bella menatap papan nisan lagi. Ia menggeleng pelan.


"Tidak tahu?"


"Di KK juga hanya huruf K," jawab Bella.


"Bukankah ini patut dicurigai?"ucap Ken.


"Maksudmu?"


"Pertama darahmu dengan keturunan keluarga itu sama yang kedua adalah kepanjangan K ini, entah mengapa aku merasa itu adalah Kalendra!"papar Ken. Bella mengeryit, wajahnya sungguh serius. Tak berapa lama kemudian Bella tersenyum.


"Mustahil, Ken!"ucap Bella, melangkah meninggalkan makam lebih dulu.


Ken diam sesaat, jika benar, itu adalah hal yang sangat baik!batin Ken, menyusul Bella.